
"Kau, kau tidak akan pernah aku miliki. Aku dan kau tidak akan pernah menyatu hiks.... kau jangan muncul lagi di hadapanku," ujar Alexa bangkit dari duduknya.
Langkah kecil Alexa kini mundur perlahan-lahan ia menjauh dari Julian dan berjalan ke arah Pintu.
Namun ekspresi takut yang Alexa berikan saat ini sangat membuat Julian terheran - heran padanya.
"Pergilah, pergi sana! Kenapa kau masih di sini! Berhenti untuk menginginkan aku Julian!" Teriak Alexa berjalan mundur punggungnya menabrak pintu.
"Alexa, aku yakin kau pasti juga merindukan aku kan? Kau pasti ingin bertemu denganku, kan!"
"TIDAK! TIDAK, JAUH - JAUH KAU DARIKU!" Teriak Alexa yang terus mundur dan membuka pintu hingga Alexa jatuh terduduk di sana.
"Alexaaa!" Pekik Julian hendak menolongnya meskipun urung saat Alexa bangkit cepat - cepat dan berlari menjauh.
Susah payah Alexa ingin melupakan Julian. Namun, malam ini ia ketakutan saat laki - laki yang ia takuti dan ingin di hindari tiba - tiba saja muncul di hadapannya.
Alexa berjalan pelan-pelan tanpa alas kaki, tangannya gemetaran memegangi pembatas tangga dan ia menangis menuju kamar kedua orangtuanya.
"Mamah.... Papah...." Alexa mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya dengan suara yang bergetar.
Pintu kamar itu terbuka pelan, nampak Arabella yang terkejut dengan Alexa yang berdiri di depan kamarnya bersamaan dengan keadaan Alexa yang terlihat ketakutan hingga badannya pun terlihat gemetar
"Ya ampun, Alexa. Ada apa?" pekik Arabella kaget bukan main.
"Mah...." Alexa histeris memeluknya, Arabella memeluknya dengan erat.
Tubuh bergetar penampilan acak - acakan dan wajahnya yang baru saja menangis. Arabella menutup pintu kamarnya dan Alexa berjalan mendekati ranjang. Sedangkan Raymond yang melihat putrinya masuk kedalam kamarnya dia pun menatap sedikit bingung.
"Ada apa sayang?" tanya Arabella seraya merapikan rambut panjang Alexa dan wanita itu mengusap pipi Alexa dengan lembut.
"Ada Julian, Mah...."
"Kenapa dia datang?" Tanya Raymond sedikit terkejut dengan ucapan Alexa.
"Aku tidak tahu, Pah. Tiba - tiba saja dia memelukku. Aku tidak mau bertemu dengannya, Mah" pekik Alexa menggelengkan kepalanya dan terus menolak .
"Arabella, mungkinkah itu hanya halusinasi Alexa saja. Tidak mungkin Mateo bisa masuk ke mansion kita. Dengan penjagaan yang begitu ketatnya." ucap Raymond yang menganggap ucapan putrinya sebagai halusinasi.
"Aku tidak berhalusinasi, Pah. Aku melihat sendiri Julian datang ke kamar dan memelukku, Pah."
"Lebih baik, Papah cek ke kamar Alexa. Mungkin saja apa yang di katakan Alexa itu benar."
Raymond pun kemudian melangkah meninggalkan kamarnya dan memastikan apa yang di katakan Alexa itu benar atau tidak. Setelah kepergian suaminya Arabella pun berusaha untuk menenangkan Alexa.
"Ssssshht sayang, jangan menangis, Nak. Ada Mamah di sini yang akan menjaga Alexa." bisik Arabella memeluknya erat.
Perlahan-lahan Arabella merebahkan Alexa di atas ranjangnya dan menenangkannya.
"Tenanglah Alexa, Mamah tidak akan kemana-mana," bisik Arabella dengan lirih.
Wanita itu diam saja saat Alexa memeluknya. Arabella menarik selimut warna merahnya dan menyelimuti Alexa, perlahan-lahan Alexa memejamkan kedua matanya dengan tenang.
Satu tangan Arabella kini mengusap wajah Alexa yang sangat sembab dan menunjukkan betapa menyedihkannya seorang Alexa Olivia Jhonson.
"Julian, datang kesini?" tanya Arabella saat melihat suaminya melangkah masuk kedalam kamarnya.
"Aku sudah mengeceknya, tapi tidak ada siapapun di kamar Alexa." jawab Raymond.
"Tapi tidak mungkin kan Pah, kalau Alexa berbohong pada kita. Lihat saja kondisinya tadi yang terlihat sangat ketakutan. Pokoknya, besok pagi Papah harus pastikan di bagian tim keamanan apakah tadi Julian menerobos masuk kedalam mansion milik kita atau tidak."
