Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Ngidam Menyusahkan


__ADS_3

"Apa? Tadi kau bilang apa? Rendang?" kening Julian berkerut, menatap bingung Alexa.


" Ya, makanan favoritmu Julian." jawab Alexa dingin. "Dan aku ingin kau yang memasak rendang tersebut."


"Tapi Alexa, aku tidak bisa memasak." balas Julian yang tidak habis pikir dengan apa yang di minta oleh Alexa.


"Kalau kau tidak bisa, aku akan pulang ke rumah Ayahku saja." jawab Alexa ketus. "Karena aku sangat ingin makan rendang. Dan aku tidak peduli bagaimanapun caranya kau tetap harus memasaknya!" Seru Alexa keras kepala.


Julian menghembuskan nafas kasar, "Tunggu." ucapnya seraya mengambil ponsel. Kemudian dia membuka internet dan mencari nama makanan yang di sebut oleh Alexa tadi. Seketika kening Julian berkerut. Melihat komposisi bumbu yang bernama rendang yang Alexa maksud tadi.


"Alexa, apa kau yakin akan makan makanan seperti ini?" Julian bertanya dengan raut wajah yang cemas.


Alexa mengangguk. "Iya, aku mau makan rendang. Aku tidak mau makan yang lain. Aku hanya ingin makan rendang!"


Julian kembali membuang napas kasar. Dia tidak habis pikir dengan apa yang di minta oleh Alexa. Meski berat, tapi akhirnya Julian menghubungi pelayan untuk datang menghampirinya.


"Tuan... Nyonya...." ucap Desi menyapa dengan sopan saat mendekat ke arah Julian.


"Desi, aku ingin meminta bantuanmu untuk mengajarkanku membuat rendang," ucap Julian pada Desi.


"Baik Tuan, saya akan segera siapkan bahan - bahannya." jawab Desi kemudian pamit undur diri dari hadapan Julian dan Alexa.


***


"Desi, apa kau sudah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat rendang?" tanya Julian saat sudah sampai di dapur, sambil berjalan ke arah Desi.


"Sudah Tuan, ini untuk bumbunya. Saya akan mengajarkan Tuan untuk menumbuk bumbunya." kata Desi. Dan Julian mengangguk singkat.


Sedangkan Alexa sedang duduk dengan manis, dia menopangkan tangannya di dagu. Pandangannya menatap Julian yang sedang menumbuk bumbunya. Terlihat jelas semua bumbunya berantakan saat Julian sedang menumbuk. Alexa mengulum senyumannya, menggigit bibir bawahnya dan berusaha untuk menahan tawanya. Sepertinya rasanya ngidam itu menyenangkan bisa melihat suaminya memasak demi menuruti keinginannya.


Dan hampir satu jam lebih Julian baru bisa menyelesaikan masakan rendangnya. Kini wajah Julian terlihat sudah terlihat kesal karena selama proses memasak tadi Julian tidak berhenti mengumpat.


"Makanlah," tukas Julian saat menyerahkan piring yang berisikan rendang pada istrinya.


Alexa tersenyum senang melihat makanan yang sudah di buatkan oleh suaminya itu. "Julian, kenapa kau juga tidak ikutan makan?"


"Aku masih kenyang. Nanti saja, kau makanlah dulu." jawab Julian dingin.


"Kau harus makan juga Julian!" Alexa merajuk, dia mengerutkan bibirnya memaksa suaminya untuk makan dan mencoba rendang buatannya sendiri.


"Sayang tapi-"


"Ya sudah, kalau kau tidak mau! Aku tidak mau makan juga!" Alexa membuang wajahnya, dia tidak mau menatap Julian.

__ADS_1


Julian mengumpat di dalam hati. Dia harus mengalah demi istrinya. Tidak ada pilihan lain kini Julian mengambil rendang yang di masaknya sendiri dan memakannya perlahan bersamaan dengan Alexa yang juga memakan rendang tersebut.


"Bagaimana? enak kan?" kata Alexa sembari menikmati Rendang buatannya sendiri.


"Not bad," jawab Julian.


Alexa tidak menjawab perkataan Julian


Dia memilih untuk menikmati rendang buatan suaminya. Ya, rasanya cukup enak karena Desi turun tangan membantu Julian. Jika bukan, mungkin Alexa tidak tahu bagaimana rasanya rendang yang di buat oleh Julian.


"Alexa, jika kau ingin makan sesuatu lagi lebih baik langsung beli saja dan jangan memintaku untuk memasak lagi."


