
Alexa berjalan dengan pelan di taman belakang rumah. Sesekali dia berputar memastikan rasa sakit di kakinya sudah tidak ada lagi. Dia tidak pernah bergantung lagi dengan kursi rodanya dan tidak memerlukan bantuan pelayan.
"Nyonya," seorang pelayan melangkah mendekat ke arah Alexa.
"Ada apa?" Alexa mengalihkan pandangannya dan menatap pelayan yang berdiri di hadapannya.
"Nyonya muda, maaf menggangu anda. Tapi di depan ada Nona Lilian. Beliau designer yang di minta oleh Tuan Julian untuk bertemu dengan anda, Nyonya." ujar sang pelayan.
Alexa menghela nafas dalam. " Undangan makan malamnya malam ini, tapi designernya baru datang sekarang. Bagaimana kalau gaunnya tidak cocok untukku?" tukasnya dengan nada kesal.
"Nyonya muda, anda tidak perlu khawatir. Karena Nona Lilian langganan Nyonya besar. Saya yakin, anda pasti sangat menyukai setiap rancang Nona Lilian." jawab sang pelayan meyakinkan.
"Semoga apa yang kau katakan itu benar." balas Alexa. "Oh ya, apa Julian sudah pulang?"
"Belum Nyonya. Tapi mungkin Tuan Julian akan pulang sore." jawab sang pelayan.
Alexa mendesah pelan. Tanpa lagi berkata, dia melangkah meninggalkan taman itu masuk kedalam rumah bersama dengan pelayan yang mengikutinya.
...***...
"Nyonya Alexa," seorang wanita berambut pirang menyapa Alexa dengan sopan.
"Hai, apa kau Nona Lilian?" tanya Alexa
"Benar Nyonya. Saya Lilian, designer yang di minta langsung oleh Tuan Julian untuk menunjukkan gaun pada anda." jawab Lilian.
Alexa mengangguk singkat. "Baiklah, segera tunjukkan aku gaun - gaun terbaikmu."
"Baik Nyonya." Lilian menggerakkan kepalanya memberikan isyarat pada asistennya agar membawakan gaun - gaun yang sudah dia siapkan. Tidak lama kemudian, dua orang asisten menunjukkan beberapa gaun pada Alexa. Alexa hanya diam, kala menatap gaun - gaun yang berada di hadapannya. Meski gaun - gaun itu sangat indah. Tapi Alexa tidak menunjuk raut wajah kekaguman.
"Nyonya, apa ada yang anda sukai?" tanya Lilian seraya menatap Alexa.
__ADS_1
"Aku tidak tahu mana yang terbaik untukku. Pilihkan aku dua gaun yang menurutmu paling bagus di antara semuanya?" tanya Alexa.
"Nyonya, menurut saya gaun yang berwarna merah atau gaun yang berwarna kuning sangat cocok. Karena anda memiliki tubuh yang sangat indah." ujar Lilian dengan senyuman yang hangat di wajahnya.
"Allright, kalau begitu saya ambil gaun yang berwarna merah dan juga kuning. Aku tidak bisa mencobanya sekarang. Tapi kau harus pastikan ukurannya harus sesuai dengan tubuhku." balas Alexa. Ya, dia tampak begitu malas untuk mencoba gaun - gaun itu.
Lilian mengangguk. "Baik, Nyonya."
Kini Alexa memanggil pelayan, dia meminta pelayan untuk membawakan gaun ke kamarnya. Setelah pelayan memindahkan gaun Alexa, Lilian pun berpamitan pada Alexa.
...***...
Waktu menunjukkan pukul enam sore. Alexa sedang duduk di sofa sambil menatap gaun yang di pilihkan untuknya. Kini Alexa mengambil ponselnya dan menatap ke layar, namun tidak ada satu pesanpun dari Julian. Pasalnya sudah sejak tadi Alexa menunggu Julian. Sedangkan undangan makan malam pukul delapan malam. Jika seperti ini mereka pasti akan datang terlambat.
