Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Jangan sakit lagi


__ADS_3

"Aku datang kesini hanya ingin meminta maaf, atas apa yang adikku lakukan tadi malam." Ya, pria yang ada di hadapan Julian adalah Devan. Dia langsung duduk di hadapan Julian dan tidak memperdulikan tatapan dingin dan ramah yang di berikan oleh sahabatnya itu.



"Jangan lagi membahas yang tadi malam." tukas Julian dingin seraya menyimpan kembali bingkai foto yang ada di tangannya kedalam laci.


"Mau sampai kapan kau tidak akan lepas dari bayang-bayang Berlian? Sudah dua tahun,Julian! Apa kau ini tidak lelah terus hidup dalam bayang - bayang seseorang yang sudah tidak ada? Kau telah memiliki Alexa, aku tidak tahu kau mencintainya atau tidak Tapi, tadi malam kemarahanmu sudah membuktikan bahwa kau sebenarnya peduli padanya!" Seru Devan memperingatkan.


"Ini masalahku! Jangan pernah kau itu ikut campur!" tukas Julian menekankan.


Devan tersenyum sinis. "Aku tidak akan ikut campur! Aku hanya mengingatkanmu sebagai seorang teman, orang yang sudah meninggal tidak akan pernah bisa hidup lagi! Hidupmu terus berjalan. Kau sekarang sudah memiliki istri yang sangat cantik dan kau juga memiliki kehidupan yang hebat. Orang melihat kau memiliki segalanya."


"Tapi, Berlian sudah tidak ada dan itu semua terjadi karena perjodohan yang sialan ini!" Seru Julian meninggikan suaranya. "Jika tidak ada perjodohan sialan ini, dia pasti masih berada di sisiku! Harusnya aku sudah menikah dengannya! Bukannya dengan Alexa ataupun Vanya!"


Devan membuang napas kasar. Dia langsung beranjak dari tempat duduknya saat melihat kemarahan di dalam diri Julian. "Terkadang, apa yang kita inginkan belum tentu kita dapatkan. Kita jauh lebih sering mendapatkan


apa yang kita butuhkan. Berlian pergi bukan karena perjodohan ini. Tapi memang kau dan Berlian tidak di takdirkan untuk pernah bersama. Ini terakhir kalinya aku mengingatkanmu, jangan pernah menyesal di kemudian hari, karena bisa saja kau melukai orang yang ada di sekelilingmu hanya karena kau tidak bisa melepaskan bayang - bayang Berlian dalam kehidupanmu. Dan mulai belajarlah untuk mencintai istrimu."


Setelah mengatakan itu, Devan masih menatap dingin Julian. Hingga kemudian dia berbalik dan berjalan meninggalkan Julian dengan wajah yang penuh penyesalan. Julian hanya bungkam dia tidak mampu menjawab


perkataan dari Devan. Hanya sebuah perasaan bersalah yang begitu mendalam terlihat di wajahnya.


...***...


Hari sudah malam, kini Julian sedang berada di kamar Alexa.


Julian menatap Alexa. "Menurutlah padaku, dan jangan membantah apapun yang aku lakukan, menyentuh dirimu adalah hakku, jangan keluar dari sini, jangan pernah berkhianat dan jangan pernah-"


"Aku mau keluar dari sini! Lepaskan aku! Aku ingin pulang ke negara R!" Bentak Alexa sambil memukul - memukul dada Julian.


Julian menangkap kedua lengan Alexa dan ia mendorong hingga terlentang. Julian menepatkan kedua lengan Alexa yang ada pada cekalannya tepat di atas kepala gadis itu.


"Pulang? Di sini rumahmu, Alexa." ujar Julian lirih.


Alexa memejamkan matanya erat-erat, saat hidung mancung runcing milik laki - laki itu bersentuhan dengan kulit rahang dan leher Alexa.


"Tapi di sini kau selalu marah dan menyiksaku. Aku sudah tidak tahan lagi aku ingin pulang...." lirih Alexa membuat Julian menatapnya.


"Apa jaminanmu, Alexa?" tanya Julian, laki - laki itu menatap tajam ke arah Alexa.


Alexa memang tidak bisa mengelak kalau makhluk yang ada di hadapannya ini sangat tampan dan mempesona.


"Jawab aku, Alexa...." bisik Julian.


Alexa memejamkan matanya menggangguk - anggukkan kepalanya. Apa yang ia bisa lakukan selain patuh.


"A- Aku, aku akan patuh padamu. Tapi kamu jangan kasar padaku lagi Julian. Aku takut." lirih Alexa sedikit gemetar.

