Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Keributan


__ADS_3

"Nyonya Alexa...." seorang pelayan menghampiri Alexa yang kini tengah menyirami tanaman di halaman belakang.


Alexa mengalihkan pandangannya menatap sang pelayan yang melangkah mendekat ke arahnya. "Ada apa?"


"Nyonya, anda kedatangan tamu. Beliau mengatakan ingin menemui anda?" ujar sang pelayan sontak membuat Alexa bingung.


"Tamu?" alis Alexa bertautan, menatap lekat sang pelayan. "Siapa yang datang? Apa Adel yang datang? Tapi aku rasa, hari ini aku tidak memiliki janji dengannya."


"Bukan Nyonya. Tapi yang datang Tuan Muda Mateo," jawab sang pelayan memberitahu.


"Mateo datang?" ulang Alexa memastikan.


Sang pelayan mengangguk. "Benar, Nyonya."


"Aku akan kesana. Kau siapkan minuman." ucap Alexa kemudahan memberikan alat penyiraman tanaman itu ke sang pelayan. Kemudian, dia melangkah meninggalkan taman menuju ruang tamu, untuk menemani Mateo.


...***...


"Mateo, kau di sini?" sapa Alexa seraya mendekat ke arah Mateo yang duduk di sofa.


"Hi, Alexa? Apa aku menganggumu?" Mateo bangkit berdiri saat Alexa mendekat ke arahnya.


"Ah, iya. Aku sedang tidak enak badan." jawab Alexa. "Silahkan duduk, Mateo. Tidak mungkin kan, kita ngobrol sambil berdiri?"


Mateo terkekeh. "Ya kau benar. Tidak mungkin kan kita mengobrol sambil berdiri."


Kemudian Mateo dan Alexa duduk di sofa. Tak berselang lama, seorang pelayan datang sambil membawakan dua gelas orange juice beserta dengan tiramisu cake.


"Kau pulang ke kantor langsung kesini?" tanya Alexa sambil makan cake yang di antarkan oleh pelayan.


Mateo mengangguk. "Ya, tujuanku kesini hanya ingin bertemu denganmu. Semenjak Julian marah di restoran itu aku khawatir denganmu, aku takut dia berbuat kasar padamu di tambah nomormu juga tidak aktif."

__ADS_1


"Oh, astaga Mateo! Kenapa kau begitu khawatir seperti itu! Aku baik - baik saja," Alexa tertawa pelan seraya menepuk lengan Mateo.


Tanpa Alexa sadari dia telah membuat Mateo tidak henti untuk menatapnya. Ya, tawa Alexa membuat Mateo terpana. Bahkan Mateo rasanya tidak ingin sedikitpun berpaling dari wajah cantik Alexa. Namun, di saat Mateo terus menatap wajah Alexa, tatapannya teralih pada sudut bibir Alexa yang kini terkena noda cream dari cake yang di makanannya. Kini Mateo membawa tangannya menghapus noda cream yang ada di sudut bibir Alexa. Sontak Alexa sedikit terkejut dengan perilaku Mateo padanya.


"Maaf, ada cream di wajahmu, Alexa." ucap Mateo yang merasa tidak enak.


"Ah, harusnya aku yang minta maaf. Aku makan cake sampai berantakan." jawab Alexa seraya menyentuh sudut bibirnya. Memastikan sudah tidak ada lagi cream di sana.


"Beraninya kau menyentuh istriku, Mateo!" Suara bariton berteriak begitu menggelegar, sontak membuat Alexa dan Mateo langsung mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara itu.


"Julian? Kau sudah pulang?" Alexa beranjak berdiri saat menyadari Julian melangkah mendekat ke arahnya dan Mateo. Terlihat wajah Alexa yang terkejut. Karena Julian mengabaikan pertanyaan dari Alexa, pria itu menghunuskan tatapan tajamnya pada Mateo.


"Julian, kau sudah salah paham-"


"Untuk apa kau datang ke mansionku lagi, Mateo?! Dan beraninya kau menyentuh istriku!" Seru Julian dengan tatapan begitu tajam ke arah Mateo. Dia langsung menarik kasar tangan Alexa, berada di belakang badannya.


"Julian, tadi Mateo-"


"Diam Alexa!" Seru Julian dengan tatapan penuh peringatan pada Alexa yang berusaha menjelaskan padanya.


"Lebih baik kau pergi dan jangan menjelaskan apapun padaku!" Jawab Julian dengan suara yang meninggi.


