
2 Jam berlalu,,,,,,,
Terlihat Alana yang sudah keluar dari kamar mandi, dan sekarang ini sedang sibuk memakai perawatan kecantikannya di depan cermin dengan pakaiannya yang sangatlah seksi.
"Mas Devanooo, mas Devano mau sampai kapan sih ngerokok terus kaya gitu.?"
Kata Alana sambil menatap kearah Devano, yang sekarang ini sedang berbaring di atas ranjang, sambil asyik menghisap sebatang rokok.
"Emang kenapa sayaaaang, hah.?"
Kata Devano dengan santainya, sambil menatap kearah Alana.
"Kok masih tanya kenapa sih.? Ya enggak baik buat kesehatan dong maaas.! Lagian apa enaknya sih ngerokok.? Nanti mas bisa sakit tau gara-gara ngrokok." Kata Alana serius, sepertinya sekarang ini ia sudah mulai kembali ke sifat aslinya, yaitu bawel dan suka menasehati orang.
Mendengar nasihat dari Alana, alih-alih mendengarkan, Devano malah terus asyik menghisap sebatang rokok miliknya itu, sambil terus menatap kearahnya.
"Orang dikasih tau sama istrinya kok enggak didengerin." Kata Alana sedikit kesal, sambil cemberut.
Melihat Alana cemberut seperti itu, Devano pun tersenyum, kemudian ia pun langsung melangkah menghampirinya, dan langsung memeluknya dari belakang dengan begitu erat.
"Eeeemmm kenapa sih sayaaang, hah.? Istri mas ini bawel bangeeeet.?" Kata Devano pelan sambil menciumi pundak dan leher Alana yang sangat terbuka itu.
"Lagian mas sih, kalau dikasih tau sama Alana enggak mau nuruuut.?" Kata Alana sambil terus cemberut.
"Iya, enggak sayaaaang.! Udah mas matiin kok rokoknya, yaaah.?" Kata Devano serius, kemudian ia pun langsung kembali menciumi pundak dan leher Alana.
"Aw.! Ssssttt sakit maaas, ciumnya jangan sambil digigit-gigiiit." Kata Alana mereunyi kesakitan.
"Heemmmm iya enggak sayaaaang eeemmm.!" Kata Devano pelan, sambil tersenyum dan mengeratkan pelukannya itu ke tubuh Alana.
"Oh iya mas.! Mas jangan ngerokok lagi yaaah.? Pokoknya Alana enggak mau lihat mas ngerokok lagi.! Apalagi kalau nanti Alana udah hamil, terus kita udah punya dede, Alana enggak mau.!" Kata Alana sambil terus cemberut dengan begitu manjanya.
Mendengar kata-kata dari Alana, Devano pun langsung tersenyum.
"Kamu ngomong apa sayang.! Hamiiiil.? Kita punya dedeee.?" Kata Devano sambil terus tersenyum, karena ia benar-benar tidak menyangka Alana istrinya yang masih sangat polos itu, berbicara tentang anak dan kehamilan.
"Iya maaas.! Pokoknya nanti kalau Alana udah hamil, terus kita udah punya dede, Alana enggak mau lihat mas ngrokok lagi.!" Kata Alana mencoba untuk meyakinkan Devano kembali.
Mendengar Alana yang lagi-lagi berbicara seperti itu, Devano pun lagi-lagi tersenyum.
"Sayaaang,,,, emang kamu udah pengin banget yah, cepet-cepet punya Dede dari mas.?" Kata Devano serius, sambil mengusap-usap rambut Alana.
"Iya.! Alana udah pengin banget cepet-cepet punya Dede dari mas.!" Kata Alana mencoba untuk menjawab pertanyaan dari Devano.
"Kamu serius sayang.? Kamu udah pengin banget cepet-cepet punya dede dari mas.?" Kata Devano masih tak percaya.
"Iya maaas, Alana udah pengin cepet-cepet punya dede dari mas.! Soalnyaaaa, biar nanti kalau mas bandeeel, mas ngerokok teruuus, ada yang berani marahin mas.!" Kata Alana sambil tersenyum dengan sangat manjanya.
"Oooohhhh gituuuu.? Jadi kamu pengin cepet-cepet punya dedeee, supaya dedenya ngelawan sama papahnyaaa, hah.?" Kata Devano sambil tersenyum dan mencubit manja pipi Alana.
"Iiiiiiihhhhh mas.! Bukan ngelawan sama papahnyaaa.? Tapi biar dedenya bisa marahin papahnya, biar papahnya kapok.! Biar enggak ngerokok terus." Kata Alana sambil terus tersenyum.
"Eeemmmm emang entar dedenya berani nih, marahin papahnya yang jagoan kayak gini nih.?" Kata Devano dengan sombongnya, sambil menunjukkan badan kekarnya itu.
"Berani laaaah.! Kan ada mamahnya." Kata Alana sambil terus tersenyum dengan sangat manjanya.
"Ooohhh jadi mamahnya sama dedenya kerja sama nih, buat marahin papahnyaaaa, hah.?" Kata Devano sambil tersenyum dan mencubit gemas hidung Alana.
"Aw sakit maaas, hidung Alana nya jangan di cubut-cubit teruuus.! Lagian dede bukan kerjasama sama mamahnyaaa.? Tapi emang dede pengin marahin papahnya kayak gituuu.?" Kata Alana sambil merengek manja.
"Eeemm gitu yaaah.? Coba dong kalau gitu, papahnya pengin denger.! Kayak gimana entar kalau dedenya lagi marahin papahnya.?" Kata Devano penasaran sambil tersenyum.
"Eeeeemmmm kayak gimana yaaah.?" Kata Alana sambil berfikir.
"Kayak gimana cobaaa.? Papahnya udah enggak sabar nih pengin denger.!" Kata Devano tak sabar.
"Eemmmm,,, Oh iya, iya.! Kayak gini, nih mas.?" Kata Alana, kemudian ia pun langsung menirukan suara gemas seperti anak kecil.
"Papah, papah.! Papah jangan ngerokok terus.! Mending uangnya buat ditabung, buat Dede sekolah, kalau nanti dede udah gede.!" Kata Alana sambil tersenyum dengan sangat manjanya.
"Eeeeemmmm mas tau niiiih.! Kalau marahnya kayak gini, mamahnya yang nyuruh nih pastinya, niiih.! Biar uang rokok papahnya dikasih sama mamahnya nih, iya kaaaan, hah.?" Kata Devano sambil tersenyum dan mencubit gemas hidung Alana.
"Iiiiiiihhhhh enggak maaas.! Bukan mamahnya yang nyuruuuuh.? Tapi emang entar dede marahnya kayak gitu sama mas, beneraaan.?" Kata Alana merengek, ia mencoba untuk meyakinkan Devano.
