
"Aku tidak bisa menjawabnya." jawab Alexa dengan tegas.
"Alexa," Adel menjeda, di menatap lekat sepupunya itu. "Kau tidak bisa membohongiku. Jika kau tidak jatuh hati pada Julian kau tidak akan mungkin marah dan menangis melihat Julian yang masih memikirkan mantan kekasihnya itu."
Alexa tersenyum lirih. Matanya kembali berkaca-kaca. "Jatuh hati pada Julian, hanya akan meninggalkan luka yang mendalam. Untuk apa aku harus terjebak dalam hal itu? Meskipun aku telah jatuh hati padanya, aku lebih memilih untuk menghindar agar aku tidak terluka."
"Aku tahu apa yang kau rasakan, Alexa." Adel merengkuh bahu Alexa. "Tapi percayalah, Julian hanya memikirkan Berlian sesaat. Dia pasti akan menyesali semuanya. Berlian adalah masa lalunya, terlebih wanita itu sudah tidak ada. Aku yakin Julian akan menyadari kesalahannya."
"Aku tidak tahu, Adel.Aku rasa, Julian tidak akan pernah mungkin melupakan bayang - bayang masa lalunya." Air mata Alexa kembali menetes membasahi pipinya. Hatinya terasa begitu sakit dan sesak saat mengatakan itu.
"No, Alexa!" Adel menangkup kedua pipi Alexa dan menatap sepupunya itu dengan lembut. "Kau itu cantik, berpendidikan, dan pastinya banyak pria yang menyukaimu. Aku sangat yakin Julian sudah jatuh cinta padamu. Hanya saja dia belum menyadari itu. Sekarang lebih baik kau istirahat. Tinggalkan sejenak masalahmu. Terkadang, kita membutuhkan waktu untuk menenangkan diri kita sendiri."
"Kau benar, Adel." Julian menjawab dengan nada lemah.
Adel tersenyum. Kemudian dia membantu Alexa untuk beranjak berdiri dan dia membawa sepupunya itu berbaring di ranjang. Ya, saat ini Alexa butuh untuk menyendiri. Masalah yang di hadapinya begitu berat. Dan untuk pertama kalinya, Adel melihat Alexa meneteskan air mata untuk seorang pria. Jika sampai Alexa meneteskan air matanya untuk seorang pria. Itu artinya pria itu begitu penting di hidupnya.
...***...
"Tuan Julian," Kenzo menundukkan kepalanya saat masuk kedalam ruang kerja Julian.
"Kau sudah tahu dimana istriku, Ken?" tanya Julian dingin saat Kenzo tiba di hadapannya.
"Sudah Tuan. Nyonya Alexa sekarang berada di rumah Nona Adel, Tuan." jawab Kenzo.
Julian membuang napas kasar. Dia duduk di kursi kerjanya dengan kursi yang di sandarkan. "Siapkan mobil. Aku akan menjemput Istriku malam ini. Dia suka atau tidak suka,aku akan menjemputnya!" Tukasnya menekankan.
__ADS_1
"Tuan Maaf, kalau saya boleh memberikan saran lebih baik jangan. Biarkan anda dan Nyonya Alexa saling menenangkan pikiran kalian. Saya hanya takut jika anda memaksa Nyonya Alexa untuk pulang kali ini, akan ada pihak luar yang melihatnya. Lebih baik anda pastikan hati anda, Tuan." ucap Kenzo hati - hati.
"Bagaimana aku hanya diam ketika istriku melarikan diri, Ken?!" Seru Julian dengan tatapan tajamnya pada Kenzo.
"Maaf, jika saya berani mengatakan ini, Tuan. Jika anda memang membutuhkan Nyonya Alexa, anda bisa menjemputnya dan belajar menerima kenyataan jika Nona Berlian sudah tidak ada lagi. Mau sampai kapan Tuan Julian akan hidup dalam bayang - bayang rasa bersalah pada Nona Berlian? Lebih baik anda menyerah jika anda tidak pernah membutuhkan Nyonya Alexa. Dan saya mohon jangan sakiti Nyonya Alexa lagi, Tuan. Jika Tuan berada di posisi Nyonya Alexa, Tuan juga belum tentu bisa menerimanya."
"Kau pergilah, Kenzo. Aku semakin pusing mendengar ocehanmu!"
"Baik Tuan, saya permisi."
...***...
