Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Menahan Amarah


__ADS_3

Sedangkan Devan yang baru saja datang dan melihat keributan Julian dengan kedua pria, Devan pun berusaha untuk menghentikan perkelahian tersebut.


"Julian, sudah hentikan!" Seru Devan pada Julian yang hendak melayangkan pukulannya pada kedua pria itu.


"Jangan kau coba untuk hentikan aku, Devan! Karena aku masih belum cukup memberikan pelajaran kepada kedua pria ini. Apa kau tahu, karena mereka Sepupuku dan Istriku hampir di lecehkan." Ucap Julian dengan nada tinggi.


"Apa?" Devan terkejut mendengar ucapan dari Julian.


"Cobalah kau liat sendiri bagaimana keadaan sepupuku."


Kemudian Devan beralih menatap ke arah Adel, Devan melihat penampilan Adel yang tampak acak-acakan. Devan pun menggeram saat melihat keadaan Adel yang seperti itu Dan kali ini Devanlah yang berganti menghajar salah satu pria yang tadi sudah di hajar oleh Julian hingga wajah pria itu kini berlumuran darah karena pukulan dari Devan yang bertubi-tubi.


"Sialan! Beraninya kau!" Ucap salah satu pria yang kini menjadi lawan Julian, pria itu terlihat kesal dan menatap tajam ke arah Julian, saat melihat temannya sudah di buat babak belur oleh Devan. "Kau tidak tahu siapa aku! Aku pastikan akan menghancurkanmu!" Desisnya penuh dengan ancaman.


Julian malah tertawa setelah mendengar ancaman dari salah pria itu . "Dengarkan aku, sebelum kau menghancurkan diriku, aku pastikan sudah menghancurkan dirimu lebih dulu. Lebih baik, kalian sekarang pergi dari hadapanku sebelum aku membuat kalian menyesal nantinya." Julian berkata begitu tajam dan menusuk.


"Aku tidak-" salah satu pria itu mencoba untuk kembali menyerang. Namun, salah satu temannya langsung menarik pria itu untuk pergi dan tidak lagi membuat keributan di club malam tersebut.


Kedua pria itu akhirnya turun dari lantai dansa dengan wajah kedua pria itu yang sudah di buat babak belur oleh Julian dan juga Devan.


Setelah itu tatapan Julian beralih ke arah Alexa. Melihat suaminya itu menatap tajam dirinya, Alexa langsung menelan salivanya susah payah dan kini suaminya itu berjalan ke arahnya hingga membuat tubuh Adel yang masih dalam pelukannya hampir terjatuh,badan dengan sigap Devan langsung mengambil alih tubuh Adel yang hendak jatuh itu.


"Alexa, biar aku saja yang akan mengurus Adel?" ucapnya lembut pada Alexa.


Alexa menganggukkan kepalanya dan berkata, "Tolong, jaga baik-baik sepupuku ya, Kak Devan."


"Kau tenang saja, Alexa. Aku pasti akan menjaga sepupumu ini." jawab Devan yakin.

__ADS_1


"Julian..." sapa Alexa, dia memberanikan diri untuk menyapa suaminya itu yang terlihat masih marah padanya. Ya, bagaimana suaminya tidak akan marah jika tadi Alexa sudah memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak.


Julian menghela nafas panjang, dia berusaha untuk mengontrol amarahnya agar tidak melukai perasaan istri tercintanya "Lebih baik kita pulang sekarang." ucap Julian sambil memakaikan jasnya untuk di pakai Alexa. Kini Julian membawa Alexa keluar dari club malam tersebut dengan wajahnya yang masih menahan amarah.


"Hmm, Alexa. Kenapa harum di tubuhmu ini sangat berbeda? Aku seperti mengenal pemilik parfum ini?" ucap Adel yang kini sedang mengendus-endus dada bidang Devan.


Mendengar ucapan dari Adel, Devan pun tersenyum samar. "Hei Nona cerewet, tahukah kau? Kalau sepertinya aku mulai menyukai saat kau mabuk seperti ini."


