Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
I Hate You


__ADS_3

"Akh-" ******* pelan lolos di bibir Alexa saat tiba - tiba Julian membawa tangannya menyentuh dada Alexa. Sejak hamil, Alexa jauh lebih sensitif. Seperti saat ini, hormon kehamilan memang membuatnya akan lemah pada sentuhan. Itu kenapa hampir setiap malam Alexa menahan dirinya. Dan sekarang? Dia tentu tidak bisa lagi menahannya. Karena beberapa hari ini Julian sudah lama tidak menyentuhnya.


"Aku merindukanmu." Julian berbisik pelan seraya mengecupi bibir ranum istrinya. Alexa memejamkan matanya saat Julian menyelipkan tangannya di balik dress yang di pakainya. Dress yang di pakai oleh Alexa mempermudah Julian karena dress ini memilki kancing depan. Dan Julian tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu mulai membuka tiga kancing atas dress yang di pakai oleh Alexa. Dia meremas pelan gundukan kembar di dada Alexa, hingga membuat istrinya itu mendesah dan mengerang.


"J-Julian, kau masih sakit." Alexa menggigit bibir bawahnya, dia menahan ******* saat tangan suaminya itu tidak hentinya bermain di dadanya.


"Tanganku tidak sakit, sayang." Julian berbisik seraya mengecupi leher jenjang sang istri. Meninggalkan jejak kemerahan di sana. Tubuh Alexa menggelinjang. Dia benar - benar merasa seperti aliran listrik tersengat di tubuhnya. Sungguh, suaminya itu selalu hebat menggodanya. Nyatanya Julian bisa melumpuhkan tubuhnya, hingga tidak bisa berkutik sedikitpun.


"J-Julian...." Alexa tahu Julian masih sakit. Dia tidak habis pikir suaminya itu tetap menyentuhnya di saat sedang sakit seperti ini. Sial, tentu saja tubuh Alexa merespon. Sejak awal, tubuh Alexa akan selalu lemah pada Julian. Dia tidak akan pernah bisa menolaknya.


"Aku sudah lama menahannya." Julian menarik tengkuk leher Alexa dia menyambar bibir istrinya dan memagutnya pelan. Tidak hanya diam Alexa mengalungkan tangannya di leher Julian, membalas pagutan yang di berikan oleh sang suami.


Ceklek.


"Tuan Julian-" tubuh Kenzo menegang. Dia langsung mengalihkan pandangannya saat melihat Julian tengah mencium Alexa. Raut wajah Kenzo menjadi ketakutan. Dia mengumpat dalam hati merutuki kebodohannya karena masuk ke ruang rawat Tuannya tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Setelah ini dia tahu, dia akan mendapatkan masalah yang besar.


"M-maaf, T-Tuan.... Nyonya." Kenzo langsung menunduk, tidak berani menatap Julian dan Alexa.


Julian melepaskan pagutannya pada Alexa sedangkan Alexa yang malu karena terpergok oleh Kenzo, dia memilih memeluk Julian untuk menutupi bagian dadanya yang masih terbuka. Julian menghunuskan tatapan yang begitu tajam melihat Kenzo yang berdiri tidak jauh darinya.


"Kenapa kau mengangguku!" Seru Julian dengan nada geramannya. Dia mengumpat karena Kenzo yang menganggu kesenangannya.


"M-Maaf T- Tuan. Itu karena saya mengkhawatirkan keadaan anda." ucap Kenzo yang masih terus menundukkan kepalanya, dan bergerak gelisah ketakutan.


"Julian, sudah jangan marah." Alexa mendongakkan kepalanya dari dalam pelukan Julian. Dia menatap iris mata coklat Julian yang tajam. "Kenzo hanya sedang mencemaskan keadaanmu," lanjutnya berusaha menenangkan kemarahan sang suami.


Julian menghembuskan nafas kasar. "Jangan menggangguku. Lebih baik kau itu cepat membereskan kekacauan yang terjadi di pabrik. Bagaimana bisa ada benda yang jatuh! Jika saat itu benda tersebut sampai mengenai istriku, aku akan pastikan kalian semua akan menanggung akibatnya!"

