
"Aku juga sangat beruntung memiliki Julian di dalam hidupku, Mah." jawab Alexa sambil tersenyum. " Mamah tidak usah khawatir, karena sekarang Julian selalu memberikan kebahagiaan untukku, Mah." sambungnya, dan tanpa sengaja tatapan Alexa beralih pada paper bag yang berada di samping Ibu mertuanya. "Mamah membeli sesuatu?" tanyanya.
"Ah, ini sengaja Mama bawa. Kau lihatlah!" Jawab Bella, yang baru menyadari bahwa dirinya sudah menyiapkan sebuah album foto untuk di perlihatkan kepada menantunya itu.
Alexa pun langsung menerima Album foto itu yang di berikan oleh ibu mertuanya itu.
"Bukalah, Alexa...." pinta Bella, ibu mertuanya.
Alexa mengangguk dan seketika langsung tersenyum saat membuka album foto itu. Dia menatap foto bocah laki-laki bertubuh sedikit gemuk, berkulit putih dengan rambut cokelatnya yang tebal tampak begitu sangat tampan dan menggemaskan. Dan Alexa juga menemukan beberapa foto unik saat bocah tampan itu memakai pakaian ballerina dan di dandani memakai baju perempuan. Melihat foto itu, Alexa pun langsung tertawa di buatnya.
"Mamah, apakah ini Julian saat kecil?" tanya Alexa memastikan pada Ibu mertuanya.
"Benar, itu Julian, sayang." jawab Bella sambil mengulum senyumannya.
Mendengar jawaban dari ibu mertuanya itu membuat Alexa terkekeh. "Tapi kenapa mendandani Julian seperti anak perempuan, Mah?" tanya Alexa lagi.
"Karena dulu, Mamah sangat ingin punya anak perempuan. Jadi, Mamah terkadang memakaikan baju ballerina atau baju perempuan pada Julian. Meskipun Julian waktu itu sangat kesal, tapi dia selalu menuruti keinginan Mamah."
Alexa tertawa, dan kali ini Alexa tertawa lebih keras setelah mengetahui alasan Ibu mertuanya itu memakaikan baju perempuan pada Julian saat Julian masih kecil.
"Sungguh, aku masih tidak percaya jika yang aku lihat ini adalah foto Julian saat kecil, Mah."
"Ya, itu memang Julian, sayang. Saat itu, usia Julian masih tiga tahun dan dia mempunyai badan yang sedikit gemuk dan sangat menggemaskan, bukan?"
__ADS_1
"Benar Mah, tidak hanya menggemaskan tapi Julian juga sangat tampan di foto itu."
"Melihat perubahan Julian yang sekarang, Mamah terkadang merindukan saat Julian masih terlihat sangat menggemaskan." ucap Bella mengingat kembali betapa menggemaskannya Julian saat kecil. "Coba sekarang kau buka halaman selanjutnya, Saat itu Julian berusia 8 tahun, di situ badan Julian sudah tidak lagi gemuk, mungkin karena dia sudah sering beraktivitas dan sisi menggemaskannya pun sudah tidak terlihat lagi." lanjutnya.
Mendengar ucapan dari Ibu mertuanya itu, Alexa pun langsung membuka halaman selanjutnya. Dan benar saja, foto Julian saat menginjak usia 8 tahun, pria itu tampak terlihat begitu dingin dari sorot matanya, bahkan beberapa kali foto yang ia lihat itu, Alexa tidak menemukan satu pun foto di wajah Julian yang sedang tersenyum. Padahal, sedari kecil Julian sudah memiliki wajah yang begitu tampan sejak kecil.
"Alexa, Julian adalah segalanya dalam hidupku. Aku pun tidak pernah tahu, apakah Julian sudah pernah menceritakan tentang ini atau tidak padamu. Tapi, saat dulu aku pergi meninggalkan Ayahnya Julian, aku berpikir mungkin aku akan selamanya hidup bersama dengan putraku saja. Karena aku sangat mencintai putraku. Tidak peduli, apa yang terjadi pada hidupku, bagiku kebahagiaan Julian adalah yang paling utama. Dan sekarang, hidupku rasanya sudah lengkap karena pada akhirnya putraku itu sudah mendapatkan pendamping yang tepat di hidupnya. Sebagai seorang Ibu, aku merasa sudah menjalankan tugasku dengan baik. Terima kasih Alexa karena kau sudah mencintai putra Mamah dan mau memaafkan kesalahan putra Mamah yang pernah membuat mu begitu terluka."
