
"Eh? Tidak perlu. Aku sendiri saja." jawab Alexa cepat. Meski mereka sudah melakukan hubungan suami - istri, tapi Alexa masih sangat malu kalau Julian yang membantunya menggantikan pakaiannya.
Julian pun mengabaikan ucapan Alexa. Dia langsung membuka pengait dress yang di pakai oleh Alexa. Entah kenapa Alexa begitu patuh saat Julian melepaskan dress-nya. Saat Julian telah berhasil meloloskan dress yang di pakai oleh Alexa. Dia terdiam sesaat melihat tubuh mulus dan putih milik Alexa yang hanya terbalut bra dan panties berwarna merah. Napas Julian terasa begitu panas. Terlihat dirinya begitu berusaha untuk menguasai hasratnya. Mungkin, jika saja Alexa sedang tidak sakit, maka Julian sudah pasti menginginkannya. Kini Julian mengambil gaun tidur yang Julian pilihkan untuk Alexa dan langsung memakainya pada Julian.
"Kau istirahatlah, aku akan pergi ke kantor sebentar" Ucap Julian kemudian beranjak dari tempat duduknya. Namun, Alexa segera menahan lengan Julian.
"Apakah kau akan pulang malam," tanya Alexa memastikan.
"Entahlah, aku belum tahu." jawab Julian dan beranjak pergi meninggalkan Alexa.
Dan di depan pintu kamar Alexa sudah ada Desi yang berdiri di sana. Wanita itu kemudian menundukkan kepalanya pada Julian.
"Desi, jangan lupa obati luka yang ada di pergelangan tangan Alexa." perintah Julian.
"Baik Tuan Julian,"
Laki - laki itu beranjak pergi dari sana, dan Desi segera masuk kedalam kamar Alexa dan nampaknya Alexa yang tengah duduk menundukkan kepalanya. Saat Desi melangkah mendekat ke arahnya.
"Selamat datang kembali Nyonya Alexa. Syukurlah Nyonya Alexa sepertinya sudah baik - baik saja." sapa Desi kemudian melangkah mendekat dan membawakan peralatan perawatan luka untuk mengobati luka yang ada di pergelangan tangan Alexa.
Alexa menatap Desi, ia buru - buru menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut.
"Emmm... Nyonya Alexa kenapa?"
"Saya malu, Desi. Karena sudah bertindak bodoh ingin mengakhiri hidup saya sendiri. Dan membuat kehebohan di mansion ini." jawab Alexa di balik selimut.
Desi menarik pelan selimut itu, ia menatap Alexa yang diam dan kedua mata gadis itu tampak sedikit sembab.
"Nyonya Alexa, saya harap Nyonya Alexa tidak akan pernah melakukan tindakan seperti itu lagi. Lebih baik, Nyonya Alexa mulai belajar untuk mencintai Tuan Julian, dan bersabarlah Nyonya, cepat atau lambat Tuan Julian pasti bisa berubah seperti dulu menjadi orang baik dan penyayang. Mari saya ganti perban- nya Nyonya." bujuk Desi.
Alexa menganggukkan kepalanya, barulah dia menuruti apa yang di minta oleh Desi. Kemudian Desi pun mulai merawat luka yang ada di pergelangan tangan Alexa dan mengganti perban-nya dengan yang baru.
...***...
Hari sudah sore dan seharian Alexa belum melihat Julian pulang ke mansion. Kini Alexa sedang duduk di samping teras mansion milik Julian.
__ADS_1
Sedangkan Julian tenyata sedang menatap Alexa yang sedang duduk diam di teras samping rumahnya bersama dengan Novi dan juga Desi yang terus berada di sampingnya.
Alexa kini terus menatap ikan yang berada di dalam aquarium bulat di hadapannya. Sesekali Alexa mengetuk kaca yang ada di hadapannya itu dengan kukunya.
"Nyonya Alexa tidak lapar?" tanya Novi dan Alexa menggeleng saja.
"Nanti saja, Novi. Aku belum lapar." jawab Alexa.
Kemudian Julian melangkah mendekatinya dan menyuruh Novi untuk pergi dari sana ketika Novi menyadari kehadirannya.
