Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Mengganggu


__ADS_3

Wajah Alexa memucat mendengar Julian mengatakan dirinya tertidur dalam pelukannya. Pikirannya berputar kejadian apa yang terjadi tadi malam dia lakukan. Dengan cepat Alexa menatap tubuhnya. Napas Alexa langsung lega, melihat dirinya masih terbalut oleh gaun tidur.


"Apa kau berpikir aku sudah memasukimu?" Julian langsung menyentil kening Alexa dengan keras hingga membuat Alexa mengaduh kesakitan. "Cuci otakmu agar jernih dan tidak berpikir yang tidak-tidak. Kau bukan seleraku. Aku tidak mungkin tergoda oleh tubuhmu meski kau tidak memakai sehelai benangpun!"


Alexa merengut sebal mendengar perkataan dari Julian. " CK! Kau ini menyebalkan sekali! Aku hanya waspada saja! Lagi pula, kau tidak mungkin tidak tertarik padaku jika aku tidak memakai apapun. Dan apa kau sudah lupa beberapa hari yang lalu betapa buasnya kau selalu menginginkan diriku! Jadi kau jangan membohongiku!" Alexa menjeda, dia menatap Julian penuh selidik. "Atau jangan-jangan kau sudah tidak normal? Kau sudah tidak lagi menyukai wanita?"


Julian menggeram saat Alexa mengatakan dirinya tidak normal. Tiba - tiba dia menarik tubuh Alexa dan langsung naik ke atasnya. Sontak Alexa terkejut saat Julian berada di atasnya. Suara detak jantung keduanya begitu terdengar. Hanya saja, terlihat Alexa menghilangkan kegugupannya. Jarak mereka begitu dekatnya. Bahkan bibir mereka hampir bersentuhan.


"J- Julian, K- Kau mau apa? J-Jangan macam - macam." ucap Alexa yang sedikit terbata - bata. Dia hendak bangun tapi sulit karena Julian mengunci pergerakannya.


"Macam-macam?" alis Julian terangkat, dia menyunggingkan senyuman yang misterius. "Kau sendiri yang mengatakan tadi aku tidak normal. Sekarang apa aku harus membuktikannya padamu?"


"Eh? Tunggu - tunggu, aku hanya asal menebak saja tadi. Kalau kau normal itu bagus. Aku tidak ingin memiliki suami yang tidak normal. Apa kata teman - temanku nanti? Setidaknya, meski kita tidak saling mencintai. Kau masih tetap normal dan menyukai wanita." jawab Alexa dengan lugas. "Jadi sekarang, lebih baik kau bangun. Tubuhmu itu begitu berat, Julian. Aku tidak sanggup menahannya."


Senyuman samar di bibir Julian terukir, dia langsung beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya membantu Alexa berdiri. Alexa pun menyambut uluran tangan dari Julian. Terlihat Alexa yang sedikit canggung. Terlebih Alexa hanya memakai gaun tidur putih transparan yang begitu memperlihatkan lekuk tubuh indahnya. Sedangkan Julian, memamerkan dada bidang dan otot perutnya yang menggoda para kaum wanita.


"Aku harus mandi. Aku takut kalau Ayah dan ibuku akan datang," ujar Alexa cepat. Dia hendak masuk kedalam kamar mandi, namun langkah Alexa terhenti kala Julian menahan lengannya. Alexa langsung berbalik, dan menatap Julian dingin. "Ada apa, Julian? Aku ingin segera berendam? Menjauhlah."


"Jangan lagi untuk kabur dari mansionku!" Suara Julian terdengar begitu dingin dan penuh perintah.


...***...


Pagi ini Alexa masih berada di dalam kamar Julian. Tatapan Alexa tertuju ke arah luar jendela. Alexa terdiam saat Julian kini mendekatinya.


Alexa memejamkan Kedua matanya pelan saat Julian mendekati wajahnya dan mengecup lembut bibir Alexa.


"Pergilah ke lantai satu dan minta sarapan pada Desi," ujar Julian memerintah.


