
Melihat Devano yang lagi-lagi memohon seperti itu kepada dirinya, lagi-lagi pak Erik pun tidak perduli, ia malah justru meminta Devano untuk cepet-cepet menghampiri Alana yang sekarang ini sedang duduk menunggu Devano tepat di hadapan pak penghulu yang sudah siap untuk menikahnya.
"Enggak, enggak bisa Dev.!!! Papah enggak bisa memenuhi permintaan kamu ini, lagian kita ini udah ditunggu-tunggu mereka dari tadi, lebih baik ayo sekarang kita kesana.!!!" Kata pak Erik dengan sangat tegas sambil menatap ke arah Alana Dan pak penghulu yang sedang duduk menunggunya dari tadi.
"Ta, ta, tapi pah,,,,," Belum sempat Devano menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong.
"Enggak ada tapi-tapian, sekarang juga ayo cepetan kita kesana.!!" Kata pak Erik lebih tegas lagi, sambil menggandeng tangan Devano dan mengajaknya melangkah menghampiri Alana dan pak penghulu tersebut, kemudian diikuti oleh semua keluarga Devano yang sedang berdiri di belakangnya.
"Sekarang kamu duduk.!!" Kata pak Erik menyuruh Devano untuk duduk disamping Alana, tepat berhadapan dengan pak penghulu tersebut.
"Paaaah,,,,," Kata Devano sambil merengek.
"Dev,,, ayo.!!" Kata pak Erik serius.
Mendengar kata-kata dari pak Erik Ayahnya, dengan sangat terpaksa Devano pun akhirnya duduk disamping Alana, tepat berhadapan dengan pak penghulu tersebut.
"Baik, semuanya sudah siap.??" Kata pak penghulu mencoba untuk meyakinkan semuanya.
"S, s, sud,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong, karena ia melihat Laras yang sedang menatapnya, sambil memasang wajah melas, berharap Devano akan menggagalkan pernikahannya itu.
"Sudah pak, semuanya sudah siap.!! Lebih baik acara ijab qobulnya dimulai sekarang saja pak.!!" Sambung pak Erik meminta pak penghulu secepatnya untuk menikahkan Devano putranya itu dengan Alana.
"Baik kalau semuanya sudah siap, sekarang juga ijab qobulnya akan saya mulai." Kata pak penghulu dengan sangat tegas, kemudian ia pun langsung menjabat tangan Devano dan mencoba untuk memulai acara ijab qobul tersebut.
Melihat pak penghulu menjabat tangan Devano dan memulai ijab qobulnya, Alana yang dari tadi hanya duduk terdiam di samping Devano pun, seketika langsung menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia pun membuangnya secara perlahan.
"Bismillahirrahmanirrahim." Kata Alana dalam hati, ia mencoba untuk pasrah dengan semuanya.
"Bismillahirrahmanirrahim, Saya nikahkan engkau,,,,
Ananda Devano Zayn Pratama bin bapak Erik Pratama, dengan Alana putri binti bapak Adi Saputra dengan mas kawin satu buah Rumah senilai Rp 10 miliar dibayar tunai.
"Apa.?!! Anak malang ini dapat mas kawin sebesar itu.??" Kata ibu Rika dalam hati kaget dan syok mendengar jumlah mas kawin yang pak penghulu sebutkan dari Devano untuk Alana itu.
"Enggak, enggak mungkin.!!! Alana enggak seharusnya dapat mas kawin sebesar itu dari Devano, karena mas kawin itu seharusnya milik gw.?? Pernikahan ini benar-benar harus gw gagalkan, iya,,, pernikahan ini harus gw gagalkan.!!!" Kata Laras dalam hati, yang juga sangat kaget dan syok mendengar jumlah mas Kawin tersebut.
Sedangkan Devano yang mendengar kata-kata dari pak penghulu, dengan berat hati ia pun berusaha untuk menjawabnya.
Melihat Devano mencoba menjawab ijab qobul dari pak penghulu, Laras pun langsung melangkah mendekat ke arah Devano, karena ia benar-benar ingin menggagalkan pernikahan tersebut, namun sayang, belum sempat ia melangkah, langkahnya sudah terhenti.