"Alexa, aku pulang. Nanti aku akan kembali menghubungimu." Mateo mengabaikan ucapan Julian, dia langsung berjalan meninggalkan ruangan itu.


Julian menggeram, kilat kemarahan di wajahnya begitu terlihat. Hatinya begitu panas mendengar apa yang di katakan oleh Mateo. Dengan cepat, Julian langsung menarik kasar tangan Alexa, dan membawanya ke kamar.


...***...


"Kenapa kau masih bertemu lagi dengan Mateo! Bukankah aku sudah melarangmu berkali-kali agar tidak bertemu dengan Mateo!" Seru Julian saat tiba di kamar.Tatapannya menatap Alexa tajam dan penuh dengan kemarahan.


Alexa menghembuskan napas kasar, mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Julian. Rasanya dia begitu lelah dengan pria yang ada di hadapannya ini. Sesaat Alexa masih diam, hingga kemudian dia melangkah mendekat ke arah Julian dan menatap pria dingin itu.

__ADS_1


"Sebenarnya kau kenapa Julian? Kau sering sekali mencampuri urusanku! Aku juga berhak dekat dengan pria manapun! Seperti kau yang berhak dengan wanita manapun!" Jawab Alexa tegas.


"Aku ini suamimu, Alexa! Kau bahkan sudah berani membawa pria masuk kedalam rumah kita dan berbicara begitu dekat dengannya!" Julian nyaris berteriak saat mengatakan itu.


Alexa tersenyum sinis, "Dan aku ini istrimu Julian! Kau bahkan masih menyimpan semua tentang Berlian, mantan kekasihmu yang sudah tidak ada itu! Menurutmu, bagaimana perasaan seorang istri ketika suaminya masih menyimpan semua tentang masa lalunya?"


Julian bungkam, saat mendengar ucapan dari Alexa. " Kau salah paham, Alexa! Aku memiliki alasan sendiri kenapa masih menyimpan semua kenangan tentang Berlian."


"Alasan apa? Alasan kau masih mencintainya? Atau alasan karena kau masih merasa bersalah padanya?" seru Alexa dengan mata yang berapi-api. "Sekarang aku sudah lelah dengan pria yang yang tidak pernah bisa melihat masa depannya! Kau hanya terbelenggu pada masa lalumu!Bahkan wanita yang kau cinta itu sudah tidak ada! Harusnya, kau itu terus menjalani masa depanmu, Julian! Atau paling tidak jika kau masih belum bisa berdamai dengan masa lalumu, harusnya kau tidak melarangku! Biarkan aku hidup bebas mendapatkan pria yang mencintaiku! Aku tidak mungkin bisa hidup dengan pria yang selalu hidup dalam bayang - bayang masa lalunya!"


"Kau tidak tahu apa - apa, Alexa! Lebih baik kau kubur semua yang ada di pikiranmu itu!"


"Sudahlah, jangan pernah membohongiku, Julian! Jika kau masih mencintainya, kau bisa bebas untuk mengenang mantan kekasihmu itu sepuasmu! Tetapi besok pagi, aku akan meminta pengacaraku untuk mengurus perceraian kita." Alexa berbalik. Dia hendak melangkah pergi dari kamar.


Raut wajah Julian berubah mendengar perkataan dari Alexa. Dengan sigap Julian menarik kasar tangan Alexa, dan membenturkannya ke dinding. Kini Julian mengungkung tubuh Alexa, menghimpit tubuhnya. Hingga membuat Alexa tidak bisa berontak.


"Lepaskan aku, sialan!" Alexa mendorong keras tubuh Julian. Namun semua sia - sia karena tentu saja tenaga Julian melebihi dirinya.


"Jangan pernah berani kau mengatakan itu lagi padaku, Alexa!" Julian menangkup kasar pipi Alexa. Tatapannya menatap Alexa penuh dengan peringatan.


"Kau hanya menginginkan Berlian! Kau tidak pernah bisa melupakannya! Kenapa kau harus marah jika aku meminta cerai darimu!" seru Alexa dengan mata yang berkaca-kaca. Sudah sejak tadi dia menahan air matanya. Sekuat apapun seorang wanita, Alexa tetaplah wanita. Dia akan terluka, jika pria yang kini mulai di cintainya masih memiliki kenangan dengan mantan kekasihnya yang sudah meninggal itu.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2