
Waktu menunjukkan sudah pukul satu pagi. Namun, suaminya itu masih belum juga pulang ke rumah. Dan sudah beberapa kali Alexa mencoba untuk menghubungi suaminya, tapi tidak ada jawaban dari sang suami.
Ya, Sejak Alexa mengetahui jika pabrik wine dan perkebunan anggur milik Julian mengalami kebakaran yang hebat, jujur saja Alexa pun tidak bisa tenang. Pikirannya terus memikirkan bagaimana keadaan Julian yang pasti terpuruk mengenai keadaan ini. Namun, Alexa juga memahami jika terlalu banyak masalah yang harus segera di selesaikan oleh suaminya itu. Terlebih, banyaknya korban jiwa. Ingin sekali rasanya Alexa menyusul suaminya, tetapi dia tidak bisa melakukan itu, mengingat dirinya yang sedang hamil dan pastinya kawasan area pabrik yang masih di penuhi dengan asap. Sehingga, dia pun tidak ingin menanggung resiko jika sesuatu yang buruk akan terjadi pada kandunganya apabila dia memaksa untuk pergi ke pabrik.
"Kenapa Julian belum pulang juga?" gumam Alexa cemas. Tatapannya mulai teralih pada ponselnya, yang sedari tadi belum ada pesan atau pun telepon dari suaminya.
Ceklek.
Suara pintu terbuka.Alexa pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Seketika senyum di bibir Alexa merekah melihat suaminya yang sedang melangkah masuk kedalam kamar. Alexa pun langsung berdiri, dan melangkah menghampiri suaminya.
"Sayang, kenapa kau tidak menjawab teleponku?" tanya Alexa.
"Maafkan aku, sayang. Karena banyak sekali hal yang harus aku kerjakan di perusahaan." jawab Julian sambil mengecup kening Alexa. "Apakah kau sudah makan, sayang? Harusnya kau itu tidak perlu menungguku pulang?" tanyanya seraya menatap hangat manik mata coklat istrinya itu.
"Aku sudah makan. Dan aku juga khawatir denganmu." jawab Alexa sambil membawa tangannya, mengelus lembut rahang sang suami. "Kau sendiri, apa sudah makan?" tanyanya.
"Aku juga sudah makan." jawabnya.
"Kau terlihat sangat lelah. Kalau begitu, mandilah lebih dulu. Aku juga akan menyiapkan baju tidur untukmu." ucap Alexa.
Mendengar ucapan dari istrinya Julian pun mengangguk singkat. Dan berjalan meninggalkan Alexa menuju ke arah kamar mandi. Setelah melihat suaminya sudah masuk kedalam kamar mandi, dia pun melangkah masuk ke arah walk in closet untuk menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya. Setelah itu, Alexa juga meminta pelayan rumah untuk membawakan teh hangat dan biskuit.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Julian sudah menyelesaikan acara mandinya dan mengganti pakaiannya yang sudah di siapkan oleh istrinya. Dan Julian juga melihat sudah ada teh hangat serta biskuit yang sudah di siapkah di atas meja. Kemudian Julian berjalan menghampiri istrinya yang sedang duduk di ranjang dan terlihat asyik membaca novel.
"Sayang, kau sudah selesai mandi?" tanya Alexa saat melihat suaminya yang sudah duduk di sampingnya dan sudah mengganti bajunya dengan baju tidur yang sudah dia siapkan.
"Sudah. Lalu kenapa kau masih belum tidur? Ini sudah hampir pagi?" tanya Julian.
"Aku masih belum mengantuk." jawab Alexa kemudian meletakkan novel itu ke atas meja samping ranjang.
"Tapi kau sedang hamil, sayang. Seharusnya kau itu lebih banyak beristirahat." ucapnya sambil membawa Alexa kedalam pelukannya yang membuat dirinya begitu lebih tenang saat memeluk istrinya.
"Julian, aku sebenarnya sudah mendengar tentang pabrik wine dan perkebunan anggur yang terbakar. Dan banyak nyawa para karyawan yang tidak selamat dan yang mengalami luka."
Mendengar ucapan dari Alexa, Julian terdiam sejenak. Dan menghembuskan nafas panjang. "Jadi kau sudah melihat berita hari ini?"