"Kamu mau kemana.??" Kata ibu Rika pelan sambil menarik tangan Laras.
"Mamah, Laras harus gagalkan pernikahan ini mah.!! Laras enggak bisa melihat kak Devano menikah dengan Alan,,,,,," Seketika ucapan Laras terpotong.
"Sstttttttt lebih baik sekarang kamu diam.!!! Lagian Devano kan menikah karena dijodohkan, jadi kemungkinan besar Devano juga sama seperti Alana, meraka sama-sama enggak menginginkan pernikahan ini.??? Jadi sekarang kamu tenang aja.!! Kamu masih ada peluang untuk deketin Devano dan merayunya untuk cepat-cepat menceraikan Alana." Bisik ibu Rika tepat ditelinga Laras.
Mendengar bisikan dari ibu Rika mamahnya, seketika Laras pun langsung senyuman.
"Bener juga yah kata mamah, gw enggak usah repot-repot menggagalkan pernikahan ini.?? Toh tanpa gw gagalkan juga, nantinya Kak Devano akan tetap menceraikan Alana.?? Karena gw yakin,,, kak Devano hanya cinta sama gadis kecil pemilik liontin yang pernah ia tolong dulu, dan setau kak Devano, gadis kecil itu kan gw.?? Lagian kalau gw gagalkan pernikahan ini, nanti pasti keluarga kak Devano enggak simpati ke gw, mereka akan beranggapan gw itu perempuan yang enggak punya sopan santun dan enggak punya tata krama, lebih baik sekarang gw saksikan aja semua ini.?? " Kata Laras dalam hati, kemudian ia pun langsung menyaksikan Devano menerima ijab qobul tersebut dari pak penghulu sampai akhirnya selesai.
"Bagaimana saksi,,, sah.???" Kata pak penghulu dengan tegas.
"Sah.!!!" Teriak semua tamu undangan penuh dengan semangat kecuali Raka.
Mendengar teriakkan dari tamu undangan, seketika Alana pun langsung meneteskan air matanya, kemudian ia pun langsung memeluk tubuh pak Adi Ayahnya dengan begitu eratnya.
"Hiks,, hiks,,, papaaah.???" Kata Alana dengan suara bergetar karena menangis, dan raut wajah yang sangat sedih karena mengingat almarhum mamahnya yang tidak bisa menyaksikan pernikahannya itu.
"Iya nak.??" Kata pak Adi pelan sambil mengusap-usap pundak Alana putrinya itu, dengan mata yang berkaca-kaca karena ia pun sama seperti Alana, sangat sedih mengingat Almarhum istrinya yang tidak bisa menyaksikan pernikahan putrinya itu, namun ia pun senang akhirnya sekarang ini putrinya itu sudah menikah.
"Hiks,, hiks,,, Alana minta maaf yah pah.?? Hiks,, hiks,, kalau selama ini Alana hiks,,, hiks,,, punya salah hiks,, hiks sama hiks,, hiks,,,,,,,,," Belum sempat Alana menyelesaikan ucapannya pak Adi sudah memotongnya.
"Ssssttttttt,,, udah kamu jangan nangis lagi nak.?!!!" Kata pak Adi sambil mengusap-usap rambut Alana, kemudian ia pun langsung melepaskan pelukan Alana dari tubuhnya.
"Kamu jangan nangis lagi yaaah.??? Kamu enggak perlu minta maaf sama papah nak, kamu enggak salah, justru papah yang sangat berterima kasih sama kamu, akhirnya kamu mau menerima perjodohan ini.??" Kata pak Adi sedih, sambil mengusap air mata Alana dan menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Iya Alana,,, kamu jangan sedih yaaah.?? Sekaraaang,, tante Dinda ini udah jadi mamah kamu, begitu juga dengan Om Erik, sekarang Om Erik juga udah jadi papah kamu, karena sekaraaang,, mas Devano ini udah jadi suami kamu.??" Kata Dinda pelan sambil tersenyum menatap kearah Devano, ia berusaha untuk menghibur Alana yang sedang sedih itu.
