Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Kesepakatan


__ADS_3

Julian berdecak pelan. Dia lupa, pasti akan banyak pemegang saham yang ingin bertemu dengannya meski ada sedikit masalah dengan perusahannya. Meski perusahannya bisa langsung pulih. Tetapi para pemegang saham akan tetap meminta penjelasan darinya. Mengingat penurunan saham perusahannya yang membuatnya sedikit terpuruk.


"Aku akan memikirkannya. Sekarang kau kembalilah ke ruangan mu dan selesaikan jadwalmu," ucap Julian dingin raut wajah yang datar.


"Baik Tuan," Kenzo menundukkan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan Julian.


Saat Kenzo baru saja akan keluar dari ruang kerja Julian tanpa sengaja dia berpapasan dengan Devan yang datang ke ruang kerja Julian. Kenzo pun langsung menundukkan kepalanya, menyapa Devan dengan sopan. Devan pun membalas anggukan singkat di kepalanya. Kini Kenzo melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang kerjanya.


"Ada apa kau kesini?" Julian menyandarkan punggungnya di kursi, tatapannya menatap dingin ke arah Devan yang berjalan mendekat ke arahnya.


Devan mengabaikan pertanyaan dari Julian. Dia menarik kursi lalu langsung duduk di hadapan Julian. Julian kemudian mengambil botol wine yang ada di depannya, lalu menuangkan ke gelas sloki yang kosong.


"Apa kau ini tidak ingin berterima kasih. Karena sudah beberapa hari terakhir aku sudah menggantikan pekerjaanmu?" Devan mulai menyesap wine yang ada di tangannya perlahan. Dia menyilangkan kakinya dan tangannya, kemudian bertumpu pada kaki kirinya.


"Itu sudah menjadi pekerjaanmu. Lagi pula, aku sudah lebih banyak memberikanmu bantuan." Julian mengambil rokok, dia menghidupkannya dan menghisap rokoknya dengan kuat.


Devan mendengus tidak suka. "Kau ini kenapa selalu perhitungan sekali?"


"Katakan kenapa kau kesini? Bukannya hari ini aku tidak memilki jadwal bertemu denganmu?" Julian menghembuskan asap rokok ke udara.


Devan mengangkat bahunya tak acuh. "Aku hanya kebetulan lewat dan itu kenapa aku memutuskan untuk menghampirimu."


"Julian," panggil Devan dengan raut wajah yang serius.

__ADS_1


"Ada apa?" Julian menjawab dingin dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.


"Apa yang membuat Alexa akhirnya bisa jatuh cinta padamu?" tanya Devan yang membuat Julian sedikit merasa bingung.


"Kenapa kau bertanya itu?" alis Julian terangkat, menatap Devan.


"Aku hanya bertanya. Alexa Olivia Jhonson, bagaimana bisa kau membuatnya jatuh cinta padamu? Aku pernah membaca artikel tentangnya, dia tidak suka di liput oleh media. Dia juga menjauh tinggal di negara R karena tidak suka jika ada yang mengusik kehidupan pribadinya. Jika Vanya, saudara kembarnya begitu ramah pada media.Berbeda dengan Alexa yang tidak suka menjadi sorotan media. Harusnya wanita seperti Alexa paling sulit kau taklukkan. Apa yang membuat dia jatuh cinta padamu? Terlebih kau juga telah melukainya?"


Sudut bibir Julian membentuk senyuman kecil saat mendengar perkataan dari Devan yang dia sudah mengerti maksud dari ucapan Devan itu.


"Aku rasa, tidak ada satu wanita pun yang akan menolakku jika aku menginginkan mereka." Julian menjawab dengan nada angkuh. Well, tepatnya apa yang di katakan Julian adalah benar. Selama ini wanita yang selalu Julian inginkan selalu menaruh perasaan padanya. Bahkan, sejak dulu banyak wanita yang rela mengejar dirinya, meski sudah berkali menerima penolakkan.


Devan mendengus tidak suka. "Jawaban dari dirimu itu rasanya ingin membuat diriku benar - benar ingin membunuhmu."


