Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Berbelanja


__ADS_3

"Julian kenapa kau tidak bersikap ramah pada Kakakku?" protes Alexa yang kesal sambil menatap Julian yang sedang melajukkan mobilnya.


"Kakakmu itu tidak pernah ramah padaku, jadi kenapa aku harus bersikap ramah padanya?" Julian membalikkan ucapan Alexa. Tatapannya terus menatap kedepan.


Alexa menghela napas dalam. "Kakakku memang seperti itu, dia tidak mudah beradaptasi. Terlebih dengan pria yang sekarang menikah dengan adiknya. Kakakku itu selalu merasa banyak pria yang tidak pantas untukku. Bukan hanya aku, tapi untuk Kak Vanya juga. Sejak dulu Kakakku hanya takut jika aku itu mendapatkan pria yang salah."


"Kalau begitu, kau itu harus menyalahkan sifatnya yang berlebihan." tukas Julian dingin dengan raut wajah yang datar.


Alexa mencebikkan bibirnya, "Kau jangan seperti itu, Julian. Kakakku itu sangat menyayangi adik - adiknya. Dia juga pernah mengajariku bela diri. Tapi, aku memang selalu kalah darinya. Kakakku itu pria yang hebat."


Julian melirik sekilas ke arah Alexa. "Tapi sifatnya tidak menunjukkan dia pria yang hebat."


"Kau ini menyebalkan sekali!" Alexa memukul lengan Julian. "Kau juga memilki sifat yang sama dengan Kakakku. Kalian berdua sama - sama dingin terhadap perempuan."


"Aku tidak ingin di samakan dengan Kakakmu!" Tukas Julian dengan nada yang tidak suka.


...***...


Mobil Julian mulai memasuki halaman parkir SKZ Mall, setelah mobil terparkir Alexa langsung memeluk lengan Julian dan membawanya masuk kedalam. Hari ini Julian tidak meminta Desi atau Novi untuk Ikut berbelanja, karena dia hanya ingin menikmati waktu berdua dengan Alexa tanpa ada pelayan yang selalu mengikuti dirinya.


"Julian, aku ingin mengunjungi toko tas." tunjuk Alexa pada sebuah toko yang tidak jauh darinya. Kini Julian berjalan kedalam butik itu dan mengikuti Alexa yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Selamat pagi Tuan dan Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan sambil menyapa Alexa dan Julian dengan sopan.


"Pagi," Alexa tersenyum samar. "Aku ingin kalian menunjukkan koleksi tas yang terbaru."

__ADS_1


"Baik Nyonya. Mari saya tunjukkan." jawab sang pelayan.


Alexa mengangguk. Kemudian Alexa dan Julian berjalan masuk kedalam. Tak berselang lama pelayan mengantarkan beberapa koleksi tas terbaru ke hadapan Julian dan Alexa. Seketika senyum di bibir Alexa merekah saat melihat banyaknya koleksi tas terbaru yang ada di toko tersebut.


"Nyonya, ini adalah koleksi terbaru kami." ujar sang pelayan sambil memperlihatkan koleksi tas terbaru mereka.


Alexa mengalihkan pandangannya sambil menatap Julian. "Julian, menurutmu model apa yang bagus untukku?"


"Ambil semuanya," Julian berucap dengan nada yang dingin pada sang pelayan toko. Kemudian dia memberikan kartu black cardnya untuk membayar barang belanjaan Alexa.


"Julian, kenapa kamu membeli semua tasnya?" Alexa mendengus tidak suka. "Aku sudah memiliki begitu banyak tas di walk in closetku."


"Karena semua tas yang ada di sini memang bagus untukmu, sayang." jawab Julian datar.


Alexa mendesah pelan. "Ya sudah, terserah kau saja."


"Julian, aku ingin membelikan pakaian untukmu," kata Alexa sambil menunjuk salah satu toko pakaian yang terdekat dengannya.


"Tidak usah, sayang. Kau berbelanja saja untukmu." jawab Julian.


"Apa kau tidak lihat. Walk in closetku sudah penuh. Aku rasa, Minggu depan aku harus meminta Novi untuk mengatur kamar kosong di sebelah kamar kita untuk di jadikan walk in closetku," ujar Alexa yang kembali mengingat, dia harus memiliki walk in closet lagi. Karena barang - barang yang di berikan oleh Ibu mertuanya dan Julian sangat banyak dan pastinya sudah tidak akan cukup jika hanya satu walk in closet saja.