Melihat perlakuan Dinda yang seperti sangat menyayangi Alana menantu barunya itu, pak Erik yang sedang duduk disamping Dinda pun tersenyum, kemudian ia pun langsung mengusap-usap rambut Dinda istri tersayangnya itu dengan penuh kasih sayang.
"Hiks,, hiks,, Iya Tante.??" Kata Alana sambil menangis dan tersenyum karena terharu mendengar kata-kata dari Dinda itu.
"Loh kok tante sih.??? Mamah doooong.!! Kan sekarang Tante ini udah jadi mamah kamu.??" Kata Dinda sambil tersenyum menggoda Alana.
Mendengar godaan dari Dinda, semua orang yang berada di tempat tersebut pun langsung tersenyum.
"I, i, iya mah.!!!" Kata Alana gugup dan malu karena ia belum terbiasa memanggil Dinda mamah.
"Nah gitu dooong.??" Kata Dinda sambil terus tersenyum, kemudian ia pun langsung memeluk Alana menantu barunya itu dengan begitu erat.
"Eeemmmm anak baru mamah istri cantiknya Devano nih.??" Kata Dinda sambil terus memeluk tubuh Alana dengan begitu erat.
"Mamah, mamah, Kiara juga pengin peluk kakak Alana maaah.???" Kata Kiara merengek meminta memeluk Alana kepada Dinda mamahnya.
Mendengar kata-kata dari Kiara, Dinda pun langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Alana.
"Ya udah sayang, sekarang peluk tuh kakaknya.?!!" Kata Dinda sambil tersenyum kepada Kiara.
"Eeemmmm Kiara sayang sama kakak Alana.??" Kata Kiara sambil tersenyum dan memeluk tubuh Alana dengan begitu eratnya.
Melihat Kiara memeluk Alana seperti itu, pak Erik dan Dinda pun tersenyum.
"Ya udaaah,, peluk-peluk kakak Alana nya jangan lama-lama sayaaang.!!" Kata Dinda sambil mengusap-usap rambut Kiara.
"Iya mamah.!!!" Kata Kiara, kemudian ia pun langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Alana.
"Ya udah sekarang giliran kamu sayang.?? Salim tuh sama mas nya.!!! Terus kamu cium tangan suami kamu itu.?!!" Kata Dinda sambil tersenyum, ia menyuruh Alana menatu barunya itu untuk salaman dan mencium tangan Devano yang sekarang ini sudah sah menjadi suaminya.
"Ta, ta, tapi mah,,,," Kata Alana gugup karena ia masih sangat canggung dengan semuanya.
"Ayo nak.!!" Kata pak Adi serius, ia pun menyuruh Alana untuk salaman dengan Devano yang sekarang ini sudah menjadi suaminya.
__ADS_1
"I, i, iya pah,,," Kata Alana masih gugup, kemudian ia pun langsung duduk menghadap ke arah Devano.
"M, m, mas Devano,,,," Kata Alana yang terdengar masih sangat kaku menyebut Devano mas, perlahan ia pun salaman dan mencium tangan Devano suaminya itu dengan lembut.
"Sayaaang, ayo cepetan usap-usap rambut istri kamu itu.!!" Kata Dinda pelan, ia menyuruh Devano mengusap-usap rambut Alana yang masih mencium tangannya itu.
"Ta, ta, tapi mah,,,,"
Devano mencoba untuk menolaknya.
"Devano.!!!" Kata pak Erik pelan, sambil melotot agar Devano takut dan mau mengikuti perintah dari Dinda istri tersayangnya itu.
"I, i, iya pah,,," Kata Devano gugup, perlahan ia pun mengusap-usap rambut Alana seperti apa yang diperintahkan oleh Dinda mamahnya itu.
Melihat Devano mengusap-usap rambut Alana, semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut, kecuali Raka, Laras dan Ibu Rika pun langsung baper, dan kemudian mereka pun berteriak.