"Sayang, kau tidak perlu lagi mencemaskan tentang masalah pabrik wine dan anggur yang terbakar karena aku pasti bisa mengatasi semuanya."
"Julian..." ucap Alexa sambil mendongakkan kepalanya dari dalam pelukan suaminya dan sesaat iris mata coklatnya bertemu dengan iris mata coklat suaminya. "Sebagai seorang istri, aku ingin sekali jika kau mau membagi masalahmu padaku. Aku juga sangat ingin menjadi tempat pertama saat kau ingin mencurahkan segala masalahmu. Aku pun tahu, kau sangat mampu untuk menyelesaikan segala masalahmu. Tetapi paling tidak, aku hanya ingin melakukan yang di lakukan oleh ibuku pada Ayahku. Kau tahu, mereka selalu membagi masalah mereka.Sehingga, tidak pernah ada masalah yang di tutupi dari keduanya. Apa kau tahu, sesungguhnya aku juga sangat ingin mendengar tentang, apa yang sudah kau lakukan hari ini? Lalu, kau bertemu dengan siapa saja pada hari ini? Atau apakah kau juga sudah mengetahui penyebab kebakaran pabrik? Dan bagaimanakah kau menghadapinya?"
"Ya, seperti yang kau lihat di berita, kebakaran pabrik anggur dan wine menurut laporan dari Kenzo itu terjadi karena korsleting listrik. Tapi aku masih meminta Kenzo untuk menyelidikinya lagi, karena aku masih tidak percaya jika penyebab kebakaran pabrik hanya karena korsleting listrik. Aku sangat yakin, pasti ada yang dengan sengaja membakar pabrik anggur dan wine milikku."
"Jika memang benar di sengaja, mungkinkah kebakaran pabrik di lakukan oleh pesaingmu?" tanyanya dengan nada cemas sambil menatap wajah Julian.
__ADS_1
"Itu bisa saja terjadi. Karena di dalam dunia bisnis pasti kita akan bertemu dengan para pesaing yang bermain curang dan kemungkinan banyak sekali para pesaing yang tidak menyukaiku. Tapi aku juga tidak tahu siapa saja lawan bisnis yang sudah menaruh dendam denganku."
Ya, bagi Julian dia hanya memiliki satu musuh yaitu dengan Jacob Webber lawan bisnisnya yang memiliki dendam padanya. Tapi pria itu sudah lama tidak bertemu dengannya. Julian juga tidak merasa memiliki masalah dengan perusahaan yang lain.
"Setelah ini, apa yang akan kau lakukan, sayang? Dan bagaimana caranya kamu menangani anggota keluarga dari para karyawanmu yang tidak selamat atau pun yang mengalami luka?"
"Sayang, kau tidak perlu ikut mengkhawatirkan hal itu, Kenzo sudah mengurus semuanya. Karena aku sudah meminta asistenku untuk mengurus asuransi dan memberikan tambahan uang kepada seluruh anggota keluarga yang sudah menjadi korban dari kebakaran pabrik. Bukan hanya itu saja, aku juga sudah meminta Kenzo untuk memberikan perawatan bagi karyawan yang selamat sampai mereka bisa sembuh. Dan para karyawan tidak selamat tetapi masih memiliki anak - anak yang masih sekolah aku juga sudah meminta Kenzo untuk mengurus biaya sekolah mereka."
Setelah mendengar ucapan dari suaminya, Akexa pun semakin kagum pada sang suami karena memiliki sifat yang sangat baik dan bertanggung jawab pada karyawannya. Dan berkata "Aku sungguh sangat bangga padamu, sayang. Di balik sifatmu yang dingin dan terlihat sangat kejam. Tapi kau memiliki sifat yang sangat baik dan bertanggung jawab pada para karyawanmu. Kau tahu, jika sifatmu itu memang semakin mirip dengan Ayahku."
Ya, karena suaminya itu mau menanggung semuanya biaya pengobatan untuk para karyawannya yang masih selamat hingga mereka bisa sembuh dan memberikan bantuan pada anak korban untuk biaya pendidikan sekolah mereka.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.