DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 23


__ADS_3

Mendengar kata-kata dari Laras, seketika Devano, Alana dan Kiara pun langsung menengok kebelakang kearah Laras.


"Ka, ka, kak Laras.???" Kata Alana gugup dan ketakutan, seketika botol air mineral yang sedang ia pegang pun terjatuh.


"Kakak Alana, kakak Alana kenapa.?? Itu Air buat bersihin luka kakak Devano nya kan tump,,,,,," Seketika ucapan Kiara terpotong.


"A, A, Alana.?? Kamu ngapain disini sama kak Devan,,,,,," Seketika Laras langsung terdiam.


"E, e, ehhhhh tunggu dulu.!!! Gw enggak boleh marah-marah sama Alana disini, disini kan ada kak Devano, gimana kalau kak Devano sampai enggak simpati lagi sama gw.?? Kan bisa gawat, lebih baik sekarang gw harus sabar.!!! Gw harus pura-pura baik sama Alana di depan kak Devano, iya bener,,, gw harus pura-pura baik sama Alana di depan kak Devano." Kata Laras dalam hati.


"Iya Dek ini kak Laras, kok kamu ada disini sih Dek.?? Kak Laras sampai kageeet." Kata Laras sambil tersenyum dan pura-pura baik kepada Alana.


Mendengar kata-kata dari Laras kakak tirinya, seketika Alana pun terdiam karena heran.


"Kak Laras panggil aku Dek.?? Kok tumben banget sih.?? Apa jangan-jangan,,, kak Laras udah berubah jadi baik sekar,,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.


"La, la, laras.??? Ka, ka, kamu juga ada disini.???" Kata Devano gugup dan kaget, sambil tersenyum karena senang akhirnya ia bisa bertemu juga dengan Laras pujaan hatinya itu, karena seperti yang kita tau, sampai sekarang ini Devano masih mengira kalau Laras itu adalah gadis kecil pemilik liontin yang ia tolong 10 tahun silam yang tak lain adalah Alana.


"Ya ampun kak Devanooo, itu wajah kak Devano kenapa bisa babak belur kayak gitu kak.???" Kata Laras kaget sambil melangkah menghampiri Devano dan duduk tepat dihadapannya, kemudian ia pun langsung memegang luka Devano itu dengan sedikit kasar.


"Aww sakit,,, pelan-pelan Dek.!!!" Kata Devano pelan sambil mereunyi kesakitan.


"Hemmm bisa banget nih kak Devano.??? Giliran kak Laras yang pegang aja enggak marah dia.!!! Enggak teriak-teriak kesakitan kayak tadi pas aku yang pegang." Kata Alana dalam hati kesal, sambil menatap Devano dengan tatapan sinis.


"Ngeselin banget emang kak Devano ini.??? Apa aku kerjain kak Devano aja yah.?? Iya bener,,, lebih baik aku kerjain kak Devano aja, lagian sih ngeselin.!!! Di pegang sama aku aja teriak-teriak kesakitan, giliran di pegang sama kak Laras aja sok lembut lah, sok baik lah, dasar ngeselin.!!!" Kata Alana lagi dalam hati kesal, sambil terus menatap Devano dengan tatapan sinis


"Ka, ka, kamu ngapain ngelihatin aku kayak gitu.???" Kata Devano bingung dan sedikit kesal karena melihat Alana menatap dirinya seperti itu.


"O, o, ohhhh,, e, e, enggaaaak enggak papa.!!!" Kata Alana gugup karena ia sedang berbohong.


"Bagus deh kalau gitu.!!!" Kata Devano ketus.


"Ta, ta, tapi kak Devano,,, i, i, itu luka kak Devano ada lalatnya.???" Kata Alana sambil menatap luka di wajah Devano.


"Apa.?!!! Luka aku ada Lalatnya.?? Yang bener kamu, mana lalatnya.?? Ambil cepetan.!!! Ambil.!!!" Teriak Devano kaget dan ketakutan.


"Lalat,,, mana lalatnya.?? Orang enggak ada kok.!!" Kata Laras bingung sambil menatapi luka di wajah Devano yang memang tidak ada Lalat seperti yang Alana sebutkan itu, karena sepertinya sekarang ini Alana sudah mulai ngerjain Devano.


"Iya kak Alana, mana lalatnya.?? Di wajah kak Devano enggak ada lalat kok kak.!!!" Kata Kiara bingung sambil menatapi luka di wajah Devano kakaknya itu.


"Ada kok dek, ini lalatnya nih disin,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.


"Ya udah mana lalatnya.?!!! Cepetan ambil, cepetan.!!! Nanti kalau itu lalat bertelur di wajah tampan aku ini gimana.??? Cepetan ambil.!!" Teriak Devano menyuruh Alana untuk mengambil lalat tersebut, karena ia sangat ketakutan kalau sampai lalat tersebut bertelur di wajahnya yang tampan itu.


Melihat Devano ketakutan seperti itu, Alana pun tersenyum.


"Ya udah, ya udah.!!! Kak Devano diam yaaah.?? Biar lalatnya Alana ambil." Kata Alana sambil terus tersenyum.


"Nah ini nih kak lalatnya nih.!!! E, e, ehh,,, yah kabur deh kak lalatnya.??" Kata Alana gereget sambil menekan luka Devano itu dengan sangat kuat.