"Ooohhh entar dede marahnya kayak gitu sama papahnyaaa.?" Kata Devano mencoba untuk percaya dengan ucapan Alana, agar Alana senang.
"Iya mas kayak gituuu.! Lagian mamahnya enggak mungkin lah, nyuruh dede marahin papahnya kayak gituuu.? Kan mamahnya udah biasa beli apa-apa sendiri, enggak pernah dikasih uang sama pap,,,,,,,,," Seketika Alana pun terdiam, kemudian ia pun langsung menundukkan kepalanya, karena ia benar-benar merasa tidak enak, ia takut kalau sampai Devano suaminya yang memang tidak pernah memberikan uang kepadanya itu, akan tersinggung dengan ucapannya, karena tadi itu ia keceplosan berbicara seperti itu.
"Enggak pernah dikasih uang sama pap,,, pap,,, pap siapa.? Mas maksudnya.?" Kata Devano serius, karena ia memang sudah tersinggung dengan ucapan Alana itu.
"M, m, maksud Alana bukan gitu mas.? B, b, bener mas bukan gitu.? A, A, Alana enggak bermaksud kayak gitu mas.?" Kata Alana gugup dan panik, karena ia takut kalau sampai Devano suaminya itu mengira, kalau ia berbicara seperti itu karena sengaja, agar ia mendapatkan jatah uang darinya.
Melihat raut wajah Alana seperti itu, Devano hanya terdiam, ia tidak mengeluarkan suara sepatah kata pun, sehingga membuat Alana pun semakin merasa tidak enak.
"M, m, maafin Alana yah mas.? M, m, mas jangan marah.! Alana enggak bermaksud kayak gitu mas.? Lagian Alana punya simpanan uang sendiri kok.! Beneran mas.! Alana enggak lagi bermaksud kayak gituuu.?" Kata Alana tergesa-gesa dengan raut wajah yang sangat ketakutan.
Melihat raut wajah Alana ketakutan seperti itu, Devano pun langsung tersenyum.
"M, m, mas Devanooo.? M, m, mas Devano kenapa.? K, k, kok mas Devano senyum sih.?" Kata Alana gugup dan bingung.
"Heeemmm Lucu." Kata Devano singkat, sambil terus tersenyum.
"Lucu.? Apanya yang lucu.?" Kata Alana semakin kebingungan.
"Kamu.! Kamu lucu." Kata Devano sambil terus tersenyum melihat raut wajah Alana yang masih ketakutan itu.
"Alana lucu.? Maksudnya.?" Kata Alana lagi-lagi kebingungan mendengar ucapan Devano itu.
Melihat Alana kebingungan seperti itu, Devano pun lagi-lagi tersenyum, kemudian ia pun langsung mengeratkan pelukannya itu ke tubuh Alana.
"Eeemmmm kasihan nih istri mas, enggak pernah dikasih uang sama maaaas, hah.? maafin mas yaaah.?" Kata Devano pelan sambil mengusap-usap rambut Alana.
"M, m, mas Devano,,, b, b, bukan kayak gitu mas maksud Alana.? Lagian Alana udah biasa kok pakai uang sendiri, dan sekarang ini Alana juga masih punya uang sim,,,,,,,," Seketika ucapan Alana itu terpotong.
"Ssssssttttt udah, udaaaah.! Kamu kenapa ketakutan kayak gini siiiih, hah.? Mas enggak marah kok sayang.! Lagian kan ini semua memang salah mas, dari sejak kita menikaaah, mas enggak pernah kasih istri mas ini uang, iya kan.?" Kata Devano serius, karena sepertinya sekarang ini ia sudah sadar akan kesalahannya sebagai seorang suami, yang tidak pernah memberikan nafkah kepada Alana istrinya itu.
"Tapi beneran maaas, bukan itu maksud Alanaaa.?" Kata Alana mencoba untuk menjelaskan kepada Devano.
"Iya, iyaaa, mas tau kok.! Udah, kamu tenang aja yaaah.? Kamu enggak usah ketakutan kayak gini.? Mas enggak marah kok.! Mas enggak tersinggung." Kata Devano mencoba untuk meyakinkan Alana.
"M, m, mas beneraan enggak marah kan mas.?" Kata Alana gugup, ia mencoba untuk meyakinkan dirinya lagi, kalau sekarang ini Devano memang benar-benar tidak sedang marah kepada dirinya.
"Enggak sayaaang, enggaaaak.!" Kata Devano mencoba untuk meyakinkan Alana kembali.
"Nih lihat.! Mas senyum nih.?" Kata Devano lagi, sambil tersenyum dengan sangat manis tepat di depan wajah cantik Alana.
Melihat Devano tersenyum seperti itu, Alana pun ikut tersenyum.
"Eeeemm maaas.? Alana sayang sama mas.?" Kata Alana dengan sangat manjanya, sambil menatap dalam wajah tampan Devano.
"Iyaaa." Kata Devano pelan sambil mengusap-usap rambut Alana.
"Oh iya sayang, kamu tenang aja yah.? Karena mulai sekaraaang, semua kebutuhan kamu mas yang akan tanggung." Kata Devano serius, kalau mulai sekarang ini semua kebutuhan Alana istrinya itu, ia yang akan menanggungnya.
"M, m, mas beneraan.? M, m, mas mau manggung semua kebutuhan Alana.? M, m, mas enggak bohong.?" Kata Alana gugup dan tak percaya, dengan mata yang berkaca-kaca, karena sekarang ini ia bener-bener terharu mendengar ucapan dari Devano itu.
"Iya, mas beneraan.! Mas enggak bohong.! Semua kebutuhan kamu, mas yang akan tanggung." Kata Devano mencoba untuk meyakinkan Alana kembali.
Mendengar ucapan dari Devano, lagi-lagi Alana pun tersenyum, kemudian ia pun langsung mencium bibir Devano MUACH.!!!
"Heeemm.! Kamu cium mas sayang.?" Kata Devano kaget dan tak percaya sambil tersenyum, karena senang melihat Alana istrinya yang sangat polos itu sudah semakin berani menciumnya.
"Iyaaa." Kata Alana sambil terus tersenyum dengan sangat manja.
"Uuuuuuhhh udah pinter nih istri mas.?" Kata Devano sambil mengusap-usap rambut Alana.
"Oh iya sayang, katanya kan tadi kamu punya uang simpanan.? Kalau mas boleh tau nih yaaah.? Kamu dapat uang simpanan itu dari mana.? Bukannya sejak kita menikah, kamu udah enggak kerja lagi yah sayang.?" Kata Devano penasaran.
"Eeeemmm dari mana yaaah.?" Kata Alana sambil pura-pura berfikir.
