
MASIH DI RUMAH SAKIT.
Satu hari kemudian,,,,,,
Waktu menunjukkan pukul 02:00 malam.
Terlihat Alana yang sedang duduk termenung didalam ruang rawatnya dengan keadaan yang sudah tidak karuan.
"Kenapa sih, tuhan itu jahat banget sama aku.?Tuhan ambil mama aku dari aku, sejak aku masih kecil, sampai-sampai tuhan enggak memberikan aku kesempatan sama sekali untuk ngerasain bagaimana rasanya kasih sayang dari seorang ibu, dan sekarang,,,, Tuhan ambil calon anak aku dari aku, sejak dia masih ada di dalam kandungan, seakan-akan tuhan enggak izinin aku merasakan bagaimana bahagianya sebagai seorang ibu. Kenapa tuhan, kenapa.? Kenapa harus aku.?" Ucap Alana dalam hati sedih, memikirkan takdir hidupnya yang sangat-sangat pahit yang ia alami selama ini, karena ia merasa dari sejak kecil ia belum pernah merasakan kebahagiaan yang seutuhnya.
"Semua ini bener-bener enggak adil untuk aku, enggak.! Enggak ad,,,,,,," Seketika ucapannya terpotong, karena tiba-tiba Devano yang sedang tidur pun terbangun.
"Sayaaaang,,,," Ucap Devano kaget, sambil menatap kearahnya. Kemudian ia pun langsung menghampiri dan duduk disampingnya.
"Kamu kenapaaa.? Kok jam segini udah bangun.?"
Ucap Devano pura-pura tidak tau, sebenarnya ia sangat tau apa yang membuat Alana istrinya itu terbangun dari tidurnya diwaktu selarut ini, karena sejak Alana keguguran, ia selalu bengong dan murung, bahkan jika Devano berada atau salah sedikit saja dengan pendapatnya, ia langsung marah-marah, karena sepertinya sekarang ini ia sedikit stress dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
"Alana enggak bisa tidur, Alana enggak ngantuk." Ucap Alana singkat dan ketus.
"Kenapaaa, emang istri mas yang cantik ini lagi mikirin apa, hah.?" Ucap Devano lagi pelan, sambil mengusap-usap rambutnya.
"Lebih baik sekarang kita bobo lagi yuk.! Kamu itu harus banyak-banyak istirahat, biar kamu bisa cepet-cepet pulih dan sehat kembal,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
__ADS_1
"Enggak mau mas.! Enggak mau.! Tadi kan Alana udah ngomong sama mas, Alana enggak bisa tidur, Alana enggak ngantuk.! Emang mas enggak denger apa.?" Ucap Alana dengan suara tinggi, lagi-lagi ia marah-marah kepada Devano.
"Sssssttt.! Ia sayang, ia, ia, mas minta maaf.! Mas minta maaf yaaah.?" Ucap Devano dengan sabarnya sambil mengusap-usap rambutnya, baru kali ini Devano terlihat sangat lemah, tidak bisa melawan, tak berdaya dihadapan seorang perempuan.
"Alana mau pulang.!" Ucap Alana lagi singkat dan ketus.
"T, t, tapi sayang.! Kamu ini kan belum pulih, Kamu belum sehat, jadi kamu enggak bisa pulang sekar,,,,,," Lagi-lagi ucapan Devano terpotong, karena lagi-lagi Alana kembali marah-marah.
"Alana pengin pulang mas.! Dari kemarin kan Alana ngomong Alana pengin pulang, Alana enggak mau disini, Alana enggak mau mas.! Lagian buat apa sih mas Alana harus pulih dan sehat kembali.? Buat apa.? Buat siapa.? Satu-satunya harapan terbesar Alana udah enggak ada, udah Tuhan ambil." Ucap Alana dengan suara tinggi, kemudian ia pun langsung menangis histeris
"Hiks,, hiks,, Kenapa sih mas, tuhan itu jahat banget sama Alana.? Hiks,, hiks,, kenapa mas.? Hiks,, hiks,, kenapa.? Hiks,, hiks,, kenapa harus Alana yang merasakan semua ini.? Hiks,, hiks,, kenapa harus orang-orang yang Alana sayangi yang harus Tuhan ambil terlebih dahulu.? Hiks,, hiks,, kenapa enggak sekalian aja Alana yang Tuhan amb,,,,,,,," Seketika teriakan Alana pun terhenti, karena tiba-tiba Devano langsung memeluknya dengan erat.
