
"Tutup mulutmu! Jangan membicarakan hal bodoh lagi padaku, Anggara!" Ucap Adel, kemudian langsung membekap mulut Devan dengan telapak tangannya dan tatapannya kini menatap kesal ke arah Devan. "Sial! Kenapa aku bisa terjebak di dalam rumah pria sialan ini? Di dalam mimpiku saja aku tidak pernah ingin memimpikan hal seperti ini? Apalagi dalam kenyataan." ucap Adel di dalam hati.
Melihat kemarahan dari Adel. Devan Pun kembali terkekeh dengan pelan. Itulah salah satu alasan Devan jatuh hati dengan Adel. Ya, karena Adel Jhonson memiliki sifat yang menggemaskan. Di balik wajah Adel yang terlihat seperti kucing kecil, tetapi memilki sifat yang seperti harimau.
Sebelumnya, Devan juga pernah mendengar jika Alexa juga memiliki sifat yang sama keras seperti Adel. Dan mungkin saja, wanita yang berada di keluarga Jhonson itu selalu memiliki sifat yang keras.
"Aku ingin mandi? Apa kau mempunyai baju perempuan?" tanya Adel dengan ketus. Ya, dia tidak ingin berlama-lama di rumah Devan.
"Kau mandilah. Aku akan meminta anak buahku untuk membawakan pakaian ganti untukmu." ucap Devan kemudian membantu Adel untuk bangkit berdiri. Namun Adel tidak menjawab, dia langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi.
***
Beberapa menit kemudian Adel telah menyelesaikan acara mandinya.
"Devan, dimana pakaian ganti untukku?" tanya Adel sambil melangkah keluar dari kamar mandi. Kini tubuhnya sudah terbalut oleh bathrobe dengan rambut yang telah di lilitkan dengan menggunakan handuk.
Melihat penampilan Adel untuk pertama kalinya memakai bathrobe seperti itu membuat Devan pun terpaku. Meski tubuhnya mungil, ternyata Adel memiliki kaki yang sangat indah. Apalagi saat melihat wajahnya yang seperti kucing polos.Kemudian melihat bibir ranum Adel, yang sudah dari tadi Devan menahannya untuk menciumnya. Kini Devan hanya bisa mengumpat di dalam hati, karena pikirannya menjadi begitu liar saat melihat penampilan Adel. Dia ingin sekali menyentuh setiap inci tubuh Adel.
"Hei Devan! Apakah pendengarmu sudah rusak?" seru Adel kesal, karena sedari tadi Devan hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah kata apapun.
"Ya, kau tadi bilang apa?" tanyanya setelah tersadar dari lamunannya
Adel membuang napas kasar. "Aku bilang dimana pakaianku?!" Ucapnya lagi dengan kesal.
"Ah, pakaianmu ada di sana." jawab Devan. Kemudian dia menunjukkan pakaian yang tadi sudah di siapkan oleh asistennya itu.
Adel pun menghela napas panjang. Dia kemudian menghentakkan kakinya untuk mengambil pakaiannya dan juga tasnya menuju ke arah walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Beruntung, Adel selalu membawa make up di tasnya. Karena Adel tidak pernah bisa keluar tanpa menggunakan make up yang menempel di wajahnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Adel kini sudah selesai mengganti pakaiannya. Ya, penampilan dari Adel nyaris membuat Devan tidak bisa berkata - kata. Pria itu bungkam saat melihat Adel menggunakan mini dress berwarna kuning dengan model atas kemben di padukan dengan heels yang membuat wanita yang berdiri di hadapannya itu sangat cantik.
"Aku akan pulang naik taksi. Aku minta tolong hubungi taksi untuk datang ke rumahmu." pinta Adel, kemudian duduk di sofa, dan menyilangkan kakinya dan tangannya bertumpu pada kaki kiri.
"Tidak mau." tolak Devan.
"Kenapa kau tidak mau memanggilkan taksi untukku?" tanya Adel mengangkat sebelah alisnya.
"Karena aku yang akan mengantarmu pulang." Devan mendekat. Dia mengambil sarapan Adel yang tadi sudah di bawa olehnya dan meletakkan ke meja di depan Adel. "Makanlah, aku tidak ingin mendengar tamu yang menginap di rumahku tidak di berikan makan."