"Sayaaaang, kamu dapat uang simpanan itu dari mana.? Kamu harus jujur dong sama mas.! Sekarang kan mas ini suami kamu.?" Kata Devano mencoba untuk menasehati Alana.
"Eeemmm,, Itu maaas.? Sebenarnyaaa,,, eeemmm.? Tapi mas janji jangan ketawaaa.?" Kata Alana sambil merengek.
"Iyaaa, mas janji enggak ketawa.! Udah sekarang kamu kasih tau mas.! Kamu dapat uang simpanan itu dari mana.?" Kata Devano mencoba untuk menanyakan lagi kepada Alana.
"Sebenarnyaaa,,, Tapi mas beneraan loh, janji jangan ketawaaa.?" Kata Alana lagi.
"Iya sayaaaang, mas enggak ketawaaa.! Iiiiihhhh bawel yah istri mas ini yah.?" Kata Devano sambil tersenyum.
"Sebenarnyaaa, uang itu Alana dapat pinjem dari Siska.?" Kata Alana mencoba untuk jujur, meskipun sesungguhnya sekarang ini ia sangat malu.
"Ya ampun sayaaaang.! Kamu ngapain pinjem uang sama Siska siiih, hah.?" Kata Devano kaget sambil tersenyum, karena ia benar-benar tidak menyangka Alana istrinya itu mendapatkan uang tersebut dari meminjam.
"Tuh kaaan.! Mas senyum-senyum kayak gituuu.? Padahal kan tadi mas udah janji, mas enggak akan ketawain Alana." Kata Alana sambil cemberut.
"Iya, iya, enggak sayaaaang.! Udah sekarang kamu jujur sama mas.! Buat apa kamu pinjem uang itu sama Siska.?" Kata Devano penasaran.
"Alana pinjem uang itu sama Siska, buat bayar berobat Alana ke dokter.? Kan kata mas, hari ini mas mau antar Alana periksa ke dokter, iya kan.?" Kata Alana serius, kalau ia pinjam uang tersebut untuk biaya berobat dirinya ke dokter, karena ia takut kalau Devano suaminya itu tidak akan membiayainya, karena seperti yang kita tau, biasanya Devano memang tidak pernah memberikan uang kepadanya.
Mendengar kata-kata dari Alana, Devano pun langsung terdiam.
__ADS_1
"Heeemm.! Kasihan banget sih kamu.? Kenapa sih selama ini gw enggak sadar, kalau istri gw sendiri kesusahan kayak gini hidupnya.? Sampai-sampai pinjem uang sama temennya buat berobat, pasti kamu enggak bernai yah mau minta uang sama mas.? Kamu takut kalau sampai mas enggak ngasih, dan kamu takut kalau sampai mas enggak bayarin berobat kamu nanti.?" Kata Devano dalam hati, dengan raut wajah yang sangat sedih.
"Kamu tenang aja yah sayang.! Mulai hari ini, mas janji.! Mas akan memperlakukan kamu selayaknya seorang istri, dan mas juga janji.! Mas akan selalu berusaha untuk ngebahagiain kamu, apapun yang terjadi." Kata Devano lagi dalam hati, sambil tersenyum menatap wajah cantik Alana.
"M, m, mas Devanooo, mas Devano kenapa.? Kok dari tadi mas Devano diem aja.?" Kata Alana bingung melihat Devano yang dari tadi hanya terdiam seperti itu.
"E, e, enggaaak, mas enggak papa.!" Kata Devano gugup karena ia sedang berbohong.
"Bohooong.! Kok tadi mas senyum-senyum gitu ngelihatin Alana.? Mas mau ketawain Alana yah, gara-gara Alana punya uang dapat pinjem dari Siskaaa." Kata Alana sambil cemberut.
"Ssssssttttt.! Enggak sayang, enggaaak.! Mas enggak kayak gitu kok.!" Kata Devano pelan sambil mengusap-usap rambut Alana.
"Lebih baiiiik, sekarang uang itu kamu balikin ke Siska yah.?" Kata Devano lagi, serius.
"Di balikin ke Siskaaa.? Terus entar berobat, Alana bayarnya pakai ap,,,,,,,," Seketika ucapan Alana itu terpotong.
"Mas yang akan bayarin.! Udah lebih baiiik,,, sekarang uang itu kamu balikin ke Siska.! Dan sekaraaang,, kamu siap-siap.! Entar keburu dokter Sinta nya pulang lagi, nunggu kita kelamaan." Kata Devano serius.
Mendengar kata-kata dari Devano, lagi-lagi Alana pun tersenyum.
"Ya udah, ya udah.! Kalau gitu Alana siap-siap yah mas.?" Kata Alana tergesa-gesa dan penuh semangat, kemudian ia pun langsung buru-buru melanjutkan memakai perawatan kecantikannya itu.
1 Jam kemudian,,,,,,
DI RUMAH SAKIT.
Terlihat Devano dan Alana yang baru saja sampai di rumah sakit, dan sekarang ini sedang duduk di ruang tunggu.
"Mas Devano, nanti Alana gimana ngomog ke dokter Sinta nya, kalau dokter Sinta nya nanya Alana sakit apa.? Kan Alana malu maaas.?" Kata Alana panik, karena ia bingung harus berbicara apa kepada dokter Sinta yang akan memeriksanya itu, karena ia benar-benar malu jika harus memberi tau kepadanya, kalau ternyata sekarang ini ia akan memeriksa bagian bawah dan gunung kembarnya yang lecet parah akibat ulah dari Devano suaminya itu semalam.
"Udaaaah, kamu tenang aja.! Tadi pagi mas udah chat kok ke dokter Sinta, mas udah ngomong sama dia, tentang sakit kamu ini.? Dan mas juga udah suruh dokter Sinta, supaya dia enggak usah tanya apa-apa lagi sama kamu." Kata Devano serius, kalau tadi pagi saat Alana masih tidur, ia memang mengirim pesan seperti itu kepada dokter Sinta yang tak lain adalah dokter pribadi keluarganya itu
"Benernan mas.! Mas udah ngomong kayak gitu sama dokter Sinta.?" Kata Alana dengan suara tinggi sambil tersenyum, karena ia benar-benar lega mendengar ucapan Devano itu.
"Iya sayaaaang, jadi kamu tenang aja.! Kamu enggak usah ngomong apa-apa lagi sama dok,,,,,,,," Seketika ucapan Devano itu terpotong.
"Devanooo, Alanaaa.? Kalian ada di rumah sakit juga sayang.?" Kata Dinda yang sedang berjalan bersama dengan pak Erik tepat dihadapan mereka.