Bukannya menjawab atau menanggapi apa yang Julian katakan, Alexa malah berbaring di atas ranjang dan diam di sana.


"Kenapa?" tanya Julian mendekatinya.


"Aku ingin pulang ke negara R sebentar? Untuk menenangkan pikiranku, Julian. Bukankah kau sudah memberikanku kebebasan? Lalu kapan kau mengijinkanku untuk bebas dari mansion ini?" lirih Alexa.


Julian tersenyum tipis dan ia membalikkan tubuh Alexa hingga mereka berdua saling bertatapan.

__ADS_1


Satu tangan Julian menangkup dan mengusap lembut pipi Alexa namun gadis itu melepaskan tangan Julian.


"Julian....."


"Kau mau ku ikat di atas ranjang ini, Hem? Jangan sekali - kali kau mengatakan kau ingin pulang, paham Alexa?" seru Julian mengusap pipi Alexa.


Alexa memejamkan kedua matanya dan menggeleng pelan.


"Tidak mau, aku ingin pulang saja." cicitnya sebelum ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Julian terkekeh, laki - laki itu menarik tangan Alexa agar mendekat dengannya dan ia secepat kilat mengecup bibir Alexa dengan lembut.


Jujur saja kalau Julian sangat membenci Alexa yang merengek dan menangis ingin pulang.


Alexa mendorong pundak Julian, saat napasnya terasa menipis, namun laki - laki itu malah mencengkal kedua tangan Alexa dengan erat. Bukan hanya itu, tautan bibir mereka tidak terlepas sama sekali.


Alexa menendang - nendang kaki Julian mencoba memberontak. Kemudian Julian melepaskan tautan bibirnya, ia mengusap bibir bawah Alexa yang merekah.


"Kau ingin aku membuatmu hamil, hem? Kau ingin hamil kan, Alexa?" Julian membelai pipi putih Alexa dengan memberikan tatapan tajamnya pada gadis itu.


"Berat, minggir!" Pekik Alexa memukuli punggung Julian. Namun Julian malah asyik ketika Alexa kesal padanya.


Julian masih menatap wajah Alexa yang kesal padanya. Julian terkekeh, ia mengecup bibir Alexa lagi sebelum gadis itu geram dan ia diam pasrah.


Kedua tangan Alexa memeluk leher Julian, hingga laki - laki itu semakin gencar memagut bibir Alexa, lamat - lamat ia merasakan balasan dari bibir tipis gadisnya itu.


"Tuan muda permisi...."


Suara ketukan pintu menggangu kegiatan Julian. Padahal ia merasakan Alexa sudah mulai membalas pagutan bibirnya.


"****!" Umpat Julian kesal.


Laki - laki itu langsung bangkit dari sana dan berjalan membuka pintu.


Tatapan tajamnya tertuju pada Kenzo yang berdiri di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


"Ada apa?!" Tanya Julian.


"Sarapan sudah siap, Tuan!" Jawab Kenzo.


Julian nampaknya sangat kesal pada asistennya itu dan laki - laki itu menoleh ke arah Alexa yang kini sedang berdiri di belakangnya ingin keluar.


"Rasanya aku ingin sekali menghukummu saja, Ken?"


"Memangnya saya sudah melakukan kesalahan apa, Tuan muda?'


"Kesalahanmu karena kau sudah dua kali mengganggu kebersamaanku dengan Alexa, Ken!" ujar Julian dan ia menarik lengan Alexa.


"Lepaskan aku, Julian!" Alexa menyentak tangan Julian dan hendak pergi.


"Tunggu Alexa,"


"Ada apa Julian?" tanya Alexa sambil menatap wajah Julian dengan kesal.


"Kita sarapan bersama." ucap Julian.


Alexa tidak menjawab. Dia memilih untuk terus melangkah menuju ke ruang makan. Dan Julian tersenyum saat Alexa berjalan menjauh darinya. Gadis itu benar - benar membuatnya gemas dan tergelitik.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2