
Adel berdecak dengan kesal. Dia langsung menyambar tira misu cake yang ada di atas meja dan memakannya dengan cepat "Tadi aku tidak sengaja menabrak mobil seseorang! Dia meminta ganti rugi lima puluh milyar dollar. Aku rasa dia sudah gila! Bagaimana bisa dia meminta uang lima puluh milyar dollar! Meski aku bisa dengan mudah meminta pada Ayahku, tapi tetap saja aku masih tidak rela jika harus memberikan uang yang sebanyak itu. Mobilnya saja tidak semahal itu!"
"Kau menabrak mobil orang lain? Bagaimana bisa?" raut wajah Alexa menatap serius ke arah Adel.
Adel mendesah pelan "Aku tadi sedang terburu-buru dan kalau di pikir - pikir itu juga bukan sepenuhnya salahku. Tapi mobil pria itu juga tidak terparkir dengan rapi," sanggahnya yang tidak ingin sepenuhnya di salahkan.
"Ya sudah, ganti saja. Dia hanya meminta uang lima puluh milyar dollar. Bukan lima puluh milyar euro." jawab Alexa yang begitu santai seolah nominal yang di ucapkan oleh Adel tadi bukanlah masalah yang serius.
Adel mendelik. Menatap tajam ke arah Alexa. "Apa kau ini sudah kehilangan akal sehatmu? Lima puluh dollar itu sangat besar, Alexa! Dengan uang yang sebanyak itu aku bisa membeli mansion mewah, mobil dan membuka perusahaanku! Dan pria itu sudah memerasku! Tidak, meski aku bisa meminta uang pada Ayahku ataupun Paman Raymond. Tapi aku tidak mau memberikannya. Aku akan merasa sangat di rugikan!"
"Apa kau ingat? Saat pertama kali Kak Samudera pertama kali menyetir mobil? Kakakku menabrak orang, hingga ayahku memberikan uang yang banyak. Kau bilang saja pada ayahku kalau kau menabrak orang. Lebih baik kau bilang pada Ayahku saja. Tidak perlu pada Paman Demian. Terakhir bukankah Paman Demian sedang berbulan madu dengan Bibi Sesil di negara K, ya?"
Ya, Alexa juga masih mengingat dengan jelas Kakak laki - lakinya itu pertama kali belajar untuk menyetir mobil dan menabrak seseorang. Tentu saja, Ayahnya memberikan ganti rugi dengan nominal yang tidak sedikit. Lagi pula, Alexa tidak terlalu memusingkan tentang uang. Tetapi sangat berbeda dengan Vanya, saudara perempuannya itu benar-benar menuruni sifat ibunya. Sampai - sampai terkadang Alexa sampai jengah jika memperdebatkan hal kecil pada Kakak perempuannya.
Adel berdecak pelan "Aku tahu Kak Samudera pernah menabrak seorang pejalan kaki. Tapi orang itu memang terluka parah. Menurutku wajar saja jika Paman Raymond menggantinya dengan nominal yang sangat besar. Tapi kasus ini berbeda denganku. Aku hanya tidak sengaja menabrak mobil pria itu hanya sedikit saja Alexa. Dan aku akan rela memberikan uang lima puluh milyar dollar, jika aku benar-benar menabrak pria itu. Jika aku tahu, dia akhirnya akan meminta uang ganti rugi yang sebanyak itu, lebih baik aku tabrak saja sampai koma di rumah sakit."
Alexa terkekeh mendengar perkataan sepupunya itu, "Kau sungguh gila, Adel. Kau itu berniat untuk membunuh pemilik mobil itu?"
"Itu sama sekali tidak ada yang lucu, Alexa! Aku juga sangat kesal dengan orang tuaku. Kenapa hobby mereka itu hanya berbulan madu saja? Memangnya mereka tidak bosan apa. Bukankah sudah sejak muda hingga tua mereka itu terus - terusan melakukan bulan madu!" Adel berucap dengan nada yang kesal. Sontak pertanyaan dari Adel mengundang gelak tawa dari Alexa lagi.
