Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Julian Yang Belum Berubah


__ADS_3

Tepat pukul sebelas siang, Alexa sudah berada di perusahaan Dominic Group. Dia sengaja ke kantor Julian karena ingin memberikannya kejutan dan sekalian mengajak Julian untuk makan siang bersama. Kemudian Alexa segera berjalan masuk kedalam lift. Setelah sampai di ruangan Julian. Terlebih dahulu ia pergi ke arah sekertaris untuk menanyakan keberadaan suaminya.


"Selamat siang Nyonya Alexa?" sapa Rita, Sekretaris Julian saat melihat Alexa melangkah mendekat dan menghampiri dirinya.


"Apa Julian ada di ruangan kerjanya?" tanya Alexa.


"Tuan Julian masih sedang ada meeting Nyonya?" jawab Sekertaris Rita.


Alexa melirik arlojinya sekilas. "Tapi ini sudah waktunya jam makan siang? Kenapa Julian masih belum juga menyelesaikan meetingnya?"


"Itu karena kemarin Tuan Julian sudah mengosongkan jadwalnya dan menunda meeting dengan rekan bisnisnya yang dari negara K." ucap Sekertaris Rita memberitahu.


"Kenapa sampai Julian mengosongkan jadwalnya?" tanya Alexa yang masih bingung dan tidak mengerti.


"Maaf Nyonya Alexa. Apa anda tidak tahu kebiasaan Tuan Julian?" tanya Sekertaris Rita, hati - hati.


"Kebiasaan apa yang kau maksud, Rita?" Alexa bertanya dengan nada dingin dan raut wajahnya yang tampak mulai marah.


"Tuan Julian, bisanya seminggu sekali akan mengunjungi makam Nona Berlian. Dia juga meminta saya untuk selalu menyiapkan bunga. Itu kenapa Tuan Julian mengosongkan jadwalnya kemarin. Karena Tuan Julian sedang mengujungi makam Nona Berlian," jawab Sekertaris Rita, yang langsung membuat wajah Alexa semakin bertambah dingin dan berusaha untuk menahan amarahnya. Kilat mata tajam di iris mata Alexa begitu terlihat jelas.


"Kemarin Julian mengunjungi pemakaman Berlian?" suara Alexa terdengar begitu dingin. Hatinya terasa begitu perih dan sakit, karena Julian telah membohonginya. Alexa tersenyum patah, betapa bodohnya dia harus sakit hati. Ya, tentu saja Julian akan selalu mengujungi wanita yang selalu di cintainya.


"Nyonya, maaf." seketika raut wajah Rita berubah menjadi panik dan cemas. Dia langsung menutup mulutnya saat menyadari jika dirinya sudah kelepasan bicara. Harusnya dia tidak mengatakan itu.


"Kau tidak perlu minta maaf," tukas Alexa dingin.


"T-Tapi, N-Nyonya. Sungguh, saya tidak bermaksud apa - apa. Maafkan saya, Nyonya. Setelah ini Tuan Julian pasti akan memecat saya." wajah Rita terlihat semakin panik dan terlihat begitu ketakutan.

__ADS_1


"Aku tidak akan melaporkanmu pada suamiku. Dan aku harap sebaliknya kau juga tidak usah mengatakan kedatanganku di kantor pada Julian jika dia sudah selesai meeting nanti. Lanjutkan pekerjaanmu, Rita." pinta Alexa tegas.


"Terima kasih, Nyonya." Rita kembali menundukkan kepalanya. Kemudian Alexa berjalan pergi meninggalkan kantor Julian.


Saat berada di dalam lift, tanpa sadar bulir air mata keluar dari sudut mata Alexa. Hatinya begitu hancur saat mengetahui Julian membohonginya. Namun, Alexa berusaha untuk menguatkan diri. Setelah sampai di lantai satu, Alexa langsung menghapus sisa air matanya. Kini Alexa memilih melanjutkan langkahnya meninggalkan kantor Julian.


...***...


Malam ini hujan begitu deras membasahi negara M. Dia duduk di sofa seraya melihat keluar jendela. Ada hal yang membebani pikirannya. Berlian.... Ya, nama itu muncul dalam benak Alexa. Banyak hal yang ingin Alexa tanyakan pada Julian, tapi dia yakin pria itu tidak akan pernah menjawabnya.