Julian tersenyum, dia mengecup kening Alexa. "Baik, aku akan meminta Novi untuk mengatur dua ruangan di rumah kita menjadi walk in closet milikmu."


"Dua? Artinya aku akan memilki tiga? Terlalu banyak Julian. Kau pikir aku ingin menjadi penjual tas dan baju?" Alexa mendengus, dia menatap tak percaya. Padahal dia hanya meminta satu ruangan tambahan saja untuk di jadikan walk in closetnya. Tapi suaminya itu menyarankan untuk menambah dua ruangan.

__ADS_1


"Karena aku akan mengisi satu ruangan itu dengan pakaian anak kita nanti." balas Julian. "Dan aku akan meminta Kenzo dan Desi untuk mengatur pakaian bayi laki-laki dan bayi perempuan."


"Astaga Julian! Aku saja masih belum hamil! Tapi kenapa kau sudah menyiapkan semuanya? Kau yang benar saja Julian!" Alexa menghela nafas dalam, dia benar-benar tidak menyangka sebenarnya apa yang di pikirkan oleh suaminya ini. Dia saja masih belum yakin, apakah dirinya bisa mengandung dalam waktu dekat, mengingat hubungannya dengan Julian baru saja di mulai dengan baik, tapi suaminya itu sudah memikirkan tentang hal seperti itu.


"Sayang, nanti kita pasti akan memilki seorang anak, entah itu anak perempuan atau laki-laki. Jadi, tidak masalah jika kita menyiapkannya lebih awal," jawab Julian. "Aku juga sudah memikirkan, kalau aku ingin memilki anak denganmu paling sedikit empat anak, sayang."


Alexa menggelengkan kepalanya, dia sudah tidak lagi menjawab. Dia langsung menarik tangan Julian memasuki toko pakaian yang tadi dia tunjuk. Ketika Julian tiba-tiba membahas tentang anak, membuat Alexa sakit kepala. Empat anak? Yang benar saja! Alexa pernah membaca di internet, katanya melahirkan itu sangat sakit. Dan Ibunya pun pernah mengatakan demikian. Sekarang suaminya itu tiba - tiba mengatakan agar dirinya bisa mengandung sampai empat kali? Benar - benar membuat sakit kepala, saat Alexa memikirkan hal itu. Bagi Alexa jika dirinya di berikan kesempatan untuk hamil dia hanya ingin memiliki dua anak itu saja sudah cukup menurutnya.


Alexa kini sedang memilihkan beberapa jeans, kaos dan juga kemeja untuk Julian. Dia sengaja berbelanja pakaian untuk suaminya itu, meskipun setiap minggunya desainer khusus dari negara M selalu mengirimkan pakaian untuk Julian, tapi Alexa ingin belajar menjadi istri normal seperti yang lainnya. Seperti memasak, membelikan kebutuhan untuk suaminya. Karena terkadang hidup dengan fasilitas yang di berikan oleh suaminya itu, membuat Alexa sedikit jenuh. Itu kenapa Alexa ingin belajar tentang berbelanja baju untuk Julian. Dan yang membuat Alexa akan merasakan bahagia jika nantinya Julian mau memakai pakaian yang sudah dia pilihkan. Tentu saja hal sederhana seperti itu akan membuat Alexa merasa senang dan merasa di hargai dengan segala yang telah dia pilih untuk suaminya.


"Sayang, kenapa kau membelikanku banyak sekali pakaian?" tanya Julian yang melihat begitu banyaknya pakaian yang sudah di pilih Alexa untuk dirinya.


"Semuanya bagus, Julian? Jadi aku ingin membelikan semua pakaian ini untukmu," jawab Alexa dengan senyuman di wajahnya.


Julian menarik nafas dalam, dia tidak menjawab dan membiarkan Alexa untuk melakukan hal yang di sukai oleh istrinya itu. Lagi pula pakaian yang sudah di pilihkan oleh Alexa sangat bagus. Setelah membeli banyak pakaian untuk Julian, Alexa langsung membayarnya.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2