Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Memasak Untukmu


__ADS_3

Wanita dengan blazer hitam itu menatap Alexa.


"Kau memecahkan guciku?!" Bentak wanita itu.


Alexa terdiam. "Aku tidak sengaja, aku hanya sedang menunggu suamiku tadi. Maaf." lirih Alexa.


"Kalau begitu, kamu harus ganti rugi! Karena barang - barang yang ada di tokoku ini tidak ada yang murah semuanya mahal dan kau harus menggantinya. Aku tidak mau tahu, kau wajib menggantinya!"


"Ta-tapi Nyonya aku tidak punya uang sama sekali. Aku mohon maafkan aku. Dan-"


"Berdiri di sana, tunggu sampai polisi datang menjemputmu!"


Alexa menangis saat ini, entah kenapa hatinya menjerit memanggil nama Julian saat ini.


Lain dengan Julian, laki - laki itu mengumpat keras saat dia tidak melihat keberadaan Alexa.


Julian kemudian berjalan mengelilingi tempat itu, dan ia langsung bertemu dengan Kenzo, asisten pribadinya.


"Kemana gadis bodoh itu?" tanya Julian menatap Kenzo.


Kenzo menggangguk. "Nyonya ada di toko guci, Tuan. Dan dia sedang ada masalah di sana." ujar Kenzo.


Julian langsung pergi dan ia dengan wajah marahnya langsung bergegas ke arah toko yang di maksud Kenzo.


Semua orang terdiam dan hening saat seorang Julian Dominic, laki - laki dengan tuxedo hitam dan wajah tampannya itu memasuki toko bersama para bodyguardnya. Tak dapat di elak kalau laki - laki itu sangat kaya dan dengan mudahnya di kenali oleh banyak orang.


Julian menatap gadis yang duduk di lantai dan sedang memeluk kakinya dengan kedua tangannya di ikat oleh tali. Pandangan keduanya jatuh pada sang pemilik toko yang langsung kaget di datangi oleh seorang Julian Dominic.


"Siapa yang berani mengikat tangan istriku?" tanya Julian menatap semua orang.


"JAWAB!" Bentaknya begitu membuat semua orang kaget.


"Gadis ini sudah memecahkan guci mahal di toko kami, Tuan." jawab pelayan toko itu dengan beraninya.


Julian menatap tajam dan wajahnya mengeras menahan marahnya. Ia berjalan mendekati Alexa dan duduk berjongkok di hadapan menatapnya lekat, dengan tangannya membuka tali itu dan membantunya berdiri.


Julian menatap pemilik toko.


"Berapa harga guci milikmu?" tanya Julian pada wanita itu.


"Li- Lima belas juta, Tuan!"


Julian berjalan dan mengambil satu guci dan ia jatuhkan, lalu ia merantau karyawan toko.


"Hitung berapa guci yang sudah aku pecahkan dan aku akan mengganti semuanya. Bahkan kalau perlu aku akan membeli gedung dan tempat ini." ujar Julian.


Laki - laki itu menyerahkan vas guci itu pada Alexa. "Banting! Hancurkan semuanya, habiskan semaumu!"


Julian mengambil guci dan menjatuhkannya berulang-ulang.


Alexa menggelengkan kepalanya. Julian memang kaya, tapi dia tidak boleh melakukan hal seperti ini.


"Ja- jangan! Sudah cukup!" Pekik Alexa menarik lengan Julian.


"Biar saja! Biar semua orang tahu kalau guci ini tidak ada harganya di mataku!"

__ADS_1


Pyar...


Pyar....


"Aku bilang, sudah jangan lagi aku mohon, jangan!" Pekik Alexa mencengkal lengan Julian.


Julian yang tengah mengangkat guci berwarna putih itu tinggi - tinggi dan kini ia di hentikan saat kedua tangan mungil Alexa itu memeluknya dari belakang.


"Aku mohon jangan, sudah cukup, hiks. Jangan lagi," lirih Alexa melarangnya.


Julian meletakkan guci itu di tempatnya. Ia mencekal tangan Alexa dan ia genggam.


"Istriku melarangku untuk merusak semua guci - guci milikmu. Jangan meremehkan seorang Julian Dominic!" Kecam Julian marah.


