
Pagi harinya Julian melangkah mendekat ke arah kamarnya untuk melihat kondisi Alexa yang sudah dia kurung sejak kemarin. Julian mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan, lalu tatapannya terhenti ke arah ranjang, kemudian terdengar sedikit suara rintihan kesakitan yang terdengar dari arah tempat tidur Alexa. Julian melangkah mendekat dan menghampiri ranjang milik Alexa.
Julian terkejut saat melihat kondisi Alexa yang begitu mengkhawatirkan. Kulit wajah perempuan itu pucat pasi, keringat sebiji jagung memenuhi dahi dan pelipisnya, matanya terpejam, bibirnya yang sedikit membiru sedikit bergerak - gerak seperti tengah menggumamkan sesuatu.
"Alexa, kamu mendengar suaraku?" tanya Julian sambil mengguncang bahu Alexa dengan perlahan.
Alexa tetap bergeming. Tubuhnya terasa panas saat Julian mulai menempelkan telapak tangan di dahi dan lehernya.
"Alexa, bangun!" Tidak ada jawaban membuat Julian semakin panik.
"Kenzo!" Teriak Julian memanggil asistennya
"Ada apa Tuan muda?"
"Cepat panggilkan Dokter Ben!".
"Baik Tuan Muda."
...***...
Setelah memeriksa kondisi Alexa dan memberikan infus pada Alexa Dokter Ben berjalan menghampiri Julian di ruang kerjanya.
"Bagaimana keadaan istriku?" Julian bertanya dengan nada yang terdengar begitu cemas.
"Tuan, istri anda demam dan pencernaan sedikit terganggu mungkin karena belum makan dan minum."ujar dokter Ben memberitahu.
Julian menghembuskan nafas kasar. "Tapi istriku baik - baik saja kan, Ben?"
Dokter Ben mengangguk. "Istri anda baik - baik saja, Tuan. Dan hanya perlu istirahat. Setelah Nyonya Alexa bangun, janga lupa untuk memberikannya makan dan meminum obatnya. Nanti kalau cairan infusnya sudah habis akan ada suster yang melepasnya."
Dokter Ben, kemudian pamit undur diri dari hadapan Julian.
...***...
Julian kembali ke kamar untuk melihat kondisi Alexa. Julian duduk di samping ranjang dan melihat wajah Alexa yang kini sudah terlihat merona kembali dan tidurnya pun tampak damai.
"Ehmm..." lirih Alexa sambil melenguh dan memegangi perutnya.
"Kenapa? Apa perutmu masih sakit?" tanya Julian yang masih khawatir
Alexa mengangguk.
"Pasti sakit karena belum terisi dari kemarin."
"Bukankah itu yang kau inginkan? Biar aku mati kelaparan?"
"Ja-" ucapan Julian terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu.
__ADS_1
Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan pintu dan Julian pun menginterupsinya untuk masuk kedalam kamar.
Saat pintu kamarnya itu terbuka. Novi melangkah masuk sembari membawa makanan di atas nampan dan meletakkan bubur hangat itu di atas nakas. Setelah melakukan tugasnya Novi pamit undur diri.
"Kenapa membawa makanan kesini? Aku tidak mau makan, Julian!"
"Habiskan makanannya Alexa. Setelah itu minum obatnya. Aku sedang tidak ingin berdebat dengan orang yang sedang sakit."
"Kenapa kau sekarang malah menyuruhku untuk menghabiskan makanannya?"
"Aku tidak suka di bantah Alexa!"
Alexa hanya berdecak pelan, lantas Alexa melahap bubur hangat tersebut dan memilih untuk tidak peduli pada Julian yang sedang duduk di depannya itu.
"Setelah ini kau harus beristirahat. Nanti kalau infusmu sudah habis akan ada suster yang melepasnya."
Setelah mengatakan kalimat tersebut Julian melangkah keluar, lalu mengangkat panggilan telepon dari orang tuanya.
"Ya, ada apa, Ma?" jawab Julian dingin saat panggilannya terhubung.
"Julian, kau dimana? Tadi Mama sudah mencoba menghubungi Alexa tapi ponselnya tidak aktif. Apa dia bersama denganmu?" ujar Bella dari sebrang telepon.
"Alexa sedang bersama denganku, Ma."
"Tidak bisa, Ma."
"Kenapa?" tanya Mama Bella ingin tahu.
"Karena Alexa sedang sakit, Ma."
"Kenapa Alexa sering sakit, Julian? Apa aku yang sudah membuatnya sakit?"
"Tidak Ma, Alexa hanya demam saja. Tapi sekarang udah agak mendingan. Mama tidak usaha khawatir karena aku sudah merawat Alexa dengan baik. Maaf Ma, aku harus tutup dulu panggilan teleponnya." Julian pun langsung memutus panggilan teleponnya.
...***...
Siang harinya selang infus yang di pasang di tangan Alexa sudah di lepas. Kini Julian sedang menemani Alexa di dalam kamar.