"Awwww.!!! Aduh, aduh.!!! Sakit tau pelan-pelan.!!!" Teriak Devano kesakitan dengan begitu kencangnya, karena Alana benar-benar menekan lukanya itu dengan sangat kencang.


"Ehh yaampun kak.!!! Maaf banget yah kak, Alana enggak sengaja kaaak.?? Sakit banget yah kak, maaf yah kaaak.???" Kata Alana sok perhatian dan sok merasa bersalah sambil terus tersenyum, karena dalam hati Alana sebenarnya ia sangat senang melihat Devano kesakitan seperti itu.


"Ya iya lah sakit.!!! Kamu sengaja yah.??" Teriak Devano lagi kesal, karena ia sangat yakin kalau Alana itu sengaja melakukan itu semua kepada dirinya.


"E, e, enggak kok kak.!!! Alana enggak sengaj,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.


"Iya kakak Devano, kakak Alana enggak mungkin sengaja, kan kakak Alana itu baik kak.??" Kata Kiara dengan polosnya, ia berbicara seperti itu karena ia sangat tau kalau Alana itu adalah orang yang sangat baik.


"Tuh kan kak Devano, kata Kiara juga aku enggak sengaj,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.


"Ya udah, ya udah, cukup.!!! Lebih baik sekarang kamu ajak Kiara main lari-lari tuh disana.!!! Luka kak Devano biar kak Laras aja yang urus." Kata Laras menyuruh Alana dan Kiara untuk bermain, karena sebenarnya sekarang ini ia ingin berdua-duaan dengan Devano.


"Tapi kak, Kiara takut ada om-om jahat lag,,,,,,,," Seketika ucapan Kiara terpotong.


"Enggak sayaaang,,, enggak bakalan ada om-om jahat lagi, kan ada kakak disini.?? Ya udah lebih baik,,, sekarang adik kakak yang cantik iniii,,, main dulu sama kak Alana yaaah.??? Soalnya luka kakak ini mau diobati dulu sama kak Laras." Kata Devano pelan sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Kiara adik tersayangnya itu.


"Ya udah ayo Kiara, lebih baik kita main-main disana.!!!" Kata Alana sambil tersenyum dan menggandeng tangan Kiara untuk mengajaknya main, kemudian ia pun langsung meninggalkan Devano dan Laras hanya berdua.


Melihat mereka berdua pergi, Laras pun langsung tersenyum.


"Heemmm bagus.!!! Akhirnya mereka berdua pergi juga, sekarang waktunya gw untuk mengambil hati kak Devano." Kata Laras dalam hati, kemudian ia pun langsung buru-buru melanjutkan rencananya.


"Kak Devano tahan dulu yah.?? Biar lukanya Laras obati." Kata Laras sok perhatian sambil memegang pelan luka di wajah Devano itu.


"Aww pelan-pelan.!!!" Kata Devano pelan sambil mereunyi kesakitan.


"Iyaa,,, ini juga pelan-pelan kok kak.!! Naaah kan udah selsai diobatin,,,,,,," Seketika ucapan Laras terpotong, karena tiba-tiba Devano langsung menggenggam tangannya.


Melihat Devano menggenggam tangannya seperti itu, Laras pun langsung tersenyum.


"Hemmm kayaknya gw udah berhasil nih mengambil hati kak Devano." Kata Laras dalam hati sambil terus tersenyum karena senang akhirnya rencananya itu berhasil.


"K, k, kak Devano,,, kak Devano kenapa genggaman tangan Laras.???" Kata Laras sok polos dan pura-pura tidak tahu apa maksud Devano menggenggam tangannya itu.


"Laras,,, kakak itu sayang sama kamu.?? Dari dulu, dari saat pertama kita bertemu, bahkan selama kakak kuliah di Korea, kakak selalu ingat sama kamu, kakak sudah janji sama diri kakak sendiri, kalau kakak akan mencari kamu dimana pun kamu berada, kakak akan menerima kamu apa adanya dan dalam keadaan apapun, karena buat Kakak, kamu tetap seorang gadis kecil yang sudah menyelamatkan hidup kakak dulu, dan satu lagi,,, kakak juga ingin melamar kamu.??? Kamu mau kan.???" Kata Devano serius dengan mata yang berkaca-kaca sambil menatap wajah Laras dengan tatapan yang sangat dalam.


Mendengar kata-kata dari Devano, seketika Laras pun langsung terdiam.


"Apa.?!! Ini seriuuus.??? Kak Devano mau melamar gw.?? Gw harus gerak cepat sebelum Devano tau kalau ternyata gadis kecil itu adalah Alana, sekarang juga gw harus terima lamaran kak Devano." Kata Alana dalam hati kaget dan tak percaya, sambil tersenyum karena senang akhirnya ia berhasil mendapatkan Devano dan menyakinkannya kalau dirinya adalah gadis kecil yang dulu pernah ia tolong yang tak lain adalah Alana.


"Laras,,, kamu kenapa diem.?? Kamu enggak mau yah menerima lamaran dari kakak.???" Kata Devano bingung dan sedikit ketakutan kalau sampai Laras menolak lamaran dari nya itu.


Mendengar kata-kata dari Devano, seketika Laras pun langsung terbangun dari bengongnya.


"Eh iya kenapa kak.?? La, la laras mau kok kak.!!! Laras mau jadi istri kakak.???" Kata Laras gugup dan tergesa-gesa sambil tersenyum.