__ADS_1
Raymond menganggukkan kepalanya. "Baik, besok pagi aku akan mengeceknya." ucap Raymond. "Ya sudah, sekarang Mama istirahat dengan Alexa nanti Papah akan tidur di kamar sebelah."
***
"Semalam Papah sudah mengecek ke kamar kamu Alexa. Tapi tidak ada siapapun, sayang. Apa Alexa sedang bermimpi?"
Pertanyaan Arabella membuyarkan lamunan Alexa. Gadis itu teringat kembali akan kejadian semalam.
Gelengan kepala kembali di berikan oleh Alexa hingga membuat Arabella kembali tersenyum.
Wanita itu masih melanjutkan kegiatannya menyisir rambut Alexa.
"Dengarlah Alexa, di dunia ini tidak ada seorang Ibu yang rela kalau anaknya itu di sakiti." ujar Arabella setelah selesai merapihkan rambut Alexa.
"Mama tidak rela jika Alexa di sakiti?"
"Tidak, Nak. Tentu saja tidak. Mamah tidak rela, sampai kapanpun Mamah tidak akan pernah rela."
Kembali lagi Alexa terdiam mengusap perutnya, kadang rasa kesal yang ada di dalam diri Alexa menjadikan anak yang ada di dalam kandungannya terasa bagai beban dalam hidupnya.
"Apapun yang terjadi, jangan pernah membenci anak ini, Alexa. Ingatlah, kalau kamu juga punya keluarga. Alexa punya Mamah, punya Papah, punya Kakak dan punya adik."
"Tapi anak yang ada di kandungan Alexa tidak punya Papah, Mah." lirih Alexa.
"Punya! Anak ini punya Papa! Julian sangat mencintaimu, Alexa. Mama yakin, Julian sudah tidak mencintai mantan kekasihnya yang meninggal itu." bujuk Arabella.
Alexa menggelengkan kepalanya, ia bangkit dari duduknya dan berkata, "Aku akan menemui Kak Vanya, Mah." ucap Alexa berjalan keluar dari dalam kamar.
Sedangkan Arabella, masih saja ia merasa resah dan berpikir keras, bagaimana membuat Alexa yakin dan bisa kembali tegar.
"Anak itu, bagaimana aku bisa membuatnya yakin?" gumam Arabella menghembuskan nafas panjang.
***
"Apa kabar?" tanya pria itu dengan ramah seraya menatap Alexa dan Vanya lembut.
"Untuk apa kau kesini, Mateo?"belum sempat Alexa menjawab sapaan pria yang ada di hadapannya itu, Vanya sudah menyelanya. Ya, di hadapan Alexa dan Vanya ada Mateo. Itu kenapa Vanya menatap pria yang ada di hadapannya dengan tatapan yang begitu tajam.
"Aku memiliki urusan dengan Alexa?" jawab Mateo dingin dengan raut wajah yang datar.
"Kau akan berurusan denganku jika kau berani macam-macam dengan adikku!" Tukas Vanya menekankan.
"Kak Vanya..." Alexa mengalihkan pandangannya. "Biarkan aku berbicara sebentar dengan Mateo."
Vanya membuang napas kasar. Dia tampak enggan untuk memberikan ijin. Tapi dia pun tidak ingin Alexa merasa tidak nyaman dengannya. Hingga kemudian, Vanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dia memberikan izin pada sang adik untuk berbicara dengan Mateo.
"Mateo, ada apa?" tanya Alexa sambil menatap Mateo.
"Ada hal yang ingin aku sampaikan. Tapi aku ingin bicara berdua denganmu tanpa orang lain." tukas Mateo dan melirik ke arah Vanya yang terlihat kesal.
"Kau-"
"Kak Vanya, tenanglah. Mateo adalah temanku." ucap Alexa dengan suara lembutnya.
Vanya kembali membuang napas kasar. Dia menatap Mateo penuh dengan peringatan. Ya, tentu saja Vanya tidak ingin meninggalkan berdua adiknya dengan Mateo karena dia tahu bagaimana sifat playboynya Mateo.Namun, karena permintaan dari Alexa akhirnya Vanya pun mengalah.
"Jangan lama, aku akan menunggumu di sana," Vanya memilih mengalah dan meninggalkan Alexa dan juga Mateo.
"Terima kasih, karena kau telah memberikan waktumu Alexa," ujar Mateo saat Vanya sudah pergi.
__ADS_1
Alexa mengangguk. "Ada hal penting apa yang ingin kau katakan padaku, Mateo?"
