
Suara dentuman musik terdengar memekak telinga. Suasana di astro klub begitu ramai pengunjung. Tampak dua sosok pria yang sedang duduk seraya menghisap rokok di tangan mereka. Terlihat salah satu di antara dua pria itu tampak begitu kacau. Berkali - kali para wanita menganggu pria itu, namun dengan tegas pria itu mengusir para wanita yang menggodanya.
"Julian, kenapa kau kesini? Sudah lama kau tidak pergi ke klub malam. Biasanya kau hanya sibuk dengan pekerjaanmu," ujar Devan dengan nada yang meledek sahabatnya itu.
"Diamlah, aku sedang tidak ingin pulang." jawab Julian dingin.
Devan mengangkat sebelah bahunya. "Apa kau sedang mendapatkan masalah?"
"Aku sedang bertengkar dengan Alexa." Julian sedang menegak wine yang ada di tangannya dengan kasar. Kemudian dia kembali menuangkan wine ke gelas sloki di tangannya. Entah sudah berapa wine yang dia tegak. Pikirannya benar - benar begitu kacau.
"Bertengkar?" Alis Devan saling bertautan. "Kau kenapa dengan Alexa?"
"Ini tentang Berlian." ujar Julian yang sontak membuat Devan tersedak.
"Berlian?" raut wajah Devan langsung berubah. "Memangnya ada apa dengan Berlian?"
"Aku tidak sengaja sudah melakukan kesalahan. Aku mengatakan pada Alexa, jika Berlian tidak akan pernah tergantikan. Saat aku melihat matanya, aku melihat dia ingin sekali menangis." Julian mendesah frustasi.
Devan terdiam sesaat saat mendengar perkataan dari Julian. Dia menggeleng tak menyangka Julian akan mengatakan hal yang seperti itu pada Alexa. "Aku bisa melihat Alexa bukanlah wanita yang lemah. Tapi kau harus tahu, sekuat apapun wanita dia tetap seorang wanita. Jika kau menyentuh hatinya dan masuk ke kehidupannya, dia akan memberikan seluruh hidupnya. Jika memang kau tidak mencintainya, lepaskan dia. Biarkan dia mendapatkan pria yang tepat di hidupnya. Tapi jika kau tidak rela untuk melepaskan Alexa, maka kau harus melepas bayang - bayang Berlian dari hidupmu."
"Aku tidak mungkin melepaskan Alexa. Tidak akan pernah!" Desis Julian dengan tatapan yang begitu tajam.
Devan tersenyum miring. "Apa kau sudah tidur dengan Alexa?"
"Kenapa kau bertanya tentang hal itu?" seru Julian dengan tatapan yang dingin.
"Well, aku hanya bertanya. Kalau kau tidak mau menjawab tidak apa-apa," jawab Devan dengan santai.
Julian membuang napas kasar. "Alexa adalah istriku, tidak mungkin aku tidak tidur dengannya. Cepat atau lambat keluargaku pasti memintaku untuk segera memiliki keturunan."
"Kau benar-benar bastard. Setelah kau berhasil tidur dengannya, kau mengatakan di hatimu hanya ada Berlian? Jika aku yang menjadi Kakak Alexa, aku bersumpah akan membunuhmu di tanganku," seru Julian kesal.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah, lagi pula aku dan Alexa adalah pasangan suami istri. Alexa istriku, jadi aku berhak atasnya." tukas Julian dengan nada penuh dengan penekanan.
"Kalimat macam itu, Julian Dominic? Apa kepalamu itu sudah terbentur batu? Kau pernah mengatakan padaku, ingin memberikan kesempatan pada Alexa dan kau juga tadi bilang hanya ada Berlian di hatimu. Aku rasa kau benar-benar tidak memiliki otak untuk berpikir. Bagaimana ada pria yang seegois dirimu! Aku harap kau tidak akan pernah menyesali dengan apa yang kau lakukan!" Jawab Devan mengingatkan.
"Diamlah! Jangan ikut campur!" Seru Julian.
Devan mengumpat kasar. Dia menghembuskan nafas kasar. Jika Julian bukan sahabatnya mungkin sudah sejak tadi dia menghajar sahabatnya itu.
...***...
