
"Aku sangat menyukai cara pikirmu, Julian." ucap Devan sambil menggerakkan gelas sloki yang ada di tangannya. "Dan apa yang kau katakan tadi itu benar sekali, lebih baik kau mengabaikan perusahaan itu. Mereka itu tidak mengenal dengan baik lawannya." lanjutnya sambil menyesap wine yang ada di tangannya perlahan.
Julian mengangkat bahunya tak acuh. Dia kembali menyesap wine nya. "Kau tahu, aku paling suka jika pesaing ku yang seperti ini. Apalagi, saat melihat pesaing ku melakukan cara yang rendahan untuk bisa menjatuhkan perusahaanku. Kau lihat saja nanti, Devan. Aku jamin, tidak sampai satu Minggu, perusahaan mereka itu akan langsung gulung tikar akibat kebodohan mereka sendiri."
***
Udara malam yang kini bercampur dingin dan sejuk. Membuat Alexa keluar dari kamarnya dan kini sedang berdiri di balkon kamarnya. sambil menatap keindahan bintang dan bulan yang terlihat begitu indah di malam hari.
"Alexa, ini sudah malam. Kenapa kau masih berada di luar?" tanya Julian berdiri di ambang pintu melihat istrinya yang masih berdiri di atas balkon kamarnya. Julian pun langsung melangkah mendekat ke arah sang istri.
"Julian, kau sudah pulang?" Alexa tersenyum melihat suaminya kini sudah berada di hadapannya. Alexa kemudian mengaitkan tangannya ke leher sang suami. "Hari ini kau pasti sangat, lelah ya?" tanyanya lagi.
"Hari ini aku tidak terlalu lelah, sayang. Karena tidak banyak pekerjaan yang aku kerjakan di perusahaan." jawab Julian sambil melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya. "Kenapa malam - malam begini kau ada di balkon? Kau tahu kan, angin malam itu tidak baik untuk ibu hamil."
"Karena aku sedang merasa bosan saja selalu berada di dalam kamar. Lagi pula, aku juga sudah memakai selimut yang tebal? Jadi, kau tidak perlu khawatir." ucap Alexa, lalu mengecup rahang Julian, dan Julian semakin mengeratkan pelukannya.
"Lalu? Bagaimana harimu di kantor, sayang?" tanya Alexa seraya mendongakkan kepalanya dari dalam pelukan Julian.
"Hm, ada sedikit masalah di perusahaan. Tapi kau tidak perlu mencemaskannya. Karena aku akan selalu mampu menyelesaikan masalahku." ujar Julian, sambil mencium hidung Alexa gemas
"Apa masalah itu sangat berat? Apa kau yakin bisa mengatasinya, sayang? Apa kau membutuhkan bantuan Kakakku? Atau aku bisa-"
Ucapan Alexa terhenti saat suaminya itu tiba - tiba langsung ******* bibirnya. Ya, suaminya itu sedang memagut dengan lembut bibir Istrinya, hingga Alexa pun akhirnya ikut terbuai dengan membalas ******* suaminya.
"Kau tidak usah perlu mencemaskan aku, sayang. Karena aku pasti bisa menyelesaikan semua masalahku yang ada di perusahaan." ucap Julian saat pagutannya terlepas.
__ADS_1
Alexa tersenyum dan berkata. "Iya, aku percaya padamu. Kau pasti bisa menyelesaikan segala masalahmu."
"Ayo, kita masuk kedalam. Tidak baik, Ibu hamil berada di luar terlalu lama." Julian berkata sambil mengelus dengan lembut pipi Alexa.
Alexa mengangguk, kemudian Julian langsung membopong Alexa gaya bridal dan melangkah masuk kedalam kamar. Sedangkan Alexa yang tiba-tiba di bopong seperti itu hanya bisa menurut apa yang suaminya itu ingin lakukan.
***
"Sayang, besok pagi sepertinya aku akan bertemu dengan Kak Vanya? Kau masih ingat, bukan? Saat itu, Kak Vanya pernah mengatakan dia akan menetap di negara L?" Alexa berkata sambil menatap wajah Julian yang sedang menikmati sarapan paginya.