"Peluk.!!! Peluk.!!! Peluk.!!!" Teriak mereka semua dengan penuh semangat sambil bertepuk tangan.
"Aduuuuhhh apa-apaan sih mereka.?? Masa gw peluk perempuan bawel ini di depan Laras sih.??" Kata Devano dalam hati kesel, karena ia tidak mau memeluk Alana perempuan yang menurutnya sangat bawel, apalagi jika harus memeluk didepan Laras kekasihnya itu.
Mendengar teriakkan dari mereka, Alana pun semakin canggung dan gugup, apalagi melihat raut wajah Devano sekarang ini yang terlihat sangat kesal.
"Devanooo,, kok kamu diem sih.?? Ayo cepetan peluuuuk.!!" Kata Dinda menyuruh Devano putranya itu untuk cepat-cepat memeluk Alana.
"I, i, iya mah,,, i, i, ini Devano mau pel,,,,,," Seketika Devano terdiam, karena ia melihat Laras yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam, kemudian Laras pun langsung buru-buru keluar dari tempat tersebut meninggalkan Devano.
Melihat Laras keluar dari tempat tersebut meninggalkan dirinya, sebenarnya Devano pun ingin sekali mengejarnya, akan tetapi ia tidak mungkin melakukan semua itu sekarang, karena ia tidak mau mengecewakan dan mempermalukan kedua orangtuanya didepan para tamu undangan.
"Devanooo,, kamu kenapa diem terus.?? Ayo sekarang peluk istri kamu.!!" Kata Dinda, lagi-lagi ia menyuruh Devano untuk memeluk Alana.
"I, i, iya mah.!!!" Kata Devano gugup, kemudian dengan sangat terpaksa ia pun langsung memeluk tubuh Alana dan Alana pun langsung membalas pelukannyanya itu, karena ia ingin menjadi istri yang baik untuk Devano seperti apa yang pak Adi Ayahnya itu inginkan, karena tanpa sepengetahuan dari kita, sebelum acara pernikahan putrinya itu dimulai, pak Adi sempat memberi pesan kepada Alana.
*Flashback On*
"Terimakasih yah nak.?? Akhirnya kamu mau menerima perjodohan ini.?? Kamu harus tau nak, papah melakukan ini semua demi kebaikan kamu, karena papah tau kalau umur papah ini enggak mungkin akan panjang, sekarang ini saja sakit papah tambah parah, dan papah enggak tau, papah ini akan bertahan sampai kapan.?? Itu sebabnya papah langsung menerima perjodohan ini untuk kamu, karena papah sangat mengenal keluarga calon suami kamu ini, dan papah juga sangat yakin kalau keluarga calon suami kamu ini adalah keluarga yang baik, bertanggung jawab dan bisa menjaga kamu nantinya, jadi papah mohon sama kamu yah nak.?? Kamu jangan pernah ngecewain papah, meskipun papah sudah enggak ada.?!! Kamu harus bisa belajar mencintai, menyayangi, dan menerima calon suami kamu itu, kamu harus bisa menjadi istri yang baik untuknya, yah nak.???" Kata pak Adi serius dengan mata yang berkaca-kaca karena sedih meratapi nasibnya sekarang ini.
"Hiks,, hiks,,, papah enggak boleh ngomong hiks,, hiks,, kayak gitu pah.??? Hiks,, hiks,, papah pasti sembuh, hiks,,, hiks,,, papah enggak mungkin ninggalin hiks,, hiks,, Alana.?? Hiks,, hiks,, lagian papah enggak usah hiks,, hiks,, khawatir, hiks,, hiks,, Alana enggak akan pernah ngecewain hiks,, hiks,, papah.?? hiks,, hiks,, Alana janji pah, hiks,, hiks,, Alana akan berusaha mencintai, hiks,, hiks,, menyayangi hiks,, hiks,,, dan menerima calon suami hiks,, hiks,, Alana itu, hiks,, hiks,, seperti yang papah hiks,, hiks,, inginkan.?? Hiks,, hiks,, dan Alana juga akan hiks,, hiks,, berusaha, hiks,, hiks,, menjadi istri yang baik hiks,, hiks,, untuk calon suami hiks,, hiks,, Alana itu pah.???" Kata Alana dengan suara bergetar karena manangis dengan raut wajah yang sangat sedih, kemudian ia pun langsung memeluk tubuh pak Adi Ayahnya itu dengan begitu eratnya.