__ADS_1


"M-maaf Tuan, saya akan segera membereskannya." ujar Kenzo cepat. Kemudian dia langsung pamit undur diri dari hadapan Julian dan Alexa.


"Julian, kepalamu itu masih sakit bahkan sampai di jahit. Tapi kenapa kau masih bisa untuk marah- marah." Alexa menghela nafas dalam. Dia menggeleng pelan dan menatap Julian.


"Aku tidak lemah Alexa." Julian menangkup kedua pipi Alexa. Mengecup bibir istrinya lembut seraya berucap. "Jadi kau sudah memaafkan aku, kan?"


Alexa mendengus. "Tidak! Aku belum memaafkanmu! Aku itu masih membencimu!"


Julian mengangguk - anggukkan kepalanya seolah mempercayai perkataan istrinya. "Jadi kau itu masih membenciku?"


"Iya! Aku itu masih membencimu!" Alexa langsung menjauhkan tubuhnya dari Julian, seraya melipat tangannya di depan dada.


"Kalau begitu aku membutuhkan bukti kalau kau itu masih membenciku?" jawab Julian santai.


"Bukti? Bukti apa?" kening Alexa berkerut menatap bingung ke arah Julian.


"Aku tahu kau itu mencintaiku, sayang." bisik Julian saat pagutannya terlepas.


Alexa gelagapan dia sungguh malu, karena Julian meledeknya. Dengan cepat dia langsung menjawab. "No, I hate you! Kau jangan percaya diri!"


Julian pun tertawa pelan.Ini pertama kalinya dia tertawa melihat tingkah Alexa yang menggemaskan. "It's oke. Tapi aku mencintaimu." balasnya seraya mencubit pelan hidung Alexa.


Pipi Alexa langsung merona mendengar ungkapan hati Julian. Hatinya begitu senang dan sangat bahagia. Ingin rasanya dia memeluk sang suami tapi sepertinya tidak bisa, karena dia masih gengsi untuk melakukan itu.


"I hate you, Julian Dominic!"


"I know, but I love you. Alexa Dominic."

__ADS_1


***


Malam semakin larut, Julian dan Alexa memutuskan untuk menunda kepulangan mereka. Mengingat kecelakaan kecil terjadi, dan tidak mungkin Julian langsung pulang kerumahnya. Kini Julian dan Alexa sedang berada di rumah yang berada di dekat perkebunan anggur.


"Julian, kau duduklah. Aku akan mengganti perbanmu." Alexa berucap dengan suara yang pelan saat memasuki kamar pada Julian. Sedangkan Julian hanya mengangguk menuruti perkataan istrinya.Kemudian Julian duduk di sofa. Dan Alexa mengambil kotak obat yang sudah di siapkan oleh pelayan. Sebenarnya dokter meminta agar Julian di rawat di rumah sakit satu atau dua hari. Namun, Julian menolaknya dengan tegas. Pria itu tidak ingin hanya karena luka kecil di kepalanya dia harus di rawat. Itu kenapa sekarang Alexa dan Julian sedang berada di rumah di dekat perkebunan anggur.


"Apa ini sakit sekali?" tanya Alexa saat menggantikan perban di kepala Julian. Sejak tadi, suaminya itu hanya menatap dirinya saat tengah menggantikan perban. Bahkan suaminya itu tidak merasakan sakit sedikitpun saat Alexa menyentuh luka di kepala suaminya.


"Tidak," ucap Julian. Setelah Alexa menggantikan perban di kepala Julian. Dia langsung menarik tubuh Alexa terduduk di pangkuannya. Alexa memekik terkejut saat Julian memindahkan tubuhnya ke pangkuan suaminya itu. Alexa hendak beranjak, namun Julian semakin melingkarkan tangannya di pinggang Alexa. Dia tidak membiarkan sedikitpun Alexa beranjak dari pangkuannya.


"Julian lepaskan aku!" Alexa mendengus tidak suka.


"Biarkan seperti ini." Julian membenamkan wajahnya di dada Alexa. "Aku merindukanmu."


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2