Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Lamaran Devan Dan Penolakan Dari Adel


__ADS_3

"Ya ampun, kalian itu romantis sekali." ucap Liora. "Bibi sungguh iri melihat keromantisan kalian berdua!" Sambung Liora dengan senyuman di wajahnya.


"Maaf, aku terlambat!" Suara seorang wanita memasuki ruangan makan, sontak membuat semua orang yang ada di sana, menatap ke arah sumber suara itu.


"Kenapa kau itu baru datang?" tanya Demian, sambil menatap dingin ke arah putrinya yang baru saja datang.


Adel meringis, memperlihatkan gigi putihnya. Dia langsung mendekat dan memeluk sang Ayah. "Maafkan aku Pah, kemarin aku terlalu banyak bekerja."


Demian menghembuskan nafas kasar. Dia masih diam dan tidak membalas pelukan dari putrinya itu. "Papah tidak akan mentoleransi jika kau datang terlambat lagi, Adel."


Adel pun langsung menganggukkan kepalanya. "Iya Pah, aku janji tidak akan terlambat lagi." jawabnya dengan patuh.


Namun, saat Adel melepaskan pelukannya pada Demian. Tanpa sengaja tatapan teralih pada sosok pria yang duduk di sebrang Julian. Kening Adel berkerut, sorot matanya berubah menjadi tajam pada sosok pria itu.


"Untuk apa kau juga datang kesini, Anggara!" Seru Adel dengan nada kesal. Saat melihat keberadaan Devan Anggara yang juga ikut bergabung dengan acara yang diadakan oleh keluarganya.


"Apa aku salah, jika ingin mengenal lebih dekat dengan kedua orang tuamu?" Devan menyunggingkan senyuman misterius. Dia mengedipkan sebelah matanya, pada Adel yang sejak tadi menatapnya tajam.


"Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Tuan Anggara!" Adel menggeram. Tangannya terkepal dengan begitu kuat. Sungguh, dia tidak menyangka jika pria yang ada di hadapannya ini sepertinya sudah tidak waras.


"Adel, tidak baik berbicara seperti itu pada tamu. Lebih baik kau duduk di tempatmu. Mamah tidak pernah mengajarimu untuk bersikap tidak baik," ujar Liora dengan tatapan penuh peringatan pada putrinya itu.


Adel mendengus tidak suka. Mau tidak mau, dia itu harus menuruti perintah dari Ibunya. Kini Adel menarik kursi dan duduk tepat di samping Ibunya. Raut wajahnya tampak begitu kesal.


"Adel, kenapa kau selama ini tidak pernah bilang ke Papah, jika kau sudah memiliki teman dekat pria?" tanya Demian dengan tatapan yang lekat pada putrinya itu.

__ADS_1


"Teman dekat? Teman dekat pria siapa yang kau maksud, Pah?" bukannya menjawab pertanyaan dari Ayahnya, Adel malah bertanya balik pada Ayahnya.


"Devan Anggara. Dia teman dekatmu, bukan?" kening Demian berkerut sambil menatap bingung ke arah putrinya.


Adel berdecak pelan. "Teman jauh saja aku tidak mau apalagi menjadi teman dekat, Pah. Sudahlah, Pah, jangan bicara yang tidak - tidak."


"Tuan Demian, aku dan Adel memang bukan teman dekat. Tapi, tujuanku datang kesini karena memilki maksud." Devan berucap menyela ucapan Adel.


Ucapan dari Devan sukses membuat semua orang yang berada di ruang makan tersebut terlihat bingung dengan apa di katakan oleh Devan tadi.


"Memang apa tujuanmu datang kesini?" tanya Demian dengan nada pelan tapi terdengar tegas.


"Tujuanku datang kerumah Tuan Jhonson tentunya karena aku sangat menyukai putrimu. Dan aku tidak suka menjalin hubungan yang membuang-buang waktuku. Jadi aku memilih untuk langsung memilih melamar Adel." jawab Devan dengan memberitahukan niat sebenarnya.


Mendengar ucapan dari Devan, Adel pun langsung tersedak. Dan berkata di dalam hati "Pria yang ada di hadapanku ini memang sudah gila! Dan dia seharusnya sudah berada di rumah sakit jiwa bukannya berada di rumah orang tuaku!"


