Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Tidak Bisa Memilih


__ADS_3

"Kau tidak berhak mengaturku, Julian! Lepaskan aku!" Bentak Alexa keras.


"Aku tidak akan pernah melepasmu!" Julian berseru tegas.


"Lalu apa maumu Julian?!" tanya Alexa.


"Kau bertanya apa mauku?" ucap Julian tersenyum licik. "Jangan pernah berharap kau bisa pergi dari sini dan patuhlah padaku, Alexa?"


"Tidak mau!" Alexa menggelengkan kepalanya. "Kau.. kau penjahat!" sambung Alexa sambil berteriak dan memukuli dada Julian dengan berani.


"Karena kau yang selalu membuat aku ingin bersikap kasar padamu, Alexa! Sekarang aku akan mengurungmu di kamar ini dan jangan berharap aku akan memberikan makan dan dan minum untukmu!"


Alexa menggelengkan kepalanya. "Tidak! Jangan mengurungku lagi Julian! Biarkan aku pergi dari mansion ini!"


Julian tidak mendengar teriakan dari Alexa dan langsung mengunci pintu kamarnya.


...***...


Kini hari sudah berganti malam. Alexa duduk di tepian ranjang sembari memegangi perutnya yang mulai terasa lebih dan sakit. Sejak pertengkaran dengan Julian tadi siang, Alexa di kurung di kamar tanpa di beri makan dan minum.


Tak ingin terus berdiam diri dalam kubangan rasa sakit di perut dan hatinya. Alexa lantas menghampiri pintu kemudian menggedor-gedor pintu itu dengan keras sambil berteriak. "Ada orang di luar?! Buka pintunya Julian! Aku bukanlah binatang yang bisa kau kurung sesuka hatimu seperti ini!!!"


Alexa kembali meringis, sambil menahan perih di perutnya. Tidak ada sahutan apapun dari luar. Dia pun tidak yakin jika ada orang yang akan mendengar teriakannya.

__ADS_1


"Julian buka!!" Teriak Alexa sambil terus menggedor-gedor pintu. Dan hasilnya pun tetap sama. Teriakan dan tenaga Alexa berujung sia - sia.


Malam semakin larut, hawa dingin dari hembusan AC terasa menusuk - nusuk kulit Alexa hingga menggigil kedinginan. Rasa sakit di perutnya pun semakin tak terkendali. Alexa melangkah gontai menghampiri ranjang lalu masuk kedalam selimut. Namun, setebal apapun selimut yang memeluk tubuhnya, sama sekali tidak mampu memberikan kehangatan pada tubuhnya yang kini sedang menggigil kedinginan.


Sedangkan Julian sedang membanting semua barang yang ada di ruang kerjanya. Kini ruangan kerjanya tampak begitu berantakan. Pecahan beling berada di lantai, bahkan dia tidak mempedulikan ruangannya yang begitu kacau. Amarah dalam diri Julian tidak bisa lagi tertahan.


Julian mengumpat kasar. Dia menggeram, dia kembali mengingat semua perkataan dari Alexa.


"Tuan Julian," Kenzo melangkah mendekat ke arah Julian seraya menundukkan kepalanya.


"Ada apa?" tanya Julian dingin.


"Tuan, maaf kalau boleh saya memberi saran lebih baik jangan mengurung Nyonya Alexa. Terlebih dari tadi siang Nyonya Alexa belum di berikan makan dan minum. Saya hanya takut jika nantinya Nyonya Alexa kembali sakit. Dan keluarga Johnson mengetahui kondisi Nyonya Alexa, Tuan. Pasti mereka akan mengusut dan bisa jadi akan mengambil Nyonya Alexa dari tangan, Tuan muda." jelas Kenzo menunjukkan kepanikannya.


"Bagaimana aku hanya diam. Ketika istriku akan melarikan diri? Lebih baik aku mengurungnya! Dan pastikan jangan sampai ada celah yang terbuka, tutup semua berita dan akses yang menyorot ku. Tidak akan aku biarkan seseorang mengetahui kehidupan Alexa di dalam tempat ku ini." jawab Julian.


Julian seketika terdiam saat mendengar perkataan dari asistennya. Dia membisu dan tidak bisa mengatakan apapun. Sesaat Julian memejamkan matanya, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Kau pergilah, Kenzo. Aku tidak ingin di ganggu." tukas Julian dingin. Terlihat Julian sedang ingin sendiri dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


"Baik Tuan, saya permisi." Kenzo menundukkan kepalanya, pamit undur diri dari hadapan Julian.


Saat Kenzo pergi, Julian mengambil gelas sloki yang ada di hadapannya yang berisikan wine, lalu menegaknya hingga tandas.

__ADS_1


Pikirannya terus memikirkan perkataan Kenzo tadi. Ya, dia menyadari dirinya memang begitu egois. Karena jika dia berada di posisi Alexa, dia tentu tidak bisa menerima itu semua.



Tatapan Julian kini teralih pada bingkai foto pernikahannya dengan Alexa. Di foto itu, Alexa terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin. Kemudian Julian mengambil bingkai foto itu. Seketika tatapannya begitu berubah menjadi lembut ketika melihat wajah Alexa. Senyuman di bibirnya terukir, meski di pernikahan itu terjadi karena paksaan, tapi di foto itu tidak terlihat sedikitpun paksaan.Mereka berfoto seperti layaknya pasangan sempurna yang saling mencintai.


Namun tiba - tiba saat Julian terus menatap foto pernikahannya dengan Alexa, tatapannya teralih pada laci yang terbuka. Dia membuka laci itu dan langsung terdiam ketika melihat bingkai fotonya dengan Berlian yang di sembunyikan. Julian mengambil bingkai foto itu dengan tangan kirinya dan tangan kanannya yang masih memegang fotonya dengan Alexa.


"Berlian...." Julian bergumam, ketika melihat fotonya yang tengah mencium pipi Berlian. Terlihat mereka seperti pasangan yang saling mencintai.


Julian memejamkan matanya. Hatinya begitu berat, di sisi lain dia masih merasa bersalah pada Berlian. Tapi di sisi lainnya dia tidak bisa melihat Alexa berjauhan dengannya, apalagi membayangkan jika Alexa akan kabur dan meninggalkan dirinya. Tidak hanya itu, dia juga tidak bisa melihat ada pria lain yang menginginkan Alexa. Julian bersumpah, akan melenyapkan orang yang berani menginginkan istrinya.


"Maafkan aku, Alexa." Julian menundukkan kepalanya. Rasa bersalahnya semakin besar. Dia tahu, ini pasti akan terjadi. Dia yang masih belum bisa sepenuhnya melupakan Berlian. Dan dia yang tidak bisa melepaskan Alexa. Bagi Julian, Alexa adalah obat penenang baginya. Hanya ketika berada di sisi Alexa, Julian merasa tenang dan nyaman. Namun, jika di hadapkan dengan pilihan, dia tidak tahu harus apa. Karena rasa bersalahnya masih begitu dalam pada Berlian. Sedangkan Alexa? Sebenarnya wanita itu sudah berhasil masuk kedalam kehidupannya. Jika saja, Alexa hanya bagaikan orang yang asing baginya, Julian tidak akan mengurung Alexa. Tapi sekarang? Dia tidak mungkin hanya diam ketika Alexa akan mencoba pergi darinya.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2