*Flashback off*
Melihat Devano dan Alana berpelukan seperti itu, Raka hanya bisa terdiam dengan raut wajah yang sangat sedih, akan tetapi tidak dengan tamu undangan yang lain, melihat Devano dan Alana berpelukan, mereka semua pun langsung teriak histeris dan bertepuk tangan.
"Horeeee.!!!" Teriak mereka semua sambil menatap kearah Devano dan Alana yang sedang berpelukan, hingga akhirnya mereka berdua pun menyudahi pelukannyanya itu.
"Ya udah ayo sayang kita kesana.!! Nanti keburu tamu undangan yang lain pada datang lagi." Kata Dinda mengajak Devano dan Alana duduk di pelaminan, kemudian ia pun langsung berjalan menuju pelaminan tersebut dan di ikuti oleh pak Erik, Devano, Alana, Kiara dan juga pak Adi dari belakang, sesampainya di pelaminan tersebut mereka pun langsung menyalami semua tamu undangan yang datang satu persatu hingga akhirnya acara tersebut pun selesai.
Waktu menunjukkan pukul 11:00 malam.
Terlihat semua keluarga pak Erik yang sedang berada didalam mobil, sambil menunggu Alana yang sedang pamitan dengan pak Adi Ayahnya, karena mulai malam ini ia akan tinggal dirumahnya yang baru bersama dengan Devano yang sekarang ini sudah menjadi suaminya.
"Pah, papah harus jaga kesehatan yah pah.?? Papah enggak boleh telat minum obat.!!! Kalau obat papah nanti habis,,, papah kasih tau Alana, nanati biar Alana yang beliin.!!! Ya udah yah pah, Itu Om Erik sama Tante Dinda udah nungguin Alana lama di mobil.??" Kata Alana sedih dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya pah,," Kata Alana pelan, kemudian ia pun langsung melangkah pergi menuju mobil pak Erik dan masuk kedalam mobil tersebut.
"Udah ada di dalam mobil kan semuanya.?? Ya udah yah sekarang kita pul,,,,,,," Seketika ucapan pak Erik terpotong.
"E, e, ehhh tunggu dulu mas.!!! Devano nya belum balik lagi ke mobil mas.??" Kata Dinda.
"Belum balik ke mobil.?? Emang dari tadi enggak ada Devano.?? Pergi kemana emang Devano.??" Kata pak Erik bingung karena ia memang benar-benar tidak tau kapan Devano keluar dari mobil tersebut.
"Tadi sih ngomongnya mau ngerokok dulu sebentar mas, tapi kok lama yah.?? Kemana sih itu anak.??" Kata Dinda pemasaran sambil menengok ke kanan dan ke kiri dari dalam mobil.
"Ya udah kamu telepon aja deh sayang, udah malam nih.??" Kata pak Erik menyuruh Dinda menelepon Devano agar cepat cepat balik lagi ke mobilnya karena mereka semua mau pulang.
MASIH DI TAMAN.
Terlihat Raka yang sedang berjalan kecil tanpa arah dan tujuan, sambil merenungi nasibnya sekarang ini.
"Ya tuhaaaan,,, kenapa rasanya ini sakit banget sih.?? Aku enggak nyangka kalau patah hati itu ternyata rasanya sesakit ini.??" Kata Raka dalam hati, dengan raut wajah yang sangat frustasi, sambil terus berjalan kecil tanpa arah dan tujuan.
"Kenapa harus kamu sih Dev.?? Kenapa harus kamu yang berhasil memiliki Alana.?? Kenapa bukan orang lain aja.!!! Mungkin kalau orang lain rasanya itu enggak akan sesakit ini.?? Tapi kenapa harus sama kamu sih Dev, aku benar-benar enggak kuat, apalagi jika harus bertemu kamu dan Alana setiap har,,,,,," Seketika ucapan Raka terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar suara seseorang yang sudah tidak asing lagi ditelinganya, sedang asyik ngobrol dengan perempuan.