"M, m, mamah.? P, p, papah.?" Kata Devano gugup dan kaget, melihat pak Erik dan Dinda kedua orangtuanya itu yang ternyata juga sedang berada di rumah sakit tersebut.
"Aduuuuhhh.! Kenapa bisa ada mamah sama papah disini.? Gawat nih kalau kayak gini.? Mana mamah kan orangnya kepo bangeeeet.! Gimana kalau nanti mamah nanya, gw sama Alana kesini mau ngapain.? Gw harus jawab apa nih sama mereka.? Enggak mungkin dong gw jujur sama mereka, kalau gw kesini mau periksa,,,,,, Aaaahhhh bikin pusing gw aja sih.!" Kata Devano dalam hati panik.
"Sayaaang, kamu kenapa.? Kok kamu dari tadi diem aja.?" Kata Dinda bingung melihat Devano putranya terdiam seperti itu.
"Tau nih Devano, kamu kenapaaa, hah.?" Kata pak Erik yang juga bingung melihat Devano terdiam seperti itu.
"Eh,,, i, i, iya kenapa mah, pah.? E, e, enggak, Devano enggak kenapa-napa kok.!" Kata Devano gugup karena ia sedang berbohong.
"Yang bener kamu, kamu enggak lagi bohongin papah sama mamah kan.?" Kata pak Erik sedikit curiga melihat tingkah laku Devano seperti itu.
"E, e, enggaaak, Devano enggak lagi bohongin mamah sama papa kok.! I, i, iya kan sayang.?" Kata Devano gugup, sambil tersenyum menatap kearah Alana.
"Sayaaaang.? Ini kamu serius panggil Alana sayang.?" Kata Dinda kaget dan tak percaya, mendengar Devano menyebut Alana seperti itu, karena setau Dinda, Devano putranya itu tidak pernah mencintainya.
"Iya SAYANG, emang kenapa mah.?" Kata Devano bingung, melihat Dinda mamahnya kaget seperti itu.
"Iya mah, emang kenapa.? Kalau mas Devano panggil Alana sayang.? Kan mas Devano ini suami Alana mah.?" Sambung Alana yang juga bingung melihat Dinda mamah mertuanya kaget seperti itu.
"E, e, enggak, enggak kenapa-napa.! M, m, mamah cuma kaget aja, denger Devano tiba-tiba panggil kamu sayang." Kata Dinda gugup, karena ia masih belum percaya dengan semua itu.
Melihat istrinya kaget seperti itu, pak Erik pun tersenyum, kemudian ia pun langsung mengusap-usap pundaknya.
"Udah sayaaaang, kamu enggak usah kaget kayak gituuu.? Bukannya dulu juga kamu kayak Devano yah.?" Kata pak Erik sambil terus tersenyum, karena lucu melihat tingkah laku Dinda yang seperti tidak tau apa yang sekarang ini sedang Devano putranya itu rasakan kepada Alana, yang padahal apa yang sedang Devano rasakan saat ini itu, sama persis dengan apa yang dulu pernah ia rasakan saat pertama menikah dengan dirinya, yang awalnya benci, tapi ujungnya malah jadi cinta mati.
"M, m, maksud mas.?" Kata Dinda gugup dan bingung, karena ia benar-benar tidak tau, apa maksud dari ucapan pak Erik itu.
"Ooohhh e, e, enggaaak, enggak papa.! Udah jangan di pikirin lagi.!" Kata Pak Erik sambil terus tersenyum.
"Oh iya Devano, Alana.? Kalian lagi ngapain disini.? Siapa yang lagi sakit.?" Kata pak Erik penasaran dan sedikit panik, karena ia takut kalau sampai mereka itu kenapa-napa.
"Oh ini pah.! Mas Devano kesini mau nganter Alan,,,,,,,,,," Seketika ucapan Alana itu terpotong, karena tiba-tiba ia melihat Devano menggeleng-gelengkan kepalanya, yang seperti mengisyaratkan agar ia tidak melanjutkan lagi ucapannya itu.
"Nganter Alan,,, Alan siapa.? Maksudnya kamu sayang yang lagi sakiiit.?" Sambung Dinda panik, sambil menatap kearah Alana.
Belum sempat Alana menjawab pertanyaan dari Dinda, seketika Devano pun langsung menyerobotnya.
"Oooh e, e, enggak mah.! Alana enggak lagi sakit kok mah, Devano kesini mau anter Alanaaa.? Eeeeemm.? Eeemmm.? Ngadem mah.! Iya mah bener, nganter Alana ngadem.! Soalnya tadi itu mobil Devano AC nya mati mah, terus Alana nya kepanasan deh, iya kan sayaaang.?" Kata Devano gugup sambil mengedipkan matanya kepada Alana.
Melihat tingkah laku Devano seperti itu, pak Erik pun langsung tersenyum sinis.
"Heeemmm bohong banget sih ini anak.? Devanooo, Devano, mungkin sekarang ini kamu bisa aja bohongin mamah, tapi sampai kapan pun kamu enggak akan pernah bisa bohongin papah.? Papah yakin, pasti sekarang ini kamu lagi nyembunyiin sesuatu dari mamah dan juga papah.?" Kata pak Erik dalam hati, ia sangat yakin kalau sekarang ini Devano putranya itu sedang berbohong.
"I, i, iya mah.! Bener kata mas Devano, sekarang kita disini lagi ngadem, iya kan mas.?" Kata Alana gugup karena sekarang ini ia pun ikut berbohong.
"Benernan sayaaang, kamu kesini cuma mau ngadem.? Bukan karena kamu lagi sakiiit.?" Kata Dinda mencoba untuk menanyakan lagi kepada Alana.
"Maaf bu Alana, sekarang ini ibu Alana sedang ditunggu sama dokter Sinta diruangannya, untuk diperiksa." Kata seorang suster yang sedang berdiri tepat dihadapan mereka semua, ia mencoba menyampaikan pesan tersebut dari dokter Sinta.
"Apa tadi suster bilang.? Alana mau di periksa.? Maksudnya, Alana lagi sakit sus.?" Kata Dinda kaget mendengar ucapan dari suster tersebut.
"Aduuuuhhh.!!! Kenapa ini suster datangnya bisa pas banget kayak gini sih.? Kalau kayak gini caranya.? Bisa-bisa habis gw dimarahin papah sama mamah, karena gw udah paksa-paksa Alana buat nemenin gw tidur, mana itu nya Alana sampai lecet-lecet kayak gitu lagi.?" Kata Devano dalam hati panik, karena ia sangat yakin setelah ini ia pasti akan kena marah pak Erik dan juga Dinda kedua orangtuanya itu.
"Hemmm.! Tuh kan bener.? Kamu lagi nyembunyiin sesuatu dari papah." Kata pak Erik dalam hati, sambil tersenyum sinis menatap kearah Devano yang sedang panik itu.