Julian kemudian mengambil akuarium bulat itu dan memberikannya kepada Desi.
"Bunuh ikan itu, Desi." perintah Julian.
Alexa langsung menoleh cepat. "Apa maksudmu Julian, kenapa kamu ingin membunuh makhluk yang tidak bisa kau ciptakan sendiri?" teriak Alexa.
Julian berdiri di hadapan Alexa, laki - laki itu bersedekap dan menatap Alexa nyalang.
"Kau itu masih sakit, Alexa! Tapi kenapa kau tidak mau makan. Cepat sekarang makan dan minum obatmu. Jika kau masih tidak mau makan, aku bersumpah akan membunuh semua ikan di akuarium yang ada di mansion ini." Ancam Julian.
Julian membuang napas kasar, "Baiklah, kita makan bersama." Kemudian Julian membopong Alexa gaya bridal menuju ke arah ruang makan.
...***...
Suara dering ponsel terdengar. Alexa yang tengah tertidur pulas, dia langsung terbangun. Dan melihat ke layar tertera nama Kakaknya Samudera menghubunginya.
Kini Alexa menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. Sebelum kemudian meletakkan ke telinga Alexa.
"Hallo, Kak Samudera?" sapa Alexa dengan riang saat panggilannya terhubung.
"Alexa, aku dengar dari Adel kau di rawat di rumah sakit? Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja? Apa benar Julian sering menyiksamu? Jawab aku Alexa?" tanya Samudera panjang lebar dengan nada suara yang terdengar khawatir dari sebrang telepon.
"Kak Samudera, jangan mencemaskan aku. Aku baik - baik saja. Sekarang aku sudah pulang dari rumah sakit."
Hembusan napas kasar terdengar dari balik telepon, "Kau harus mengatakan yang sebenarnya kepadaku, Alexa. Jika suamimu yang sialan itu sudah berani melukaimu atau menyiksamu!"
__ADS_1
Alexa terkekeh mendengar ucapan dari Samudera, Kakaknya. Sesaat dia melirik ke arah Julian yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya dan kini sedang memasang wajah dingin dan datar tanpa ekspresi berjalan ke arah dirinya.
"Kakak percayalah, Julian tidak pernah melukaiku atau menyiksaku. Aku hanya tidak sengaja terkena pencahan kaca dan melukai pergelangan tanganku. Kalau Julian berani melukaiku aku berjanji akan mengadukanya padamu, Kak."
"Ya, kau harus mengatakannya padaku. Lalu aku akan membawamu pulang jika dia berani melukaimu,"
"Iya Kakak, aku tahu."
"Nanti aku akan menghubungimu lagi, karena Kakak harus pergi meeting dulu. Kakak sangat merindukanmu, Alexa."
"Iya Kak, see you. Aku juga merindukanmu."
Panggilan tertutup. Alexa kembali meletakkan ponselnya ke tempat semula. Sedangkan Julian kini berdecak tak suka. "Lebih baik Kakakmu itu segera menikah. Dan mencari wanita di hidupnya agar tidak lagi mengusik hidupmu."
"Kau ini menyebalkan sekali! Kakakku seperti itu karena sangat menyayangiku." Alexa mengerutkan bibirnya. "Kalau begitu tadi aku bilang saja kalau sebenarnya kamu itu memang menyiksaku." sambungnya dengan begitu santai.
"Menyiksamu?" Julian tersenyum misterius.
"J - Julian, apa yang sedang kau lakukan?" sontak saja Alexa langsung terkejut saat Julian sudah berada di atas tubuhnya dan membuat Alexa semakin gugup dan gelagapan.
Julian mendekatkan bibirnya ke telinga Alexa seraya berbisik dengan nada yang rendah, "Bagian mana yang kau bilang menyiksa? Maksudmu membuatmu terus mendesah di bawahku?"
Wajah Alexa memerah mendengar perkataan Julian. Sial, pria itu kembali mengungkit - ungkit tentang mereka yang telah berhubungan suami istri. Jika sudah membahas ini rasanya Alexa ingin lari saja.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.