
Dia dalam kamarnya Julian masih terlelap. Laki - laki itu mengulurkan tangannya mencari sesuatu untuk ia peluk hangat seperti biasanya.
"Alexa," panggil Julian dengan mata yang masih tertutup.
Kemudian Julian membuka matanya. Dia menatap seisi kamar itu kosong, jam masih menunjukkan pukul tiga pagi.
"CK! Kemana dia," gumam Julian langsung bangun dari tidurnya.
Julian langsung beranjak dan bangkit dari duduknya, ia berdiri sembari mengancingkan kemeja yang tadi di pakainya.
Julian terdiam saat mendengar suara gemericik air shower dari arah kamar mandi.
"Ternyata dia sedang berada di dalam kamar mandi?" gumam Julian.
Julian berulang kali menatap ke arah pintu kamar mandi dan melihat kearah jarum jam tetapi Alexa belum juga keluar. Gemericik air masih terdengar dengan begitu jelas di telinga Julian, menandakan Alexa masih membersihkan diri. Julian mengerti jika Alexa memilih untuk pergi kedalam kamar mandi. Gadis itu pasti shock dan menangis karena perlakukan kasar darinya.
Julian pun tidak ingin menambah ketakutannya lagi bagi Alexa bila dia masuk dan memintanya segera keluar dari dalam kamar mandi. Dan dia masih setia menunggu. Namun, saaat ini Julian merasa waktu begitu lambat berputar, di setiap detiknya jarum jam itu berpindah terasa lama, Alexa tak juga muncul dari balik pintu. Julian terus bersabar menunggunya. Walaupun dia sudah tidak tahan lagi untuk pergi kedalam kamar mandi dan melihat apa yang sedang Alexa lakukan.
"Kenapa Alexa belum keluar dari dalam kamar mandi?" dengan gelisah Julian menatap ke arah pintu kamar mandi.
Sedangkan Alexa yang masih berada di dalam kamar mandi dia sedang mencari sesuatu yang berada di tempat peralatan mandi miliknya, dia tersenyum saat melihat pisau lipat milik Julian yang sudah lama ia sembunyikan. Tangannya bergetar saat mengambil benda tajam itu dan Alexa kembali duduk di bawah guyuran air shower.
"Ayah, Ibu, Kakak... maafkan Alexa kali ini Alexa benar - benar menyerah," dengan terisak Alexa berucap.
Alexa menempelkan benda tajam itu tepat di atas urat nadi di pergelangan tangan kanannya, dia menutup matanya kemudian mulai menyayat pergelangan tangannya sendiri. Setelah itu darah mengalir dari guyuran air shower. Alexa memejamkan matanya agar sakit itu benar-benar cepat berlalu dan membawanya ke alam lain.
"Aku benar-benar terlepas darimu, Julian." gumam Alexa sebelum kesadarannya menghilang.
Saat darah begitu banyak keluar dari urat nadinya yang terluka, tatapannya mulai samar. Hawa dingin mulai menyelimuti tubuhnya dan dia mulai kehilangan kesadaran.
Namun kini kesabaran Julian sudah di ujung batas melihat Alexa yang belum keluar dari dalam kamar mandi. Kemudian Julian berdiri dengan semangat yang memburu melangkah menuju ke arah kamar mandi.
Braak.
Pintu pun terbuka dengan keras, mata Julian tertuju pada sosok gadis yang sedang duduk dan mengeluarkan banyak darah.
__ADS_1
"Alexa?! Apa yang sudah kau lakukan!" Teriak Julian.
Julian langsung berlari ke arah Alexa dan langsung memangku tubuhnya dan membawa Alexa keatas ranjang membuka borgol yang ada kakinya kemudian menyelimuti tubuh Alexa yang masih polos.
"Alexa? Alexa?" Julian menepuk pelan pipi Alexa, berusaha membuat wanita itu sadar. Namun nyatanya Alexa tak kunjung sadar. Wajah Julian berubah menjadi semakin panik. Dengan cepat Julian langsung membopong tubuh Alexa gaya bridal. Darah yang keluar dari pergelangan tangan Alexa menetes di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Julian berlari sambil berteriak memanggil semua yang berada di kepalanya. Terutama sang supir, agar bersiap untuk membawanya ke rumah sakit. Keributan itu membuat seluruh penghuni mansion berlari ke arah Julian yang berjalan cepat dan langsung membawa Alexa masuk kedalam mobil.
"Apa yang terjadi?" tanya Devan yang saat itu ikut menginap di mansion milik Julian.