"Iya bu.! Ibu Alana nya lagi sakit, dan sekarang ini ibu Alana nya harus diperiksa, soalnya dokter Sinta nya udah nungguin ibu Alana di ruangannya." Kata Suster tersebut mencoba untuk menjelaskan kepada Dinda.
"Oh gitu sus.! Ya udah kalau gitu saya ikut ke dalam yah sus.? Ayo sayang.!" Kata Dinda, sambil menggandeng tangan Alana, kemudian ia, Alana dan suster tersebut pun langsung melangkah menuju ruangan dokter Sinta dan meninggalkan pak Erik juga Devano yang masih duduk di ruang tunggu hanya berdua.
"Kenapa semuanya malah jadi kayak gini sih.? Bisa-bisa Alana malu banget nih sama mamah kalau kayak gini.? Apalagi kalau sampai mamah lihat itu nya Alana yang pada lecet-lecet semua kayak gitu.?" Kata Devano dalam hati semakin panik.
"Devano, kamu kenapa.? Dari tadi papah lihatin, kamu kayak panik gitu.?" Kata pak Erik penasaran.
"Oh e, e, enggak pah.! E, e, eggak papa.!" Kata Devano gugup, lagi-lagi ia berbohong.
"O, o, oh iya pah.! Papah sama mamah kok sekarang bisa ada di rumah sakit.? Emang mau jenguk siapa pah.?" Kata Devano mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Siapa lagi kalau bukan Raka.? Bonyok-bonyok kan dia kemaren dihajar sama kamu.?" Kata pak Erik menjawab pertanyaan Devano dengan ketus.
"Aduuuuhhh.! Kayaknya salah nih gw nanya kayak gini sama papah.?" Kata Devano menyesal, telah bertanya seperti itu kepada pak Erik Ayahnya.
"Oh i, i, iya yah pah.! D, D, Devano lupa.!" Kata Devano gugup dengan raut wajah ketakutan.
Melihat Devano ketakutan seperti itu, lagi-lagi pak Erik pun tersenyum sinis.
"Oh iya.! Habis Alana selesai di periksa, kamu ikut jenguk Raka yah.? Kasihan dia, kamu minta maaf baik-baik yah sama dia.?!" Kata pak Erik mencoba untuk menasehati Devano.
"I, i, iya pah.! Nanti Devano ikut jenguk Rak,,,,,," Seketika ucapan Devano itu terpotong, kerena tiba-tiba ia melihat Dinda mamahnya itu, keluar dari ruangan dokter Sinta.
"Gawat nih, mamah udah keluar lagi.? Kalau kayak gini caranya, sekarang gw harus siap-siap nih kena marah mamah sama papah." Kata Devano dalam hati semakin panik dan ketakutan.
"Itu mamah keluar kok sendirian, Alana nya kemana yah Dev.?" Kata pak Erik bingung melihat Dinda istrinya itu keluar hanya sediri dari ruangan dokter Sinta.
"E, e,ehhh tapi tunggu dulu deh.! Itu kenapa muka mamah kayak lagi marah gitu yaaah.?" Kata pak Erik lagi semakin bingung, sambil menatap kearah Dinda yang sedang berjalan semakin dekat ke arahnya.
"Sayaaang, kamu kenapa.? Kok kamu kayak marah gitu sih.?" Kata pak Erik panik, sambil menatap kearah Dinda yang sekarang ini sudah berdiri tepat di hadapannya dan juga Devano.
Mendengar kata-kata dari pak Erik, Dinda tidak menjawabnya, ia hanya terdiam dengan raut wajah yang sangat marah, sambil menatap sinis kearah Devano.
"Sayaaang, kamu ini kenapa sih sebenarnyaaa, hah.? Apa yang terjadi sama Alana.? Alana nya kenapa, Alana nya sakit apa.?" Kata pak Erik semakin panik dan penasaran, sambil menatap kearah Dinda.
"Lebih baik mas tanya langsung aja tuh sama anaknya.!" Kata Dinda ketus, sambil menunjuk kearah Devano.
"Kamu suruh mas nanya langsung sama anaknya,,,,, maksud kamu, Devano sayaaaang.? Kata pak Erik bingung sambil menatap kearah Devano.
"Iya.! Mas tanya langsung aja tuh sama anak mas.!" Kata Dinda sambil menatap sinis kearah Devano.
"Devano, ini semua ada apa.? Alana kenapa.?" Kata pak Erik dengan sangat tegas.
"D, D, Devano minta maaf banget yah pah, mah.? D, D, Devano bener-bener khilaf pah ngelakuin semua itu sama Alana.? Malam itu Devano benar-benar lagi mabuk parah, jadi Devano benar-benar enggak sadar, kalau malam itu Devano udah paksa Alana untuk nemenin Devano tidur, dan Devano juga enggak tau kalau keadaan itu nya Alana bisa sampai lecet-lecet kayak gitu, sampai Alana sakit seperti sekarang ini pah, mah.! Jadi Devano benar-benar minta maaf banget yah mah, pah.? Soalnya malam itu Devano benar-benar lagi enggak sadar.?" Kata Devano mencoba untuk menjelaskan, sambil menunduk dengan raut wajah yang sangat ketakutan.
"Ya ampun Devanooo, kamu ini kenapa tega banget sih sama Alana.?!!" Kata pak Erik tak habis pikir dengan kalakuan Devano putranya itu.
"Tau tuh mas.! Devano itu tega banget tau sama Alana.? Dinda aja tadi lihat luka Alana, sampai-sampai Dinda enggak bisa ngebayangin kaya gimana itu luka rasanya.? Soalnya lecet-lecet nya itu parah banget maaas.? Dinda yakin deh pasti itu rasanya perih banget." Kata Dinda serius, kalau luka Alana itu memang separah itu.
"Pokoknya mamah enggak mau yah.? Kamu ngelakuin kayak gitu lagi sama Alana sebelum luka Alana itu sembuh.! Soalnya tadi itu dokter Sinta juga udah nyaranin kayak gitu buat kamu.! Minimal dua minggu lah, nunggu sampai luka Alana itu sembuh, baru kamu boleh ngelakuin kayak gitu lagi sama Alana." Kata Dinda mencoba untuk menyampaikan pesan tersebut dari dokter Sinta kepada Devano putranya itu.
"I, i, iya mah.!" Kata Devano gugup dengan raut wajah yang sangat ketakutan.
