Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Alasan Vanya


__ADS_3

"Aku ikut senang, jika pada akhirnya kau bisa bahagia bersama dengannya? Apalagi jika Julian juga sudah mulai mencintaimu." ucap Vanya antusias.


Sebenarnya Alexa sendiri tidak tahu dirinya harus menjawab apa. Dan tidak bisa pungkiri dirinya itu kini mulai merasa nyaman saat berada di dekat Julian. Dia mulai menyukai setiap momen yang dia lewati bersama dengan Julian. Hanya saja, masih banyak yang dia tidak bisa mengerti dari Julian. Julian sepertinya masih membangun dinding yang tinggi yang menjadikan penghalang dirinya untuk mengenal lebih dekat.


"Ya, selama ini Julian selalu berusaha untuk menuruti keinginanku dan membahagiakanku. Meski terkadang dia bersikap dingin. Tapi aku mulai merasa nyaman berada di dekatnya."Alexa lebih memilih untuk menjawab seperti ini.


"Kak Vanya, apa kau bisa menceritakan siapa pria yang sudah berhasil menaklukkan hatimu, Kak? Apa aku mengenal pria itu?" tanya Alexa yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kau tidak mengenalnya, Alexa. Karena dia salah satu pengacara terbaik yang ada di negara M. Aku dan dia bertemu tanpa sengaja, saat aku menemani Julian ke jamuan makan malam beberapa bulan yang lalu. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya. Tapi suatu saat kau pasti akan tahu siapa pria itu. Dan dia adalah salah satu alasan aku meninggalkan pesta pernikahanku, itu juga karena pria itu," ujar Vanya menjelaskan dengan raut wajah yang kelihatan sedikit muram.


"Apa sekarang dia sudah kekasihmu?" tanya Alexa hati - hati.


"Tidak," Vanya menggelengkan kepalanya. "Dia bukan kekasihku. Tapi dia tahu aku menyukainya."


"Lalu bagaimana dengan dia? Apa dia menyukaimu juga, Kak?" Alexa kembali bertanya.


"Rumit untuk menjelaskannya, Alexa. Tapi aku berjanji padamu, suatu saat pasti akan menceritakan semuanya padamu." jawab Vanya dengan tatapan yang meminta Alexa untuk tidak lagi bertanya tentang pria yang dia sukai.


Alexa mengangguk paham. "Baiklah, aku akan mengerti. Tapi aku minta, agar Kak Vanya segera pulang kerumah. Ibu dan Ayah pasti sangat mencemaskanmu."


"Seminggu yang lalu, aku sudah menghubungi Mama. Aku meminta pada Mama jangan menceritakan pada siapapun. Karena aku akan segera kembali, biarkan dalam beberapa hari ini aku menenangkan diriku dulu," ujar Vanya dengan suara yang tenang.


"Jadi kau sudah menghubungi Mama, Kak?" Alexa sedikit terkejut mendengar Vanya sudah menghubungi ibunya. Ya, pantas saja ibunya saat ini terlihat begitu tenang - tenang saja. Dan tidak menghubungi dirinya beberapa hari ini. Karena biasanya ibunya itu selalu menanyakan kabar tentang Vanya apakah sudah di temukan atau belum. Sejak dulu, Ibunya itu memang akan selalu menutupi dan membela anak - anaknya dari kemarahan sang Ayah.


"Ya, kau tahu sendiri kan Alexa, jika sejak dulu Mama sangat menyayangi kita. Demi dia aku akan segera pulang," jawab Vanya. "Tapi Alexa, ada hal penting yang ingin aku katakan padamu?"

__ADS_1


"Ada apa, Kak?" tanya Alexa dengan tatapan yang bingung.


"Sekitar dua Minggu yang lalu, aku tidak sengaja mengujungi pemakaman Berlian, mantan kekasih Julian yang meninggal dua tahun yang lalu. Kau juga pasti sudah tahu bukan, tentang Berlian. Dan jika kau bertanya apa alasan aku pergi kesana, aku sendiri tidak tahu. Karena saat itu hatiku menginginkan ingin mengujungi pemakaman Berlian. Tapi ketika aku datang, aku melihat seorang wanita yang berkunjung ke makam Berlian. Kau pikir kau yang datang. Tapi saat aku mendekati itu, dia langsung pergi. Aku tidak bisa mengenali wajahnya karena dia menggunakan masker dan selendang. Aku sedikit mencurigai wanita itu," jawab Vanya dengan raut wajah yang sedikit serius.