"Kau bilang apa, Alexa?" rancau Adel lagi. Ya, Adel mungkin masih mengira jika dirinya masih bersama dengan Alexa.


"Tadi aku bilang, kalau kau itu cantik." ucap Devan, kemudian Devan langsung mengecup bibir Adel singkat dan membopong tubuh Adel dengan gaya bridal dan mereka berdua pun keluar meninggalkan club malam itu juga.


***


Selama perjalanan pulang ke arah penthouse miliknya. Julian masih saja diam. Alexa ingin sekali menegur suaminya itu. Namun, saat melihat kembali raut wajah dingin dan penuh kekesalan dari Julian, Alexa pun mengurungkan niatnya. Ya, sudah sejak tadi Julian mendiamkannya. Jujur, Alexa bukannya tidak ingin menuruti ucapan dari suaminya, saat itu dia hanya khawatir dengan sepupunya yang sedang mabuk.


Dan tak berselang lama, mobil Julian memasuki gedung parkiran mobil. Julian melirik ke arah arlojinya sekilas dan kini sudah menunjukkan pukul dua pagi. Julian menghembuskan nafas kasar, karena jam segini Istrinya itu masih berada di luar.


Saat melihat ke arah istrinya ternyata Alexa masih tertidur pulas. Dia pun tidak tega untuk membangunkan istrinya. Kemudian Julian mulai membuka sabuk pengaman milik Alexa dengan perlahan.


"Hmmmm...."


Alexa menggeliat, saat merasakan ada yang menyentuhnya.Seketika senyum samar di bibir Alexa pun terukir melihat Julian yang sudah membukakan sabuk pengamannya dan mungkin saja itu salah satu alasan suaminya tidak berniat untuk membangunkannya.


"Aku tau, kau sudah bangun?" ucap Julian masih dengan nada dingin.


"Tidak, aku masih belum bangun." jawabnya masih menutup matanya.

__ADS_1


Julian kembali menghela nafas panjang. "Kalau kau belum bangun, mana mungkin kau bisa menjawab ucapanku."


"Ya, makanya aku akan tidur lagi."


"Turunlah, Alexa." ucap Julian, kemudian langsung menekan tombol mobil untuk membuka pintu mobil sportnya itu.


Alexa berdecak kesal, kemudian langsung turun dari mobil. Dan tepat di saat Julian juga sudah turun dari mobilnya Alexa langsung memeluk lengan suaminya. Walaupun wajah dari Julian tidak menunjukkan kemarahan tetapi sikapnya masih dingin kepadanya. Alexa pun sama sekali tidak memperdulikannya sikap suaminya yang tampak dingin itu, yang terpenting suaminya itu masih mau di peluk olehnya dan mereka kini melangkah menuju ke arah penthouse milik mereka.


Saat sampai di dalam kamar Alexa pun mulai bertanya lebih dulu pada suaminya, "Julian, apa kamu masih marah denganku?"


"Lebih baik kau istirahat sekarang, karena aku ingin mandi." jawab Julian dengan nada dingin.


"Sayang, sungguh aku minta maaf padamu. Aku juga tidak bermaksud untuk tidak menuruti ucapanmu. Karena saat itu, aku terlalu khawatir dengan keadaan sepupuku yang sedang mabuk berat. Aku takut kalau terjadi sesuatu hal buruk padanya." ucap Alexa berusaha menjelaskan pada suaminya agar tidak lagi marah padanya.


Kembali Julian menghembuskan nafas kasar nya, "Dengar sayang, kau itu sedang hamil muda? Tapi kau lebih khawatir dengan sepupumu, pernahkah kau memikirkan dirimu juga. Usia kehamilanmu baru tiga bulan.Bagaimana kalau nantinya terjadi sesuatu padamu? Dan permasalahan jika sepupumu mabuk kau bisa kan meminta anak buahku atau anak buah pamanmu untuk menjemput Adel. Tidak perlu kau yang langsung pergi ke club malam itu."


**********


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2