Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Menyuarakan Isi Hati


__ADS_3

"Kau tidak berbohong, kan?" Alexa menyipitkan matanya menatap Julian dengan penuh curiga.


"Tidak sayang," Julian mulai menangkup kedua pipi Alexa dan memberikan kecupan yang bertubi-tubi di bibir istrinya. "Bagaimana kalau kita mandi dulu, sayang. Sebelum pelayan mengantarkan makanan yang sedang kau inginkan itu?"


"Eh...?" Alexa mengerjap terkejut. "Aku itu sudah mandi Julian. Kenapa kau mengajakku mandi lagi?"


"Karena aku belum mandi jadi aku mengajakmu untuk mandi bersama denganku."


"Tapi-"


Ya, dan belum sempat Alexa menyelesaikan ucapannya. Julian, sudah langsung membopong tubuhnya dengan gaya bridal menuju ke arah kamar mandi. Jika sudah seperti ini Alexa bisa apa? Dan terpaksa dirinya harus mandi dua kali. Kalau tahu, jika suaminya itu mengajaknya mandi bersama, Dia lebih memilih untuk mandi nanti saja. Suaminya itu benar-benar mengerjai dirinya yang sedang hamil.


***


Adel kemudian mulai melangkah keluar dari kamar milik Devan. Dan kini tubuhnya sudah terbalut oleh dress yang di siapkan oleh Devan. Karena dress yang Adel kemarin kenakan tentunya saja sudah robek. Dan beruntung Devan memberikan Adel sebuah dress yang sangat pas di tubuhnya.


"Kau sudah selesai?" tanya Devan, saat melihat Adel sedang melangkah mendekat ke arahnya


"Yah, seperti yang kau lihat." Adel menjawab dengan nada dingin dan raut wajah tanpa ekspresi.


"Akh-" Adel langsung memekik terkejut, saat tiba - tiba Devan menarik tangannya hingga membuatnya langsung duduk di pangkuan pria itu. Adel pun berusaha memberontak dan mendorong tubuh Devan sekuat tenaga. Namun, sayangnya pria itu langsung mengunci pergerakannya.


"Lepaskan aku, Devan!" Seru Adel yang sudah tidak lagi berontak. Tubuh Adel begitu mungil, jika berada dalam dekapan Devan. Pria itu memilki tubuh yang tegap dan gagah. Wajar saja kan jika tenaga Adel hanya bagaikan kapas untuk Devan.

__ADS_1


"Adel, jika kau masih tidak mau diam, jangan harap aku akan melepaskan mu." Devan berucap dengan nada tegas dan penuh dengan penekanan. Kini tatapannya tak lepas menatap Adel dengan lekat.


Adel menghela nafas dalam. Dan dia pun terpaksa tidak lagi berontak. Jika sudah seperti ini, dia bisa apa? Karena Adel pasti tidak akan pernah menang melawan Devan. Lagi pula sebenarnya Adel itu tidak berniat untuk berontak hanya saja setiap kali bertemu dengan Devan, Adel pun merasa malu. Ingatannya itu tidak lepas membayangkan kejadian yang terjadi tadi malam. Terlebih Adel saat mengingat jika dirinyalah yang sudah memberikan izin kepada Devan untuk menyentuh tubuhnya. Sungguh, jika Adel membayangkan itu semua, rasanya Adel ingin sekali berlari dan pergi jauh dan tidak lagi bertemu dengan Devan. Rasanya Adel tidak memiliki muka untuk berhadapan dengan pria itu.


Namun, ada satu hal yang Adel lupa. Yaitu, saat Devan yang tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkannya. Ya, sejauh apapun Adel berusaha untuk pergi jauh dari Devan. Devan akan tetap mengejarnya. Itu yang membuat Adel tidak memiliki pilihan yang lain. Belum lagi saat Devan memberikan ancaman padanya, jika dirinya akan memberitahu Demian, Ayahnya tentang kejadian yang terjadi tadi malam. Dan jika sudah di berikan ancaman yang seperti itu, Adel pun kalah. Mengingat Adel tidak berani pada Ayahnya.


"Kenapa kau selalu menghindar dariku?" Devan menarik dagu Adel, menatap manik mata wanita itu dengan dalam.


"Aku-"


"Apa kau malu?" Devan langsung menebak apa yang ada di pikiran Adel. Pasalnya, dia itu begitu mengenal dekat wanita itu. Bahkan terlihat dengan jelas apa yang ada di pikiran Adel saat ini.


"Aku.."


"Buka mulutmu," bisik Devan serak tepat di depan bibir Adel.


Bagaikan terhipnotis Adel pun menurut. Dia pun membuka bibirnya dan membiarkan lidah Devan mengabsen setiap rongga mulutnya. Dan ******* pun akhirnya lolos dari mulut Adel, saat Devan mulai mencium bibirnya dengan begitu hebat dan liar. Tubuh Adel pun mulai melemah. Ya, Adel pun sangat membenci keadaan ini. Keadaan dimana dirinya itu lemah terhadap Devan. Sebisa mungkin Adel berusaha untuk menghindari Devan, namun tidak bisa. Tubuhnya seolah menerima Devan. Di tambah lagi dengan setiap sentuhan yang di berikan oleh pria itu, negity memabukkannya dan tidak bisa di tolak olehnya.


Napas Adel mulai tersengal - sengal, saat Devan mulai melepaskan pagutannya. Dan kini wajahnya pun merona merah. Sesaat Adel dan juga Devan saling menatap satu sama lain. Dan sebuah tatapan yang begitu lembut dan sulit di artikan.


"Jangan lagi kau tutupi perasaanmu, Devan. Karena, sekeras apapun kau menutupinya. Aku akan tetap memaksamu menjadi milikku. Dengan atau pun tanpa persetujuan darimu, kau itu memang di takdirkan untukku." Devan berucap dengan penuh penekanan.


Adel pun terdiam sesaat saat mendengar apa yang di katakan oleh Devan. Dan hatinya kini mulai tersentuh apa yang di katakan oleh Devan tadi. Ya, perkataan yang Devan ucapkan tadi seolah menjadi sebuah janji yang tulus.

__ADS_1


"Devan..." Adel memanggil nama Devan dengan nada suara yang pelan.


"Hm? Ada apa, Adel?" tanya Devan sambil membawa tangannya untuk mengelus dengan lembut pipi Adel.


"Kenapa kau begitu menginginkanku? Padahal, sudah berkali-kali aku menolakmu. Bahkan, aku sudah sering sekali berkata kasar kepadamu?" ujar Adel dengan tatapannya yang tak lepas menatap ke arah Devan.


Mendengar pertanyaan dari Adel, Devan pun langsung tersenyum. Dan kini Devan kembali menarik dagu Adel, mencium dengan lembut bibir wanita kesayangannya itu. "Jika kau bertanya kenapa, maka jawabanku adalah karena aku sangat mencintaimu. Kau sudah sering mendengarnya, bukan? Jika banyak orang menjadi bodoh hanya karena cinta. Ya, seperti diriku yang selalu mengejar mu, meskipun sudah berkali-kali kau itu selalu menolak diriku."


Bulir air mata Adel pun mulai menetes saat mendengar jawaban dari Devan. Ya, hatinya mulai tersentuh dengan pengakuan pria itu. Hingga di detik selanjutnya, Adel langsung memeluk tubuh Devan dengan erat dan menangis dalam dekapan pria itu.


"Bodoh! Kenapa ada pria sebodoh dirimu, di dunia ini!" Isak Adel dalam dekapan Devan.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2