Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Ngidam Lagi


__ADS_3

"Aku ingin makan rujak, sayang." Alexa membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya.


Julian menautkan alisnya. Wajahnya tampak begitu bingung dengan makanan yang di sebut oleh Alexa. "Sayang, apa tadi kau bilang?" tanya Julian ingin memastikan lagi makanan yang di sebutkan oleh istrinya tadi.


"Iya, aku ingin makan rujak, Julian." ujar Alexa memberitahu dengan nada manja pada sang suami.


Julian menghembuskan nafas kasar. "Kenapa kau selalu ingin makan - makanan dari negara A? Apa kau tidak bisa menginginkan makanan yang lain?"


Alexa mengerutkan bibirnya "Jadi, kau tidak mau menuruti keinginanku."


"Bukan begitu, sayang. Tapi-"


"Tapi apa. Aku tau, kau pasti tidak akan menuruti keinginanku! Aku sudah menduganya!" Alexa menjauhkan tubuhnya, dia melipatkan tangannya di depan dada dan menekuk bibirnya layaknya anak kecil yang permintaannya tidak di turuti.


Julian menghembuskan nafas panjang. Ya, sejak hamil memang Alexa benar - benar seperti anak kecil. Jika keinginan istrinya itu tidak di turuti, maka istrinya itu akan merajuk dan tidak mau bicara dengannya. Dan tidak tanggung-tanggung bahkan Alexa sering mengancam akan tidur di kamar tamu. Sedangkan Julian mau tidak mau harus menahan rasa kesalnya. Dia tidak ingin menyakiti sang istri yang tengah hamil itu.


"Oke. Aku akan meminta pelayan untuk membuatkannya." Julian menarik tangan Alexa, membawanya masuk kedalam dekapannya. Mengecup berkali-kali pucak kepala istrinya. "Jangan marah, aku tidak mungkin tidak menurutimu. Hanya saja, aku tidak yakin, bahan - bahan makanan dari negara A bisa kita temukan di sini."


Alexa menghela nafas dalam. Ya, dia pun baru sadar jika bahan - bahan makanan dari negara A tidak semuanya ada di negara M. Tapi tunggu, ingatan Alexa kembali mengingat sesuatu. Dan dengan cepat Alexa langsung berucap, "Julian, membuat rujak juga bisa hanya dengan menggunakan garam dan cabai saja. Apa kau pernah pergi ke negara T sebelumnya?"


"Negara T?" alis Julian berkerut, raut wajahnya tampak bingung.


"Iya, saat usiaku menginjak 18 tahun aku pernah liburan bertiga dengan Ibuku dan juga Kakakku, Vanya. Kami pergi ke negara T dan membeli buah di pinggir jalan di salah satu kota di negara T. Dan aneka macam buah yang di jual itu hampir mirip dengan yang ada di negara A. Tapi memang untuk membuat sambelnya agak sedikit berbeda jika di negara T kebanyakan menggunakan gula putih dan cabai sedangkan di negara A menggunakan cabai dan garam." ucap Alexa menjelaskan dengan nada suara yang begitu gembira.


"Apa? Kau pernah makanan di pinggiran jalan?" raut wajah Julian berubah saat mendengar apa yang dikatakan oleh sang istri.


Alexa pun berdecak tak suka. "Iya, memangnya kenapa Julian? Ibuku itu selalu mengajakku makan di pinggiran jalan. Ibuku juga pernah bilang, makanan juga bisa mahal dari pajak di restoran itu sendiri. Tetapi sebenarnya banyak sekali makanan di pinggir jalan yang sangat enak. Kalau kita pergi baby moon ke negara A. Aku pastikan akan langsung mengajakmu untuk mencobanya."

__ADS_1


"Tidak." Julian langsung menolak dengan nada tegas.