"Tuan Julian.. Nyonya Alexa..." panggil Desi saat masuk kedalam kamar Alexa yang terbuka.
"Ada apa, Desi?" tanya Julian pada Desi yang sedang berdiri di hadapannya.
"Maaf menggu, Tuan. Tapi ada Nyonya besar Bella dan Tuan besar Erlangga datang berkunjung." jawab Desi memberitahu kedatangan kedua mertua Alexa.
"Mama Bella dan Papa Erlangga datang kesini?" Alexa bertanya memastikan.
__ADS_1
"Benar, Nyonya." jawab Desi.
"Ya sudah, aku dan Julian akan segera menemuinya." balas Alexa.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan... Nyonya..." Desi menundukkan kepalanya lalu pamit undur diri dari kamar Julian dan juga Alexa.
Kini Alexa dan Julian sudah turun dan menuju ke arah ruang tamu di sana Alexa sudah melihat kedua mertuanya.
"Mama dan Papa datang kesini? Kenapa nggak bilang dulu. Kan, Alexa bisa siapkan sesuatu untuk Mama dan Papa." ucap Alexa menghampiri ibu mertuanya dan memeluknya.
Bella menggelengkan kepalanya. "Tidak usah repot-repot, sayang." Kemudian pandangan Alexa beralih pada Erlangga, Ayah mertuanya.
"Hai, Pa? Apa kabar?" Alexa mendekat dan langsung memeluk Ayah mertuanya.
"Baik. Kau sendiri bagaimana, sayang? Aku dengar kau sering sakit? Apa Julian pernah melukaimu?" menangkup pipi Alexa, menatapnya lembut penuh dengan kasih sayang.
Alexa tersenyum penuh arti saat mendengar pertanyaan dari mertuanya. Sesaat dia melihat ke arah Julian yang terus menatap dirinya. Ingin sekali Alexa memberitahu pada mertuanya itu tentang Julian.Tapi tidak, Alexa bukan wanita yang seperti itu. Dia tidak suka mengadu layaknya seperti anak kecil yang tidak mampu untuk mengatasi masalahnya. Jika saja Alexa seperti itu, sudah sejak kemarin dia menghubungi kedua orang tuanya sendiri dan menceritakan tentang sikap kasar Julian.
"Aku dan Julian masih dalam proses mengenal lebih dalam, Pa. Baik aku dan Julian tidak pernah mengenal sebelumnya. Tapi sekarang setidaknya aku dan dia saling berusaha untuk memahami satu sama lain. Selama ini Julian juga selalu baik denganku bahkan di saat aku sakit dia selalu sabar merawatku." Alexa menjawab dengan suara yang tenang. Terlihat Julian yang terkejut setelah mendengar ucapan dari Alexa.
Erlangga tersenyum. Dan membawa tangannya mengusap puncak kepala Alexa. " Kau memang wanita yang sangat tepat untuk Julian."
"Ya sudah, lebih baik kita makan siang dulu, Pa, Ma." ajak Alexa pada kedua mertuanya.
Setelah makan siang berakhir Kedua mertuanya pamit pulang dan dia menyuruh Alexa untuk beristirahat.
"Alexa," Julian menahan lengan Alexa saat wanita itu masuk kedalam kamarnya.
"Ada apa?" Alexa mengalihkan pandangannya menatap Julian dingin.
"Kenapa kau tidak mengatakan apapun pada orang tuaku tentang masalah kita?" Julian bertanya dengan nada yang serius dan tatapannya begitu lekat.
"Aku itu bukan lagi anak kecil. Aku sudah menikah denganmu. Meski aku hanya sebagai pengganti. Tapi aku adalah istrimu. Aku tidak suka mengadukan apa yang terjadi pada rumah tanggaku. Mungkin jika suatu saat aku sudah benar-benar lelah dan ingin menyerah, aku akan mundur tanpa aku harus memberitahu keluargamu ataupun keluargaku." Alexa menjawab dengan suara yang tenang. Kemudian dia melangkah menuju ke arah ranjang dan langsung memilih untuk beristirahat.
Julian terdiam, saat mendengar perkataan Alexa. Wanita itu mampu membuatnya bungkam. Ada rasa kagum di matanya dengan sifat yang di miliki oleh Alexa.Namun, ada ketidaksukaan di matanya saat mendengar kalimat Alexa yang mengatakan "Jika suatu saat aku benar-benar lelah dan ingin menyerah." Hati Julian terasa begitu panas saat mendengar itu. Karena sampai kapanpun, apa yang sudah menjadi miliknya Alexa tidak boleh pergi meninggalkannya. Meski dengan memaksa, Julian tetap tidak perduli. Ya, nyatanya Alexa telah membuatnya kehilangan akal sehatnya. Tidak pernah terpikir oleh Julian, dia akan melakukan hal ini.
...*********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.