Melihat raut wajah Devano seperti itu, pak Erik pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Deeev, lagian kamu ini apa-apaan sih.? Papah juga tau rasanya itu kayak gimana.? Karena papah ini juga sama laki-laki kayak kamu.! Tapi paling enggak, kamu ini jangan paksa Alana dooong, kalau memang Alana nya belum siap.? Kan kasihan Alana nya Dev.? Coba kamu bayangin.! Alana sampai sakit seperti sekarang ini.?" Kata pak Erik mencoba untuk menasehati Devano secara pelan, karena ia pun seorang lelaki, jadi ia sadar dan tau betul bagaimana rasakannya jika ia sedang menginginkan permainan diatas ranjang.
"I, i, iya pah.!" Kata Devano, lagi-lagi ia hanya bisa menjawab seperti itu.
Melihat tingkah laku Devano seperti itu, Dinda pun tersenyum.
"Beneran yah sayang yaaah.? Kamu enggak boleh kayak gitu lagi.?" Kata Dinda pelan, sambil mengusap-usap pundak Devano.
"Iya mah.! Devano janji, Devano enggak bakalan kayak gitu lagi." Kata Devano mencoba untuk meyakinkan Dinda mamahnya itu
Mendengar kata-kata dari Devano, pak Erik dan Dinda pun tersenyum.
"Nah gitu dong.! Kalau jadi laki-laki itu, jangan suka maksa-maksa perempuan, kalau perempuannya memang belum siap." Kata pak Erik sambil terus tersenyum, ia mencoba untuk mengajari Devano, namun sepertinya ia lupa kalau dulu ia juga seperti itu kepada Dinda, sampai-sampai ia marah dan memilih untuk tidur di ruang kerja karena Dinda menolak ajakannya itu.
"T, t, tadi mas ngomong apa.? Kalau jadi laki-laki, jangan maksa-maksa perempuan.? Bukannya dulu juga mas maksa-maksa Dinda untuk ngelayan,,,,,," Seketika ucapan Dinda itu terpotong.
"Sssstttt sayaaaang.!" Kata pak Erik pelan sambil melototkan matanya.
__ADS_1
Melihat tingkah laku kedua orangtuanya seperti itu, Devano pun tersenyum.
"Oohhhh jadi dulu waktu papah masih muda, papah juga suka maksa-maksa mamah.? Kayak Devano maksa-maksa Alana sekarang ini.?" Kata Devano sambil terus tersenyum, karena sekarang ini ia senang, akhirnya ia tau juga sisi buruk dari seorang pak Erik Ayahnya itu, yang menurutnya ia adalah seorang ayah yang sangat tegas dan sangat galak, yang jarang sekali melakukan kesalahan.
"Aduuuhhh kenapa malah jadi kayak gini.? Kalau kayak gini sih namanya senjata makan tuan.?" Kata pak Erik dalam hati panik, karena ketauan oleh Devano putranya, kalau ternyata ia dan Devano waktu masih muda tidak beda jauh sifatnya.
"Oooh e, e, enggak kok sayang.! Papah dulu enggak pernah maksa-maksa mamah.? Tadi itu mamah salah ngomong, iya kan mas.?" Kata Dinda gugup sambil menatap kearah pak Erik.
"I, i, iya.!" Kata pak Erik gugup dan singkat, karena ia tau betul kalau Devano putranya itu pasti tidak percaya dengan ucapan Dinda itu.
"Tapi tadi kok mamah ngomong, katanya dulu juga papah suka maksa-maksa mam,,,,,,," Seketika ucapan Devano itu terpotong.
"E, e, ehhhh Devano, Devano.! Alana udah keluar tuh, bantuin dia jalan.! Kasihan dia, jalannya kesusahan." Kata pak Erik sambil menatap kearah Alana yang memang baru saja keluar dari ruangan dokter Sinta.
"Oh iya.! Itu Alana udah keluar sayang.?" Kata Dinda sambil tersenyum menatap kearah Alana.
"Ya udah yah pah, mah.! Kalau gitu Devano mau nyamperin Alana dulu.?" Kata Devano sambil buru-buru melangkah menghampiri Alana, dan meninggalkan pak Erik juga Dinda yang masih berdiri itu hanya berdua.
"Aduuuuuuh.! Selamaaat, selamaaat.! Untung Alana keluar dari ruangan dokter Sinta nya pas banget.? Jadinya kan Devano enggak ngelanjutin pertanyaannya tadi." Kata pak Erik dalam hati lega, sambil tersenyum.
"Hemmmm.! Dasar anak kemarin sore, kalau papahnya dulu enggak maksa-maksa mamahnya, mana mungkin sekarang kamu bisa ada disini.?" Kata pak Erik lagi dalam hati, sambil terus tersenyum mengingat pertanyaan konyol dari Devano putranya itu.
"Maaas, mas kenapaaa.? Kok dari tadi mas senyum-senyum sendiri sih.?" Kata Dinda bingung melihat tingkah laku pak Erik suaminya seperti itu.
"Eh iya kenapa.? E, e, enggaaak, mas enggak kenapa-napaaaa." Kata pak Erik gugup karena ia sedang berbohong.
"Oooohhh, kirain Dinda mas kenapa-nap,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.
"Mah, pah.! Sekarang mamah sama papah langsung ke ruangan Raka aja yah.? Entar Devano sama Alana nyusul, soalnya Alana mau beli buah dulu buat jenguk Raka, enggak enak katanya kalau jenguk enggak bawa apa-apa.?" Kata Devano yang sekarang ini sudah berdiri di hadapan pak Erik dan juga Dinda orangtuanya itu.
"Iya, pah, mah.! Enggak papa kan.?" Sambung Alana yang juga sedang berdiri dihadapan mereka.
"Ya udah enggak papa.! Tapi kamu jalannya hati-hati yah sayaaang.?" Kata Dinda penuh perhatian, sambil mengusap-usap rambut Alana.
"Iya mah.!" Kata Alana sambil tersenyum.
"Ya udah ayo sayang.!" Kata Devano sambil merangkul pundak Alana, kemudian mereka berdua pun melangkah keluar dari rumah sakit, dan meninggalkan pak Erik juga Dinda yang masih berdiri itu.
"Seneng yah mas, ngelihat Devano sekarang udah sayang sama Alana.?" Kata Dinda sambil tersenyum menatap kearah Devano dan juga Alana, yang masih tampak olehnya.
"Seneng sih seneng sayang.? Tapi kamu harus siap-siap loh.! Sebentar lagi mau jadi Oma, OMA DINDA." Kata pak Erik sambil tersenyum menggoda Dinda.
"Ya ampun maaas, enggak kerasa yah.? Berarti sekarang ini kita udah tua bangeeet.?" Kata Dinda tak percaya dengan keadaan umurnya sekarang ini.
"Kamu kali sayang yang udah tua.! Mas mah masih muda." Kata pak Erik sambil terus tersenyum menggodanya.
