
Alexa terdiam sebentar. Apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Mama Bella tentang perilaku Julian padanya selama ini? Pikirnya.
Melihat Alexa yang terdiam, menimbulkan pertanyaan di benaknya ia menggenggam tangan menantunya itu.
"Alexa, ada apa?" tanya Bella.
Alexa tersadar dari lamunannya. "Maaf ya, Ma. Aku malah melamun. Mama tenang saja Julian tidak menyakitiku kok, emang sih dia agak acuh padaku. Tapi dia tidak menyulitkan aku sama sekali." jelas Alexa yang memilih menyembunyikan kebenaran yang ada.
Bella terdiam, ia menatap serius pada Alexa.
"Sayang, jika Julian benar - benar menyakiti dirimu, katakan saja yah. Mama malahan akan sangat senang, jika kamu bisa lebih jujur pada Mama. Kalaupun Julian mengancammu untuk tidak mengatakannya, jangan di hiraukan yah. Katakan saja pada Mama yang sebenarnya apapun yang terjadi." timpal Bella dengan senyuman lebar.
Alexa sungguh merasakan hangat di hatinya karena perhatian dari ibu mertuanya itu.
Alexa menganggukkan kepalanya dengan kuat. "Iya Ma. Aku pasti akan selalu jujur pada Mama. Mama sangat perhatian padaku," balas Alexa dengan senyuman yang lebar pula.
Bella memeluk Alexa dengan erat. "Selalu andalkan Mama yah, jika kamu butuh sesuatu ataupun jika ada seseorang yang menyakiti dirimu. Mama akan selalu ada buat Alexa," ujar Bella sambil memeluk Alexa.
Pelukan itu terlepas. " Ya sudah Mama pulang dulu. Jaga kesehatanmu."
"Iya Ma, hati - hati jalan."
Satu jam kemudian Julian baru menyelesaikan meetingnya dan langsung masuk kedalam ruangan Alexa.
"Alexa, tadi aku dengar dari Novi kalau Ibuku tadi kesini? Sekarang dimana dia?""
"Iya, tadi Mama Bella kesini, tapi dia sudah pulang."
"Kau tidak mengatakan hal apapun kan? Maksudku, kau tidak mengadukan sikap kasar ku pada Ibuku, kan?"
Alexa membuang napas kasar. "Tidak."
Julian menghela nafas lega. "Syukurlah. Kita pulang sekarang. Barang - barangmu nanti akan di bawa oleh Novi."
__ADS_1
Alexa mengangguk seraya kembali tersenyum, Ya lebih baik Alexa juga tidak membahas tentang saudara perempuannya. Dia tidak ingin menimbulkan perdebatan antara dirinya dengan Julian. Saat ini hubungan di antara mereka sudah sedikit lebih baik.
Julia mulai membopong tubuh Alexa dan memindahkannya ke kursi roda. Kini Julian mulai mendorong kursi roda Alexa, dan membawanya meninggalkan ruang rawat, menuju mobil mereka.
...***...
Sepanjang perjalanan pulang Alex terdiam membisu dengan pikiran yang menerawang kedepan. Sungguh, dia benar-benar tidak bisa tenang. Bahkan beberapa kali Julian mengajaknya bicara, dia hanya tersenyum sebagai respon. Hatinya sedang tidak nyaman. Banyak hal yang muncul dalam benaknya.
Julian yang tengah melajukkan mobilnya, dia melirik ke arah Alexa yang terlihat tengah memikirkan sesuatu. "Apa ada hal yang membebani pikiranmu?" tanyanya dengan nada yang cukup serius.
"Hm?" Alexa yang tengah melamun. Dia sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari Julian.
"Ada apa, Alexa? Kenapa sedari tadi kau hanya diam saja?" tanya Julian sambil mengusap kepala Alexa.
"Ah tidak, aku hanya sedikit lelah saja?" ucap Alexa yang terpaksa berbohong.
Julian mengangguk.
"Julian, apa saat kau pergi ke Negara A untuk bertemu dengan rekan bisnismu, apa kau juga menemui Kak Vanya?" entah kenapa Alexa melontarkan pertanyaan yang tiba-tiba seperti ini. Jujur dia tidak mengerti kenapa dia harus menanyakan hal ini pada Julian. Padahal, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak ingin membahas tentang saudara perempuannya itu dengan Julian.