Tiba - tiba saat Alexa tengah memikirkan nama wanita itu, dia langsung melangkahkan kakinya meninggalkan kamar, menuju kesalah satu ruangan yang Julian larang untuk masuk itu. Banyak hal yang membuat Alexa ingin tahu. Alexa melangkahkan kakinya memasukinya ruangan yang bernuansa merah muda itu. Hingga kemudian tatapan Alexa teralih pada sebuah laci yang tidak tertutup rapat. Alexa mendekat ke arah laci itu dan langsung membukanya.


"Buku harian..." gumam Alexa seorang diri saat melihat sebuah buku harian yang ada di dalam laci. Alexa kemudian langsung mengambil buku harian itu dan mulai membukanya perlahan.


*Aku mencintaimu, Julian.*


*Selamanya aku hanya mencintaimu, Julian. Tidak perduli apapun yang terjadi.*


Bulir air mata mulai menetes membasahi pipi Alexa. Tepat di saat air matanya jatuh, Alexa langsung menghapusnya. Dia meletakkan kembali buku harian itu ke tempat semula dan berlari keluar meninggalkan ruangan yang sudah membuat hatinya begitu hancur. Dan dia tidak ingin mengetahui hal yang mendalam yang nantinya akan membuatnya semakin terluka. Dia juga sudah tidak mempedulikan lagi jika Julian akan kembali memberikan hukuman untuknya karena sudah berani memasuki ruangan itu.


...***...


Kini saat Alexa sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Julian pun tepat membaringkan tubuhnya di samping Alexa. Seketika Julian tampak bingung, tidak biasanya Alexa diam seperti ini.


"Alexa, apa kau sedang memiliki masalah?" tanya Julian dengan suara yang begitu serius.


"Tidak, mungkin aku hanya lelah saja, Julian." Alexa memunggungi tubuh Julian, dia semakin menarik selimut untuk menutup lehernya. "Aku ingin tidur selamat malam."

__ADS_1


Julian terdiam, kemudian dia juga menarik selimut dan mematikan lampu yang ada di atas nakas. Meski banyak hal yang ingin Julian tanyakan, dia lebih memilih mengurungkan niatnya dan perlahan mulai memejamkan matanya.


...***...


"Berlian.... Berlian.... Tunggu aku, Berlian..."


Alexa yang tengah tertidur pulas langsung terbangun saat mendengar suara Julian. Dengan cepat Alexa langsung menghidupkan lampu. Dan langsung menggoyangkan bahu Julian, seraya bertanya, "Julian bangun, ada apa?"


"Berlian... Berlian.... Tunggu aku, Berlian..."


Seketika Alexa terdiam, saat mendengar Julian mengigau dan menyebut nama Berlian, tiba-tiba bulir air matanya menetes membasahi pipinya. Hatinya terasa begitu sakit dan terluka dengan apa yang dia dengar. Bahkan Julian sampai mengigau menyebut nama Berlian, bukankah itu artinya sudah jelas. Sampai kapanpun Berlian akan selalu berada di hati Julian. Dalam mimpi saja yang ada di dalam pikiran Julian hanya Berlian. Tidak akan ada yang bisa menggantikan Berlian.


Alexa menghapus air mata yang membasahi pipinya. Harusnya dia tahu, pernikahan ini memang tidak pernah diinginkan oleh Julian. Harusnya dia meneguhkan hatinya dan tidak ingin di sentuh oleh Julian. Nyatanya, sejak dimana dia dan Julian telah menjadi satu, hati Alexa mudah sekali rapuh. Julian menyentuhnya mungkin karena dia ingin memiliki keturunan. Ya, Alexa begitu bodoh harus selalu terjebak dalam hal yang membuat dirinya sendiri terluka. Wanita yang di cintai Julian memang bukan dirinya. Dan wanita yang di inginkan Julian bukan dirinya. Alexa seharusnya menyadari itu.


"Betapa beruntungnya Berlian, di cintai oleh pria seperti Julian dengan begitu dalam. Bahkan meski pria itu di kelilingi oleh banyak wanita lain, hatinya tetap untuknya." ucap Alexa di dalam hati dengan air mata yang terus berlinang membasahi pipinya. Terlihat kepedihan yang mendalam di wajahnya.


Kini Alexa beranjak dari ranjang, dia ingin menghapus sisa air mata di wajahnya.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2