Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Tidur Bersama


__ADS_3

Ekor mata Julian melirik jam yang menunjukkan sudah pukul dua dini hari.


Laki - laki itu keluar dari dalam ruang kerjanya. Langkah kaki Julian membawanya menuju ke arah ruangan dimana lampu di dalam ruangan itu masih menyala.


Julian berdiri bersandar di ambang pintu menatap Alexa yang kini sedang sibuk belajar melukis.


"Apa kau tidak tahu, kalau ini sudah malam, Hah?!" Sentak Julian mengejutkannya.


Alexa seketika tersentak hingga kuas yang ada di tangannya terjatuh. Ia menoleh ke belakang dimana Julian yang tengah berdiri di sana menatapnya.


"Cepat pergi tidur Alexa, atau aku akan membakar semua alat lukismu ini, Hem!"


Gadis itu langsung bangkit dari sana dan meringkas semuanya, Alexa kini berjalan mendekat ke arah Julian yang langsung menjitak kening Alexa saat itu juga.


"Aduh!" Pekik Alexa memegangi keningnya.


"Kenapa kau bebal sekali, Huh?! Ini sudah jam dua malam, dan kau masih berada di dalam ruangan ini!" Amuk Julian menarik lengan Alexa saat itu juga.


Pandangan Alexa kini naik menatap Julian lekat - lekat.


"Julian, aku tidak mengantuk. Aku itu sedang bosan sekali..."


"Tapi kalau sudah jam tidur ya tidur! Kalau kau sakit lagi bagaimana?! Siapa yang bingung?!" Seru Julian. "Apalagi kedua orang tuamu sebentar lagi akan datang ke negara M? Jika mereka melihatmu berada di rumah sakit pasti mereka akan mengkhawatirkanmu juga, Alexa!" Sambungnya.


Seketika Alexa mendongakkan kepalanya dan menatap Julian dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Tangan Alexa tergerak untuk melepaskan cekalan tangan Julian pada pergelangan tangannya.


"Julian... jangan terlalu perhatian padaku." lirih Alexa menolak perhatian Julian.


Seketika Julian langsung menarik kedua pundak Alexa dan ia menipiskan bibirnya menatap gadis yang ada di depannya ini.


"Kenapa hah?! Katakan kenapa?! Kau.. kau takut kalau kau akan jatuh cinta padaku, kan? Mengaku saja Alexa?" seru Julian menarik - narik gemas pipi Alexa.


Tatapan Alexa kini tertuju pada Julian, ia menggeleng - gelengkan kepalanya dan melepaskan tangan laki - laki itu dari pipinya.

__ADS_1


"Aku serius Julian. Bukankah di perjanjian kita sudah di jelaskan bahwa......"


ucapan Alexa terhenti saat itu juga, saat Julian membungkam bibirnya Alexa dengan telapak tangannya.


Julian menatapnya dengan kesal, ia memaklumi sedikit kepolosan Alexa.


"Jangan membuatku kesal karena kata - katamu, Alexa! Atau kakimu itu ingin ku rantai lagi," sambungnya.


Julian kemudian langsung menarik tangan Alexa, laki - laki itu langsung mengecup bibir Alexa di detik itu juga.


Tidak ada perlawanan apapun dari Alexa, gadis itu masih diam dengan kedua tangannya yang beralih memeluk pinggang Julian dan kedua matanya yang perlahan terpejam.


"Julian!" Alexa langsung mendorong laki - laki itu dengan kesal.


Julian tersenyum tipis, ia mengecupi pipi Alexa dan langsung menarik lengan Alexa untuk di ajak nya keluar dari dalam sana.


"Mau kemana?" tanya Julian.


"Tadi kau bilang ini sudah malam dan saatnya aku tidur, jadi aku akan tidur di kamarku sendiri. Dan kau, lepaskan tanganku dulu." pekik Alexa menahan tangan Julian.


"TIDAK! TIDAK BISA BEGITU! BUKANKAH KAU SUDAH SETUJU UNTUK MEMBERIKANKU KEBEBASAN!" Pekik Alexa sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


Laki - laki yang ada di depannya itu menaikkan sebelah alisnya.


