Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Aku Sedang Tidak Ingin Berdebat


__ADS_3

Tok... Tok... Tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Alexa.


"Nyonya Alexa, sudah waktunya sarapan pagi? Apa anda ingin makan sekarang?" pelayan Novi memanggilnya untuk memintanya makan sesuatu. Sedangkan Alexa masih meringkuk di atas ranjangnya dan tidak bisa bergerak karena kedua tangannya masih terikat. Bahkan kini badan bagian atasnya terekspose dengan jelas.


Pintu kamar kemudian terbuka perlahan, hingga menimbulkan suara. Alexa menoleh cepat saat tahu Novi yang masuk kedalam sana dan membawakan sarapan pagi untuknya.


"Novi tolong," pinta Alexa menatap Novi.


"Astaga, Nyonya Alexa kenapa bisa begini? Nyonya Alexa tidak apa-apa?" Novi melepas tali yang mengikat kedua tangan Alexa. Dan menutupi badan Alexa dengan selimut.


"Sakit sekali," ujar Alexa menunjukkan pergelangan tangannya yang kemerahan.


"Novi," panggil Alexa pelan, satu tangannya mencekal lengan pelayan itu. "Aku...aku tadi tidak menyentuh Julian sama sekali, tapi kenapa dia kesakitan? Dia juga sampai membentakku."


"Tuan akan memiliki sakit kepala yang hebat saat memikirkan sesuatu hal yang berat, Nyonya muda. Tapi Tuan muda sekarang sudah baik - baik saja, Nyonya Alexa tidak perlu khawatir. " jelas Novi.


...***...


Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Julian melemparkan botol minuman ke lantai. Ia sedikit mabuk dan pusing memikirkan Alexa.


Ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan masuk kedalam sebuah kamar dimana terakhir dia meninggalkan Alexa.


Julian membuka pintu dan menemukan Alexa yang sedang tertidur di atas ranjang kemudian Julian melangkah mendekat ke arah Alexa.


Alexa terusik tidurnya saat ia merasakan kecupan di bibirnya. Kedua matanya terbuka sempurna hingga ia menatap wajah Julian dari jarak yang sangat dekat.

__ADS_1


"Ka-Kau mau apa?!" pekik Alexa langsung terjingkat dan beranjak bangun.


"Tidak perlu berlebihan," ujar Julian menatapnya dan menarik tubuhnya.


"Minggir Julian, aku ingin tidur sendiri. Julian aakhhh.... Sakit!" Jeritan keras dari bibir Alexa saat Julian menggigit pundaknya pelan.


"Diam, atau aku remukkan semua tulang - tulangmu!" Desis Julian penuh dengan emosi.


Kedua mata Alexa terpejam pelan, ia memegangi kedua tangan Julian yang kini mendekapnya erat.


"Alexa, untuk kejadian kemarin." Julian menjeda ucapannya, kemudian menghembus napas kasar. "Aku minta maaf. Tapi siapa yang sudah mengizinkanmu untuk masuk kedalam ruangan itu, Alexa!" Sentaknya dengan keras.


Alexa terdiam saat mendengar perkataan dari Julian. Lidahnya terasa begitu keluh. Ingin rasanya dia berucap marah. Sesaat Alexa mengatur napasnya, meredakan amarah yang masih memendung dirinya. Walau jujur saja Alexa kecewa dengan perkataan Julian. Hingga kemudian, Alexa hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Dia enggan untuk berkata - kata.


"Bisakah kau tidak hanya diam saja ketika aku sedang mengajakmu berbicara?" seru Julian dengan penuh peringatan.


Julian menggeram menahan amarah yang hendak meledak di dalam dirinya, ya dia tidak suka dengan perubahan sikap dingin Alexa. Paling tidak, dia ingin wanita itu menjawab perkataannya bukan hanya dengan mengangguk atau seolah menurutinya.


Julian bungkam, terlihat wajahnya begitu terkejut mendengar perkataan Alexa. "Apa maksudmu Alexa?" tatapan Julian kini berubah tajam dan dingin.