"Sudahlah, lebih baik aku bersiap - siap. Awas saja kalau Julian sampai datang terlambat." gerutu Alexa. Kemudian dia menyambar gaun yang berwarna merah. Tidak ada pilihan lain. Lebih baik baginya untuk segera mengganti pakaiannya dan berias.
Dua puluh menit kemudian Alexa sudah selesai mengganti pakaiannya dengan gaun berwarna merah bermodel lengan panjang serta memperlihatkan punggung polosnya. Ya, Alexa lebih memilih gaun yang berwarna merah, sesuai dengan warna kesukaannya. Kini Alexa memoles wajahnya dengan make up bold. Dia pun memilih lipstik warna merah. yang sesuai dengan warna gaun yang ia pakai malam ini. Untuk rambut dia memilihnya untuk menggulungnya ke atas. Rasanya dia sangat bosan dengan rambut yang selalu di gerai. Dan khusus untuk malam ini, dia memilih untuk tampil berbeda.
"Pria itu menyebalkan sekali! Kenapa dia tidak menjawab teleponku! Jika tidak jadi harusnya bilang dari awal," Alexa menggerutu kesal karena Julian tidak menjawab telepon darinya. Dia sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, namu tetap tidak ada jawaban.
Dengan kesal, Alexa melangkah mendekat meninggalkan walk in closetnya dan hendak memanggil pelayan. Namun, tiba - tiba langkah Alexa terhenti saat melihat sosok pria tampan yang terbalut oleh tuxedo hitam masuk kedalam kamarnya.
"Julian, kau sudah pulang? Tadi kenapa kau tidak menjawab teleponku? Aku pikir kamu masih di kantor?" Alexa sedikit lega karena Julian sudah tiba di hadapannya. Kini dia melangkah mendekat ke arah Julian.
Julian terdiam, ketika Alexa menghampirinya. Terlihat tatapan Alexa yang begitu terkejut dengan penampilan Alexa malam ini. Ya, dia tidak pernah melihat penampilan Alexa ketika menghadiri pesta. Meski tatapan Julian masih begitu dingin dan datar tapi begitu menunjukkan kekagumannya melihat Alexa.
"Julian? Kenapa kau diam? Apa kau sakit?" Alexa membawa tangannya menyentuh kening Julian. Seketika kening Julian berkerut, tubuh Julian juga tidak demam. Tapi kenapa pria yang ada di hadapannya itu tidak mengatakan sepatah kata pun padanya?
"Ternyata dia memang sangat cantik." batin Julian yang terus menatap Alexa.
"Julian," panggil Alexa lagi sedikit keras sontak membuat Julian menyadari dirinya tidak menjawab Alexa.
__ADS_1
"Ssssshht...., aku tidak ingin merusak lipstikmu dengan memporak porandakan bibirmu yang sangat menggoda ini," lirih Julian menatap bibir Alexa.
Alexa langsung menundukkan kepalanya dan ia lebih baik menunduk dari pada harus menatap laki - laki yang menyebalkan itu
"Kau sudah siap?" Julian langsung mengalihkan pembicaraan.
"Aku sudah siap sejak tadi, Julian? Aku menunggumu dari sore, tapi kenapa kamu baru datang sekarang? Bagaimana kalau kita datang terlambat di acara undang makan malam temanmu itu?" seru Alexa kesal mencebikkan bibirnya.
"Kita tidak akan terlambat jika kita berangkat sekarang," tukas Julian dingin.
"Julian tunggu sebentar, clutchku masih ada di dalam." jawab Alexa.
"Cepatlah," balas Julian dengan raut wajah yang tak suka menunggu.
Alexa mendengus, dia langsung mengambil clucthnya yang ada di atas mejanya. Setelah mengambil clucth Alexa langsung memeluk lengan Julian. "Kita berangkat. Aku tidak suka nantinya kau akan menghukumku lagi jika kita terlambat datang ke pesta. Aku juga tidak mau di jadikan bahan pembicaraan tamu karena datang terakhir."
Julian sedikit terkejut melihat Alexa yang memeluk lengannya begitu erat. Kini Julian dan Alexa berjalan masuk kedalam mobil yang telah di siapkan.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1