
"Untuk apa kau kesini!" Suara bariton berseru dengan keras memasuki ruang rawat Alexa.
Julian mengalihkan pandangannya, menatap dingin Samudera yang berdiri di hadapannya. Sesaat tatapannya begitu tajam. Dia tidak ingin meladeni Samudera, tapi kali ini tidak mungkin. Karena Samudera adalah Kakak dari istrinya. Mau tidak mau dia harus berurusan dengan pria itu.
Aku rasa aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu. Aku menemui istriku. Hari ini dia sudah di perbolehkan untuk pulang. Dan aku harus membawanya!" Seru Julian berusaha mengendalikan amarah yang ada di dalam dirinya.
"Alexa tidak akan pulang denganmu. Dia akan ikut denganku!" Jawab Samudera tegas. Tatapannya begitu tajam menatap Julian.
"Alexa adalah istriku. Kau tidak berhak membawanya!" Julian melangkah mendekat ke arah Samudera. Dia membalas tatapan tajam Samudera.
"Kau tidak bisa membawa putriku!" Raymond berdiri di ambang pintu. Dia menatap tajam Julian. Sedangkan Arabella yang berdiri di samping Raymond, dia berusaha menenangkan sang suami agar tidak meluapkan amarahnya.
Julian mengumpat di dalam hati melihat mertuanya berdiri di hadapannya. Bukan tidak bisa melawan. Dia bisa saja memaksa Alexa, karena bagaimanapun dia jauh lebih berhak. Tapi dia tidak akan pernah melakukan hal yang membuat Alexa semakin membenci dirinya. Ya, sudah beberapa hari ini Julian bersabar diabaikan oleh Alexa. Hari ini saat Alexa sudah di perbolehkan untuk pulang, dia ingin langsung menjelaskan pada istrinya dengan apa masalah yang sebenarnya terjadi. Namun, jika seperti ini terpaksa dia harus menghadapi keluarga istrinya sendiri.
"Istriku akan pulang bersama denganku." Julian berucap tegas pada Raymond. Pria itu memilki sifat yang tangguh dan tidak pernah takut pada siapapun. Raut wajah dingin tanpa ekspresi dia tunjukkan pada Ayah mertuanya.
"Maka langkahi dulu mayatku jika kau masih ingin membawa putriku!" Raymond menghunuskan tatapan tajam dan penuh peringatan. Saat dia hendak mendekat ke arah Julian, dengan sigap Samudera menghadang Ayahnya.
"Biarkan ini menjadi urusanku, Pah." Samudera berucap dengan nada dingin dan tatapan penuh peringatan pada Julian.
"Samudera-" Arabella hendak mencegah putra sulungnya itu. Namun Raymond menarik lengan istrinya, dia tidak membiarkan istrinya untuk ikut campur.
Samudera mendekat dan Julian pun melangkah mendekat. Hingga saat jarak Keduanya begitu dekat dan tatapan tajam terlempar dari keduanya. Membuat semua orang yang ada di sana menjadi bungkam.
"Jangan mencari masalah denganku, Dominic. Jika kau ingin tetap hidup, jangan pernah lagi dekati adikku," desis Samudera tajam.
__ADS_1
Julian tersenyum sinis, "Kau yang lebih baik berhenti mencari masalah denganku, Johnson. Aku menghargai karena kau itu Kakak dari istriku. Jika bukan, sudah sejak tadi aku melenyapkanmu karena menghalangi langkahku."
"Berhenti Julian! Aku akan ikut dengan keluargaku. Lebih baik kau pulang."
Suara Alexa berseru membuat Julian langsung mengalihkan pandangannya. Seketika senyum di bibir Samudera terukir ketika mendengar perkataan adik perempuannya itu. Seketika raut wajah Julian berubah, dia menatap dingin istrinya.
"Tidak, Alexa! Kau harus tetap pulang bersama denganku! Aku akan menjelaskan semuanya!" Jawab Julian menegaskan.
Bulir air mata Alexa menetes membasahi pipinya. Wajahnya tampak begitu menahan kepedihan yang mendalam. Iris mata cokelat yang indah mulai terlihat begitu sayu. Luka yang di dapat Alexa tidak mungkin langsung menghilang. Yang Alexa butuhkan saat ini adalah waktu untuk menenangkan dirinya. Entah sampai kapan, tapi setiap kali dia melihat wajah Julian dia akan terluka.