"Beneran kamu mau jadi istri kakak.?? Kalau kamu mau, secepatnya kakak akan ke rumah kamu untuk melamar kamu.??" Kata Devano dengan suara tinggi dan tergesa-gesa sambil tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca karena terharu dan senangnya akhirnya ia bisa memiliki gadis kecil pujaan hatinya yang dulu pernah ia tolong.


"Iya kak, Laras mau.!!" Kata Laras sambil tersenyum.


Mendengar kata-kata dari Laras, seketika Devano pun langsung memeluknya dengan begitu erat.


"Bagus.!!! Akhirnya gw bisa memiliki kak Devano seutuhnya, ini benar-benar kabar bagus, secepatnya gw harus kasih tau mamah, mamah harus tau semua ini." Kata Laras dalam hati sambil terus tersenyum senang akhirnya sebentar lagi ia akan memiliki Devano seutuhnya.


"Terimakasih yah Laras, terimakas,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.


"Ehemmm,,,, Eheeemm.!!!" Suara seseorang yang sedang batuk karena dibuat-buat.


Mendengar suara tersebut, seketika Devano pun langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Laras dan kemudian ia dan Laras pun langsung menatap kearah dimana suara tersebut berada.


"Raka.??? Loh kapan nyampenya.???" Kata Devano kaget melihat Raka yang ternyata sudah sampai di taman dan sedang berdiri tepat dibelakangnya, karena tanpa sepengetahuan dari kita, ternyata tadi Devano sempat mengirim pesan untuk Raka dan memintanya ketaman untuk mengantarkan Alana dan juga Kiara pulang karena sekarang ini ia sedang ingin berdua-duaan dengan Laras.


"Udah dari tadi kali,,, lagian kamu sih pelukan terus dari tadi, jadi enggak tau kan kalau aku udah ada disini." Kata Raka sambil tersenyum menggodanya.


"Eh tapi ngomong-ngomong,,, masih mending sih,,, muka babak belur kayak gitu juga kalau masih bisa pelukan mah." Kata Raka sambil tersenyum, lagi-lagi ia menggoda Devano.


"Ahhh apaan sih loh.???" Kata Devano sambil tersenyum.


"Oh iya,,, ngomong-ngomong Kiara nya mana.??? Soalnya aku mau cepet-cepet nih.!! Aku mau langsung pulang lagi." Kata Raka serius.


"Ada tuh lagi main, entar dulu yah.???" Kata Devano sambil menatap kearah Alana dan Kiara yang dari tadi sedang asyik bermain, kemudian ia pun langsung memanggilnya.


"Alana.!!! Kiara.!!! Kesini dulu sayang.!!!" Teriak Devano sambil terus menatap kearah Alana dan Kiara yang masih terus asyik bermain.


"Iya kak sebentar.!!! Ini Kiara mau kesitu.!!!" Teriak Kiara sambil menatap kearah Devano, Laras dan juga Raka.


"Ya udah ayo Kiara, sekarang kita samperin kak Devano.??" Kata Alana sambil tersenyum, kemudian ia dan Kiara pun langsung buru-buru melangkah menghampiri Devano dan juga Laras, namun sesampainya ditempat tersebut Alana langsung terdiam karena ia melihat Raka yang sedang berdiri disamping Devano.

__ADS_1


"Ka, ka, kakak.?!!! Kakak bukanya yang kemarin nolongin aku yah.???" Kata Alana kaget sambil tersenyum karena ia tak menyangka bisa bertemu dengan laki-laki yang peran menolongnya yang tak lain adalah Raka itu.


"Pe, pe, perempuan ini.?? Ke, ke, kenapa ini perempuan bisa ada disini bersama Devano yah.??" Kata Raka dalam hati bingung, karena melihat perempuan yang sempat ia tolong yang tak lain adalah Alana bisa bersama dengan Devano sepupunya itu.


"Kakak kenapa diam.??? Kakak masih inget enggak sama aku.?? Ini aku kak.!!! Perempuan yang waktu itu sempat kakak tolong.??" Kata Alana mencoba untuk mengingatkan Raka.


Mendengar kata-kata dari Alana, seketika Raka pun langsung terbangun dari bengongnya.


"Eh iya kenapa.?? A, a, aku masih inget kok.!! Kamu perempuan yang yang kemarin aku tolong kan.???" Kata Raka gugup.


"Iya kak bener, aku perempuan yang waktu itu sempat kakak tol,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.


"Oooohhh jadi kalian berdua udah pada saling kenal nih.??? Bagus deh kalau gitu.!!! Jadi aman gw nitipin Kiara pulang sama kalian." Kata Devano sambil tersenyum, sepertinya Ia lupa kalau Raka sempat curhat kepadanya tentang perempuan yang pernah ia tolong, yang sudah berhasil mencuri hati Raka.


"I, i, iya Dev.!!! A, a, aku udah kenal sama perempuan ini.??" Kata Raka gugup dan grogi sambil terus menatap wajah cantik Alana, bagaimana ia tidak grogi melihat perempuan pujaan hatinya berada tepat dihadapannya.


"Ya udah kalau gitu, Kiara adik kakak yang cantiiiiikk,,, sekarang Kiara adik kakak yang cantik ini pulangnya diantar kak Raka sama kak Alana yaaah.??? Soalnya kakak Devano masih ada keperluan dulu sama kak Laras, Oke.!!" Kata Devano pelan sambil tersenyum, ia berusaha untuk merayu Kiara.