"Alexa," Mateo menjeda, dia menatap lekat manik mata coklat Alexa. "Sebelumnya aku minta maaf karena terakhir kau melihat pertengkaranku dengan Julian. Terutama tentang diriku yang secara langsung mengatakan kalau aku menyukaimu."
Alexa terdiam saat mendengar perkataan Mateo. Dia menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan. "Mateo, menyukai seseorang adalah hak semua orang. Kau berhak menyukai siapapun. Aku pun tidak berhak melarangmu meskipun wanita yang kau sukai itu adalah aku," jawabnya dengan bijak.
"Aku tidak salah menyukaimu, Alexa." Mateo tersenyum dan menatap kagum. "Tujuanku kesini, selain meminta maaf padamu, aku juga ingin berpamitan denganmu "
"Berpamitan?" kening Alexa berkerut. Menatap bingung. "Kau mau kemana Mateo?"
"Aku akan menetap sementara di negara S. Keluargaku mendesakku untuk pindah kesana. Termasuk Kakakku yang tidak ingin melihat aku membuat keributan di sini. Meski berat untuk aku meninggalkan negara M, tapi setelah aku pikir aku memang harus meninggalkan kota ini. Jika aku masih berada di kota ini, aku akan terus - terussan berharap kau menjadi milikku. Terdengar bodoh, bukan? Aku menginginkan wanita yang tidak mungkin bisa menjadi milikku. Aku memang tidak berniat merebutmu. Tapi aku tidak bisa memungkiri, aku begitu menginginkanmu, Alexa." ujar Mateo dengan tatapan yang begitu dalam.
Perkataan Mateo sukses membuat Alexa kembali terdiam. Raut wajahnya sulit di artikan. Hanya terlihat tatapan Alexa menatap Mateo sedikit terkejut. Namun, jauh dari lubuk hati Alexa yang paling dalam dia merasa kasihan pada Mateo. Dia tidak menyangka Mateo mengharapkan dirinya.
"Maafkan aku, Alexa. Aku tahu, kau pasti terkejut setelah mendengar semua ini," ucap Mateo lagi saat melihat Alexa hanya diam dan tidak mengatakan sepatah katapun.
"Mateo," panggil Alexa dengan raut wajah yang serius. "Aku berterima kasih atas perasaanmu. Tapi Mateo, aku yakin suatu saat kau akan mendapatkan wanita yang baik."
Mateo tersenyum tipis. "Kau tenang saja Alexa. Orang tuaku sudah mengenalkan diriku pada seorang wanita. Dan ya, aku akan berusaha untuk membuka hatiku untuk wanita itu. Kepindahanku ke negara S selain untuk mengurus bisnis keluargaku tapi orang tuaku juga memintaku untuk berkenalan dengan wanita yang mereka pilihkan. Aku tidak terlalu berharap banyak. Tapi aku hanya ingin jika wanita itu akan cocok denganku."
Alexa pun tersenyum. "Aku yakin, kau akan mendapatkan wanita yang baik."
"Terima kasih," Mateo kembali tersenyum. "Ya sudah, aku harus pergi sekarang. Malam nanti penerbanganku ke negara S."
Alexa mengangguk, "Hati - hati, Mateo."
"Senang bisa mengenalmu, Alexa. Dan jangan lupa jaga kandunganmu dengan baik. Apapun masalahmu dengan Julian semoga kalian bisa bersama kembali." balas Mateo.
"Aku juga senang bisa mengenalmu, Mateo." jawab Alexa dengan senyuman hangat di wajahnya.
"Oh ya, sampaikan salamku juga untuk Kakakmu, Vanya. Semoga dia juga bisa mendapatkan pria yang terbaik di hidupnya." ucap Mateo.
Alexa menganggukkan kepalanya, "Ya, akan aku sampaikan."
"Aku pamit, Alexa. Suatu saat nanti semoga kita bisa bertemu kembali,"
Kini Mateo melangkah meninggalkan Alexa yang masih tidak bergeming dari tempatnya. Tatapan Alexa terus menatap punggung Mateo hingga hilang dari pandangannya, tepat di saat Mateo pergi, Vanya langsung datang menghampiri.
"Alexa, apa yang tadi kalian bicarakan?" tanya Vanya ingin tahu.
"Oh, tadi Mateo hanya ingin berpamitan denganku, Kak."
"Berpamitan? Memangnya Mateo mau pergi kemana?" tanya Vanya lagi.
"Mateo akan pindah ke negara S, Kak. Dia juga menitipkan salam untukmu."
"Huh, aku jadi merasa bersalah padanya.Kalau aku tahu dia datang kesini untuk berpamitan denganmu, aku tidak mungkin bersikap seperti tadi."
***
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.