
Julian menatap Alexa yang sedang tertidur pulas. Istrinya itu meringkuk layaknya seorang bayi perempuan yang sangat menggemaskan. Wajah polos Alexa saat tertidur membuat Julian tidak henti diam - diam untuk menciumnya. Beruntung Alexa tidak terbangun saat tadi dirinya terus mencium bibir istrinya itu.
Tatapan Julian kini teralih pada perut Alexa yang masih rata. Kini Julian membawa tangannya mengusap lembut perut Alexa. Ada gelenyar aneh dalam dirinya saat menyentuh perut istrinya itu. Ya, dia tahu ini seperti mimpi. Dia pun tidak pernah menyangka akan memilki anak secepat ini dengan Alexa. Namun, kehadiran anak di tengah - tengah mereka tentunya akan melengkapi kehidupan mereka.
Julian menurunkan wajahnya, dia mulai mengecupi perut Alexa. Sejak kemarin dia menahan diri untuk melakukan ini. Namun Alexa telah berada di sisinya. Meski hingga detik ini dia tahu jika Alexa masih belum memaafkannya, tapi yang terpenting bagi Julian, jika istrinya itu tidak pernah pergi darinya.
Julian membaringkan tubuhnya di samping Alexa. Dia kembali mengecupi bibir ranum istrinya itu. Dirinya terlalu bahagia bisa kembali lagi bersama dengan Alexa dan bisa melihat Alexa tidur di sampingnya. Setelah sudah berapa lama dia tidak melihat istrinya, itu benar-benar membuatnya seperti orang gila. Dia tidak bisa jauh dari Alexa lagi meski hanya satu hari pun.
Suara ketukan pintu terdengar. Dan Julian langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan menginterupsinya untuk masuk. Tak berselang lama dua orang pelayan membawakan nampan yang berisikan makan malam untuk Julian dan Alexa. Dan para pelayan itu langsung menghidangkannya di atas meja.
"Tuan, apa ada lagi yang anda butuhkan?" tanya sang pelayan tersebut dengan sopan.
"Tidak, kalian boleh pergi sekarang." jawab Julian dingin dengan raut wajah yang datar.
Para pelayan itu menundukkan kepalanya dan pamit undur diri dari hadapan Julian. Saat pelayan sudah pergi, Julian mengalihkan pandangannya menatap Alexa yang masih tertidur pulas.
"Sayang, bangunlah." Julian membangunkan Alexa sembari mengelus lembut pipi istrinya.
"Hmmmm...." Alexa menggeliat saat dia merasakan ada yang menyentuh wajahnya. Dan perlahan Alexa mulai membuka matanya, dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Seketika raut wajah Alexa berubah melihat Julian yang berada di hadapannya. Ya, Alexa tentu tidak lupa jika hari ini dia ikut pulang bersama dengan Julian. Walau sebenarnya setiap kali Alexa melihat Julian, hatinya merasa terasa begitu sesak.
"Makanlah..." Julian berucap dengan suara yang lembut ketika Alexa sudah membuka matanya.
"Aku tidak mau makan. Perutku masih mual." jawab Alexa dingin.
__ADS_1
"Kau belum makan, Alexa. Sedikit saja." ujar Julian yang berusaha membujuk.
"Tidak Julian. Aku tidak mau." Alexa kembali menolak. Dia tidak mau makan apapun.Pasalnya perutnya masih benar - benar mual. Jika dia tetap makan, sudah di pastikan dia akan memuntahkan semuanya.
"Kau tetap harus memaksa untuk makan, Alexa." Julian kemudian menyendokkan soup yang di buat oleh pelayan dan mengarahkannya ke mulut Alexa. Awalnya Alexa menolak, tapi karena Julian terus memaksanya akhirnya Alexa pun membuka mulutnya dan mulai menikmati soup itu perlahan.
"Jika kau masih mual. Kau masih bisa makan puding." Julian menatap Alexa yang tampak seperti ingin memuntahkan sesuatu. Dia pun langsung mengambil orange jus yang ada di atas meja dan memberikannya pada Alexa . Alexa pun langsung menerima orange juice itu dan menerimanya.