"Enak aja.! Yang ada juga mas kali yang udah tua.? Kan mas sama Dinda umurnya beda jauh, iya kan.?" Kata Dinda tak mau kalah.
"Iya, iyaaaa." Kata pak Erik pelan sambil tersenyum.
"Ya udah ayo.! Sekarang kita jenguk Raka.?" Kata pak Erik sambil merangkul pundak Dinda, kemudian mereka berdua pun langsung melangkah menuju ruang rawat Raka.
Setengah jam kemudian,,,,,,,,
DI TOKO BUAH, DI PINGGIR JALAN.
Terlihat Devano dan Alana yang baru saja turun dari mobilnya.
"Sayang, ini kita serius beli buah di tempat kayak gini.?" Kata Devano heran, sambil menatap kearah toko buah yang berada tepat di pinggir jalan di samping mobilnya.
"Iya maaas, seriuuuus.?" Kata Alana mencoba untuk meyakinkan Devano.
"Ayo mas.! Kita beli sekarang.?" Kata Alana lagi, sambil menggandeng tangan Devano.
"T, t, tapi sayang.! Kan makanan di pinggir jalan itu kotor sayaaang.?" Kata Devano panik, karena sebelumnya ia memang tidak pernah membeli makanan apapun di pinggiran jalan seperti sekarang ini.
"Maaas, mas itu lebay banget sih.? Enggak semua makanan di pinggir jalan itu kotor maaas.? Lagian buah-buahan disini itu seger-seger mas, Alana udah bisa kok beli buah di sini.? Toko buah disini itu udah langganan keluarga Alana dari dulu maaas.? Keluarga Alana biasa beli buah itu disini." Kata Alana serius, ia mencoba untuk memberi tahu Devano.
"O, o, ohhh gitu sayang.?" Kata Devano gugup, sepertinya ia masih ragu dengan ucapan Alana itu.
"Iya maaas,,, ya udah ayo.! Kita beli buah sekarang.?" Kata Alana sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung menggandeng tangan Devano kembali dan mengajaknya untuk melangkah menuju toko buah tersebut, namun sayang, belum sempat mereka melangkah, tiba-tiba langkahnya sudah terhenti.
"Kak Devanooo.?" Kata seorang perempuan yang baru saja turun dari taksi, yang sekarang ini sedang berdiri tepat dibelakang Devano dan juga Alana.
Mendengar seorang perempuan tersebut memanggil namanya, seketika Devano dan Alana pun langsung menengok kebelakang tepat kearahnya.
"Laraaaas.?" Kata Devano kaget sambil menatap kearah Laras, ia laras,,, karena ternyata sekarang ini Laras pun berniat akan membeli buah di tempat tersebut.
"Iya kak Devano, ini Laraaas.? Ya ampun kak Devanooo, enggak nyangka yah sekarang ini kita bisa ketemu disini.? Tadinya Laras itu mau main ke rumah kak Devano tau kak.! Laras mau nanya kenapa akhir-akhir ini kak Devano itu susah banget di hubungi.?" Kata Laras sambil tersenyum senang karena akhirnya ia bisa bertemu dengan Devano pujaan hatinya itu, ia berbicara seperti itu, karena memang benar akhir-akhir ini Devano itu memang susah sekali untuk di hubungi.
"Oh iya kak Devano, maafin Laras yah kaaak.? Waktu di acara pesta ulang tahun teman kakak kemarin, Laras enggak bisa antarin kakak pulang.? Soalnya malam itu tiba-tiba mamah Laras telepon Laras kak.? Mamah Laras suruh Laras cepat-cepat pulang.! Maaf banget yah kaaak.?" Kata Laras berbohong sambil memegang-megang tangan Devano, karena sepertinya sekarang ini ia belum tau kalau ternyata Devano itu sudah mengetahui siapa dirinya itu sebenarnya.
"Oh gituuuu.? Waktu itu, mamah kamu telepon kamu nyuruh kamu cepat-cepat pulaaaaang.?" Kata Devano pelan sambil tersenyum, ia mencoba untuk melayani akting Laras.
"M, m, mas Devanooo.?" Kata Alana gugup dan bingung melihat Devano berbicara selembut itu kepada Laras, karena sepertinya sekarang ini ia tidak tau kalau Devano suaminya itu sedang Akting.
Melihat Alana gugup dan bingung seperti itu, Devano pura-pura tidak perduli.
"Heh Alana.! Kamu ngapain gandeng-gandeng tangan kak Devano.? Kak Devano itu kan pacar kak Laras.?" Kata Laras nyolot, kemudian ia pun langsung buru-buru menyingkirkan tangan Alana itu dari tangan Devano.
"Aw.! Sakit kak Laraaas.?" Kata Alana mereunyi kesakitan, karena Laras menyingkirkan tangannya itu dengan sangat kasar.
"Sial.!! Berani banget Laras berbuat sekasar itu sama Alana.? Gw benar-benar enggak nyangka.? Kenapa dari kemarin-kemarin gw bisa percaya sih sama perempuan ular kayak dia.?" Kata Devano dalam hati, kaget dan kesal, melihat Laras sekasar itu kepada Alana.
"Sini kak.! Jangan deket-deket sama Alana.? Nanti kakak kemakan lagi sama omongan Alana." Kata Laras sambil menarik tangan Devano dan mengajaknya untuk lebih dekat dengannya.
"Kak Laras.! Maksud kak Laras itu apa sih ngomong kayak gitu di depan mas Devano.? Kak Laras sengaja, mau jelek-jelekin Alana di depan mas Devano.?" Kata Alana mencoba untuk berani melawan Laras, karena sepertinya sekarang ini ia mau memperjuangkan Devano, setelah ia tau kalau ternyata Devano itu adalah kakak-kakak yang dulu pernah menolongnya.
"Apa.?!! Gw enggak salah dengar kan.? Tadi Alana berani bentak-bentak gw.?" Kata Laras dalam hati kaget dan tak percaya, melihat Alana yang sudah semakin berani kepada dirinya.
"Kak Devano, kak Devanooo.? Lihat tuh.! Sekarang ini Alana udah mulai berani bentak-bentak Laras kaaak.?" Kata Laras sambil merengek, ia mencoba untuk mengadu kepada Devano.
"Alana.! Kamu tadi ngapain bentak-bentak Laras kayak gitu.?" Kata Devano dengan suara tinggi sambil memasang wajah marah, agar Laras tidak curiga dengan aktingnya itu.
"Mas Devano.! Mas Devano itu kenapa sih.? Alana itu enggak ngerti tau enggak sama mas.? Sebenarnya mas Devano itu maunya apa sih.? Mas Devano itu plin-plan tau enggak sih jadi orang.?" Kata Alana dengan suara tinggi dengan raut wajah yang sangat marah, karena sekarang ini ia sangat kecewa, karena lagi-lagi ia merasa dibohongi oleh Devano.