Sudah satu minggu Julian tidak bertemu dengan Alexa. Dia pun meninggalkan pekerjaannya. Setiap harinya dia merasakan kesepian tanpa Alexa. Jika biasanya, dia melihat senyum dan suara Alexa, kini semuanya lenyap. Sudah satu minggu Julian benar - benar kehilangan sosok Alexa yang selalu berada di sisinya. Bahkan, dia tidak bisa menghubungi Alexa karena istrinya itu sudah memblokir nomor ponselnya. Sungguh Julian merasakan penyiksaan yang begitu mendalam.
Selama ini, diam - diam Julian meminta anak buahnya untuk berjaga di depan rumah Adel, untuk melihat aktivitas Alexa. Dan nyatanya dia tidak mendapatkan hasil apapun. Karena selama satu minggu ini Alexa tidak keluar rumah. Julian tidak sanggup lagi menahan penderitaannya, dia mengabaikan pekerjaannya, dia tidak lagi mempedulikan bisnisnya sejak Alexa jauh darinya. Berkali - kali dia ingin menjemput Alexa pulang, tapi dia takut jika nantinya dia akan melukai hati Alexa lagi.
"Aku tidak bisa terus seperti ini," Julian langsung menyambar kunci mobilnya. Dia hendak meninggalkan ruang kerjanya. Namun, langkah Julian terhenti saat Devan, sahabatnya tiba - tiba masuk kedalam ruang kerjanya.
"Julian? Kau ingin pergi?" Devan sedikit terkejut melihat ruang kerja Julian yang berantakan. Pecahan beling di lantai. Serta meja kerja Julian yang sudah tidak tertata rapih. Seketika kening Devan berkerut, menatap ruang kerja Julian untuk pertama kalinya yang tampak begitu kacau.
"Pergilah, aku tidak ingin di ganggu." tukas Julian dingin.
"Julian, kau ini kenapa? Apa kau sedang memiliki masalah?" tanya Devan ingin tahu saat melihat ruangan kerja Julian yang begitu berantakan.
"Aku hanya tidak ingin di ganggu! Pergilah.." usir Julian lagi.
__ADS_1
Devan terkekeh pelan. " Jadi, rumor yang aku dengar itu benar? Setidaknya kau itu harus bersyukur, Alexa hanya kabur darimu. Tidak langsung menceraikanmu, karena melihat sifatmu yang masih mengingat tentang Berlian, yang sudah meninggal itu, pantas saja dia lebih memilih untuk kabur. Kau harus ingat Julian. Wanita manapun akan merasakan cemburu jika melihat suaminya sendiri masih mengingat dan mencintai mantan kekasihnya, terlebih kekasih dari suaminya itu telah meninggal dunia."
"Jaga bicaramu, Devan. Aku itu memiliki alasan kenapa masih mengingat kenangan ku dengan Berlian." jawab Julian tegas.Dia melanjutkan lagi langkahnya meninggalkan ruang kerjanya. Tepat di saat Julian ingin pergi dengan cepat Devan menahan lengan Julian. Hingga membuat langkah sahabatnya itu terhenti
"Tunggu," Devan menatap Julian serius. "Aku tahu, kau dan Alexa sedang bertengkar. Untuk itu jika kau sudah benar-benar mencintai Alexa dan sudah bisa melepas bayang - bayang Berlian dari kehidupanmu maka jemputlah istrimu itu."
Julian membuang napas kasar. Dia menepis tangan Devan kasar. "Jangan ikut campur urusanku!"
"Aku bukan bermaksud untuk ikut campur tentang rumah tanggamu. Tapi aku hanya ingin mengingatkan padamu. Langkah yang kau ambil hari ini akan berdampak di masa depanmu. Sekali kau salah, maka tidak ada kesempatan kedua untuk mengembalikan semuanya. Jika kau telah memiliki istri yang tepat berada di sisimu. Jangan pernah menyia-nyiakannya. Sebagai teman, aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk tidak mengambil langkah yang salah," ujar Devan dengan nada yang begitu serius.
"Aku tahu, langkah apa yang akan aku ambil. Jadi diamlah!" Julian menjawab dengan nada yang begitu dingin.
"Apa itu?" tanyanya Devan yang penasaran.
"Kau akan tahu nanti. Aku harus segera menemui Alexa." Kemudian Julian melanjutkan langkahnya dengan cepat meninggalkan ruang kerjanya. Devan yang melihat Julian pergi, dia hanya bisa terdiam seraya menghembuskan nafas kasar.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.