
Ceklek.
Suara pintu terbuka, Adel langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan seketika tatapan Adel langsung menjadi tajam, ketika melihat seorang pria yang hanya memakai celana training panjang dan bertelanjang dada berjalan ke arahnya. Ya, Meskipun tidak di pungkiri pria itu memilki tubuh yang tegap, otot perut, dada bidang, dan lengan kekarnya yang akan membuat semua wanita terpukau saat melihatnya. Namun Adel tidak suka saat melihat sosok pria tersebut.
"Kenapa kau bisa masuk ke kamar ini Anggara!" Seru Adel dengan jantung yang tidak beraturan saat Devan mendekat ke arahnya seraya membawakan nampan yang berisikan sarapan.
"Harusnya, kau itu berterima kasih padaku. Karena aku sudah berbaik hati meminjamkan ranjangku untukmu tidur semalam." ucap Devan tersenyum penuh arti, lalu dengan santainya duduk di tepi ranjang dan meletakkan sarapan yang sudah dia bawa ke atas meja samping ranjang. Sedangkan Adel langsung memundurkan tubuhnya saat Devan duduk di sampingnya.
"Apa maksud ucapanmu itu?" tanya Adel sambil menghunuskan tatapan dinginnya pada Devan.
"Lihatlah, di kamar ini penuh dengan bingkai fotoku. Jadi kau sudah tau kan, sekarang kau sedang berada dimana?" ucap Devan.
"Mungkinkah ini kamarmu." tebak Adel.
"Benar sekali." ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Adel.
Raut wajah Adel berubah, dia mengedarkan pandangannya menatap ke sekitar. Dan benar saja, banyak sekali bingkai foto Devan. Sial, dia harus terjebak di dalam rumah pria menyebalkan itu.
"Dan sekarang jelaskan kepadaku, kenapa aku bisa berada di rumahmu?" tanya Adel, dan masih menatap tajam ke arah Devan.
"Itu karena kau mabuk semalam. Dan aku juga tidak mungkin membawamu ke rumahmu, karena aku tidak ingin jika Ayahmu yang berpikir tidak - tidak tentangku." jawab Devan dengan santainya.
"Tunggu...." Adel menjeda ucapannya, dia memicingkan matanya menatap penuh curiga pada Devan. "Aku masih mengingat sedikit kejadian semalam. Bukankah semalam sepupuku Alexa, itu datang menjemputku ke club malam? Dan kenapa sekarang aku malah berakhir di kamarmu?"
__ADS_1
"Ah, rupanya kau juga masih mengingat, jika Alexa menjemputmu." ucap Devan tersenyum dengan penuh arti. "Kau benar, Alexa memang menjemputmu. Tapi aku dan Julian juga langsung menyusul ke club malam itu. Dan aku rasa, kau juga tahu jika Alexa sedang hamil."
"Lalu apa hubungannya dengan kau membawaku ke rumahmu. Kamu bisa kan, mengantarkan aku ke penthouse milik sepupuku juga."
"Memangnya untuk apa Julian datang ke club malam kalau dia tidak marah saat melihat istrinya datang sendirian ke club malam untuk menjemput sepupunya yang sedang mabuk. Itulah salah satu alasan aku membawamu pulang ke rumahku. Dan Julian membawa pulang Alexa. Ah, lebih tepatnya Alexa yang mempercayakanmu padamu."
Adel berdecak kesal, seraya mengumpat di dalam hati. "Bagaimana mungkin sepupunya itu membiarkan dirinya harus bersama dengan Devan? Astaga, Adel tidak habis pikir dengan apa yang di pikirkan oleh Alexa."
Ya, di sini Adel juga salah karena dirinya mendatangi Club malam seorang diri sampai mabuk. Tapi, tidak seharusnya sepupunya melakukan itu. Kini Adel sedang di pusingkan dengan pria yang ada di hadapannya ini yang terlihat begitu percaya diri.
"Lebih baik kau minggir. Karena aku mau pulang." Adel beranjak berdiri. Namun tiba-tiba saja, saat Adel hendak berdiri, tangan Devan langsung menahannya.Hingga membuat dirinya jatuh di pangkuan pria itu.
