DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 55


__ADS_3

DI RUMAH PAK IRSYAD.


Waktu menunjukkan pukul 05:00 pagi.


Di kamar Dinda, terlihat Erik yang sedang duduk dengan penampilan yang sangat rapi dan siap untuk berangkat ke Jepang.


"Sayang, kamu kenapa.?"



Kata Erik sedih, sambil menatap kearah Dinda yang dari tadi terdiam sambil terus cemberut.



Karena seperti yang kita tau, ia memang tidak mau ditinggal oleh Erik ke Jepang, karena ia memang benar-benar tidak bisa jauh darinya dan ia pun takut kalau Erik suaminya itu sampai kenapa-napa, sebab dari semalam firasatnya sudah tidak enak, meskipun sesungguhnya ia pun tidak tau apa arti dari firasat yang sedang ia rasakan itu.


"Enggak papa." Kata Dinda ketus, sambil terus cemberut.


"Sayaaaang, kamu kenapa siiih.? Dari tadi cemberut aja.?" Kata Erik pelan, sambil melangkah menghampirinya dan kemudian duduk tepat disampingnya, ia pura-pura tidak tau Dinda cemberut seperti itu karena apa, sebenarnya ia sangat tau apa penyebabnya, karena sesungguhnya ia pun sama seperti Dinda, yaitu sangat berat untuk meninggalkan dan jauh darinya, apalagi ia pun sangat tau kalau Dinda istrinya itu sangatlah manja, yang tidak bisa berbuat apa-apa dan selalu mengandalkannya, ditambah lagi dengan keadaannya yang sekarang ini sedang hamil, ia pun semakin berat dan tidak tega untuk meninggalkannya, namun karena semua itu adalah tugas dari pekerjaannya yang harus ia jalankan, ia pun tidak bisa menolaknya.

__ADS_1


Mendengar kata-kata dari Erik, seketika Dinda pun langsung memeluknya dengan begitu erat.


"Hiks,, hiks,, mas Erik jangan, hiks,, hiks,, ke Jepaaaaang.! Hiks,, hiks,, entar Dinda hiks,, hiks,, sama siapa disiniiii.? Hiks,, hiks,, entar siapa yang hiks,, hiks,, jagain Dinda.? Hiks,, hiks,, kalau mas Erik hiks,, hiks,, ke Jepaaaang.?" Kata Dinda sedih sambil menangis, karena ia benar-benar tidak bisa jauh dari Erik, apalagi sejak menikah dengannya, ia sudah menganggap Erik adalah pelindungnya yang selalu menjaga dan merawat nya setiap saat.


"Ssssssttttt sayaaang, udah, udah jangan nangiiiis.! Kamu enggak usah sedih yah.? Meskipun mas enggak ada di samping kamu, tapi sekarang kan udah ada dede di perut kamu.! Yang bisa jagain kamu dan temanin kamu setiap saat, kamu anggap aja, dede di perut kamu ini adalah pengganti mas disaat mas enggak ada di samping kamu, yah.?" Kata Erik penuh perhatian, sambil mengusap-usap perut Dinda dengan sangat pelan dan penuh kasih sayang, namun entah apa maksud dari ucapannya itu, mengapa tiba-tiba ia berbicara seperti itu, seakan-akan ia akan pergi jauh meninggalkan Dinda untuk selamanya.


"Tapi mas Erik, Dinda enggak mau kalau Dinda cuma ditemenin sama dede doaaang.? Dinda maunya, Dinda di temenin sama dede, dan juga sama mas Eriiik.? Apalagi dari semalam perasaan Dinda enggak enak, dari semalam Dinda itu kepikiran mas teruuus, Dinda takuuut, Dinda takut mas Erik kenapa-napa selama di Jepaaang.? Dinda takut banget mas Eriiiik, Dinda benar-benar takuuut.? Jadi Dinda mohoooon banget sama mas Erik.! Mas Erik jangan ke Jepang yaaah.?" Kata Dinda memohon sambil merengkek-rengek seperti anak kecil, berharap Erik akan membatalkan niatnya itu.


"Enggak bisa sayang, mas enggak bisa batalin semua ini.! Lagian kamu enggak usah takut yaaah.? Itu semua cuma perasaan kamu aja kok." Kata Erik mencoba untuk menenangkan Dinda.


"T, t, tapi mas.! Perasaan Dinda ini benar-benar enggak en,,,,,,,," Belum sempat Dinda menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong.


"Ya udah, Dinda izinin mas Erik ke Jepang.! Dan sekarang Dinda juga enggak akan banyak pikiran lagi.! Tapi mas Erik, mas Erik janji yah sama Dinda.? Secepatnya mas Erik harus pulang ke sini lagi, temenin Dinda sama dede mas Erik disini.! Karena di sini, Dinda sama dede mas Erik selalu nungguin mas." Kata Dinda sedih dengan mata yang berkaca-kaca.


Mendengar ucapan Dinda, Erik pun langsung tersenyum.


"Makasih yah sayang, kamu udah mau ngertiin mas.! Mas janji sama kamu dan juga sama dede mas ini.! Secepatnyaaa, mas akan pulang lagi kesini.! Temenin kamu sama dedeee, jagain kamu sama dedeee, dan teruuuus kita main-main lagi sama dede di sini.! Kayak semalam, yah.?" Kata Erik sambil terus tersenyum dan mengusap-usap perut Dinda.


"Iya mas." Kata Dinda sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian ia pun langsung menatap dan mengusap-usap perutnya dengan sangat pelan dan lembut.

__ADS_1


Melihat Dinda tersenyum, Erik pun ikut tersenyum, kemudian ia pun langsung duduk tepat di hadapannya, perlahan ia pun memeluk dan menyenderkan kepalanya tepat diatas perut Dinda.


"Anak papah ini jangan bandel yaaah di dalam perut mamaaah.! Kasihan mamahnya, entar mamahnya sakit lagi, dan selama papah enggak adaaa, anak papa ini harus bisa jagain mamah yah.?" Kata Erik pelan sambil menciumi perut Dinda tanpa henti-hentinya.


"Eeemmmm mas Eriiik, udah ciumin dedenyaaaa.! Dinda juga pengin diciuuuuum.?" Kata Dinda merengek dengan sangat manjanya.


Mendengar rengekan Dinda, Erik pun tersenyum.


"Eeeemmmm mamahnya iri yah.? Pengin dicium juga sama papah, hah.?" Kata Erik sambil menatap wajah cantik Dinda.


"Iya, mamahnya juga pengin dicium papaaaaaah.! Jangan dedenya doaaang.?" Kata Dinda sambil cemberut manja, karena ia merasa iri dan merasa diduakan oleh Erik dengan anak yang ada di dalam perutnya itu.


"Eeeeemmm kasihaaan, kamu juga pengin dicium yah, hah.?" Kata Erik sambil menatap dalam wajah cantik Dinda, perlahan ia pun langsung mencium bibirnya.



Setelah puas dengan bibir Dinda, Erik pun langsung menciumi leher dan telinga Dinda dengan sangat pelan dan lembut.


"Awww mas Erik, geliiiii.?" Kata Dinda merintih kenikmatan, sambil memeluk tubuh Erik dengan begitu eratnya.

__ADS_1


Mendegar rintihan Dinda, Erik pun justru semakin buas menciuminya, bahkan bukan hanya telinga dan leher, ia pun terlihat menciumi pundak dan menciumi habis seluruh wajah Dinda tanpa henti-hentinya.


__ADS_2