Alexa mendengus tak suka. "Kau ini sangat menyebalkan sekali. Kak Samudera juga tidak pernah mempermasalahkan aku untuk makan di pinggir jalan. Ibuku selalu membawa kami ke tempat makanan tradisional. Meski tempatnya kecil tetapi rasa makanan yang mereka jual sangatlah enak."


Julian kini menghembuskan nafas kasar. Pikirannya kini, mulai membayangkan jika istrinya itu sedang makan, makanan di pinggir jalan. Ya, karena Julian juga pernah mengunjungi negara A sebelumnya. Dan tentu saja, jika Julian pastinya tidak akan makan - makanan di pinggir jalan. Julian juga selalu mengutamakan kebersihan. Dan sejak kecil, kedua orang tuanya itu tidak pernah mengajak dirinya untuk makan di tempat tradisional. Saat ini, Julian masih bingung bagaimana bisa istrinya itu pernah pergi ke tempat seperti itu? Bahkan istrinya juga mengatakan jika ibu mertuanya yang mengajak istrinya itu untuk mencoba makanan tradisional.


"Ya sudah. Kalau begitu aku akan meminta pelayan untuk membuatkan makanan yang kau inginkan itu." ucap Julian yang memilih untuk segera menghubungi pelayan. Jika tidak, dia akan kembali mendengar istrinya yang memaksanya untuk memakan makanan yang aneh itu.


Dan tak berselang lama, seorang pelayan melangkah mendekat masuk ke arah Julian dan juga Alexa.


"Aku hanya ingin meminta chef untuk membuatkan makanan yang sedang di inginkan oleh istriku." ucap Julian dingin pada sang pelayan.


"Apa Nyonya ingin makan makanan dari negara A lagi, Tuan?" tanya sang pelayan memastikan.


"Iya, dan nama makanannya itu tadi Ru- Ru..


Julian menghembuskan nafas panjang saat Alexa mengoreksi nama makanannya itu.


"Maaf, Nyonya muda. Tetapi, bisakah anda menunjukkan gambar nama makan yang anda inginkan itu?" tanya sang pelayan hati - hati.


"Sebentar." Alexa mengambil ponselnya di internet dan mencari di internet gambar makanan rujak. Dan setelah mendapatkan gambarnya Alexa langsung menunjukan pada sang pelayan dan berkata. "Ini adalah bumbu yang ada di sampingnya, sambel untuk rujak dan di sampingnya ada berbagai jenis buah - buahan .Tapi aku tidak yakin kita bisa memiliki bahan - bahan seperti itu di sini.


Lebih baik kau menggantinya dengan cabai dan garam saja. Dan untuk buahnya cukup mangga saja."


Mendengar penjelasan dari Alexa. Sang pelayan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Raut wajahnya sedikit bingung dengan proses pembuatan makanan yang di maksud oleh Alexa. Namun, di detik selanjutnya pelayan mencatat apa saja yang Alexa pesan.


"Apa ada lagi yang anda inginkan, Nyonya?" tanya sang pelayan memastikan.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak menginginkan apa - apa lagi. Karena itu saja sudah cukup." jawab Alexa dengan riang.


"Kalau begitu, saya permisi, Tuan... Nyonya. Saya akan meminta chef untuk segera membuatnya." kata pelayan itu, seraya menundukkan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan Julian dan juga Alexa.


"Julian, sepertinya pelayan kita tadi masih sedikit bingung dengan makanan yang aku minta tadi." gumam Alexa melihat pelayannya yang kini sudah pergi.


Julian pun berdecak. "Bukan hanya pelayan, tapi aku juga," geramnya kesal.


"Kau bilang apa tadi?" tanya Alexa yang kini mengalihkan pandangannya, menatap Julian.


"Tidak, aku hanya mengatakan sejak hamil kau semakin cantik." Julian menjawab dengan cepat. Jika dia mengatakan apa yang tadi dia katakan, bisa - bisa Alexa akan mengancam tidur di kamar tamu lagi.


"Kau tidak berbohong, kan?" Alexa menyipitkan matanya menatap Julian dengan curiga.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2