"Ini yang mau anakmu Julian bukan aku." balas Alexa yang tidak mau kalah.


"Jangan membawa - bawa anakku, Alexa." Julian menggeram menahan kesalnya.


"Apa kau ini tidak pernah membaca buku panduan buku hamil?" dengus Alexa kesal. "Di buku itu tertulis, ibu hamil sering meminta hal - hal yang aneh karena keinginan anak."


"Ya aku sudah tau. Lebih baik kau lanjutkan makanmu," Julian terlalu malas menanggapi ucapan istrinya itu.


Alexa membuang napas kasar. "Menyebalkan sekali!"


***


Siang harinya Alexa sudah di sibukkan dengan memilih beberapa desain yang baru saja di kirimkan oleh arsitek untuk rumah barunya. Terlihat Alexa yang tampak begitu antusias. Ya, sejak dulu Alexa menyukai tinggal di rumah dengan desain yang telah dia pilih.


"Nyonya," seorang pelayan membawakan nampan yang berisikan orange juice.


"Ya, ada apa?" tanya Alexa sambil menatap sang pelayan yang berdiri di hadapannya.


"Nyonya, Tuan Julian meminta anda untuk beristirahat." ucap sang pelayan.


Alexa mengangguk. "Sebentar lagi aku juga akan istirahat. Apa kau melihat di mana Julian?"


"Tadi saya lihat Tuan Julian sedang menerima telepon, Nyonya." jawab sang pelayan memberitahu.


Alexa mendesah pelan. "Ya sudah biarkan saja. Apa kau sudah mengemasi barang-barang yang akan di pindahkan ke penthouse?"


"Sudah Nyonya. Semua barang - barang penting anda dan Tuan Julian telah saya kemasi. Saat ini beberapa barang sudah mulai di pindahkan ke penthouse, Nyonya." jawab sang pelayan itu.


Alexa mengangguk. "Oh ya, untuk kamar Berlian yang ada di lantai bawah. Aku ingin kau memindahkan semua barang - barangnya ke gudang. Dan ganti desain warna kamar itu dengan warna toska," ujarnya yang mengingat dirinya belum mengganti kamar Berlian.


"Baik, Nyonya.Apa ada lagi?" tanya sang pelayan dengan sopan.

__ADS_1


"Tidak, terima kasih. Kau boleh pergi sekarang," balas Alexa sambil mengambil orange juice di hadapannya dan meminumnya perlahan.


Sang pelayan menundukkan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan Alexa.


Saat pelayan sudah pergi Alexa memilih untuk menikmati waktunya berisitirahat. Kini hidupnya telah tenang, tidak ada lagi kamar Berlian. Setidaknya dia tidak ingin Julian harus mengingat tentang mantan kekasihnya itu.


Tiba-tiba ketika Alexa tengah menikmati waktu istirahatnya, dia langsung menyadari dirinya belum menghubungi adiknya. Dengan cepat Alexa langsung mengambil ponselnya dan mulai menghubungi adiknya.


"Hallo? Kaylan?" sapa Alexa saat panggilannya terhubung


"Kak Alexa, ada apa? Tidak biasanya Kakak menghubungiku?" jawab Kaylan dari sebrang telepon.


Alexa meringis malu. Dia memang jarang menghubungi adiknya itu.


"Maaf Kaylan.Belakangan ini aku sedang sibuk. Apa kabar adikku?" tanya Alexa.


"Aku baik. Sudah jangan berbasa - basi. Aku tahu dirimu. Sekarang katakan kau membutuhkan bantuan apa? Ah, apa aku ingin meminta bantuanku untuk memberikan pelajaran pada suamimu itu?"


"Bukan, bukan. Hm, begini Kaylan. Aku ingin memintamu melukisku dengan Julian, kalau kau tidak keberatan tentunya." jawab Alexa.


Kaylan mendesah pelan dari balik teleponnya. "Seharusnya Kak Alexa tinggal bilang saja kalau Kakak ingin di lukis. Aku pasti akan mengusahakan untuk selalu membantu."


"Jadi kau mau datang ke rumah Kakak untuk melukisku dan Julian,"


"Iya, tentu saja aku mau."


"Ah, kau memang adikku yang terbaik. Terima kasih. Ya sudah, nanti Kakak akan menghubungimu lagi."


"Iya Kak. See you."


"See you.."


Panggilan tertutup Alexa kembali meletakkan ponselnya di tempat yang semula. Kini Alexa kembali waktu untuk istirahatnya.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2