"Baiklah, aku pun tidak menyangka jika akhirnya bisa mendengar saat putriku akan di lamar oleh seorang pria." ucap Demian yang langsung memotong ucapan dari Adel yang belum selesai. Terlihat Demian mengukir sedikit senyuman di balik dirinya yang memang sangat terkejut dengan ucapan dari Devan.


Devan pun tersenyum. "Ya, karena putrimu itu selalu menolak cintaku. Dan lebih baik aku langsung menemuimu. Dan aku sangat berharap agar Tuan Jhonson bisa mempertimbangkan keinginan saya untuk melamar putri anda, Tuan. Dan alasan saya melamar putri Tuan bukan karena fisik melainkan aku sangat menyukai sifatnya.Yah, mungkin bisa di katakan jika aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada putri Tuan Jhonson. "


"Ya ampun, romantis sekali." ucap Liora, sambil tersenyum ketika mendengar ada pria yang ternyata selama ini mengagumi putrinya.


Sedangkan Alexa hanya mengulum senyumannya setelah mendengar ucapan dari Devan, berbeda dengan Julian yang hanya diam dan memasang wajah yang dingin.


"Apa kau itu sudah gila Devan Anggara! Kau itu benar - benar sakit! Apa kau itu tidak waras tiba-tiba langsung melamarku di hadapan kedua orang tuaku! Kau bahkan tidak melihat dirimu sendiri siapa! Kenapa kau itu tidak pernah mengerti dengan apa yang pernah aku ucapkan padamu! Dengarkan aku! Aku itu tidak akan pernah mau dengan pria seperti dirimu! Dan aku menolak lamaranmu itu!" Seru Adel yang langsung meluapkan kekesalannya pada Devan. Dan kini, semua mata tertuju padanya. Karena, hal yang membuat semua orang terkejut adalah ketika Adel meluapkan rasa kesal dan amarahnya menggunakan bahasa dari negara A. Dan tentu saja yang mengerti bahasa dari negara A itu hanya Alexa dan juga Demian saja. Sedangkan, Liora, Julian dan Devan tampak kebingungan dengan bahasa yang di ucapkan oleh Adel.

__ADS_1


"Adel! Kau itu harus bicara dengan benar! Kamu tahu kan, Papah sering sekali mengatakan kepadamu agar tidak pernah menggunakan bahasa negara A jika kau itu sedang meluapkan kekesalan atau amarahmu! Itu sama saja kau tidak menghargai lawan bicaramu!" Suara Demian berseru dengan tatapan yang begitu dingin pada putrinya itu. Dan sorot matanya, menatap penuh peringatan pada putrinya itu. "Dan jangan pernah lagi menggunakan bahasa dari negara A kepada seseorang yang tidak mengerti dengan bahasa yang kamu ucapkan tadi!" Sambungnya.


Mendengar kemarahan dari Ayahnya, Adel pun langsung terdiam. Dan dia mengumpat di dalam hati, jika dia memang sudah kelepasan saat berbicara.Ya, jika emosinya memuncak Adel memang sering menggunakan bahasa dari negara A. Adel pun menyadari jika dirinya itu sudah bersalah dan bersikap sangat tidak sopan.


Adel menghembus nafas kasar. "Maafkan aku, Pah. Itu karena aku tidak suka dengan Devan Anggara. Pria itu sudah kehilangan akal sehatnya. Lebih baik kalian langsung usir saja dia dari rumah ini! Jika perlu, panggilkan dokter jiwa untuk memeriksa kesehatannya yang sepertinya sudah tidak waras!"


"Diam Adel. Biarkan Papahmu saja yang berbicara dengan Devan!" Seru Liora, dan kini tatapannya teralih pada suaminya.


"Tapi Mah, aku-"


Lagi - lagi ucap Adel terpotong saat Ibunya itu menatapnya dengan tatapan yang tajam hingga membuat Adel pun tidak mampu berkutik. Ya, dia akan selalu kalah jika berhadapan dengan Ibunya. Adel pun mengumpat di dalam hati jika dia begitu sial karena sudah mengenal sosok Devan Anggara.


"Tuan dan Nyonya Jhonson. Maafkan kelancangan saya, karena sudah berani melamar putri kalian." Devan berucap dengan sopan, namun tersirat nada ketegasannya.


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2