"Mungkin saja itu teman Berlian, Kak." jawab Alexa yang berusaha untuk berpikir positif.


Vanya mengangguk, "Kau benar, mungkin saja dia itu teman Berlian."


"Alexa, maaf. Aku tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Aku takut anak buah Ayah atau Kak Samudera akan menemukanku." ucap Vanya yang kemudian kembali menggunakan selendang untuk menutupi wajah cantiknya.


Alexa mendesah pelan. "Apa kau tidak mau pulang denganku sekarang, Kak Vanya?"


"Biarkan aku untuk menenangkan pikiranku, Alexa. Aku pasti akan kembali secepatnya. Berikan aku waktu beberapa hari lagi," Vanya beranjak dari tempat duduknya. Kini Vanya mendekat dan memeluk erat Alexa seraya melanjutkan perkataannya. "Jaga dirimu baik-baik, Alexa. Aku berjanji akan sering mengunjungimu."


Vanya tersenyum, dia mengelus lembut pipi Alexa. Kemudian berjalan meninggalkan saudara kembarnya yang masih tidak bergeming dari tempatnya. Alexa terus menatap punggung Vanya hingga menghilang dari pandangannya meski dia ingin agar Vanya segera kembali, tapi dia tidak ingin memaksanya. Dia yakin, Kakaknya Vanya pasti memiliki alasan sendiri kenapa dia tidak langsung kembali.


Kemudian Alexa meminta pelayan untuk memberikan bill tagihan yang di pesan dan membayar tagihan makanan yang telah dia pesan. Kini Alexa berjalan meninggalkan restoran itu dan menuju ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari tempatnya. Hari pun sudah sore, Alexa juga tidak ingin jika Julian mencemaskannya.


...***...


"Alexa, kau darimana saja? Kenapa kau baru pulang?" suara Julian terdengar begitu dingin saat Alexa melangkah masuk kedalam mansion mereka. Ya, Julian sedang duduk di ruang tamu, sengaja menunggu Alexa pulang. Bukannya menjawab, tiba - tiba Alexa langsung menghamburkan pelukannya ke tubuh Julian. Sedangkan Julian sedikit terkejut, karena tiba - tiba saja Alexa langsung memeluknya. Namun perlahan, Julian membawa tangannya membalas pelukan hangat dari Alexa.


"Ada apa, Alexa?" Julian kembali bertanya dengan nada suara yang sedikit pelan.


"Aku merindukanmu." ucap Alexa, mendongakkan kepalanya, menatap manik mata cokelat Julian.

__ADS_1


Perkataan dari Alexa sukses membuat Julian tersenyum. Dia mencubit pelan hidung Alexa seraya menjawab, "Siapa yang mengajarimu untuk bersikap manis seperti ini, huh? Atau kau sengaja melakukannya agar aku tidak marah lagi padamu?"


"Maaf..." Alexa mengaitkan tangannya di leher Julian. "Tadi aku itu terlalu asyik berbicara dengan temanku hingga lupa waktu, Julian." Julian menarik dagu Alexa, mencium dan ******* lembut bibir Istrinya itu. "Lain kali, kau harus selalu mengaktifkan ponselmu itu. Aku tidak suka ketika aku menghubungimu dan ponselmu ternyata tidak aktif," sambungnya mengingatkan.


"Maaf. Itu karena baterai ponselku habis." ucap Alexa yang terpaksa berbohong.


Ya, Alexa terpaksa berbohong pada Julian. Dia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada Julian. Mengingat dirinya sudah berjanji pada Kakaknya, Vanya. Dan tidak mungkin mengingkarinya. Dan alasan Alexa menonaktifkan ponselnya, karena Alexa tidak ingin jika Julian nantinya akan melacak GPS di ponselnya.


"Ya sudah, kita masuk kedalam." ucap Julian sembari mengelus pipi Alexa.


Alexa mengangguk. Kemudian, dia memeluk lengan Julian menuju ke arah kamar mereka.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2