Alexa sampai begitu tertawa terbahak-bahak sampai menyentuh perutnya karena mendengar gerutuan dari Adel. "Sekarang katakan padaku, apakah kau mengenal pemilik mobil yang kau tabrak itu?"
Adel menghela nafas panjang "Devan Anggara! Pria itu yang sudah memerasku!"
Alexa tersedak. Dia tampak begitu terkejut dengan apa yang di katakan oleh Adel. "Jadi, mobil pria yang tidak sengaja kau tabrak itu Kak Devan?" tanya Alexa memastikan.
"Iya," jawab Adel ketus.
__ADS_1
Alexa terkekeh geli, "Well, sepertinya kalian memang sudah di takdirkan untuk bersama.Lagi pula Kak Devan juga tampan dan hebat kenapa kamu tidak mau dengannya?"
"Tidak, Alexa. Aku itu harus mencari pria yang sehebat Ayahku. Paling tidak harus seperti keluarga Jhonson. Aku tidak mau sembarang memiliki seorang pria." Adel menjawab dengan begitu santai.
Alexa menghela nafas panjang "Apa begitu penting hal itu bagimu? Menurutku keluarga Anggara juga cukup hebat dan bisa bersanding denganmu."
"Karena Ayahku pernah bilang, jika aku harus mendapatkan suami yang sehebat Ayahku. Jadi aku menurut saja." Adel mengambil orange juice dan meminumnya perlahan.
Ceklek.
Suara pintu terbuka membuat Alexa dan Adel menghentikan percakapan mereka dan mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu. Seketika senyum di bibir Alexa terukir melihat Julian mendekat ke arahnya. Sedangkan Adel langsung menekuk wajahnya saat melihat Devan yang juga mendekat ke arahnya.
"Hai, Nona Jhonson?" Devan menyapa seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Adel.
Adel membuang wajahnya, tidak menanggapi ucapan pria itu.
"Julian, kau sudah selesai meeting?" Alexa menyambut kedatangan suaminya dan memberikan kecupan dan pelukan hangat. Dan seperti biasa, semenjak hamil Alexa begitu manja. Hal yang Alexa selalu inginkan adalah selalu berada di dalam pelukan suaminya itu.
"Tidak apa-apa. Aku tahu, kau itu harus menyelesaikan pekerjaanmu " Alexa mendongakkan kepalanya, menatap Julian lembut.
Julian tersenyum. Dia mencium dengan gemas hidung Alexa, "Apa kau sudah lapar, sayang?"
"Iya, aku sudah lapar." rengek Alexa seperti anak kecil.
"Ya sudah kita makan sekarang," Julian mengelus dengan lembut pipi Alexa.
"Tapi bersama dengan Adel dan juga Kak Devan ya?"
__ADS_1
"Iya, kita akan makan bersama dengan mereka."
Tapi Alexa sadari, sudah sejak tadi Adel, Sepupunya itu sedang menatap kesal ke arah arah dirinya dan Julian.Ya, bayangkan saja karena Alexa dan Julian sedang bermesraan di depannya. Apa mereka tidak bisa menahan diri?
"Adel, Kak Devan. Ayo kita makan bersama." ajak Alexa seraya menatap Adel dan juga Devan secara bergantian.
"Tidak, kalian saja!" Tolak Adel cepat, dia malas jika harus makan bersama dengan Devan.
"Nona muda Jhonson. Tidak baik untuk menolak ajakan dari sepupumu, bukan? Terlebih, sebentar lagi kita akan menjadi sebuah keluarga." ucap Devan sambil tersenyum. Menatap lekat ke arah Adel.
Adel tersedak mendengar perkataan dari Devan. "Apa? Keluarga darimana yang kau maksud? Jangan sembarangan bicara, sepertinya kau itu memang harus masuk ke rumah sakit jiwa?"
Devan mengangkat bahunya tak acuh. "Aku rasa sebentar lagi akan segera melamar putri dari Demian Jhonson."
"Kau tidak waras!" Seru Adel.
Alexa kini tertawa mendengar perdebatan Adel dan Devan Sedangkan Julian hanya menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah sahabatnya itu.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.