Mendengar perkataan dari Ibu mertuanya itu, Alexa sedikit terkejut bahwa ibu mertuanya itu ternyata pernah meninggalkan suaminya. Alexa pun terdiam sebentar. Kemudian dia pun tersenyum ke arah ibu mertuanya. Ya, kali ini Alexa tidak ingin tahu permasalahan yang terjadi pada Ibu mertuanya dulu. Dia pun tidak ingin kembali membuka luka lama yang pernah di rasakan oleh ibu mertuanya. Meskipun Alexa sebenarnya ingin bertanya, tetapi dia memilih untuk tetap diam.
"Mah, aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Karena kau telah melahirkan Julian dan membesarkan Julian dengan caramu yang begitu luar biasa. Aku sangat bangga padamu. Kau adalah wanita yang hebat." Alexa pun menjawab dengan tatapan yang begitu lembut pada ibu mertuanya itu. Sedangkan Bella tersenyum hangat mendengar ucapan dari menantunya itu.
***
Kini Julian sudah sampai di perkebunan anggur. Dan akan melangkah masuk kedalam ruangan pabrik anggur.
Julian mengangkat sebelah alisnya, saat melihat Devan yang terlihat kesal padanya sedang melangkah ke arahnya. "Kau sudah datang?" sapanya dengan nada yang dingin dan dengan raut wajah yang tanpa ekspresi.
Devan mendengus tidak suka. "CK! Kau ini sebenarnya memiliki jam atau tidak? Kenapa kau baru datang sekarang? Apakah kau tahu, aku sudah menunggumu hampir satu jam lamanya?!" ucap Devan yang mengungkapkan seluruh kekesalannya pada Julian.
"Memangnya kenapa jika aku datang terlambat datang ke perkebunan?" jawabnya santai.
"Karena, jika aku yang terlambat datang ke perkebunan kau pasti juga akan memarahiku, bukan?" balasnya tak terima.
__ADS_1
Ya, sebenarnya pagi ini Julian memiliki janji dengan Devan jam delapan pagi. Namun, dia terlambat karena sebelumnya Julian masih harus menemani Alexa untuk sarapan lebih dulu. Dia tidak ingin jika istrinya itu terlambat untuk makan.
"Kau ini berisik sekali, Devan!" Jawab Julian dengan nada yang dingin.
"Tapi aku hany-"
"Stop! Aku tidak ingin mendengar suara berisik mu yang sudah seperti perempuan yang sedang marah itu." Ucap Julian langsung memotong ucapan dari Devan.
Dan tanpa lagi berkata, Julian langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Devan dan masuk kedalam pabrik anggur yang letaknya tidak jauh dari perkebunan anggur miliknya.
Sedangkan Devan yang melihat Julian langsung meninggalkan dirinya membuat Devan berdecak kesal dan mengumpat pelan pada temannya itu. Bagaimana Devan tidak merasa kesal pada Julian? Jika posisinya yang di balik pasti Julian yang akan marah besar padanya meski hanya terlambat selama menit saja. Dan sebisa mungkin Devan masih berusaha untuk menenangkan rasa kesal yang ada di dalam dirinya.
Kini Devan melangkahkan kakinya, menyusul ke arah Julian yang sudah lebih dulu masuk kedalam pabrik anggur.
"Tuan Julian... Tuan Devan...." sapa Erlangga, pengurus perkebunan dan para pekerja pabrik anggur menundukkan kepalanya saat melihat Julian memasuki pabrik anggur.
Devan mengangguk singkat membalas sapaan dari Erlangga sedangkan Julian hanya memasang wajah datarnya seperti biasa.
"Erlangga, apa semua perizinan untuk ekspor dan impor ada masalah?" tanya Julian dengan nada yang dingin.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
__ADS_1
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