
"Selamat pagi Nyonya muda." sapa Novi saat Alexa membuka matanya pagi itu. Julian memang menugaskan Novi untuk berjaga jika Alexa membutuhkan bantuan. Dan kini kamar Alexa pun sudah di tempatkan terpisah dengan kamar Julian.
Alexa tersenyum, dan mencoba untuk duduk di ranjangnya, dan Novi segera membantunya. Alexa merasakan badannya terasa kaku dan ia masih merasakan nyeri di bagian tangan dan kakinya.
"Nyonya muda, pakai ini. Setelah itu saya akan menyiapkan makanan untuk Nyonya," ujar Novi sambil mengambilkan sebuah dress berwarna merah untuk Alexa pakai.
Novi membantu Alexa untuk memakainya.
"Terima kasih, Novi. Saya mau ke kamar mandi dulu." ujar Alexa.
"Mari saya bantu, Nyonya muda."
Novi membantu Alexa masuk kedalam kamar mandi dengan menggunakan kursi roda dan menunggu di depan pintu kamar mandi.
Setelah menyelesaikan urusan paginya, Alexa membasuh wajahnya dan memandang wajahnya di cermin di hadapannya.
Wajah Alexa masih terlihat pucat, namun tubuhnya sudah lebih kuat daripada tadi malam.
Alexa masih mengingat apa yang terjadi tadi malam, dan wajahnya pun kembali bersedih, mengingat apa yang telah Julian lakukan padanya.
"Duduklah Nyonya muda. Saya akan menyiapkan sarapan." ujar Novi sambil mendorong kursi roda Alexa setelah selesai dari kamar mandi dan hendak membantunya untuk duduk di sofa.
"Tidak apa Novi, saya bisa sendiri." ujar Alexa sudah merasa jauh lebih baik.
Novi tersenyum dan keluar dari kamar Alexa. Novi pun segera pergi kedapur untuk mengambilkan bubur yang sudah di siapkan chef di mansion ini untuk Alexa.
...***...
Julian menghisap rokoknya dengan kuat dan menghembuskan asapnya ke udara. Suara interkom masuk membuat Julian yang tengah bersantai langsung mengalihkan pandangannya pada telepon yang tidak berkunjung berhenti. Julian membuang napas kasar. Dia paling membenci ada yang menggangunya ketika sedang bersantai. Dengan raut wajah yang kesal, Julian menekan tombol hijau untuk menerima panggilan dan menjawab dingin. "Kenapa kau mengganguku?"
"Tuan maaf, saya hanya ingin memberitahu. Tuan Devan datang ingin bertemu dengan anda," ujar Kenzo sang asisten dari sebrang telepon.
"Untuk apa dia kesini? Katakan padanya aku sedang sibuk!"
__ADS_1
"Tapi tuan, anda tahu Tuan Devan tidak akan mungkin pergi jika belum bertemu dengan anda."
"Minta dia untuk masuk. Katakan padanya aku tidak memiliki waktu banyak!" Julian langsung menekan tombol merah. Ya, dia sangat mengenal Devan, sahabatnya yang selalu memaksa untuk bertemu meskipun dirinya tidak ingin bertemu dengan siapapun.
Tidak lama kemudian, seorang pria bertubuh tegap dan terbalut oleh jas formal melangkah masuk kedalam ruang kerja Julian. Dengan santai, pria itu duduk di hadapan Julian dengan menyilangkan kakinya. "Apa kabar? Apa kau merindukanku? Lama tidak bertemu denganmu? Sebenarnya semalam aku ingin berbicara denganmu tapi kau malah menghindar?"
"Ada apa kau kesini? Aku tidak memiliki banyak waktu. Jika kau ingin membahas sesuatu, maka katakanlah sekarang." tukas Julian dingin.
Devan mendengus tidak suka. "Kau ini tidak pernah ramah ketika menyapaku. Tujuanku datang kesini aku minta maaf karena tidak bisa hadir di pernikahanmu. Kau memberitahuku begitu mendadak."
"Kau tidak perlu meminta maaf." jawab Julian datar.
Devan mengangkat bahunya tak acuh. "Sekarang beritahu alasannya padaku? Kenapa tunanganmu itu bisa melarikan diri dan kau malah menikahi adiknya?"
