Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Alexa Siuman


__ADS_3

"Alexa? Sayang?" suara Arabella yang berseru memanggil nama Alexa, sontak membuat Julian dan Raymond menghentikan perdebatan mereka dan menatap Arabella yang tiba-tiba saja berlari ke arah Alexa.


"Arabella-"


"Raymond, tadi tangan Putri kita bergerak. Aku melihatnya. Tangan putri kita bergerak." Arabella tidak sanggup menahan air matanya, dia memeluk erat tubuh putrinya. "Sayang, Mamah di sini. Ada Papah dan juga suamimu. Mamah tahu, kau pasti bisa membuka matamu, sayang. Mama mengenal putri Mama yang kuat."


Julian dan Raymond terkejut. Mereka langsung menatap Alexa dengan lekat. Raut wajah mereka berubah, terlihat pada sepasang iris mata tajam mereka berdua menatap Alexa yang terbaring lemah dengan tatapan penuh harap.


"Alexa..." Raymond mendekat ke arah putrinya, dia menyentuh tangan putrinya. "Papah di sini, sayang. Kau sadarlah."


Air mata Arabella terus berlinang saat tangan Alexa tidak lagi bergerak seperti tadi yang dia lihat. "Alexa, Mamah di sini. Bukalah matamu, sayang."


"Alexa," Julian menatap sang istri, sudut matanya mengeluarkan air mata yang sudah tidak lagi mampu tertahan. Dia membawa tangannya mengelus lembut pipi istrinya itu.


Perlahan Alexa mulai membuka matanya. Dia menatap sebuah ruangan putih. Hal pertama yang di lihat Alexa adalah wajah kedua orang tuanya dan dia melihat sosok pria yang berdiri di hadapannya. Semua orang yang ada di sana begitu terkejut saat melihat Alexa membuka matanya.


"Sayang, kau sudah sadar? tangis Arabella pecah melihat putrinya sudah membuka matanya. Begitupun dengan Raymond yang meneteskan air matanya melihat putrinya sudah sadar.


"Mamah... Papah..." Alexa tersenyum melihat kedua orang tuanya. Hingga tatapan Alexa terhenti melihat Julian dengan air mata yang menetes membasahi pipi kokoh pria itu.


Kini Raymond menekan tombol darurat, memanggil dokter untuk segera datang memeriksa keadaan putrinya. Tak berselang lama dokter dan perawat pun datang. Mereka langsung memeriksa keadaan Alexa. Raymond, Arabella serta Julian menjauh saat dokter tengah memeriksa keadaan Alexa.


"Bagaimana keadaan Putriku?"


"Bagaimana keadaan Istriku?"


Raymond dan Julian sama - sama bertanya pada sang dokter yang baru saja memeriksakan keadaan Alexa.


"Tuan, keadaan Nona Alexa benar - benar sudah jauh lebih baik. Hanya membutuhkan waktu sedikit lama untuk pemulihan luka di kepalanya. Tapi setidaknya sekarang Nona Alexa sudah melewati masa kritisnya," ujar sang dokter memberitahu pada Raymond dan Julian.


Raymond dan Julian mengangguk. Kemudian dokter dan perawat berpamitan dari hadapan mereka. Ketika dokter sudah pergi, Raymond langsung mendekat pada Alexa. Sedangkan Julian, dia masih berdiri tidak jauh dari istrinya. Ada keinginan Julian ingin memeluk Alexa, namun dia lebih memilih mengalah karena mertuanya sedang berada disisi istrinya itu. Selain itu, Julian menatap wajah kecewa Alexa padanya. Dia ingin sekali menjelaskan semuanya sekarang, tapi itu tidaklah mungkin.

__ADS_1


"Papah... Mamah... Aku lelah ingin istirahat. Biarkan aku sendiri." Alexa berucap dengan suara yang pelan.


"Sayang, Mamah temani ya? Mamah ingin bersamamu." Arabella mengelus lembut pipi putrinya itu.


"Mama nanti bisa kesini lagi. Alexa ingin istirahat sendiri, Mah." jawab Alexa dengan suara yang pelan.


Arabella mengangguk. Kemudian dia mengecup pipi putrinya. "Mamah akan kembali lagi kesini dengan Papah."


Raymond mengecup kening putrinya itu dengan lembut. "Jangan pikirkan apapun. Papah tidak akan pernah jauh darimu. Ingat pesan Papah, sampai kapanpun kau akan tetap menjadi putri kecilnya Papah."


Alexa tersenyum, kemudian Raymond merengkuh bahu Arabella meninggalkan ruang rawat putri mereka. Sebelum beranjak, Raymond menatap Julian yang masih berdiri di sana. Tatapan yang penuh peringatan Raymond berikan pada menantunya itu. Jika saja bukan karena keadaan putrinya yang baru saja sadar, Raymond sudah pasti menarik paksa Julian agar pergi dari sana.


