Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Tujuan Samudera


__ADS_3

Kini Alexa tengah duduk di ranjang, sambil menatap Novi yang sedang membersihkan kamarnya.


"Nyonya Alexa, apa Nyonya ingin makan sesuatu?" tanya Novi sambil berjalan menghampiri Alexa.


"Tidak? Aku tidak ingin makan apapun?"


"Tapi Nyonya harus makan. Saya tidak ingin Tuan Julian marah dan akan kembali menghukum Nyonya."


"Tapi aku belum lapar Novi. Nanti saja."


Ceklek.


Suara pintu kamar terbuka. Alexa mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan melihat Julian melangkah masuk kedalam kamarnya dan mendekat ke arahnya.


"Bagaimana kondisimu hari ini? Apa perutmu sudah baikan?"


"Sudah," jawab Alexa singkat.


"Sekarang kau katakan padaku, kau ingin makan atau aku makan?" tanya Julian tiba-tiba.


"Ka...kau makan maksudmu?" cicit Alexa bingung.


Julian tersenyum tipis, ibu jarinya membelai pipi Alexa dan hendak mengecupnya pelan.


"Percintaan yang panas, lebih dari malam yang sebelumnya, Alexa. Aku ingin mendengar bibir tipismu itu menyebut namaku." bisik Julian.


Alexa melotot lebar, ia menggelengkan kepalanya dan langsung mendorong Julian.


"Ma.. Makan, aku mau makan. Lepaskan aku Julian." cicitnya gemetar.


Suara dering ponsel terdengar, membuat Alexa langsung menjauhkan sedikit tubuhnya dari Julian.


"Julian, jawablah teleponmu!" Ucap Alexa memberitahu dengan suara pelan. Sedangkan Julian mengumpat di dalam hati ketika ada yang menganggunya.


"Ada apa Kenzo? Kenapa kau mengganguku? Suara Julian berseru begitu dingin saat panggilan terhubung


"T- Tuan saya minta maaf. Tapi ada hal penting yang ingin saya sampaikan." jawab Kenzo dari sebrang telepon dengan gugup.


"Apa yang ingin kau sampaikan? Jika kau hanya membahas tentang pekerjaan. Tunggu sampai aku datang. Hari ini aku datang siang." tukas Julian dingin.

__ADS_1


"Bukan Tuan. Saya ingin menyampaikan Tuan Samudera Johnson datang. Beliau sudah menunggu anda di kantor." ucap Kenzo memberitahu.


"Samudera Johnson?" alis Julian bertautan saat menyebut nama itu. Terlihat dia sedikit terkejut.


"Benar Tuan, beliau sudah menunggu anda."


Julian menghembuskan napas kasar. "Minta dia untuk menunggu, aku akan segera datang."


Julian langsung menutup panggilan telepon itu, dan meletakkan kembali ponselnya ke tempat semula.


"Julian, Kakakku ada di sini?" seru Alexa yang tampak bahagia. Ketika mendengar kedatangan Kakaknya.


Julian mengangguk singkat, kemudian dia beranjak berdiri. "Aku tidak tahu dia akan datang ke kantorku."


"Julian, aku ingin menemui Kakakku! Aku merindukannya! Sejak Kakakku datang kerumah ini aku belum bertemu lagi dengannya." Alexa beranjak berdiri. Dia tampak antusias.


"Tidak Alexa. Kau itu masih sakit." jawab Julian dingin.


"Tidak Julian, aku sudah sehat." Wajah Alexa langsung tertekuk mendengar Julian melarang dirinya.


"Kau bisa menemuinya ketika kau sudah sehat," tukas Julian menekankan dan tidak ingin di bantah.


"Tidak ada kata tapi, Alexa. Lebih baik kau diam di kamarmu dan jangan bertingkah, atau aku akan memasung kedua kakimu dan mengurungmu di gudang." desis Julian membuat Alexa menundukkan kepalanya sedih." Kemudian tatapan Julian beralih ke arah Novi yang sedang menunggu perintah darinya "Novi, siapkan baju dan air hangat untuk Alexa. Rawat dia dengan baik sampai aku kembali. Dan pastikan dia untuk makan dan menghabiskan makanannya." perintah Julian kemudian berjalan keluar meninggalkan kamar Alexa.


Wanita itu mengganggukkan kepalanya, Alexa langsung menatap Novi, wanita itu tersenyum dan mengusap punggung Alexa dengan lembut.


...***...