"Beneran kakak enggak bohong, kakak sama Alana itu dijodohin sama papah kakak.?? Bahkan kakak enggak tau kalau sekarang ini adalah hari pernikahan kakak, dan kakak juga enggak tau, kalau kakak itu menikah dengan adik kamu itu Alana.?? Kamu percaya kan sama kakak.??" Kata Devano, iya,,, Devano, karena ternyata yang sedang asyik ngobrol itu adalah Devano, ia sedang berusaha untuk menjelaskan semuanya kepada Laras, iya,,, Laras, karena ternyata Devano keluar dari mobil pak Erik karena ia mendapat chat dari Laras, Laras menyuruh Devano untuk menemuinya di taman.
"Apa.?!!! Ja, ja, jadi,,, De, De, Devano menikah sama Alana karena dijodohin Om Erik.??" Kata Raka dalam hati kaget dan tak percaya dengan semua yang Devano ucapkan itu.
"Tapi kak Devano beneran kan kak.?? Kak Devano enggak punya perasaan apa-apa sama Alana.?? Pokoknya Aku enggak mau yah kalau sampai kak Devano ngapa-ngapain sama Alana di dalam kamar.??" Kata Laras mencoba untuk mengancam Devano, karena ia takut kalau sampai Devano melakukan hubungan suami istri dengan Alana yang sekarang ini sudah sah menjadi istrinya.
"Enggaaak, kamu harus percaya sama kakak.!!! Pokoknya pulang dari sini kita langsung chatan yah, biar kamu percaya.??" Kata Devano mencoba untuk meyakinkan Laras.
"Ja, ja, jadi,,, pacar Devano yang sebenarnya adalah perempuan itu.??? A, a, apa ini adalah kesempatan buat aku yah, untuk deketin Alana lagi.??" Kata Raka lagi dalam hati sambil terus mendengarkan obrolan anatara Devano dan Laras.
"Ya udah kakak ke mobil dulu yah.??? Soalnya mamah dari tadi udah nelponin kakak nih, suruh kakak cepet-cepet ke mobil." Kata Devano, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah pergi menuju mobilnya dan meninggalkan Laras hanya sendiri.
"Hemmm,,, kena loh Devano, gampang banget sih loh itu gw tipu.?? Gw yakin secepatnya pasti kamu akan menceraikan Alana, dan loh akan menjadi milik gw seutuhnya." Kata Laras dalam hati sambil tersenyum sinis, kemudian ia pun langsung melangkah pergi untuk pulang dan meninggalkan taman tersebut.
DI RUMAH DEVANO YANG BARU.
Waktu menunjukkan pukul 11:00 Malam
Terlihat pak Erik, Dinda, Devano, Alana dan juga Kiara yang baru saja sampai dan masuk kedalam rumah tersebut.
"Ya udah Devano, kamu ajak tuh Alana ke kamar, istirahat.!!! Kasian istri kamu ini kecapean kali.??" Kata Pak Erik sambil menatap kearah Alana yang terlihat sangat pucat, karena sepertinya Alana itu memang sangat kecapean setelah seharian penuh menyalami tamu undangan di pernikahannya itu.
"I, i, iya pah,,,," Kata Devano gugup, ia mencoba mengikuti semua kata-kata dari pak Erik Ayahnya itu, karena membantah pun percuma, pak Erik Ayahnya pasti akan bersikeras agar dirinya mengikuti kata-katanya itu seperti yang sudah-sudah.
"Ta, ta, tapi Om.?? E, e, emang,,, A, a, Alana harus banget yah istirahat sama kak Devan,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.
"Alana sayaaaang,,, kok kamu panggil papah Erik masih Om sih.?? Terus kenapa kamu panggil Devano juga masih kakaaak.?? Mas dong sayaaaang.?!!!" Kata Dinda mencoba untuk mengingatkan Alana kembali tentang panggilan yang harus ia sebutkan kepada orang-orang tertentu.