"Tuan Julian membawa Nyonya Alexa ke rumah sakit." jawab Desi.
"Memangnya kenapa dengan Alexa? Kenapa ada darah berceceran dimana-mana?"
"Nyonya Alexa sepertinya menyayat tangannya sendiri untuk mengakhiri hidupnya, Tuan Devan."
"Apa?!" ucap Devan terkejut.
...***...
Julian bergerak gelisah tepat di hadapan ruangan rawat Alexa. Terlihat wajahnya begitu cemas dan panik. Dia terus menunggu dokter yang tengah memeriksa keadaan Alexa. Ya, Alexa mencoba mengakhiri hidupnya pasti karena dirinya telah memperlakukannya dengan buruk. Kini dia menyadari dirinya seolah menjadi monster di mata gadis itu.
Suara pintu terbuka. Julian yang melihat dokter keluar dari ruang rawat Alexa, dengan cepat dia berjalan menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan istriku?" Julian bertanya dengan nada yang terdengar begitu cemas.
"Istri anda sudah tidak apa-apa. Syukur anda membawa istri anda kerumah sakit dengan cepat, kalau tidak, nyawanya tidak akan tertolong karena kehabisan banyak darah." ucap dokter itu menjelaskan pada Julian.
"Apa aku bisa menemui istriku?" tanya Julian dengan raut wajah yang begitu serius.
"Silahkan Tuan, anda bisa menemui istri anda." jawab sang dokter.
Tanpa lagi menjawab, Julian langsung berjalan cepat masuk kedalam ruang rawat Alexa. Meski hatinya sedikit tenang karena Alexa baik - baik saja, tapi entahlah kenapa hatinya tidak bisa tenang sepenuhnya.
Saat Julian tiba di ruang rawat Alexa. Tatapannya menatap tubuh Alexa yang terbaring lemah di ranjang dan wajahnya yah begitu pucat. Dia mendekat dan langsung duduk di tepian ranjang.
__ADS_1
...***...
Alexa perlahan membuka kedua kelopak matanya, bola matanya menatap ke kiri dan ke kanan.
"Apakah aku sudah berada di dunia yang berbeda? Tapi mengapa aku merasa mengenal tempat ini?" ucap Alexa di dalam hati.
Alexa menoleh ke kiri dan terlihat dinding yang sama dengan kamar barunya, kemudian dia menoleh ke arah kanan dan dia juga masih sangat mengenali dinding yang sama dengan kamar barunya.
"Ah, aku pikir aku sudah berada di dunia lain? Ternyata aku masih hidup?"
Alexa kemudian merasakan lengannya di genggam oleh seseorang dan dia langsung menoleh ke bawah. Dia melihat Julian yang duduk tertidur di kursi yang terletak di tepi ranjang. Tubuhnya yang kekar bersandar di sandaran kursi dengan tangannya menggenggam erat tangan kanannya.
Alexa menatap wajah Julian yang sedang tertidur, lelaki tampan yang kini berada di hadapannya adalah lelaki yang aneh. Lelaki itu tidak memiliki kestabilan dalam bersikap, kadang bersikap baik dan kadang pula bersikap arogan. Alexa pikir Julian harus mendapatkan pertolongan dari dokter psikiater.
Alexa tidak menarik tangannya karena khawatir Julian akan terbangun, dia belum siap untuk sekedar bertatapan dengannya.
Alexa masih mengingat apa yang telah Julian lakukan padanya, tubuhnya langsung merinding ketika mengingat wajahnya yang begitu menakutkan. Rasa sakit di bagian sensitifnya tidak seberapa, hatinya lebih sakit lagi di perlakukan seperti hewan betina yang di gauli kasar oleh jantannya.
Alexa memejamkan matanya, dia ingin menepis dan mengubur ingatan tersebut. Dia bisa gila dalam waktu yang singkat, bila terus - terusan mendapatkan guncangan tanpa henti.
Alexa berniat membuka kelopak matanya tetapi ia urungkan, dia merasakan pergerakan di tangannya. Dia lebih memilih berpura-pura masih tidur. Terdengar Julian yang berdehem dan mengelus - elus lembut jemarinya. Alexa hampir saja ketahuan, dia hampir saja bergerak karena kaget saat sebuah tangan mengelus rambut dan pipinya.
"Maafkan aku Alexa. Aku menyesal karena telah melakukan kekerasan di luar batas." terdengar jelas ucapan pelan dari mulutnya yang angkuh.
"Dia meminta maaf. Apa aku tidak salah mendengar? Ini tidak bisa di percaya?" batin Alexa.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.