Alexa sedang duduk di ranjang kamar dengan pikiran yang menerawang kedepan. Ya, setelah mengetahui semuanya dia berusaha untuk tidur. Tapi nyatanya dia tidak bisa tidur. Ada rasa yang mengganjal di hatinya. Jujur hatinya merasa begitu terluka. Tidak pernah Alexa sangka, hidupnya akan seperti ini. Dia bagaikan hidup dalam sebuah mimpi buruk. Hanya saja, dia tidak pernah tahu, kapan mimpi buruk ini berkahir.
Brakkk...
Julian langsung mendobrak pintu kamar Alexa dengan keadaan mabuk lalu menutup dan mengunci pintu kamar itu dengan tatapannya yang menajam dan marah dan melangkah mendekat ke arah Alexa. Sedangkan Alexa tampak terkejut dengan kedatangan Julian. Karena Alexa sedang duduk diam di atas ranjang.
"Lepaskan aku, Julian!" Alexa berusaha mendorong keras tubuh Julian, tapi sia - sia karena semakin keras Alexa berontak maka semakin keras Julian mengunci pergerakannya.
"Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak akan pernah mau mengikut perkataanmu! Kau egois Julian!" Seru Alexa seraya memukul keras dada bidang Julian.
"Kau tidak mau mengikutiku?" Julian menjeda, dia menarik dagu Alexa dan menatap wanita itu dengan tatapan yang dingin. "Jika kau tidak mau mengikutiku, maka aku akan menggunakan cara yang lain, untuk membuatmu mengikuti perkataanku."
"Apa maksudmu?" raut wajah Alexa berubah kala mendengar perkataan Julian.
"You will know," Julian langsung mendorong tubuh Alexa keranjang. Sontak Alexa langsung terkejut saat Julian membuka kancing piyamanya. Wajah Alexa tampak berubah menjadi takut kala Julian melempar kemeja yang dia pakai ke lantai. Ya, kini terekspose tubuh polos Julian yang begitu sempurna. Dada bidang dan otot perutnya yang membuat para wanita tidak berkedip melihatnya.
"J- Julian apa yang ingin kau lakukan?" Alexa mundur saat Julian hendak mendekat ke arahnya.
"Mungkin hanya dengan membuatmu hamil, kau bisa patuh padaku." jawab Julian dengan seringai di wajahnya.
"Gila! Kau gila!" Maki Alexa keras dengan sisa tenaganya, Alexa berusaha beranjak berdiri. Dia hendak melarikan diri namun rantai panjang yang masih mengikat kakinya menghalangi geraknya. Hingga Julian membanting tubuh Alexa ke ranjang. Tidak hanya diam Alexa hendak melayangkan pukulan ke wajah Julian namun Julian langsung menepisnya. Kini Julian membuka ikat pinggangnya. Dia langsung mengikat kedua tangan Alexa dengan ikat pinggangnya itu.
__ADS_1
"Julian lepaskan aku!" Bentak Alexa seraya memberontak. Meski itu hanya percuma berontak dengan tangannya yang kini terikat.
Julian tidak menjawab dia langsung naik ke atas tubuh Alexa. Mencium dan ******* kasar bibir Alexa. Dan tanpa menunggu lama Julian langsung mengarahkan miliknya ke milik wanita itu. Perlahan Julian memulai penyatuannya. Alexa menjerit saat Julian memaksa untuk memasukinya. Julian terus mendesak masuk, dia menulikan telinganya saat mendengar rintihan dan jeritan dari Alexa yang kesakitan. Meski dia tahu terlihat jelas wajah Alexa yang begitu merintih kesakitan Julian semakin menambah temponya, menghentakkan dengan begitu
dalam.
...***...
Tubuh gemetar kedinginan karena guyuran air shower membuat kepala Alexa kian merasa sangat sakit dari biasanya.
Alexa dengan tubuh yang polosnya meringkuk di bawah guyuran air shower tepat pukul tiga pagi.
Hatinya begitu sangat sakit, dengan perlakuan Julian kepadanya.
"Semuanya jahat hiks.... kau benar-benar menghancurkan aku Julian Dominic." lirih Alexa memejamkan matanya kali ini.
Alexa menjambak rambutnya dan frustasi. Menjadi seorang tawanan seorang Julian Dominic sama sekali tidak pernah terbesit di pikirannya.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1