"Iya sayaaaang,,, Kiara pulangnya diantar kak Raka sama kak Alana dulu yaaah.??? Soalnya sekarang ini kak Devano nya masih ada urusan sama kakak.???" Kata Laras sok baik dan perhatian kepada Kiara karena ia pun sedang merayu Kiara agar ia bisa berduaan bersama dengan Devano.


"Ta, ta, tapi kak.!!! Nanti kak Devano dimarahin sama papah loh.??? Kan kata papah, kakak disuruh jagain Kiara sama kak Alana.???" Kata Kiara mencoba untuk mengingatkan pesan dari pak Erik Ayahnya tadi, sebelum ia, Devano dan juga Alana berangkat ke taman.


"Udaaaah,,, adik kakak yang cantik ini tenang aja yaaahhh.??? Papah enggak bakalan marah kok.!!" Kata Devano pelan sambil mengusap-usap rambut Kiara.


"Ya udah Raka, tolong yah anterin Kiara sama Alana pulang.??" Kata Devano.


"I, i, iya Dev.!!!" Kata Raka masih gugup, kemudian Raka, Alana dan juga Kiara pun langsung melangkah pergi menuju mobil Raka untuk pulang dan meninggalkan Devano dan Laras berduaan.


"Enggak nyangka yah, sekarang kita bisa bertemu lagi.??" Kata Devano sambil tersenyum.


"Iya kak, Laras juga enggak nyangka." Kata Laras.


"Oh iya,,, ngomong-ngomong pas banget yah.?? Sekarang ini kita ketemunya di taman.?? Kakak jadi inget dulu waktu pertama kali kita bertemu.?? Dulu itu kamu nasehatin kakak, dan pasti kamu masih ingat kan dulu kamu nasihati kakak kayak gimana.??" Kata Devano sambil terus tersenyum mengingat-ingat nasihat dari gadis kecil pemilik liontin yang pernah ia tolong 10 tahun silam, yang tak lain adalah Alana.


Mendengar kata-kata dari Devano, seketika Laras pun langsung terdiam.


"Aduuuuhhh gawat nih.??? Mana gw enggak tau lagi dulu Alana nasehatin kak Devano kayak gimana.?? Gw harus jawab apa nih.??? Masa gw jawab lupa sih.??? Kalau gw jawab lupa,, pasti kak Devano tersinggung, dia akan nganggap kalau kak Devano itu enggak berarti buat gw, karena dengan mudah gw lupain.??? Aduuuuhhh gimana yah.?? Apa gw pura-pura sakit perut aja yah.???" Kata Laras dalam hati panik dan ketakutan kalau sampai Devano akan curiga dan tau kalau dirinya ternyata bukan gadis kecil yang Devano maksud.


"Iya bener,,, lebih baik gw pura-pura sakit perut aja." Kata Laras lagi dalam hati.


"Awwww aduh, aduh.!!! Kak Devano perut Laras sakit, aww aduh, aduh, sakit bangeeet.???" Kata Laras tergesa-gesa, ia pura-pura kesakitan sambil memegangi perutnya dengan erat.


"Laraaas,, kamu kenapa.?? Perut kamu sakit.??" Kata Devano tergesa-gesa dan panik.


"Iya nih kak Devano, tadi perut Laras sakit.??? Tapi sekarang udah mendingan kok." Kata Laras mencoba membohongi Devano lagi.


"Ohhh ya syukur deh kalau gitu, ya udah lebih baik sekarang kita ke restoran yuks.?? Kita makan.??? Takutnya kamu telat makan lagi." Kata Devano perhatian, sambil buru-buru beranjak bangun dari tempat duduknya dan kemudian ia pun langsung mengajak Laras ke restoran untuk makan.


DI TEMPAT BERBEDA, DI HOTEL.


1 jam kemudian,,,,,,,


Terlihat Pak Erik, Dinda, Alana, Kiara dan juga Raka yang sedang duduk di kamar hotel pak Erik, karena seperti yang kita tau sekarang ini Raka dan Alana sedang mangantarkan Kiara untuk pulang ke hotel tersebut.


"Apa.?? Kamu disuruh sama Devano untuk nganter Kiara sama Alana pulang.?? Benar-benar enggak ada tanggung jawabnya yah itu anak.?? Emang sekarang Devano nya kemana.??" Kata pak Erik dengan suara tinggi karena marah dengan sikap Devano yang tidak bisa bertanggung jawab itu.


"De, De, Devano nya itu Om,,, ta, ta, tadi,,,,,,," Belum sempat Raka menyelsaikan ucapannya namun sudah terpotong.


"Itu pah,,, tadi kakak Devano nya lagi jalan-jalan sama perempuan, terus kakak Devano nya enggak mau anter Kiara sama kak Alana pulang, Kiara sama kak Alana nya malah disuruh pulang sama Kak Raka." Kata Kiara yang sedang duduk dipangkuan pak Erik papahnya itu, dengan polosnya ia menjawab semua pertanyaan pak Erik itu.


"Bener-bener yah itu anak.??? Bisanya bkin kesel aja.!!!" Kata Pak Erik penuh emosi.


"Ssssssttttt maaas, udaaaah,,, mas jangan emosi teruuuus.!!! Lebih baik,,, sekarang mas tenang.!! Entar kalau Devano nya udah pulaaang,,, baru mas kasih tau Devano biar jangan kayak gitu lagi, yah mas yaaah.???" Kata Dinda pelan, ia mencoba untuk memenangkan pak Erik suaminya yang sedang marah itu sambil mengusap-usap pundaknya.