Melihat Alana marah seperti itu, Devano pun terdiam.
"Maafin mas yah sayang.? Mas terpaksa harus pura-pura marah dulu sama kamu.?" Kata Devano dalam hati sedih, sambil menatap kearah Alana.
"Tuh kan kak Devano.! Sama kak Devano juga sekarang Alana udah mulai berani.? Lagian kak Devano itu habis ngapain sih.? Kak Devano itu dari mana.? Kenapa sekarang ini kak Devano bisa sama Alana.? Kak Devano enggak ada hubungan apa-apa kan sama Alana.?" Kata Laras ketakutan, kalau sampai Devano dan Alana itu mempunyai hubungan yang serius.
Mendengar kata-kata dari Laras, Alana hanya terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, ia tidak mau melawan Laras lagi, karena melawan pun percuma, Devano suaminya itu tidak akan berpihak kepadanya.
"Heeemmm.! Sukurin kamu Alana.? Sampai kapanpun kak Devano pasti akan lebih pilih gw dibandingkan loh.?" Kata Laras dalam hati, sambil tersenyum sinis menatap kearah Alana.
"Sabar Laras, sabar.! Biar kakak jelasin dulu.!" Kata Devano mencoba untuk menenangkan Laras, kemudian ia pun langsung mencoba untuk menjelaskan kepadanya.
"Kenapa sekarang kakak bisa sama Alanaaa.? Itu karena kakak baru aja antar Alana ke rumah sakit, soalnya sekarang ini,, Alana lagi sakit." Kata Devano pelan.
"Apa.?!!! Kakak habis antar Alana ke rumah sakit.? Dan sekarang ini kakak seperhatian itu sama Alana.?" Kata Laras kaget dan tak percaya, dengan raut wajah yang sangat marah.
"Iya Ras, kakak habis antar Alana ke rumah sakit.? Dan sepertinya sekarang ini, kakak juga harus antar seseorang lagi ke rumah sakit.?" Kata Devano serius, namun entah siapa orang yang akan ia bawa ke rumah sakit itu.
"Apa kak.? Sekarang kakak harus Antar orang ke rumah sakit lagi.? Emang siapa kak orangnya.?" Kata Laras bingung dan penasaran mendengar ucapan dari Devano itu.
"Kamu Ras.! Iya,,, kamu orangnya.!" Kata Devano sambil tersenyum menatap kearah Laras.
"Mas Devano itu kenapa sih.! Perhatian banget sama kak Laras.? Pakai acara mau bawa-bawa kak Laras ke dokter lagi.! Orang kak Laras enggak kenapa-napa juga.!" Kata Alana dalam hati kesal, karena sekarang ini ia cemburu.
"Kak Devano mau bawa Laras ke rumah sakit..? Kan sekarang ini Laras enggak lagi sakit kaaak.?" Kata Laras semakin bingung, dengan semua ucapan Devano itu.
Mendengar ucapan dari Laras, Devano pun langsung tersenyum sinis.
"Hemmm.! Iya,,,, loh memang enggak lagi sakit.? Tapi sekarang ini, otak loh yang lagi sakit.! Dan gw rasa, sekarang ini gw memang bener-bener harus bawa loh ke rumah sakit.! iya,, rumah sakit.? RUMAH SAKIT JIWA.! Supaya loh itu sadar, dan enggak ngehalu lagi untuk bisa dapatin gw.!" Kata Devano dengan suara pelan tapi menyakinkan tepat di hadapan Laras, karena sepertinya sekarang ini ia sudah mengakhiri aktingnya itu.
"M, m, mas Devanooo.?" Kata Alana gugup sambil tersenyum menatap kearah Devano, karena sekarang ini ia baru sadar, kalau dari tadi ternyata Devano itu sedang akting.
Melihat Alana tersenyum seperti itu, Devano pun ikut tersenyum.
"Iya," Kata Devano pelan, sambil menganggukkan kepalanya.
"M, m, maksud kak Devano apa.? K, k, kok tiba-tiba kak Devano ngomong sekasar itu sih sama Laras.?" Kata Laras gugup dan bingung, karena sepertinya sampai sekarang ini pun ia masih belum sadar, kalau ternyata Devano itu sudah tau yang sebenarnya.
"Apa jangan-jangan.! Sekarang ini kak Devano udah bener-bener kemakan yah sama omongan Alana.? Kamu udah pengaruhi kak Devano apa Alana, hah.!!!" Kata Laras dengan suara tinggi sambil mendorong tubuh Alana dengan sangat kuat.
"Aw.! Sakit Kaka Laras.?" Kata Alana mereunyi kesakitan.
"Makanya kamu jawab jujur enggak..! Kamu udah pengaruhi kak Devano apa, hah.?!!! Kamu udah pengaruhi kak Devano ap,,,,,,,,," Seketika teriakan Laras itu terpotong.
"CUKUP.! Gw enggak mau yah, denger loh bentak-bentak Alana lagi di depan gw.?!!" Kata Devano dengan suara tinggi dengan raut wajah yang sangat marah.
"Maaaas.?" Kata Alana panik, melihat Devano marah seperti itu.
"Kak Devano.! Kak Devano itu kenapa sih sebenarnya.? Ini itu aku kak, LARAS.!!! Cinta sejati kak Devano dari kak Devano kecil.? Emang kak Devano lupa sama kenangan kita dul,,,,,,,,," Seketika ucapan Laras itu terpotong.
"Gw bilang cukup.! CUKUUUP..!!!! Jangan pernah loh berbicara tentang kebohongan itu lagi di depan gw.! Karena apa.? Karena sekarang ini, gw udah tau loh itu sebenarnya siapa.?" Kata Devano dengan suara yang lebih tinggi lagi, dengan raut wajah yang semakin marah, kemudian ia pun langsung melangkah mendekat kembali ke arah Alana.
"Gadis kecil pemilik liontin itu, bukan loh.!!! Tapi gadis kecil itu,,, Alana.! Iya kan, hah.?!!!" Kata Devano dengan suara yang sangat tinggi, ia mencoba untuk memberi tahu Laras kalau sekarang ini ia sudah tau semuanya.
"Apa.?!!! J, j, jadi sekarang ini,,, kak Devano udah tau semuanya.? Kalau ternyata, gadis kecil itu adalah Alana.?" Kata Laras dalam hati, panik dan ketakutan.
########
Jangan lupa like, coment dan vote.!!!
Maaf baru bisa Up, sebenarnya Author udah Up dari semalam, cuma baru lulus review sekarang 🙏🙏🙏
__ADS_1