"I, i, iya tan,,,,, ehhh m, m, mamah maksudnya.???" Kata Alana gugup, karena ia belum terbiasa dengan semuanya.
__ADS_1
"Nah gitu dong sayaaaang,,," Kata Dinda sambil tersenyum.
"Ya udah sekarang kamu ke kamar bareng mas Devano.!!! Karena mulai malam ini,,, kamu harus bobo bareng sama mas Devano, kan sekarang ini kalian udah menikah, yaaah.???" Kata Dinda pelan, lagi-lagi ia mencoba untuk menasehati Alana dan Devano anak-anak nya itu.
"I, i, iya mah.!! Ta, ta, tapi Alana mau mandi dulu.?!! M, m, mas Devano nya jangan naik ke kamar sekarang yah.?!!" Kata Alana lagi-lagi gugup, ia berbicara seperti itu karena ia malu jika harus sekamar dengan Devano disaat dirinya sedang mandi.
"Iya kamu tenang aja.!!! Aku enggak bakalan ke kamar sekar,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Devano sayaaaang,, MAS.!!! Enggak boleh nyebut aku ke istri sendiri.!!!" Kata Dinda yang dari tadi sangat bawel menasehati anak-anaknya itu.
Melihat tingkah laku istrinya seperti itu, pak Erik pun tersenyum.
"Sayaaang,,, perasaan istri mas yang cantik ini bawel banget sih dari tadi.??" Kata pak Erik sambil terus tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda, karena sampai sekarang pun pak Erik masih sama memperlakukan Dinda istri tersayangnya itu dengan sangat manja.
"Iiiihhh maaaas biariiin.!!! Biar Devano sama Alana romantis kayak kitaaaa.???" Kata Dinda sambil merengek.
"Iyaaa,,," Kata pak Erik pelan sambil terus tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda istri tersayangnya itu.
"Ya udah yah mah, Alana mau mandi dulu.???" Kata Alana sambil menatap kearah Dinda, sepertinya sekarang ini ia sudah mulai membiasakan dirinya menyebut Dinda dengan sebutan mamah.
"Oooh ya udah, kamu mandi sanah.!!!" Kata Dinda sambil tersenyum.
'Kiara, temenin kakak Alana mandi di kamar kakak Devano yah.???" Kata Dinda, ia meminta Kiara untuk menemani Alana mandi, karena ia takut kalau Alana menantunya itu, tidak berani mandi di dalam kamar Devano hanya sendirian, karena seperti yang kita tau Alana tidak mau ditemani oleh Devano.
"Siap mamah.!!! Kiara akan nemenin kakak Alana mandi." Kata Kiara sambil tersenyum dan penuh semangat, kemudian ia dan Alana pun langsung melangkah menuju kamar Devano, sedangkan Devano langsung melangkah menuju ruang keluarga meninggalkan pak Erik dan Dinda yang masih berdiri itu.
"Lucu yah mas Alana.?? Masa udah nikah enggak mau mandi bareng.??" Kata Dinda sambil tersenyum mengingat tingkah lucu Alana menantunya itu, namun sepertinya ia lupa, jika dirinya itu dulu tingkahnya lebih parah dan lebih lucu dari Alana.
Mendengar kata-kata dari Dinda, pak Erik pun langsung tersenyum.
"Sama kayak kamu sayang.??" Kata pak Erik sambil terus tersenyum.
"S, s, sama kayak Dinda.??? Ma, ma, maksud mas.??" Kata Dinda gugup dan bingung karena ia benar-benar tidak tau apa maksud dari ucapan pak Erik suaminya itu.
"Ya iya sama kayak kamu sayang,,, pas pertama kita menikah.?? Lihat mas mandi di dalam kamar mandi aja, kamu teriak-teriak kayak gitu.??" Kata pak Erik sambil terus tersenyum mengingat saat pertama ia dan Dinda menikah, saat ia mandi di kamar mandi Dinda tanpa izin terlebih dahulu kepadanya.