Alexa mengangguk, "Julian..." panggilnya dengan nada yang terdengar sedikit serius
"Ya?" Julian melirik Alexa sekilas. Kemudian mengalihkan pandangannya ke depan, dia masih fokus mengemudikan mobilnya.
"Bolehkah aku bertanya padamu lagi?" ucap Alexa pelan.
"Kau ingin bertanya apa?" Julian membawa tangannya mengelus lembut pipi Alexa.
"Hm, apa kau pernah mengatakan sesuatu pada Kak Vanya, hingga akhirnya dia memutuskan pergi di hari pernikahan kalian?"
"Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu, Alexa?" kening Julian berkerut, menatap Alexa bingung.
"Tidak Julian, aku hanya ingin bertanya saja. Selama ini kau tidak pernah mengatakan apapun. Bahkan kau tidak mencari keberadaan Kak Vanya," ujar Alexa dengan raut wajah yang tampak berbeda.
__ADS_1
Julian membuang napas kasar, "Aku pernah mengatakan padamu, bukan? Aku menganggap Vanya hanya sebagai adik dan tidak lebih, meski pada waktu itu dia calon istriku. Di malam sebelum aku dan Vanya menikah, aku dan dia tidak berkomunikasi. Aku pernah mencoba menghubunginya, tapi ponsel dia sudah tidak aktif,"
Alexa terdiam ketika mendengar penjelasan dari Julian. Penjelasan Julian mengartikan memang suaminya itu tidak pernah ada hubungan apapun dengan Vanya. Namun, yang membuat Alexa masih tidak mengerti, kenapa Kakaknya harus pergi? Dan kemana selama ini saudara perempuannya itu bersembunyi? Biasanya, anak buah Ayahnya tidak mungkin tidak mudah menemukan apa yang di cari. Tapi hingga detik ini, baik dirinya ataupun Ayahnya dan seluruh keluarganya tidak berhasil menemukan keberadaan Kakaknya, Vanya.
"Kau sedang memikirkan apalagi, Alexa?" Julian menatap Alexa yang sedang melamun lagi.
"Ah, tidak. Aku hanya mulai mengantuk," jawab Alexa yang kembali lagi berbohong.
"Tidurlah, nanti aku akan membangunkanmu kalau kita sudah sampai," balas Julian sembari mengusap lembut kepala Alexa.
Alexa mengangguk kemudian dia menyandarkan punggungnya di kursi mobilnya dan perlahan dia memilih untuk memejamkan matanya. Ya, terpaksa Alexa menutupi tentang hal ini. Saat Vanya, Kakaknya sudah menghubungi dirinya. Dan ingin bertemu dengannya beberapa hari lagi. Dan Alexa akan menunggu hari dimana dirinya akan bertemu dengan Kakak perempuannya itu sekaligus ingin mendengarkan penjelasan darinya apa yang sebenarnya terjadi.
Tak berselang lama, mobil Julian telah tiba di mansion mereka. Setelah memarkirkan mobilnya, Julian lebih dulu turun dari mobil, dia kemudian membukakan pintu mobil dan langsung membopong tubuh Alexa gaya bridal masuk kedalam rumah. Awalnya Alexa terkejut saat dirinya masih tertidur dan melihat Julian membopongnya. Dia hendak berucap, namun dia mengurungkan niatnya. Kini Alexa membenamkan wajahnya di leher Julian.
Setibanya di kamar Julian membaringkan Alexa di atas ranjang. Dia pun membantu Alexa melepas sepatunya. Alexa tertegun dengan apa yang dilakukan oleh Julian. Ternyata di balik sifat dingin dan kasarnya pria itu, dia masih menyimpan kepedulian yang mendalam.
"Julian, aku harus mengganti bajuku? Bisakah kau mengambil gaun tidurku?" pinta Alexa.
Julian mengangguk. Kemudian dia menuju ke arah walk in closet Alexa dan mengambil gaun tidur tipis milik Alexa. Setelah mengambilnya, Julian kembali menghampiri Alexa.
"Aku akan membantumu mengganti gaun tidurmu?" ucap Julian yang sontak membuat Alexa terkejut.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.