"Aku ingin pulang bersama dengan keluargaku. Aku harap kau menghormati apa yang menjadi keputusanku." Alexa berucap dengan suara yang terdengar lemah.
"Alexa, tapi-"
"Julian, apa kau itu tidak mendengar apa yang sudah di katakan oleh putriku?!" Tegas Raymond lagi.
Kini Arabella membawa Alexa keluar dari ruang rawat itu bersama dengan Raymond. Julian mengumpat di dalam hati, ketika dia hendak mengejar Alexa yang sudah di bawa oleh mertuanya dengan sigap Samudera menghadang Julian. Dia langsung mendorong keras tubuh pria itu. Namun nyatanya kedua pria itu memiliki tinggi dan ukuran tubuh tegap yang sama. Jika Julian tidak dengan mudah Samudera lumpuhkan, begitu pun dengan Julian yang tidak mudah melumpuhkan Samudera.
"Apakah kau masih tidak mendengar? Adikku itu memilih pulang dengan keluarganya! Bukan denganmu! Aku peringatkan padamu menjauh dari adikku atau aku tidak akan lagi berbaik hati padamu. Kali ini aku akan pastikan kau lenyap di tanganku jika kau masih berani menganggu adikku!" Desis Samudera tajam.Tatapannya menatap Julian penuh dengan peringatan.
Tanpa lagi berkata, Samudera langsung melangkah meninggalkan Julian yang masih tidak bergeming dari tempatnya. Julian mengumpat kasar saat Samudera pergi. Dia mengambil pajangan yang ada di hadapannya dan langsung membantingnya dengan kasar.
Praaaannng.
Pecahan guci memenuhi lantai. Amarah yang ada di dalam diri Julian tidak bisa lagi tertutupi. Dia ingin sekali menarik paksa Alexa pulang. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan. Bukannya Julian takut pada Samudera ataupun keluarga Istrinya. Sejak dulu Julian tidak pernah takut pada apapun. Hanya saja, jika dia memaksa maka istrinya akan semakin membencinya.Ya, mau tidak mau Julian harus kembali memikirkan cara agar Alexa mendengar penjelasannya. Sudah cukup dia tersiksa selama di rumah sakit, Alexa selalu menghindar dan tidak mau bicara padanya.
__ADS_1
"Tuan Julian..." Kenzo melangkah menghampiri Julian. Seketika raut wajah Kenzo berubah saat melihat banyaknya pecahan beling yang ada di lantai. Kenzo pun langsung menundukkan kepalanya tidak berani menatap Julian yang tengah di penuhi oleh amarah.
"Ada apa kau kesini!" Seru Julian dengan kilat mata tajam di iris mata coklatnya.
"M-maaf, Tuan. T- Tapi di depan rumah sakit sudah di penuhi oleh para wartawan. Mereka sudah mendengar berita keretakan rumah tangga anda. Mereka berasumsi jika anda telah berselingkuh dari Nyonya Alexa," ujar Kenzo melaporkan dengan wajah yang gugup dan ketakutan.
"Sialan!" Julian menggeram. Rahangnya mengetat. Tangannya terkepal dengan benar kuat. "Segera hapus artikel pemberitaan itu! Aku tidak ingin lagi mendengarnya!"
"Tapi Tuan, untuk menghapus pemberitaan tentang keluarga Jhonson itu tidaklah mudah. Selain anda yang harus mengkonfirmasi, Nyonya Alexa juga harus mengkonfirmasi berita itu." Kenzo kembali menjawab dengan raut wajah yang masih sedikit ketakutan.
Julian terus mengumpat. Ingin rasanya dia membakar seluruh media yang selalu memberitakan hal yang tidak - tidak. "Lalu bagaimana dengan istriku? Apakah mereka menemui istriku saat dia depan tadi."
"Para wartawan tidak bisa menerima keterangan dari Nyonya. Dan pengawal Tuan besar Raymond sudah berjaga - jaga di depan. Dan sudah di pastikan tidak ada satupun wartawan yang bisa mendekat pada Nyonya," jawab.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.