"Aku tidak lapar," ucap Adel dengan nada ketus.
Devan mengangkat bahunya tak acuh. "Baiklah, kalau tidak ingin makan. Tapi jangan berharap aku akan mengizinkanmu untuk keluar dari rumahku." Ucap Devan memberikan ancaman untuk Adel.
"Apa maksudmu, Devan?!" Seru Adel sambil menghunuskan tatapan tajamnya pada Devan.
"Aku rasa, dari kata - kataku tadi bukankah sudah cukup jelas, Nona Adel." jawab Devan dengan santainya.
"Pelan - pelan kucing manisku. Jika kau makan seperti itu nanti kamu bisa tersedak. Lagi pula tidak ada yang akan mencuri makananmu itu." ucap Devan mengulum senyumannya saat melihat cara Adel yang sedang makan. Sungguh, segala tingkah Adel di mata Devan sangatlah menggemaskan dan membuatnya semakin jatuh cinta padanya.
"Hah, bagaimana mungkin aku bisa tahan bersama dengan pria yang ada di hadapanku ini dalam satu hari? Satu menit saja, aku tidak akan mau!" Ucapnya di dalam hati.
"Sudah, aku sudah menghabiskan sarapanku. Dan kau tidak perlu repot-repot mengantarku. Jadi? Kalau kau tidak mau menelepon taksi untukku aku bisa menelpon sendiri." ucap Adel kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Namun dengan sigap Devan langsung mengambil ponsel milik Adel.
"Kembalikan ponsel milikku!" Seru Adel sambil berjinjit dia berusaha mengambil ponselnya yang kini sedang di pegang oleh Devan. Dan yang membuat Adel semakin kesal pada Devan adalah saat pria itu mengangkat ponsel miliknya dengan tangannya yang tinggi. Hingga membuat Adel kesulitan di buatnya saat akan mengambil ponselnya sendiri.
"Hei Anggara! Cepat kembalikan ponselku!" Bentak Adel. Dia kemudian berjinjit lagi mencoba untuk mengambil ponselnya. Dan saat Adel hendak melompat untuk meraih ponselnya tubuhnya menjadi tidak seimbang dan tiba - tiba saja Adel hampir terjatuh.
__ADS_1
"Akhh..."
Saat melihat Adel yang hampir terjatuh. Devan pun langsung menahan tubuh Adel supaya tidak jatuh. Namun, saat Devan hendak menolong Adel dia pun kehilangan keseimbangannya.
Brakkk.
Mereka berdua akhirnya terjatuh. Dan Adel jatuh tepat di atas dada bidang Devan.Seketika Adel pun terkejut, saat dirinya merasakan sedang berada di atas tubuh Devan. Entah kenapa jantung Adel tiba - tiba saja berdegup dengan sangat kencang. Bahkan bisa terlihat dengan jelas di wajah Adel yang terlihat sedang gugup. Sedangkan Devan hanya tersenyum saat melihat Adel berada di atasnya.
"Sepertinya aku menyukai saat posisimu berada ada di atasku," bisik Devan dengan nada yang menggoda.
"Kau sudah gila, Anggara!" Seru Adel yang segera menepis apa yang tadi muncul di dalam benaknya. Kini dia bangkit berdiri bersamaan dengan Devan yang juga ikut bangkit berdiri. "Sudahlah aku menyerah. Jadi, kalau kau ingin mengantarkan aku pulang lebih baik sekarang saja. Karena hari ini aku masih memiliki banyak pekerjaan."
Devan menyeringai. "Baiklah, dengan senang hati aku akan mengantar calon istriku."
Lagi - lagi Adel menghembuskan nafas kasar. "Dengar Tuan Anggara! Lebih baik kau itu pergi ke psikologi! Mungkin memang benar kejiwaanmu itu terganggu hingga membuatmu tidak waras seperti ini."
Mendengar ucapan dari Adel. Devan pun terkekeh "Ya, kau benar. Mungkin saja kejiwaanku sudah terganggu karena dirimu Nona Jhonson."
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.