Alexa kemudian bagun dari tempat tidurnya dan menatap lekat ke arah Julian seraya berkata, "Maksudku?" Alexa tersenyum sinis. "Bukankah kau menganggapku seperti hewan peliharaan, aku juga sudah menuruti semua perkataanmu? Tapi kenapa kau begitu mempermasalahkan aku yang hanya diam? Dan seharusnya aku itu berhak untuk masuk keseluruhan ruangan di dalam rumah ini Julian! Aku adalah istrimu dan apa yang kau miliki adalah milikku! Ketika kau melanggar batasanmu, aku juga bisa melanggar batasanku!" Jawab Alexa tegas"


"Jaga bicaramu Alexa! Aku tidak pernah menganggapmu seperti yang kau maksud itu!" Seru Julian menegaskan.


"Tidak pernah?" Alexa nyaris tertawa saat Julian mengatakan hal itu. "Kau tidak melihat kakiku ini yang di rantai olehmu dan di jadikan pemuas nafsumu? Apa bedanya?"


"Alexa! Kau adalah istriku! Aku berhak atasmu!" Julian menatap dingin Alexa. Dia berusaha untuk mengendalikan dirinya.

__ADS_1


"Kau berhak atasku?" Alexa tersenyum miris. "Kalimat macam itu Julian Dominic? Bagaimana bisa kau mengatakan kau berhak atasku, tapi aku tidak pernah berhak atasmu? Kau bahkan membuat kesepakatan sialanmu itu! Tapi kau sendiri yang melanggar semuanya! Apa yang sebenarnya kau inginkan, Julian? Kenapa kau bersikap tidak adil seperti ini?!"


"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu atau aku akan menghukummu lagi, Alexa. Lebih baik kau beristirahat." Julian bangkit dari tempat tidur Alexa, kemudian Julian melangkahkan kakinya meninggalkan Alexa.


"Kau hanya bisanya menghindar dan menghukummu saja! Dan tidak berani menjawabku tentang ini!" Tukas Alexa yang membuat langkah Julian terhenti. "Kau masih ingat, Julian. Hari ketiga setelah kita menikah, pelayan melarangku masuk kesalah satu ruangan. Awalnya aku berpikir itu adalah gudang atau tempat dimana kamu menyimpan berkas - berkas pekerjaanmu. Tapi setelah aku masuk kedalam ruangan itu, semua adalah foto - foto mesramu dengan seorang wanita! Dan ternyata dia adalah mantan kekasihmu, Berlian! Menurutku, ini sangat lucu Julian! Hanya karena aku tak sengaja masuk kedalam ruangan yang kau larang itu. Kau dengan kejamnya menghukummu dan menjadikanku seperti hewan peliharaan! Lebih baik kau ceraikan saja aku. Setelah itu, kau bisa kembali pada mantan kekasihmu itu! Kau tidak perlu lagi memikirkan keluarga kita! Biar aku yang mengurus semuanya."


"Jaga bicaramu Alexa! Jika kau tidak tahu apapun lebih baik kau diam!" Jawab Julian meninggikan suaranya. "Kita tidak akan pernah bercerai! Berapa kali aku sudah mengatakan padamu! Kita tidak akan pernah bercerai!" tegas Julian.


"Kenapa kau tidak mau menceraikan aku? Apa diam - diam kau sudah jatuh cinta padaku?" Alexa bertanya dengan nada penuh sindiran.


"Sejak dulu dan selamanya Berlian tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun! Lebih baik kau kubur semua apa yang ada di pikiranmu itu!" Tukas Julian dengan nada penuh penekanan.


Alexa tersenyum patah. Sebuah senyuman yang mengisyaratkan kepedihan yang mendalam. Bagai sebuah pisau yang menancap di hatinya saat Julian mengatakan 'Berlian tidak pernah tergantikan' ingin rasanya dia berteriak dan memaki Julian. Tapi rasanya dia tidak mampu melakukan itu.


"Berlian tidak pernah tergantikan?" Alexa menjeda ucapannya, dia melangkah mendekat ke arah Julian. Dia terus memaksakan senyuman di wajahnya, meski terlihat matanya sudah memerah. " Jika dia tidak bisa lagi tergantikan. Maka jangan lagi kau mengurungku dan menyiksaku lagi Julian. Dan jangan lagi mengatur hidupku Julian. Biarkan aku memiliki kehidupanku!"


"Jangan berharap aku akan melepasmu Alexa? Sampai kapanpun aku tidak pernah melepasmu!" Bentak Julian keras. Dan setelah mengatakan itu, Julian langsung meninggalkan Alexa yang masih tidak bergeming dari tempatnya.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2