
Kondisi kesehatan Alexa kini sudah mulai sedikit pulih. Dan kini Alexa sedang merasa bosan berada di mansion Julian, ia tidak punya teman untuknya berbincang. Adanya Novi dan Desi kedua wanita itu sedang sibuk dengan beberapa pekerjaannya hingga Alexa selalu merasa kesepian.
Langkah kaki Alexa kini tidak tahu ingin kemana, gadis itu kemudian mendekati ruang kerja Julian.
Alexa menatap laki - laki itu yang tengah sibuk membolak-balik buku dokumen di tangannya.
"Masuklah, jangan mengintip seperti penguntit Alexa!" Seru Julian yang membuat Alexa melebarkan kedua matanya.
"Kau, kau tahu aku di sini?" tanya Alexa dengan polosnya.
Julian mengangkat pandangannya, laki - laki itu menatap Alexa dan mengangguk kecil.
"Ya, tentu saja. Kemana saja gerak - gerikmu. Meskipun aku tidak melihatmu, tapi aku tahu," ujar Julian tersenyum tipis
"Kau seperti peramal saja," sahut Alexa sambil tersenyum kecil.
"Ada apa kau ada di depan ruanganku tadi?" tanya Julian ingin tahu.
"Ekhm! Begini Julian, kalau boleh hari ini saja, aku ingin pergi berbelanja dengan Adel. Aku merasa sedikit bosan berada di rumah ini tanpa melakukan kegiatan apapun."
"Aku tidak mengizinkanmu pergi. Kau di larang untuk keluar dari rumah ini."
"Kenapa?" tanya Alexa bingung.
"Kamu baru saja pulih, Alexa. Dan nanti kalau dokter Arsen sudah mengatakan kepadaku kalau kondisi tubuhmu sudah benar - benar pulih kau boleh keluar untuk berbelanja."
"Aku udah nggak papa loh," balas Alexa meyakinkan Julian.
"Jangan membantahku, Alexa. Kamu harus ingat satu hal. Kalau aku itu bertanggung jawab penuh atas dirimu pada kedua orang tuamu."
"Ya,ya. Kamu benar. Kau bertanggung jawab penuh atas diriku."
"Aku melakukan ini, karena aku peduli padamu. Aku juga tidak ingin melihatmu keluar masuk rumah sakit lagi, apa sekarang kamu mengerti! " Julian menjawab dengan nada yang terdengar tenang namun tersirat ketegasan di sana.
"Peduli apanya?" cibir Alexa kesal "Kau itu berlebihan, Tuan Julian Dominic." sambungnya kesal.
Julian lebih memilih diam, dia tidak lagi menjawab perkataan dari Alexa. Ya, karena apa yang sudah Julian putuskan, dia tidak suka ada yang membantahnya. Meskipun itu adalah permintaan kecil dari Alexa.
...***...
Sore harinya tiba - tiba Mateo datang ke mansion milik Julian. Padahal ia baru saja keluar dari lift dan nampak Mateo masuk kedalam rumah Julian, dimana pintu depan mansion itu terbuka lebar.
"Hai cantik, ini untukmu." ujar Mateo memberikan buket bunga mawar merah pada Alexa.
"Terima kasih Mateo...." Ucap Alexa sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Wah, berani sekali yah kau memberikan bunga pada istriku, Mateo?!"
Suara dingin Julian membuat Mateo dan Alexa menoleh bersamaan. Laki - laki itu terkekeh saja, kemudian Julian berjalan mendekat ke arah Alexa yang sedang memegang buket bunga pemberian dari Mateo.
Julian kemudian mengulurkan tangannya dan meminta buket bunga yang sedang di pegang oleh Alexa.
"Berikan buket bunga itu?!" Pinta Julian tegas sambil mengulurkan tangannya.
"Tapi Mateo memberikan buket bunga ini untukku, Julian. Kenapa kau mau mengambilnya?!" Seru Alexa mencebikkan bibirnya.
Julian menatapnya nyalang. "Kau sudah berani padaku, Alexa."
"CK! Julian! Itu hanya sebuah buket bunga saja! Kalau kau merasa cemburu bilang saja! Biar aku bawa Alexa ke kamar sekalian!" Seru Mateo tersenyum manis.
"Aku pastikan di dunia ini hanya tinggal nyawamu saja, sialan!" Seru Julian tersenyum tipis.
Alexa menatap Julian yang begitu posesif padanya, tatapan Alexa terhadap Julian mendadak teralihkan saat Julian sendiri melirik ke arahnya.
"Cepat naik ke lantai dua, Alexa! Dan aku tidak ingin kau menemui si brengsek ini lagi!" Seru Julian sambil menunjuk ke arah Mateo.
Mateo hanya terkekeh. "Kau itu benar-benar pencemburu sekali, Julian!"