"Iiiihhh maaaas,, ya jelas lah Dinda teriaaak.!!! Kan dulu Dinda takuuuuut.???' Kata Dinda dengan sangat manja.
"Dulu takuuuut.??? Takut kenapa emaaang, hah.???" Kata pak Erik pelan sambil mengusap-usap rambut Dinda istri tersayangnya itu.
"Iya dulu Dinda takuuuuut,, abisnya punya mas gede bangeeet.??" Kata Dinda merengek sambil menatap wajah pak Erik dengan tatapan yang sangat manja.
"Uuuuuuhhh dulu istri mas yang cantik ini takuuuuut,, lihat punya mas gedeeee, hah.??" Kata pak Erik sambil memeluk tubuh Dinda dan mengusap usap rambutnya.
"Iya, dulu Dinda takuuuuut.??" Kata Dinda manja.
"Eeemmmm dulu takut yah.?? Tapi kalau sekarang, istri mas yang cantik ini masih takut enggak lihat punya mas ini yang gede, hah.???" Kata pak Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap kan tangan Dinda tepat di juniornya yang sekarang ini sudah menegang dan mengeras itu.
"Eeemmmm maaas.??" Kata Dinda merengek manja.
"Kenapaaa, hah.??? Pengin yah.???" Kata pak Erik pelan sambil tersenyum melihat Dinda yang sudah mulai terpancing nafsunya itu.
Mendengar kata-kata dari pak Erik, Dinda pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Iyaaa,,," Kata Dinda sambil menatap wajah pak Erik dengan tatapan penuh dengan nafsu.
Melihat Dinda istrinya yang gampang sekali terpancing nafsunya, lagi-lagi pak Erik pun tersenyum.
"Eeemmmm kasihan nih istri mas.??? Udah enggak tahan yah, hah.???" Kata pak Erik pelan sambil mengusap-usap rambut Dinda.
"Ya udah, sekarang kita ke kamar yuk.?!! Mumpung sekarang ini Kiara lagi di kamar Devano, kita bikin Dede yang lama buat Kiara.??" Kata pak Erik pelan, sambil merangkul pundak Dinda dan melangkah masuk kedalam kamar, kemudian ia pun langsung mencium habis bibir seksi Dinda hingga leher dan seluruh bagian-bagian sensitifnya itu.
Setelah puas dengan semua itu, pak Erik pun langsung membuka baju Dinda dan mendorong tubuhnya sampai terjatuh diatas ranjang.
"Maaaasss.???"
Kata Dinda merengek manja, sambil menatap kearah pak Erik yang sedang membuka semua pakaian yang melekat ditubuhnya, setelah itu pak Erik pun langsung memulai permainannya bersama Dinda istrinya yang sangat seksi itu sekarang juga.
DI KAMAR DEVANO.
Terlihat Devano yang sedang berdiri tepat di depan pintu kamar tersebut.
"Tok,,, tok,, tok.!!! Kiara, kakak Alananya udah selesai belum sih mandinya lama bangeeeet.??? Kakak Devano kesel nih dari tadi duduk terus diluar.!!!" Kata Devano kesel, sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut.
"Iya mas, Alana udah selesai.!!! Tapi Alana belum,,,,,,," Belum sempat Alana menyelesaikan ucapannya, Devano yang dari tadi sudah kesal pun seketika langsung masuk kedalam kamar tersebut.
"Iiiiiiihhhhh mandinya lama bang,,,,,,,,"
Seketika ucapan Devano terpotong, karena ia benar-benar kaget bukan main melihat keadaan Alana sekarang ini.
"Aaaahhhhhhhh.!!!"
Teriak Alana kaget dan panik, sambil buru-buru ngumpet dibalik gorden jendela kamarnya, karena ternyata sekarang ini, ia masih telanjang dan belum memakai baju sehelai pun, dan sepertinya Devano pun melihat semua itu.
######
Kira-kira apakah yang terjadi setelah itu.???
🤔🤔🤔
Jangan lupa.!!!
Like, coment, dan vote biar author tambah semangat 💪💪💪
__ADS_1