"Iya sayang, mas cuma kesel aja sama itu anak, enggak ada tanggung jawabnya." Kata pak Erik pelan, ia mencoba menuruti perintah dari Dinda istri tersayangnya itu untuk tenang.


"Ya udah semuanya, Om mau anterin Alana pulang dulu yah.???" Kata pak Erik serius mau mengangkatkan Alana untuk pulang.


"Udah enggak papa Om anterin aj,,,,," Seketika ucapan pak Erik terpotong.


"Udah Om istirahat aja.!!! Biar Raka aja yang nganterin Alana pulang." Kata Raka serius mau menganter Alana untuk pulang, karena ia sekalian ingin tau dimana rumah Alana pujaan hatinya itu agar dengan mudah ia bisa main kerumahnya.


"Eh enggak usah kak Raka.!! Alana bisa pulang sendiri kok, jadi Kak Raka sama Om Erik enggak usah pada repot-repot nganterin Alana pulang, beneran Alana bisa pulang sendiri kok Om, kak.." Kata Alana lagi-lagi mencoba untuk menolak tawaran dari pak Erik dan juga Raka itu.


"Udah Nak Alana, kamu enggak usah nolak.!! Lagian kan ini udah sore, takutnya papah kamu udah nungguin lagi di rumah, yaaah.???" Sambung Dinda mencoba untuk memberi saran kepada Alana.


Mendengar saran dari Dinda, akhirnya Alana pun menurutinya, dengan segera ia pun langsung beranjak untuk pulang diantar oleh Raka.


1 Jam kemudian,,,,,


Terlihat mobil Raka yang sedang berhenti tepat di depan rumah Alana.


"Makasih yah kak, kakak udah mau anterin Alana pulang.??" Kata Alana sambil tersenyum.


Mendengar kata-kata dari Alana, Raka hanya terdiam.


"Ohhh jadi rumah Alana disini.?? Eemmmm akhirnya sekarang aku tau juga rumah Alana itu dimana, pokoknya secepat mungkin aku harus kasih tau papah untuk cepat-cepat melamarkan Alana buat aku, sebelum Alana itu dilamar laki-laki lain." Kata Raka dalam hati sambil tersenyum, sepertinya ia memang sudah benar-benar sangat serius dan mantap dengan pilihan hatinya untuk memilih Alana.


"Kakak,, kakak kenapa diam aja.??" Kata Alana bingung melihat Raka yang dari tadi hanya terdiam itu.


"Eh iya kenapa.???" Kata Raka kaget.


Melihat Raka kaget seperti itu, Alana pun tersenyum.


"Kata Alana jugaaa,, makasih yah kak, kakak udah mau nganterin Alana pulang.??" Kata Alana sambil terus tersenyum, kemudian ia pun langsung membuka pintu mobil Raka untuk turun dan kemudian mencoba untuk melangkah masuk ke dalam rumah, namun belum sempat ia melangkah, tiba-tiba langkahnya sudah terhenti.


"Oh iya Alana, tunggu dulu.!!!" Teriak Raka.


"I, i, iya ada apa kak.??" Kata Alana gugup.


"Kapan-kapan aku boleh kan main kesini.??" Kata Raka serius.


"Ka, ka, kakak mau main kesini.?? M, m, mau ngapain kak.??" Kata Alana gugup dan bingung, karena ia benar-benar tidak tau mengapa tiba-tiba Raka ingin main ke rumahnya.


"Y, y, ya biar kita lebih kenal dekat aja, boleh kan.???" Kata Raka gugup sambil tersenyum.


"O, o, ohhh gitu,,,, y, y, ya udah kalau kakak mau main, main aja.!!!" Kata Alana sambil tersenyum.


"Ya udah yah kak, Alana mau masuk dulu.!! Soalnya udah malam." Kata Alana sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung masuk kedalam rumahnya itu dan menemui pak Adi papahnya.


"Alanaaa, kamu udah pulang nak.???" Kata pak Adi yang sedang duduk diruang keluarga, sambil tersenyum.


"Iya Alana udah pulang pah, Oh iya gimana kabar papah.?? Udah mendingan kan.???" Kata Alana sambil tersenyum dan duduk disampingnya.


"Iya papah udah mendingan kok nak.?? Oh iya nak, tadi nak Siska kesini,,, katanya dia mau ngerjain tugas kuliah bareng kamu." Kata pak Adi serius, ia berbicara seperti itu, karena tanpa sepengetahuan dari kita ternyata tadi Siska sahabat Alana datang ke rumahnya untuk mengajak Alana mengerjakan tugas kuliah bersama.


"Oh iya pah,,, Alana lupa.!!! Ya udah yah sekarang Alana ke rumah siska dulu pah.???" Kata Alana kaget dan tergesa-gesa sambil mencium tangan pak Adi dan kemudian langsung buru-buru lari untuk keluar lagi.


"Alana, nak.!!! Kamu kan baru nyampe nak.!!!" Teriak pak Adi sambil berjalan menuju pintu masuk rumahnya itu.


"Iya pah, tapi sekarang Alana harus ke rumah Siska dulu pah.!!! Alana mau kerjain tugas kuliah dulu.!!" Teriak Alana sambil terus berjalan keluar dari halaman rumahnya menuju rumah Siska, karena jarak rumah Siska dan rumahnya hanya memakan waktu 15 menit jika berjalan kaki.