Mateo menghembuskan napasnya dan laki - laki itu beralih menatap Alexa sekilas. "Dengarkan aku. Kedatanganku kesini hanya ingin menjenguk Alexa dengan membawakan buket bunga ini untuknya karena aku dengar dari Kak Devan, Alexa sempat di rawat di rumah sakit itu saja dan tidak ada tujuan lain," jelas Mateo.
"Tutup mulutmu itu, brengsek! Lebih baik kau cepat pergi dari mansionku ini!" Umpat Julian kesal.
Kini Alexa membalikkan badannya dan hendak pergi, namun Julian menarik lengannya dan merebut buket bunga yang berada di tangan Alexa. "Jangan pernah menerima barang apapun dari orang lain lagi, selain aku yang memberikannya padamu, paham!" Peringat Julian tegas pada Alexa.
"Jangan di buang, Julian. Itu namanya kau tidak menghargai pemberian dari orang lain?" seru Alexa. Ia hendak mengambil bunga itu dari tangan Julian.
"Kalau kau tetap mengambil buket bunga ini. Aku pastikan akan mengikatmu di gudang!" Bisik Julian sambil tersenyum tipis.
Alexa kemudian langsung mendorong dada Julian dan berkata "Menyebalkan sekali!"
Kemudian Alexa pun pergi meninggalkan Julian dan berjalan menuju ke lantai dua.
...***...
Selain memikirkan perkataan Julian sore tadi, Alexa kini sedang menangis karena perutnya yang tiba-tiba saja sangat sakit.
Alexa meremat kuat selimut yang menutupi tubuhnya, ia tidak berani sedikit bergerak, karena saat ini Julian sedang tertidur pulas di sampingnya.
"Kenapa perutku sakit sekali, padahal aku hanya makan sandwich saja," gumam Alexa sambil merintih kecil.
"Ada apa? Kenapa kau menangis Alexa?" tanya Julian.
__ADS_1
Alexa malah menangis dan memegangi perutnya, hingga refleks Julian mengusap perut Alexa.
"Kenapa perutmu?" tanya Julian lagi dia nampak panik, kemudian dia membantu Alexa untuk duduk. "Kau ini, sudah merasakan sakit perut tapi kenapa tidak langsung bilang padaku, huh?! Kau cari mati ya?!"
Alexa menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Padahal aku tadi habis makan sandwich. Tapi tiba - tiba perutku merasa sakit sekali dan...."
Ucapan Alexa terhenti tiba - tiba, saat Julian kini sedang mengusap perutnya secara tiba-tiba dan kedua matanya melebar sebelum ia menepis tangan Julian segera. Kemudian Alexa bergerak menuruni ranjang, Alexa langsung berlari membungkuk menuju ke arah kamar mandi.
Seketika Julian terkekeh pelan, kini ia tahu penyebab Alexa kesakitan pada perutnya. Bahkan saat tadi Alexa berlari Julian melihat sesuatu di belakang baju tidur milik Alexa.
"Julian," panggil Alexa pelan.
Julian menoleh dan berjalan mendekatinya.
"Kenapa? Kau memintaku untuk masuk kedalam sana?"
"Hah?! Tidak!"
"Lalu?"
Alexa tampak gugup, wajahnya kini memerah, malu dan bingung. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum Julian mendorong pintu di depannya.
"Eh...? Apa yang kau lakukan!" Teriak Alexa menatapnya nyalang.
"Karena kau itu sangat lamban! Katakan sekarang juga apa yang sebenarnya kau inginkan?!"
"Panggilkan Novi, aku mohon..." pinta Alexa.
"Kenapa harus Novi, ada aku di sini. Aku juga pasti bisa membantumu..." ucap Julian dengan nada suara yang terdengar kesal.
Alexa menggelengkan kepalanya cepat.
"Dan tidak mungkin aku meminta bantuanmu, Julian. Aku mohon...." jawab Alexa sambil merengek - rengek dengan ia menunjukkan wajahnya saja pada pintu yang ada di hadapannya.
"Akan aku panggilkan. Sudah, jangan merengek seperti anak kecil lagi!" Ucap Julian kesal. Kemudian berjalan keluar dari dalam kamar dan pergi ke lantai satu dengan tidak berhenti mengomel. "Dasar perempuan! Datang bulan saja sangat merepotkan!" Gerutu Julian. "Ah, menyebalkan sekali, ini semua terjadi pasti karena Tuhan mendengarkan ucapan Mateo yang kurang ajar itu! Kalau begitu sudah di pastikan aku akan puasa selama 7 hari dan setiap malam tidak bisa lembur lagi dengan Alexa." Sambungnya yang semakin kesal ketika Julian mengingat kembali ucapan dari Mateo tadi sore.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.