"Sssssttt.! Kamu ngomong apa sih sayang.? Kamu ngomong apa.? Emang kamu lupa, kalau disini masih ada mas yang sayang sama kamu.! Yang perduli sama kamu, yang butuh kamu agar kamu tetap sehat.!" Ucap Devano dengan suara tinggi sambil terus memeluknya dengan erat, sampai akhirnya Alana pun sedikit tentang.
"Hiks,, hiks,, semua ini enggak adil buat Alana mas.? Hiks,, hiks,, semua ini enggak adil buat Alana. Hiks,, hiks,, kenapa harus Alana.? Hiks,, hiks,, kenapa harus Alana mas.?" Ucap Alana lagi sambil terus menangis dipelukan Devano suaminya, sepertinya kejadian yang baru saja menimpanya benar-benar sudah menguras semua kesabarannya selama ini. Sehingga Alana, perempuan yang kita kenal selalu ceria dan sabar bisa semarah dan hampir stress seperti sekarang ini.
"Ia sayang, kamu yang sabar yah sayang.? Kamu yang sabar.! Bukan cuma kamu yang kehilangan. Tapi disini mas juga sama, disini mas juga merasakan apa yang kamu rasakan. Jadi mas ngerti, mas ngertiiiii banget apa yang kamu rasakan seka,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong, karena lagi dan lagi Alana marah-marah, karena menurutnya ucapan Devano suaminya itu tidak sesuai dengan kehendaknya.
"Pokoknya sekarang juga Alana mau pulang." Ucapnya lagi masih marah.
"Iya sayang, kita pulang. Tapi entar yah sayang yah.? Sekarang ini kan masih malam." Ucap Devano dengan sangat pelan dan sabar, karena sekarang ini ia sedang berusaha untuk mengimbangi suasana hati Alana yang sedang tidak karuan itu.
"Sekarang mas.! Alana penginnya sekarang." Ucap Alana lagi mencoba untuk menegaskan.
Melihat istrinya yang tak henti-henti memarahinya, Devano pun terdiam sejenak karena pusing, kemudian ia pun menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Ia sayang ia, kita pulang. SEKARANG JUGA KITA PULANG." Ucap Devano dengan tegas, agar Alana berhenti marah-marah dan berhenti menyalahkannya terus-menerus.
__ADS_1
"Ya udah, sekarang mas beres-beres dulu yah.?" Ucapnya lagi sambil mengecup keningnya, kemudian ia pun langsung buru-buru membereskan semua barang-barang miliknya dan juga milik Alana yang akan ia bawa pulang.
DI RUMAH DEVANO.
Waktu menunjukkan pukul 11:00 Pagi.
Hampir setengah hari Alana dan Devano berada kembali didalam rumahnya setelah mereka berdua pulang dari Rumah Sakit, akan tetapi Alana masih saja sama, ia masih terus terbengong dan murung.
"Sekarang anak mama lagi ngapain.? Maafin mamah yah sayang.! Gara-gara mamah, kita jadi terpisah kayak gini. Kamu juga jadi terpisah sama papah. Pasti kamu sedih yah disana.?"
Ucap Alana dalam hati sedih, sambil terus terbengong dan murung, sehingga Devano yang sedang duduk didekatnya pun pusing dan bingung harus bagaimana agar Alana istrinya itu kembali ceria seperti semula.
"Ya Tuhaaaan, mau sampai kapan Alana seperti ini terus. Sekarang gw harus gimana.? Gw harus ngelakuin apa.?"
Ucap Devano dalam hati, sambil menatap kearah Alana istri tersayangnya yang sekarang ini masih terus terbengong dan tampak murung.
"Kalau gw diem terus kayak gini, salah. Kalau gw ngomong, apalagi. Bisa-bisa habis gw dimarahin Alana kalau gw salah ngomong." Ucapnya lagi dalam hati ketakutan mengingat betapa galaknya Alana saat sedang marah-marah seperti waktu di Rumah Sakit. Sebenarnya Devano tidak takut sama sekali kepada Alana. Seperti yang kita tau, ia hanya lemah, lemah karena cinta 😊
"Ahhh udah lah.! Gw cari aman aja. Lebih baik gw jagain Alananya diem aja, tapi meskipun gw jagainnya diem, gw tetep harus jagain dengan benar, takutnya nanti Alana berbuat yang enggak-enggak lagi." Ucapnya lagi dalam hati sedikit ketakutan mengingat keadaan Alana seperti apa sekarang ini.
"Dan kayaknya untuk sekarang-sekarang, gw enggak boleh ke kantor atau ke kampus dulu deh.! Gw harus stand by 24 jam untuk Alana, sampai Alana kembali seperti semula." Ucapnya lagi dalam hati.
#########
__ADS_1
Maaf baru bisa Up, kendala Sinyal.
Jangan lupa like coment dan fav 😍