Julian kembali tersenyum. "Kau tidak perlu mengejar seseorang. Buktikan saja kalau kau memang serius. Untuk memenangkan hati keluarganya.Mungkin kau bisa mendekati Demian Jhonson. Aku rasa Adel sangat mirip dengan Alexa. Mereka berdua itu selalu tunduk pada Ayah mereka. Dan bisa di katakan aku itu sangat beruntung, karena mertuaku menginginkanku menjadi menantu mereka. Itu kenapa aku dengan mudahnya akhirnya bisa mendapatkan Alexa kembali."


"Bodoh!" Julian tersenyum meledek. "Kenapa cara pikirmu itu dangkal sekali? Kau bisa membuat mereka untuk datang ke negara M?"


"Tapi bagaimana caranya?" tanya Devan dengan mengerutkan keningnya menatap serius ke arah Julian.


"Apa balasanmu jika aku membantumu?" Julian membalikkan perkataan Devan, tatapannya terus meledek kebodohan dari sahabatnya itu.


Devan berdecak kesal . "Uangmu lebih banyak dari aku, sialan! Kenapa kau ini selalu perhitungan sekali!"

__ADS_1


Julian mengambil gelas sloki yang ada di hadapannya dan menggerakkan berirama. "Sederhana saja, aku belum bisa meninggalkan kota ini karena banyak pekerjaan yang harus aku urus. Dan bulan depan aku juga masih tidak yakin untuk meninggalkan kota ini. Jadi, aku ingin kau menggantikanku jika nantinya aku tidak berada di kota ini. Karena aku tidak bisa mempercayakan sepenuhnya pada wakil direkturku. Aku ingin kau sendiri yang menggantikanku ketika sedang ada rapat dengan para pemegang saham. "


"Kau ini menyusahkan sekali, Julian!" Devan mendengus tak suka mendengar perkataan dari Julian. Jika seperti ini, mau tidak mau di harus segera mengurus pekerjaan Julian. Sial, dirinya benar - benar terjebak. Dia tidak mungkin tidak menyetujui. Karena jika dia menolaknya, Julian pasti tidak akan mau menolongnya.


"Bagaimana? Apa kau menerima tawaranku?" tanya Julian memastikan sambil tersenyum licik. Ya, bulan depan tentunya Julian sudah tahu jika dirinya itu tidak bisa meninggalkan negara M. Paling tidak, dia harus memastikan jika semuanya sudah aman. Karena sejak dulu, Julian tidak pernah bisa menyerahkan sepenuhnya perusahaan pada perwakilan direktur. Bukannya tidak percaya, hanya saja Julian lebih nyaman jika ada orang terdekatnya yang menggantikan posisinya. Dia tidak meminta bantuan Ayahnya. Karena selama ini Ayahnya itu sudah selalu di sibukkan dengan banyaknya pekerjaan. Tidak hanya itu, Ayahnya itu juga jarang berada di negara M.


Devan membuang napas kasar. "Baiklah aku terima. Tapi kapan kau bisa membuat orang tua dari Adel bisa datang ke negara M? Lebih baik jangan terlalu lama! Aku sudah tidak sabar!"


"Berikan aku waktu dua hari. Dan aku pastikan mereka sudah berada di negara M." Julian menjawab dengan seringai di wajahnya.


"Dua hari?" kening Devan berkerut, menatap bingung ke arah Julian. "Kenapa cepat sekali? Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Mereka itu sedang pergi berbulan madu, tidak mungkin kan kau memaksa orang yang sedang pergi berbulan madu untuk datang kesini," lanjutnya tak mengerti dengan apa yang sedang di rencanakan oleh Julian.


"Kau cukup diam, dan tunggu sampai aku memberitahumu kalau mereka itu sudah datang," Julian menyesap wine yang ada di tangannya perlahan. "Dan jika mereka sudah datang, sisanya kau harus berjuang sendiri. Aku tidak akan ikut campur. Kalau kau pintar, kau akan segera mendapatkan hati mereka. Tapi kalau kau sampai salah langkah dan menuruti otakmu yang lemah itu, maka kau itu harus selalu siap untuk menerima penolakkan. Seperti apa yang pernah di katakan oleh Adel, wanita dari keluarga Jhonson akan selalu menolakmu."


****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2