"Alexa...." Julian memanggil dengan suara yang pelan saat Arabella dan Raymond sudah pergi.


"Aku ingin istirahat." hanya itu jawaban dari Alexa. Dia memilih membuang wajahnya, tidak menatap Julian meski sebenarnya iris mata cokelat Alexa begitu merindukan pria itu. Namun, kenyataan hatinya yang terluka mampu membuat dirinya jauh lebih kuat.


Julian mendekat dia mengecup kening Alexa seraya berkata. "Aku akan segera menemuimu lagi. Sekarang kau istirahatlah. Aku tidak akan pergi jauh. Aku di depan ruanganmu."


Bulir air mata terjatuh saat Julian sudah pergi. Mata Alexa memanas. Ingatannya kembali berputar mengingat kejadian dimana dirinya dalam bahaya. Hal yang pertama kali Alexa ingat adalah ketika Julian tidak memilihnya. Dan itu sungguh - sungguh melukai hatinya.


...***...


Samudera melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang rawat Alexa. Ya, dia sudah mendengar jika adiknya itu sudah sadar. Tentu saja Samudera langsung menemui adiknya itu.


Saat Samudera sudah tiba di ruang rawat Alexa. Tatapannya teralih melihat wajah Alexa yang tengah melamun dan memikirkan sesuatu. Dia melihat jelas, ada hal yang di pikirkan oleh adik perempuannya itu.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Samudera mendekat, laku duduk di tepi ranjang menatap dalam iris mata coklat Alexa.


"Kakak?" Alexa menghentikan lamunannya saat Samudera berada di hadapannya.


"Apa yang kau pikirkan Alexa?" Samudera kembali bertanya seraya mengelus lembut pipi adiknya.

__ADS_1


"Tidak ada, Kak. Aku tidak memikirkan apapun." Alexa terpaksa berbohong. Dia tidak ingin memberitahu Kakaknya. Meski dia yakin Samudera sudah mengetahui semuanya. Tapi dia terlalu lelah jika kembali membahas tentang masalah rumah tangganya.


"Alexa," Samudera menjeda seraya menghembuskan nafas pelan dan melanjutkan. "Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku juga sudah tahu apa yang terjadi padamu dan suamimu. Ini semua salahku, jika dulu aku membawamu lari dari pernikahan, kau pasti tidak perlu menikah dengan pria sialan itu. Maafkan aku sudah membuatmu menderita."


Alexa tersenyum. Dia membawa tangannya menyentuh tangan Samudera dan berkata. "Kak, aku tidak pernah menyesali menikah dengan Julian. Ini bukan salah siapapun. Mungkin aku sudah di takdirkan untuk menikah dengan Julian, Kak."


"Jika dulu aku lebih dulu mau di jodohkan. Mungkin kau dan Vanya tidak akan pernah terlibat dalam hal ini." raut wajah Samudera tampak begitu bersalah saat mengingat apa yang dia lakukan.


Ya, sebelumnya Samudera yang harusnya di jodohkan. Namun sejak dulu Samudera tidak pernah ingin menikah di usia yang masih di bawa 30 tahun. Lepas dari itu, Samudera juga tidak ingin di jodohkan. Terakhir pertengkaran besar terjadi antara dirinya dan juga Raymond, Ayahnya. Dia menolak keras di jodohkan. Samudera pernah beberapa kali berusaha berkencan dengan semua gadis - gadis yang di pilihkan oleh Ayahnya. Tapi tidak ada satupun yang Samudera inginkan. Itu kenapa Ayahnya menyerah menjodohkannya dan memilih Vanya yang lebih dulu menikah. Meski pada akhirnya semua rencana berantakan karena Vanya melarikan diri di hari pernikahan.


Alexa kembali tersenyum. "Kak, aku tidak ingin membahasnya lagi. Semua yang sudah terjadi tidak perlu ada yang di sesali."


"Alexa," panggil Samudera dengan raut wajah yang serius.


"Iya, Kak?" tanya Alexa seraya menatap Samudera.


"Aku ingin kali ini, kau memikirkan semuanya. Dengan apa yang sudah terjadi, harusnya kau tidak lagi memaafkan suamimu," jawab Samudera yang langsung membuat Alexa terdiam. "Aku sangat menyayangimu, Alexa. Banyak pria yang menginginkanmu. Kau tidak perlu kembali lagi pada suamimu yang sialan itu. Aku akan pastikan kau mendapatkan pria yang tepat di hidupmu," lanjutnya menegaskan.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2