__ADS_1


Julian melepaskan cekalan tangannya pada lengan gadis itu. Laki - laki itu menggangguk - anggukkan kepalanya sembari tersenyum miring.


"Baik. Aku menerima tawaranmu, Alexa." ujar Julian sambil tersenyum.


Tidak ada yang berbicara lagi kali ini, hanya ada suara sesegukan dari Alexa yang belum bisa berhenti.


Julian menoleh dan menatap ke arah Alexa.


"Kalau kau-"


"Jangan marah lagi, Julian. Kepalaku sangat sakit!" Ujar Alexa pada Julian.


Julian berdecak sebal kali ini, bisa - bisanya si mungil ini memotong ucapannya.


"Apa sakit kepalamu kambuh lagi?" tanya Julian memastikan.


Alexa memejamkan matanya erat dan tangannya terkepal memukul - mukul kepalanya.


"Tidak tau. Tapi ini sangat sakit." jawab Alexa.


"Kita kerumah sakit sekarang." ujar Julian.


Julian langsung melepaskan rantai di kaki Alexa dan ia meraih tubuh gadis itu.


Selama perjalanan ke rumah sakit Julian mengkhawatirkan keadaan Alexa yang sudah tidak sadarkan diri.


"Alexa? Buka matamu, Alexa!"


"Jangan bercanda lagi, Alexa!"


Setelah sampai di rumah sakit Julian langsung membuka pintu mobilnya dan langsung mengangkat tubuh Alexa dan membawanya keluar dengan segera menuju ke arah UGD. Langkahnya Julian tergesa. Ia membawa Alexa masuk kedalam rumah sakit sehingga seorang suster membawakan brankar untuknya.


"CK! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa penyakitnya bisa kambuh lagi!" Seru Julian geram dengan sendirinya.


Kini Julian duduk sendirian di kursi. Ia sedang menunggu dokter yang memeriksa Alexa keluar. Rasa khawatir yang tinggi yang belum pernah Julian rasakan selama ini.


"Kenapa kau selalu membuatku bingung Alexa! Dan kenapa hanya kau yang berlarian di dalam pikiranku." gumam Julian seorang diri.


Julian langsung memejamkan matanya erat. Rasa pusing langsung bergelayar di kepalanya saat ini.


Pintu seketika di buka dan nampak laki - laki dengan jas putih yang berjalan mendekati Julian.


"Apa anda suaminya?"


"Iya Dok, saya suaminya." jawab Julian seketika.


"Oh baiklah, mari ikuti saya." ajak dokter itu pada Julian.

__ADS_1


Julian mengikuti dokter itu, hingga kini mereka memasuki kedalam sebuah ruangan. Dokter itu langsung menyuruh Julian untuk duduk.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Julian, raut wajahnya terlihat sangat panik dan tidak sabar ingin menunggu jawaban dari dokter.


"Rupanya sakit yang di alami oleh Nyonya Alexa kambuh lagi. Apa dia mengalami banyak pikiran atau ada sesuatu hal yang membuat Nyonya Alexa menjadi tertekan?" tanya dokter itu yang membuat Julian terdiam.


"Tidak ada, saya sangat sayang dan mencintai istri saya." jawab Julian.


Dokter itu menggangguk - anggukan kepalanya dan menepuk pundak Julian seraya berdiri.


"Tolong berikan perhatian yang lebih padanya, siapa tahu saja dia merindukan perhatian anda," ujar dokter itu.


...***...


Napas teratur dengan selang infus di tangannya dan wajahnya juga terlihat pucat. Julian duduk bersedekap dan menatap lekat wajah gadis yang ada di hadapannya ini dengan seksama.


"Alexa, CK! Bangunlah," seru Julian meraih tangan Alexa.


"Kau sangat aneh, kau membuatku panik dan marah dalam waktu bersamaan Alexa."


"Bangunlah, dokter bilang aku harus memperhatikanmu. Itu yang dokter mau!" seru Julian tanpa sadar ia mengecup punggung tangan Alexa.


Julian meletakkan lagi tangan Alexa. Namun, tangan itu bergerak dan meraih tangan Julian.


"Mama...."


"Mama..."


Suara gadis itu terdengar jelas kalau dia sedang mengigau saat ini.


Julian kemudian mengusap lembut kepala Alexa hingga membuat Alexa tertidur lagi. Pikiran Julian kini menjadi sangat kacau. Bagaimana ia bisa pergi kemana - mana dan meninggalkan Alexa yang sedang sakit sendirian di rumah sakit ini.


"Jangan sakit lagi, Alexa."


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2