"Lepaskan aku Devan! Apa yang kau lakukan sekarang!" Seru Adel sambil memukul-mukul keras dada bidang Devan. Namun sayangnya, tenaga Adel hanya bagaikan kapas untuk Devan. Nyatanya Devan hanya diam saja saat Adel memukulinya dan Devan seperti tidak merasakan pukulan dari Adel
"Tenanglah Adel. Kenapa saat kau sudah sadar kau kembali menjadi macan yang pemarah?" dengan mudahnya Devan menangkap kedua tangan Adel dengan satu tangannya. "Apakah kau tidak ingat, kejadian yang terjadi semalam? Maksudku, apa yang sudah kita lalui di kamar ini semalam itu sangat hebat. Cobalah untuk kau mengingatnya lagi, Nona Jhonson." lanjutnya sambil tersenyum mengejek.
Mendengar ucapan dari Devan, seketika raut wajah Adel langsung menjadi tegang. Ingatan mencoba kembali untuk mencerna apa yang di katakan oleh pria itu. "A- Apa maksud dari ucapanmu itu Anggara? Memangnya apa yang sudah terjadi di antara kita semalam?" tanyanya dengan nada yang sedikit panik
"Hm, tadi malam, kita itu......." Devan menjeda ucapannya kemudian tangannya mengelus bibir ranum Adel. "Kau sudah menciumku dengan bibirmu yang lembut dan terasa sangat manis ini." lanjutnya setengah berbisik di telinga Adel.
"Apa? Itu tidak mungkin?!" Mendengar hal itu pun Adel sangat terkejut. "Ya, kau pasti sedang berbohong! Mana mungkin aku menciummu!" Lanjutnya dengan gelagapan. Dan sebisa mungkin, Adel berusaha untuk menghindar. Namun, tangan Devan sudah lebih dulu melingkar di pinggang Adel, kemudahan langsung merapatkan tubuhnya pada tubuh Adel, hingga membuatnya menjadi sulit untuk bergerak.
"Kenapa aku harus berbohong tentang kejadian semalam?" Devan menarik dagu Adel, menatap dengan lekat manik mata wanita cantik itu lekat. "Aku yakin, kalau kucing manisku ini tidak mungkin lupa. Atau paling tidak, kau bisa mengingat saat aku dan dirimu saling..."
__ADS_1
"Hentikan omong kosongmu itu! Karena aku tidak mungkin menciummu! Itu tidak akan pernah mungkin Anggara! Yah, kau pasti berbohong!" Bentak Adel dengan cukup keras
"Apa putri dari keluarga Jhonson memang selalu galak seperti ini? Tapi cukup menyenangkan melihatmu marah seperti tadi." ucapnya sambil mengulum senyumannya.
Adel menghembuskan nafas kasar, dia mulai lelah jika harus meladeni pria yang ada di hadapannya ini lebih baik baginya untuk segera pulang kerumahnya, kemudian Adel berkata, "Sekarang lepaskan aku Anggara! Aku ingin pulang!"
"Kau ingin pulang dengan keadaanmu yang seperti ini?" ucap Devan sambil mengangkat sebelah alisnya melihat penampilan Adel yang sangat acak - acakan. "Lebih baik kau bercermin dulu. Apa kau tau sekarang penampilan itu seperti apa?"
Adel menggelengkan kepalanya karena dia juga tidak tau seperti apa sekarang penampilannya. "Penampilanmu sekarang, terlihat mengerikan karena makeup mu berantakan, rambutmu juga tidak tertata dengan rapi. Ah, atau kau ingin jika ada Paparazi yang diam - diam memuat sebuah berita tentang Nona Adel Jhonson menginap semalaman di rumah Devan Anggara. Dan tidak hanya itu, tetapi penampilan dari Nona Jhonson sangat berantakan. Dan kau tau apa yang akan mereka pikirkan tentang kita? Mereka mungkin saja akan berpikir jika kita telah bercin-"
****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1