15 Menit kemudian,,,,


Terlihat Alana yang sudah sampai dan berdiri di depan rumah Siska sahabatnya itu.


"Tok,, tok,,, tok,,,, Assalamualaikum.!!!" Teriak Alana sambil mengetuk-ngetuk pintu masuk ruamah Siska.


"Waalikumsalam,,,," Kata seorang lelaki dari balik pintu rumah tersebut.

__ADS_1


"K, k, kak Diki.?? Kak Diki kapan pulang dari Jogja.??" Kata Alana kaget sambil tersenyum karena senang melihat Diki, iya Diki,,,,, sahabat terdekat Devano yang sekarang sudah pulang dari Jogja dan sudah berada di dalam rumahnya, karena tanpa sepengetahuan dari kita, sekarang ini Diki bekerja di perusahaan pak Erik yang berada di Jogja, dan tanpa sepengetahuan dari kita juga, ternyata Alana sudah mengenal Diki dari ia kecil, bahkan Diki pun sudah sangat tau kehidupan Alana itu seperti apa dan di perlakukan sekasar apa oleh Ibu Rika dan juga Laras ibu dan kakak tirinya itu, karena ternyata Siska adalah salah satu adik Diki, iya,,, Siska Azara putri teman terdekat Alana dari Alana kecil.


"Alana.??? Ya ampuuun,,, sekarang kamu udah tambah besar aja, udah hampir tiga tahun yah kita enggak ketemu.??" Kata Diki sambil tersenyum, ia pun kaget melihat Alana yang sekarang sudah semakin besar dan tambah dewasa karena terakhir ia ketemu dengan Alana tiga tahun yang lalu saat Alana masih duduk di bangku SMA.


"Iya kak,,, kakak gimana kabarnya kak.???" Kata Alana.


"Alhamdulillah kabar kakak baik, kamu sendiri gimana.??? Tante Rika sama Laras masih suka kasar sama kamu enggak.??" Kata Diki penasaran dengan Ibu Rika dan Juga Laras apakah masih sering berbuat kasar kepada Alana atau tidak.


"Ya gitu deh kak.!!! Kayak kakak enggak tau aja mamah sama kak Laras itu kayak giman,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.


"Alana,,, kamu kesini.?? Kok enggak kasih kabar aku dulu sih.??" Kata Siska yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Iya nih sis, soalnya tadi aku buru-buru." Kata Alana mencoba untuk menjelaskan.


"Ya udah ayo kita kerjain tugasnya.!!! Udah malam, nanti kamu pulangnya kemalaman lagi." Kata Siska sambil buru-buru melangkah masuk kedalam kamarnya untuk mengerjakan tugas kuliah bersama dengan Alana.


DI TEMPAT BERBEDA, DI RUMAH PAK ADI.


Waktu menunjukkan pukul 10:00 Malam.


Terlihat Laras yang baru saja pulang dan sedang masuk kedalam rumahnya.


"Alana.!!! Kamu dimana.?? Keluar enggak kamu.!!!" Teriak Laras dengan raut wajah yang sangat marah sambil terus berjalan masuk kedalam rumah, sepertinya ia marah karena ia kesel melihat Alana yang tadi sore bersama dengan Devano di taman.


"Alana,,, gw bilang keluar.!!! Keluar engg,,,,,," Seketika teriakan Laras terpotong.


"Sayaaaang,,, kamu kenapa sih.??? Ada apa emang.???" Kata ibu Rika penasaran kenapa Laras putrinya itu tiba-tiba pulang sambil marah-marah.


"Mah, Laras itu kesel sama Alana mah.?? Laras itu kesel banget tau enggak sih.?!!!" Kata Laras sambil marah-marah.


"Iya kesel, tapi kenapa.?? Anak itu bikin ulah apa lagi sama kamu.???" Kata Ibu Rika semakin penasaran.


Mendengar kata-kata dari ibu Rika, Laras pun langsung menceritakan semua tentang kejadian tadi di taman, saat ia melihat Alana sedang berada di taman bersama dengan Devano, dan ia pun memberi tahu kalau sebentar lagi Devano akan melamarnya.


"Apa.?!!! Devano mau ngelamar kamu.?? Kamu serius sayang.??" Kata Ibu Rika dengan suara tinggi karena kaget sambil tersenyum senang akhirnya putrinya akan dilamar orang yang sangat kaya raya seperti Devano.


"Iya mah seriuuus,,,, makanya Laras enggak mau kalau sampai Alana terus-terusan Deket sama kak Devano, entar kalau kak Devano tau gimana,, kalau ternyata gadis kecil itu adalah Alana.?? Gagal kan kita jadi orang kaya.??" Kata Laras ketakutan, ia mencoba untuk menjelaskan kepada ibu Rika mamahnya.


Mendengar kata-kata dari Laras, ibu Rika justru malah tersenyum.


"Kamu tenang aja sayang.!!! Semua itu enggak akan pernah terjadi, karena apa.??? Karena mulai besok Alana itu udah enggak tinggal di rumah ini lagi, dan dia juga udah enggak akan pernah bisa menganggu kamu lagi." Kata Ibu Rika serius, namun entah apa maksud dari ucapannya itu.


"Alana mulai besok enggak tinggal disini lagi,,,, maksudnya mah.??" Kata Laras bingung, karena ia benar-benar tidak tau apa maksud dari ucapan ibu Rika itu.