Mobil Julian memasuki lobby perusahaannya. Dia turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam. Terlihat beberapa karyawan menundukkan kepalanya menyapa dirinya. Namun, dia hanya membalas dengan anggukan singkat di kepalanya dan melanjutkan langkahnya menuju ke arah lift pribadinya.


"Tuan Julian," Kenzo menundukkan kepalanya saat melihat Julian keluar dari lift.


"Dimana Samudera?" tanya Julian dingin.


"Tuan Samudera sedang berada di ruang kerja anda,Tuan." jawab Kenzo.


Julian mengangguk. Kemudian melanjutkan langkahnya masuk kedalam ruang kerjanya. Saat Julian sudah tiba di ruang kerjanya, dia terdiam dan menatap dingin sosok pria yang terbalut jas formal hitam duduk di sofa seraya menyesap wine di tangannya.


"Kau terlambat hampir satu jam, jika kau bukan adik iparku sudah aku pastikan perusahaanmu ini tidak akan pernah ada lagi di negara M." suara Samudera begitu dingin dan menusuk ke arah Julian.

__ADS_1


Julian tersenyum sinis. Dia duduk di hadapan Samudera dengan menyilangkan kakinya seraya berkata dingin. "Tidak semudah itu, orang bisa menjatuhkanku. Sepertinya kau tidak tahu dengan baik siapa diriku."


Samudera menggerakkan gelas sloki di tangannya berirama. Tatapannya begitu dingin dan tidak bersahabat pada Julian yang duduk di hadapannya. "CK! Kau itu harus belajar sopan santun dulu ketika sedang berbicara dengan Kakak Iparmu."


Julian membuang napas kasar. "Apa sebenarnya tujuanmu datang kesini, Samudera?" tanyanya dingin yang tak suka lama - lama berbasa-basi.


"Tujuanku kesini. Hanya ingin memastikan hidup adikku baik - baik saja." Samudera beranjak berdiri, dan terus menatap Julian tajam. Kemudian melangkah mendekat ke arah Julian "Aku baru saja mendengar adikku sakit lagi? Aku curiga, apa selama ini kau sudah berbuat kasar kepada adikku? Karena, semenjak Alexa menikah denganmu, adikku sering keluar masuk rumah sakit?" lanjutnya dengan nada penuh kecurigaan.


Julian tersenyum sinis. "Aku tahu apa yang aku lakukan pada istriku. Kau tidak perlu mencemaskannya! Karena istriku hanya tetap Alexa! Aku juga akan menjaga dan membahagiakannya seumur hidupku!" Ucap Julian dengan suara yang begitu yakin.


"Tapi aku tahu, adikku tidak mencintaimu! Jawab Samudera dengan suara yang cukup meninggi.


"Jaga bicaramu, Samudera!" Julian bersuara dengan begitu dingin dan menusuk. "Jika kau tidak tahu apa-apa lebih baik kau diam Samudera!"


Samudera melangkah mendekat ke arah Julian. Kemudian mendekatkan bibirnya ke arah telinga Julian dan berbisik tajam. "Aku harap ucapanmu itu bukan omong kosong. Dan jika kau benar sudah melukai adikku, meski hanya sedikit maka bersiaplah, aku akan melenyapkanmu dengan tanganku sendiri. Sejak dulu aku selalu menjaga adikku untuk tidak dekat dengan pria yang sembarang. Aku peringatkan padamu jangan pernah melukainya. Tepati janjimu untuk membahagiakannya."


"Aku tahu, apa yang aku lakukan Samudera. Alexa adalah milikku, aku tidak akan mungkin melukai apa yang telah menjadi milikku!" Tukas Julian menegaskan.


Samudera tersenyum sinis, "Semua bisa terjadi karena perubahan waktu, Dominic. Sekarang kau mengatakan mencinta adikku, tapi aku tidak tahu bagaimana kedepannya."


"Aku tekankan padamu, dulu, sekarang dan sampai selamanya. Perasaanku pada Alexa tidak pernah berubah." Julian menjawab dengan nada yang begitu tegas.


"Aku berharap apa yang kau katakan itu benar," tukas Samudera dingin dengan tatapan penuh peringatan pada Julian.


Setelah mengatakan itu, Samudera langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Julian yang masih tidak bergeming dari tempatnya. Rahang Julian mengetat, kilatan matanya begitu tajam melihat ke arah punggung Samudera yang mulai menghilang dari pandangannya.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2