"Aku tidak mau memakannya lagi Julian. Jangan memaksaku. Aku tidak mau." tolak Alexa. Ya, Alexa menolak semua makanannya dia lebih memilih membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Julian menghembuskan nafas pelan. Padahal Alexa baru makan beberapa suap soup dan meminum orange juice. Dia ingin sekali memaksa istrinya itu. Namun dia tidak tega, melihat Alexa yang terus mual. Tidak ada pilihan lain kali ini. Julian pun berusaha untuk mengerti.
Kini Julian meletakkan mangkok yang ada di tangannya ke atas meja. Kemudian menarik selimut dan menutupi tubuh sang istri. Alexa memejamkan matanya. Dia tidak sanggup lagi berucap. Wajahnya tampak begitu pucat.
"Maafkan aku, sayang. Maaf" Julian mengecup kening Alexa dengan lembut. Lalu dia mengusap perut Alexa. Sudah sepantasnya Alexa belum memaafkannya, mengingat kesalahan yang di lakukan sangat besar. Tentu membuat istrinya masih terluka. Harusnya dia selalu memberikan kebahagiaan untuk Alexa, tapi dia malah melukai hati sang istri. Sungguh, dia benar-benar menyesal. Jika saja dulu dia menyadari perasaannya, dia tidak akan memberikan luka yang mendalam pada istrinya itu.
Julian membaringkan tubuhnya di samping Alexa. Dia menarik pelan tangan Alexa, memindahkan tubuh istrinya itu masuk kedalam dekapannya.Julian menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya itu. Beruntung, jika Alexa sudah tertidur pulas, Alexa tidak pernah menyadari ada yang menyentuhnya. Kini Julian mengecup bibir Alexa lembut dan di detik selanjutnya Julian mulai memejamkan matanya menyusul Alexa dalam mimpi indah.
***
"Hmmm..."Alexa menggeliat saat membuka matanya, dia merasakan ada yang menyentuh wajahnya. Perlahan Alexa membuka matanya, dia terkejut saat melihat Julian menyambutnya dengan senyuman.
"Maaf sudah membuatmu terbangun," Julian menarik tangan Alexa, masuk kedalam dekapannya. Dia memberikan kecupan bertubi-tubi di puncak kepala Alexa
__ADS_1
"Julian, kau tidak pergi ke kantor?" tanya Alexa dengan raut wajah dingin dan datar.
"Tidak." Julian menangkup kedua pipi Alexa dia ******* lembut bibir sang istri. "Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu. Hari ini aku akan menunjukkan rumah yang ingin aku beli dan kau bisa memilihnya."
"Julian...." panggil Alexa dengan nada suaranya yang terdengar kesal.
"Ya?" jawab Julian sambi mencium hidung Alexa gemas.
"Bagaimana kalau selama rumah kita dalam pembangunan, kita tinggal di penthouse saja? Nanti kalau rumah kita sudah selesai, baru kita pindah ke rumah baru yang sudah aku desain." ujar Alexa dengan raut wajah yang sedikit bahagia.
"Tapi penthouse terlalu kecil, Alexa. Kau jangan membuatku harus di bunuh oleh Ayahmu. Belum lagi Kakakmu itu yang selalu membuatku merasa kesal itu. Apa kau ingin melihatku bertengkar dengan Kakakmu dan Ayahmu lagi. Hanya karena menuruti keinginanmu tinggal di penthouse?"Julian membuang napas kasar saat mendengar permintaan Alexa. Bukannya tidak ingin menuruti permintaan sang istri. Tapi untuk ukuran Alexa, harusnya tidak mungkin bisa tinggal di penthouse. Meski Julian sangat mampu membeli penthouse termewah di negara M, tapi Julian lebih memilih untuk membeli Mansion mewah untuk rumah sementara yang akan di tempatinya dengan Alexa sampai Mansion utama mereka selesai untuk di bangun.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.