"Ya, aku masih ingat. Lalu? Apa besok kau akan pergi sendirian untuk bertemu dengan Kakakmu? Atau perlu aku temani?" tanya Julian, sambil mengambil gelas kopi kemudian menyesapnya perlahan.
"Tidak perlu, sayang. Karena aku akan bertemu Kak Vanya bersama dengan Adel juga." jawab Alexa dengan raut wajahnya yang terlihat muram. Tampak dari iris mata coklat istrinya itu penuh dengan kesedihan saat menjawabnya.
"Julian, sebenarnya aku ingin Kak Vanya tetap tinggal di negara M. Maksudku, aku tidak ingin berpisah lagi dengan Kakakku. Kau juga tahu, bukan? Kalau negara L itu sangat jauh. Dan pastinya aku akan sangat susah untuk bertemu dengan Kakak perempuanku secara langsung." ucap Alexa sambil mengerutkan bibirnya. "Kakakku, Samudera juga sedang sibuk melakukan perjalanan bisnisnya. Dan kau juga pasti sudah tahu, adikku Kaylan dia sudah berada di negara Y. Lalu kedua orang tuaku sedang berada di negara R. Bukankah kota ini juga sangat indah? Tetapi, kenapa mereka tidak bisa menetap di negara M saja? Kau tahu, sesungguhnya aku tidak bisa berjauhan dari mereka?"
Mendengar ucapan dari istrinya, Julian hanya tersenyum. Dia kemudian menarik tangan Alexa dan membawanya untuk duduk ke pangkuannya. Reflek, Alexa pun langsung mengaitkan tangannya ke leher suaminya, dan merapatkan tubuhnya pada tubuh sang suami.
"Sayang, dengarkan aku..." ucap Julian sambil mengelus lembut pipi Alexa. "Kau tahu, bukan? Seluruh saudaramu, di suatu saatnya nanti pasti akan memiliki sebuah keluarga mereka sendiri. Dan tentunya juga mereka akan memilki cara pikir mereka sendiri. Jadi, kau itu tidak bisa memaksa apa yang kau inginkan pada mereka." ucap Julian menasehati.
"Ya, aku juga tahu tentang hal itu, Julian. Dan harusnya aku juga bisa memahaminya. Hanya saja, aku sangat merindukan mereka. Apakah menurutmu aku salah, karena aku merindukan saudara - saudaraku?" tanyanya pelan.
"Kau sama sekali tidak salah, sayang. Kau sangat berhak merindukan mereka. Tetapi, untuk sekarang ini prioritasmu adalah keluarga kita. Karena sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu. Dan pastinya akan ada waktunya kau bisa bertemu dengan saudara - saudaramu kembali."
Alexa tersenyum dan berkata. "Iya, kau dan anak - anak kita pastinya akan selalu menjadi prioritas utama untukku."
__ADS_1
Julian menarik dagu Alexa, kemudian mencium dan ******* dengan lembut bibir sang istri. "Aku tidak ingin melihatmu bersedih lagi. Aku janji, setelah masalah perusahaanku selesai aku akan langsung mengajakmu pergi babymoon."
Alexa mengangguk penuh antusias saat mendengar ucapan dari suaminya. Dia langsung memberikan kecupan bertubi-tubi di rahang sang suami. "Tapi kau juga harus janji ya, nantinya kau akan mencoba masakan dari negara A."
Julian menghembus nafas panjang. "Tapi aku tidak suka makan - makanan yang terlalu pedas, sayang. Jadi, aku tidak bisa berjanji untuk hal itu." ucap Julian dengan nada suara yang sedikit kesal saat istrinya itu selalu memaksa dirinya untuk selalu mencoba masakan dari negara A yang terkenal karena cita rasanya yang pedas.
"Tapi sayang, bukankah aku sudah pernah bilang ke kamu ya, Kalau masakan dari negara A itu tidak selalu dengan cita rasa yang pedas juga."
"Tapi tetap saja, sayan-"
Perkataan Julian terpotong saat mendengar ponsel miliknya tiba - tiba saja berdering.
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1