"Iya sayang, karena tadi,,,, ada seseorang yang melamar Alana untuk putranya, dan besok adalah hari pernikahan Alana dengan calon suaminya itu, bahkan papah pun sudah menyetujui semua itu." Kata ibu Rika serius, ia berbicara seperti itu, karena tadi saat Alana pergi ke rumah Siska, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang tidak ia kenal datang kerumahnya melamar Alana untuk putranya dan pak Adi ayah dari Alana pun sudah menerimanya, bahkan besok adalah hari pernikahan Alana dengan calon suaminya itu.


"What.?!!! Mamah yang bener.?? Besok Alana menikah mah.??" Kata Laras dengan suara tinggi karena kaget mendengar kata-kata dari ibu Rika mamahnya itu.


"Iya sayang,,, besok Alana menikah, dan itu artinya kita akan bebas dari Alana." Kata Ibu Rika sambil tersenyum karena senang akhirnya Alana anak tirinya itu akan menikah, yang artinya ia akan bebas tidak membiayai hidupnya lagi.


"Wah bagus dong mah kalau gitu.?? Mamah tau enggak calon suaminya itu siapa.??" Kata Laras sambil tersenyum dan penasaran dengan siapa sosok calon suami dari Alana tersebut.


"Mamah juga enggak tau sayang, soalnya tadi itu yang datang cuma papahnya doang, calon suami Alana nya itu enggak ikut." Kata ibu Rika, ia berbicara seperti itu karena memang benar, tadi calon suami dari Alana tidak ikut melamar bersama dengan Ayah dari calon suami Alana tersebut.


"Ohhh gitu mah.??? Ya udah lah enggak papa, yang penting kan Alana cepat-cepat menikah dan keluar dari rumah ini, iya kan mah.??" Kata Laras penuh semangat sambil tersenyum senang.


"Iya sayang,, dan kamu tau enggak.??? Tadi itu Alana enggak sempet ngeliat calon mertuanya itu siapa.??? Soalnya pas Alana pulang dari rumah Siska, calon mertuanya itu baruuuu aja pulang, dan kamu tau lagi enggak sayang.?? Sekarang ini,,, Alana lagi nangis-nangis tuh di dalam kamar, soalnya dia baru aja dikasih tau sama papah, kalau besok itu adalah hari pernikahannya dengan calon suaminya yang tidak ia kenal itu.??? Dia enggak mau menikah sayang, makanya sekarang ini dia nangis-nangis kaya gitu di dalam kamar." Kata Ibu Rika serius, ia mencoba untuk memberi tahu Laras kalau sekarang ini Alana sedang menangis didalam kamarnya.


"Hiks,, hiks,,, apa yang harus aku lakukan sekarang ini.?? Hiks,, hiks,,, Aku enggak mungkin menikah dengan laki-laki yang enggak aku cintai, hiks,, hiks,, bahkan kenal dan ketemu dengan laki-laki itu pun aku belum pernah.??? Hiks,, hiks,,, tapi aku juga enggak bisa menolak pernikahan ini.??? Hiks,,, hiks,,, karena aku enggak mungkin sanggup ngecewain papah, hiks,,, hiks,,, apa lagi sekarang ini papah sedang sakit-sakitan, hiks,, hiks,,, kalau sampai papah drop lagi gimana.???" Kata Alana sambil menangis, karena ia benar-benar bingung harus bagaimana dengan semua ini.


"Hiks,, hiks,, kalau aku menikah dengan laki-laki itu.?? Hiks,, hiks,, berati aku harus ngelupain kakak-kakak yang dulu pernah nolongin aku.?? Hiks,,, hiks,, karena enggak mungkin aku bisa menyimpan perasaanku ini sama kakak-kakak itu, hiks,, hiks,, kalau keadaan aku sendiri hiks,, hiks,, sudah menikah, hiks,,, hiks,,, ya Allah,,, kalau memang kakak-kakak itu bukan jodoh aku, hiks,,, hiks,,, paling enggak pertemukan lah aku dengan kakak-kakak itu meskipun hanya sekali dalam seumur hidup aku ya Allah.???" Kata Alana dalam hati, sambil terus menangis dengan raut wajah yang sangat sedih, karena sepertinya kakak-kakak yang dulu pernah menolongnya, yang tak lain adalah Devano itu benar-benar sangat berarti untuknya.


"Hiks,, hiks,, Mamaaah,,, hiks,, hiks,, tolong Alana mah.?? Hiks,, hiks,, bantu Alana untuk memilih mana yang terbaik hiks,,, hiks,,, untuk Alanaaa." Kata Alana lagi sambil terus menangis dan memandangi foto Almarhum mamahnya itu sampai ia pun akhirnya ketiduran.


DI RUMAH RAKA.


Waktu menunjukkan pukul 07:00 Pagi.


Terlihat Arya, Dessy, Raka dan juga adik-adik Raka yang sudah rapi dan sedang siap-siap berangkat kesebuah Acara.


"Raka ayo cepetan.!!! Entar keburu kesiangan loh.!!!" Teriak Arya yang tak lain adalah Ayah dari Raka, yang sudah berada di dalam mobil.


"Iya sayang,,, cepetan.!!! Entar kita telat loh, acaranya udah mau mulai nih." Teriak Dessy yang tak lain adalah mama Raka, yang juga sedang duduk didalam mobil tepat disamping Arya suaminya itu.