"Tidak ada alasan khusus. Alexa menggantikan Vanya karena menyelamatkan nama baik keluarganya." Julian mematikan rokok yang ada di tangannya. Lalu dia mengambil gelas sloki yang berisikan wine di hadapannya dan menyesapnya perlahan.
"Well, tidak jadi menikah dengan Vanya Arabella Johnson tapi kau menikahi Alexa Olivia Jhonson. Mereka berdua sama-sama cantik dan sempurna. Aku rasa tidak masalah jika harus menikah dengan adiknya Vanya."
"Apa kau masih terus memikirkan tentang Berlian?" tanya Devan dengan raut wajah yang begitu serius.
Julian membuang napas kasar. "Ini bukan urusanmu."
"Ya, kau benar. Ini bukan urusanku." balas Devan. "Tapi kau tidak mungkin hidup dengan bayang - bayang Berlian. Kau telah memiliki Alexa, setidaknya kau harus menjaga hati istrimu."
"Aku tahu apa yang aku lakukan. Jangan membahas tentang Berlian lagi. Biarkan ini semua menjadi urusanku." jawab Julian menegaskan.
"Allright, aku percaya kau pasti bisa mengurus masalahmu dengan baik," Devan beranjak dari tempat duduknya, dan menatap lekat Julian seraya melanjutkan perkataannya. "Satu minggu lagi perusahaanku akan mengadakan jamuan makan malam. Aku harap kau datang dengan membawa istrimu yang cantik itu."
"Aku akan datang sendiri," jawab Julian dingin dengan raut wajah yang datar.
"Kalau kau mau malu silahkan datang sendiri. Karena semua tamu undangan ku pasti semuanya membawanya pasangan. Tidak mungkin, bukan? Seorang Julian Dominic hanya datang seorang sendiri tanpa membawa istri. Publik akan mengira kau tidak menganggap istrimu," ujar Devan memberitahu.
Julian terdiam mendengar perkataan dari Devan. Ya, apa yang dikatakan oleh Devan itu memang benar. Dia tidak mungkin tidak membawa Alexa. Terlebih jamuan makan malam itu pasti akan banyak media yang datang. Dia tidak ingin mendengar banyaknya pertanyaan dari para media.
__ADS_1
"Aku harus kembali ke perusahaanku. Pikirkan baik-baik perkataanku." Devan berbalik, dia langsung berjalan meninggalkan ruang kerja Julian.
Julian memejamkan matanya sesaat. Dia menegak wine yang ada di tangannya hingga tandas. Ya, sejak dulu Julian tidak menyukai ada orang yang membahas tentang Berlian. Dia cenderung menutup dirinya pada orang lain, meskipun itu dengan sahabatnya sendiri. Dan tidak berselang lama, Julian memilih untuk segera meninggalkan ruang kerjanya.
...***...
Julian memarkirkan mobil sport miliknya ke halaman parkir mansionnya. Kini dia turun dan melangkah masuk kedalam rumah. Terlihat para pelayan dan penjaga yang langsung menundukkan kepalanya saat melihat Julian datang.
"Selamat sore Tuan Julian." sapa seorang pelayan dengan sopan.
"Dimana Alexa?" tanya Julian dingin pada sang pelayan.
"Nyonya muda Alexa sejak tadi pagi tidak keluar kamar, Tuan." jawab sang pelayan.
Julian menggangguk singkat. Kemudian dia melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Tiba-tiba Julian menghentikan langkahnya tepat di depan kamar Alexa yang letaknya tidak jauh dari kamarnya. Hatinya begitu ragu ketika ingin masuk kedalam kamar Alexa. Namun keraguan di dalam hatinya tetap membuat langkah kakinya masuk kedalam kamar Alexa.
Saat Julian masuk kedalam kamar Alexa, tatapannya teralih melihat Alexa yang tertidur pulas di sofa. Julian pun dapat melihat dengan jelas luka di tangan dan kaki Alexa dan timbul rasa bersalah di hatinya.
Tatapan Juliah turun lagi ke arah kaki Alexa. Memperhatikan guratan - guratan yang hampir memudar bekas jeratan di kakinya. Ia sadar itu adalah luka jeratan lain yang ia ciptakan beberapa hari yang lalu saat ia pertama kali mengikat Alexa.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1