Laki - laki itu menatap ke arah Kenzo. "Berikan mereka uang gantinya dua kali lipat!" Perintah Julian sebelum ia menarik tangan Alexa untuk keluar dari sana.


...***...


"Apa maumu, Alexa! Berani sekali kamu membangkang?!" Marah Julian, laki - laki itu menghempaskan tubuh Alexa ke atas ranjang.


Alexa menggelengkan kepalanya, ia tidak punya jawaban apapun untuk saat ini. Terlebih lagi melihat Julian melepaskan jas hitam dan juga dasinya.


"Jangan coba - coba berbuat kasar padaku!" Sentak Alexa.


Julian mencekal dan mencengkram kedua lengan Alexa dan menariknya untuk mendekat.


"Aku berusaha baik padamu, Alexa. Tapi rupanya kau itu tidak bisa sabari. Sangat menguji kesabaranku." ujar Julian menipiskan bibirnya marah.


"Maafkan aku Julian...." ucap Alexa dengan isakan tangisnya.


"Shhhtt... Jangan menangis. Asal kau menurut padaku. Aku tidak akan sekasar ini padamu, Alexa..." bisiknya.


Alexa tersenyum tipis. Ia langsung mengusap air matanya.


"Julian.... apa kau ingin aku memasakkan sesuatu?" tanya Alexa tiba - tiba.


Seketika Julian berdehem dan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Alexa menjadi kian erat dan romantis.


"Kenapa setelah aku membelikanmu sesuatu, baru kau menawari aku makan atau tidak. Dan yang aku tahu, bukankah kau tidak bisa memasak?"


Kedua mata Alexa mengerjap, ia langsung mendorong tubuh Julian.


" Ya sudah, aku tidak jadi memasak untukmu!" Seru Alexa dengan wajah sebalnya.


Perlahan jemari Julian menarik pelan dagu Alexa hingga gadis itu menatapnya dengan tatapan yang kikuk.


"Kalau begitu masakan sesuatu yang enak untukku. Kalau masakanmu tidak enak. Aku akan menghukummu, paham!" Ucap Julian


"Paham," lirih Alexa.


"Good girl." ucap Julian kemudian Julian memiringkan kepalanya dan mengecup bibir Alexa.


Alexa diam saja sebelum Julian menarik tubuhnya. Gadis itu menatap Julian lekat - lekat.


"Kenapa kau itu suka sekali mengecup bibirku Julian? Apa sama seperti punya Kak Vanya?" tanya Alexa dengan polosnya.

__ADS_1


"Tidak, punyamu lebih manis."


"Oh ya?"


"Hemm, jadi kau ingin mencoba yang lebih memabukkan lagi, Alexa?"


"Tidak. Dasar mesum!"


...***...


Alexa berdiri di depan lemari pendingin yang terbuka dengan Novi dan juga maid lain yang ada di sana.


"Nyonya Alexa ingin memasak apa?" tanya Novi mendekatinya


"Entahlah, aku juga masih bingung mau memasak apa?" Alexa menghembuskan nafasnya pelan.


"Bagaimana kalau Nyonya memasak sup seafood," Novi memberikan saran


"Sepertinya menarik, baiklah Novi sekarang bantu saya untuk memasak."


"Baik Nyonya."


Alexa kemudian langsung membawa semua bahan yang akan di buat sup seafood itu kedapur. Semua pelayan saling tatap dan kini resah sendiri melihat Nyonya mudanya akan memasak.


Tanpa Alexa ketahui, seseorang berdiri di ujung atas tangga dengan bersedekap dan tersenyum tipis.


"Baiklah Alexa, kita lihat. Apakah masakanmu enak atau tidak. Jika tidak enak, aku akan marah dengan gaya yang lain padamu," gumam Julian.


...***...


Pintu ruangan kerja Julian terketuk, laki - laki itu menoleh ke arah pintu di mana Alexa berdiri di sana.


"Kemarilah...."


Julian langsung melambaikan tangannya menyuruhnya untuk masuk kedalam sana.


Alexa langsung mendekati Julian saat itu juga.


"Ada apa? Tumben sekali kau masuk kedalam sini?" tanya Julian dengan kedua matanya melirik Alexa.


Gadis itu mengangguk kecil dan jemarinya yang bergerak gelisah.


"Itu... anu, aku ingin mengajakmu makan malam bersama, sekali ini saja."


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2