Lucu sekali dengan sikap Alexa yang menghentak - hentakkan kakinya dan menggeleng menolak apa yang Julian inginkan.


"Mana ada tidur berdua. Aku sudah terbiasa tidur sendiri!" Seru Alexa mundur perlahan.


Menarik, Julian langsung tergoda oleh tingkah Alexa yang unik.


"Kau akan mendapatkan hukuman dari Tuhan. Kalau kau tidak patuh pada suamimu, Alexa." Julian menegaskan kata - katanya.


Kedua mata Alexa mengerjap. Perlahan cengkraman eratnya di tangan Julian memudar, ia langsung menyentak tangan Julian saat itu juga.

__ADS_1


"Kau pasti menakutiku!" Serunya.


"Mana ada, untuk apa aku menakutimu! Kau ini kurang bangku belajar atau bagaimana?;" Seru Julian.


Saat itu juga Alexa menghembuskan napasnya frustasi dan ia langsung melewati Julian.


Alexa langsung masuk kedalam kamar Julian saat itu juga.


Laki - laki itu tersenyum tipis dan menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Gadis yang pandai. Cukup menarik."


...***...


Perlahan Julian mulai membuka matanya, kala dia mendengar dering alarm dari ponselnya berbunyi. Dengan tangan kirinya dia mengambil ponsel miliknya dan langsung mematikannya. Seketika Julian mengerutkan keningnya, seraya menyipitkan matanya kala sinar matahari menembus jendela menyentuh kulit wajahnya. Julian hendak beranjak dari ranjang, namun tiba-tiba dia menyadari ada sosok yang terbaring di dadanya. Di detik selanjutnya, Julian. Mengalihkan pandangannya, menatap sosok wanita yang tertidur dalam dekapannya. Ya, sebuah senyuman terbit di bibir Julian ketika melihat Alexa tertidur lelap layaknya seorang bayi dalam pelukannya. Tadi malam mereka memang tidur bersama. Harusnya ada guling yang menjadi penghalang tidur mereka. Tapi nyatanya, saat pagi menyapa, Julian sudah mendapati Alexa tertidur dalam pelukannya.


Julian hendak menjauhkan tubuh Alexa darinya, namun entah kenapa dia lebih memilih untuk mengurungkan niatnya, ketika melihat Alexa meringkuk di dalam pelukannya yang tampak begitu nyaman. Sesaat Julian terpaku menatap wajah Alexa yang putih dan mulus meski tanpa polesan maka up di wajahnya. Tanpa sadar Julian membawa tangannya menelusuri wajah Alexa. Hingga tangannya berhenti di bibir ranum Alexa. Tiba - tiba Julian mendekatkan bibirnya ke bibir Julian dan mengecupnya dengan lembut. Bibir yang kenyal dan manis, rasanya membuat Julian terus menginginkannya lagi dan lagi.


"Hmmm...." Alexa menggeliat. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Seketika, tepat di saat Alexa membuka matanya dia terkejut, melihat dirinya yang sudah berada di dalam dekapan Julian. Dengan cepat, Alexa langsung menjauh dari Julian.


"J- Julian. Kenapa kau tidak memakai baju? Dan kenapa aku bisa tidur di dalam pelukanmu? Dimana guling pembatas kita?" Alexa langsung mencari keberadaan guling yang menjadi pembatas di tengah ranjang. Di detik selanjutnya, Alexa langsung mengumpat di dalam hati melihat guling yang harusnya menjadi pembatas sudah tergelatak di atas lantai. Sial, dia tidak menyadari tidurnya benar - benar berantakan. Bagaimana mungkin guling itu bisa jatuh sendiri? Ah, Alexa terus merutuki kecerobohannya.


"Kau lihat sendiri gulingmu terjatuh." tukas Julian dingin. "Aku tidak memakai baju, karena aku selalu tidak pernah memakai baju jika aku tidur. Lebih baik kau salahkan dirimu karena tertidur dalam pelukanku."


...**********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2