"Iya mah, ini Raka mau kesitu.!!!" Teriak Raka sambil lari dari dalam rumah, kemudian langsung masuk kedalam mobil tersebut.


"Ya ampuuuuun anak mamah ini lama banget sih siap-siap nya.??" Kata Dessy sambil tersenyum menggodanya.


"Tau nih Raka, biasanya juga enggak selama ini siapa-siapanya." Kata Arya yang juga tersenyum menggodanya.


"Ya enggak papa dong pah, sekali-kal,,,,,," Seketika ucapan Raka terpotong.


"E, e, eehh pah,,, itu mobil Opa yah.??" Kata Raka serius, sambil menunjuk kearah mobil pak Irsyad Opa nya, yang sedang berjalan dan berhenti tepat di samping mobilnya, kemudian pak Irsyad pum langsung membukan kaca mobilnya.


"Opa, Oma.?? Opa sama Oma ternyata pulang ke Indonesia.???" Kata Raka kaget karena ia tidak tau kalau pak Irsyad dan Ibu Yuli itu pulang ke Indonesia untuk menghadiri acara yang akan ia hadiri juga, namun entah apa itu acaranya.


"Ya pulang dong sayaaaang,,, masa acara pernikahan cucu sendiri Oma sama Opa enggak pulang sih.???" Kata Ibu Yuli sambil tersenyum menatap kearah Raka, namun entah cucu yang mana yang akan menikah itu, mengingat ibu Yuli hanya mempunyai cucu dua yang sudah Dewasa yaitu Devano dan Raka.


"Oh iya yah,,,, benar juga.!!! Masa cucu sendiri mau menikah, Oma enggak pulang sih.??" Kata Raka sambil tersenyum.


"Nah itu cucu Oma udah pinter.??" Kata Ibu Yuli sambil tersenyum.


"Oh iya, ngomong-ngomong Erik sama Dinda enggak bareng kita nih berangkatnya.???" Kata Ibu Yuli lagi penasaran karena ia tidak melihat adanya keluarga pak Erik yang juga akan datang menghadiri acara tersebut.


"Tadi sih Erik telepon Arya mah, katanya sih ketemu disana aja, soalnya udah siang banget takut telat." Kata Arya mencoba menjelaskan, ia berbicara seperti itu karena tanpa sepengetahuan dari kita, tadi Pak Erik sempat meneleponnya dan berbicara seperti itu.


"Ooooh,, ya udah kalau gitu, ayo sekarang kita berangkat.!!! Entar telat lagi." Kata ibu Yuli mengajak semuanya untuk cepat-cepat berangkat ke acara tersebut.


DI TEMPAT BERBEDA.


Di taman, terlihat keluarga Alana, taman-taman Alana, dan tak lupa juga dengan Alana yang sudah siap dan cantik mengenakan gaun pengantinnya dengan raut wajah yang sangat sedih dan tak bersemangat.



Sambil menunggu calon mempelai prianya yang menurutnya tidak ia kenal itu datang.


"Alana, gw penasaran deh.!!! Sebenarnya kayak gimana sih calon suami kamu itu.?? Gw udah enggak sabar nih pengin cepet-cepet lihat calon suami kamu.???" Bisik Siska yang sedang berdiri di samping Alana, ia penasaran sebenarnya seperti apa sosok calon suami Alana itu.


"Aku juga enggak tau Sis.?? Mau seperti apa calon suami aku nanti, aku hanya bisa pasrah dengan semua ini." Kata Alana masih lemas dan tak bersemangat dengan raut wajah yang sangat sedih, karena ia memang masih belum bisa menerima seutuhnya pernikahannya dengan pria yang menurutnya tidak ia kenal itu.


"Ya udah kamu yang sabar aja yah.??? Aku yakin pasti semua ini yang terbaik untuk kamu, lagian kan papah kamu itu sayang banget sama kamu, jadi enggak mungkin kalau papah kamu itu akan menjerumuskan anaknya sendiri, yaaah.???" Kata Siska pelan sambil mengusap-usap pundak Alana, ia berusaha untuk menghiburnya agar tidak sedih lagi.


"Iya sis, aku akan selalu sab,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong karena tiba-tiba ia mendengar suara heboh dari pintu masuk taman tersebut.


"E, e, ehhhhh Alana, itu ada apa heboh banget.?? Kayaknya itu calon suami kamu datang deh.!!!" Kata Siska dengan suara tinggi dan tergesa-gesa, sambil menatap kearah pintu masuk taman tersebut.


"Enggak tau juga yah Sis.?? Apa iya yah itu calon suami aku dat,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong karena ia kaget bukan main melihat siapa sosok calon suaminya itu.


"Hah.??? Ja, ja, jadi,,,, d, d, dia,,,, d, d, dia calon suami aku.???"



Kata Alana gugup dan tak percaya melihat siapa sosok calon suaminya itu yang sedang berjalan dengan keluarganya dan semakin mendekat kearahnya.


#######


Kira-kira siapakah calon suami Alana itu.??? Apakah mungkin Devano dan Raka termasuk juga salah satu dari calon suami Alana.??


Jika benar,, siapakah dari kalian yang memilih tim Devano dan siapakah yang memilih tim Raka.???

__ADS_1


Nanti author akan balik lagi jika banyak yang coment.!!! Karena sebenarnya author ini ingin Hiatus dulu untuk beberapa minggu, tapi takut sama kaliaaaaan 😥😥


__ADS_2