DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 72


__ADS_3

DI RUMAH DIKI.


Waktu menunjukkan pukul 07:00 Pagi.


Terlihat Diki yang baru saja pulang dari semalaman dan masuk ke dalam kamarnya.


"Abang dari mana aja pagi-pagi kayak gini baru pulang.?" Ucap Anita ketus, karena ia bener-bener sudah kesel sudah menunggunya dari semalaman.


"Abang abis nginep di rumah Siska." Ucap Diki lagi-lagi cuek tanpa menoleh kearahnya sedikit pun, kemudian ia pun langsung sibuk mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja, ia berbicara seperti itu, karena tanpa sepengetahuan dari kita, semalam sehabis pulang dari rumah Devano, ia langsung pulang dan menginap di rumahnya yang dulu, rumah kecil dan sederhana peninggalan dari kedua orangtuanya yang sekarang ini hanya ditinggali oleh kedua adiknya yaitu Siska dan Dimas, karena sejak menikah dengan Anita, ternyata ia langsung membeli rumah baru dan langsung pindah ke rumah baru tersebut.


"Bang, Abang itu bisa enggak sih.? Kalau Anita lagi ngomong, mata Abang itu lihat ke Anita.!" Ucap Anita kesel sambil mengangkatkan wajahnya dan menghadapkannya tepat ke arahnya.


"Bang, ini itu Anita loh bang, ini itu Anita.! Anita yang dulu selalu Abang kejar-kejar karena saking cintanya Abang ke Anita.! Abang itu masih inget enggak sih bang.?" Ucap Anita tepat didepan wajahnya, agar Diki suaminya itu ingat dan sadar kalau dulu ia itu memang sesayang dan secinta itu kepadanya.


"Sekarang Abang udah lihat kan.? Ini tuh Anita bang, ini itu Anita.! Anita yang dulu selalu Abang kejar-kejar, Abang sayang-sayang, Abang manja-manja.! Abang inget kan bang sekarang.?" Ucapnya lagi dengan mata yang berkaca-kaca karena ia benar-benar sudah tidak tau lagi harus bagaimana untuk menyadarkan perasaannya itu kembali, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan erat.


"Bang, Anita mohon bang.! Anita mohon banget sama Abang.! Abang jangan berubah kayak gini sama Anita.! Anita enggak sanggup bang, Anita bener-bener enggak sanggup kalau harus terus-terusan Abang cuekin kayak gini.!" Ucapnya lagi memohon sambil terus memeluknya dengan erat.


"Nit, Nit, Sorry Nit, Sorry.! Sekarang udah siang Nit, Abang harus cepet-cepet berangkat ke kantor sekarang.!" Ucap Diki sambil melepaskan pelukannya itu dari tubuhnya.


"Enggak, enggak mau.! Anita enggak mau lepasin pelukan ini.! Enggak, Anita enggak mau." Ucap Anita malah justru semakin erat memeluknya.


"Anita please Anita, kamu jangan kayak gini.! Kamu jangan kayak anak kecil.! Sekarang ini udah siang, Abang ini bener-bener harus berangkat ke kantor sekarang.!" Ucap Diki lagi sambil terus melepaskan pelukannya itu dari tubuhnya, hingga akhirnya pelukannya itu pun berhasil ia lepaskan.


"Bang, Abang itu sebenarnya kenapa sih bang jadi berubah kayak gini sama Anita.? Emang Anita ini salah apa sih bang sebenarnya sama Abang.? Anita ini istri Abang loh bang.?" Ucap Anita marah karena pelukannya itu dilepaskan begitu saja olehnya.


"Anita, Abang mohon banget yah sama kamu.! Stop.! Stop nanya-nanya sesuatu yang Abang juga enggak tau apa itu jawabannya." Ucap Diki yang sudah mulai terpancing emosinya, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah keluar dari kamarnya.


"Tapi kenapa bang.? Kenapa.? Kenapa Abang sendiri enggak tau apa itu jawabannya bisa berubah kayak gini sama Anita.? Kenapa bang.?" Teriak Anita dengan raut wajah yang penuh dengan emosi, namun sayang mendengar Anita teriak seemosi itu, lagi-lagi Diki tidak perduli dan tidak menghiraukannya, ia pun malah justru melangkah keluar dari rumahnya dan langsung masuk ke dalam mobilnya, kemudian ia pun langsung mengendarai mobilnya itu dengan sangat kencang.


"Sial.! Kenapa Anita terus-terusan ngajakin gw ribut sih.?" Ucapnya dengan raut wajah yang sangat pusing, sambil terus mengendarai mobilnya, kemudian ia pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Ya Tuhaaaan, gw harus gimana sekarang.? Apa lebih baik gw pisah aja sama dia.! Agar gw ini enggak terus-terusan nyakitin dia kayak gini.?" Ucapnya lagi bingung.


"Tapi semua itu juga enggak mungkin.! Karena gw sangat yakin, Anita pasti akan nolak pisah sama gw seperti yang sudah-sudah." Ucapnya lagi semakin pusing dan bingung, ia berbicara seperti itu karena ternyata ia sudah berkali-kali mencoba untuk menggugatnya cerai, akan tetapi Anita istrinya itu selalu menolak dan menolak, bahkan ia pun sampai mengancamnya akan bunuh diri kalau sampai ia menceraikannya.


"Tapi kalau gw enggak pisah sama dia, mau sampai kapan gw kayak gini ter,,,,,,,," Seketika ucapnya itu terpotong, karena tiba-tiba ia melihat seorang anak kecil yang sedang menangis sambil berlari-lari di pinggir jalan yang sedang ia lewati.


"Hiks,, hiks,, tungguin Laura, hiks,, hiks,, jangan terbang.!" Teriak anak kecil tersebut sambil terus berlari dan menangis.


"Anak kecil itu kenapa yah.? Kok sampai nangis-nangis kayak gitu.! Emang orang tuanya kemana sih.?" Ucapnya lagi penasaran, sambil buru-buru menghentikan mobilnya tepat di pinggiran jalan tersebut.


"Gw coba turun deh, tolongin itu anak.! Kasihan juga gw lihatnya." Ucapnya lagi tak tega, sambil buru-buru turun dari dalam mobilnya itu, kemudian ia pun langsung buru-buru lari mengejar anak kecil tersebut yang sekarang ini masih terus menangis.


"Hiks,,, hiks,, jangan terbang.! Hiks,, hiks,, tungguin Lau,,,," Seketika teriakan Anak kecil tersebut pun terpotong.


"De, tunggu.!" Teriak Diki.



Kemudian ia pun langsung buru-buru berlari lagi menghampirinya.


"De, Ade kenapa, kok nangis.?" Ucap Diki yang sudah sampai dan berdiri tepat dihadapannya.


"Hiks,, hiks,, itu Om.! Hiks,, hiks,, balon Laura terbang.! Hiks,, hiks,, Laura mau ambilnya hiks,, hiks,, enggak bisa." Ucap anak kecil tersebut sambil menatap kearah balonnya yang sudah terbang entah kemana, ia menyebutkan namanya Laura, karena anak kecil tersebut memang bernama Laura. Anak perempuan yang sangat cantik, pintar, imut, lucu dan menggemaskan.



Dengan polosnya ia menjawabnya seperti itu, sehingga membuat Diki pun langsung tersenyum karena lucu mendengarnya, karena ternyata masalah anak kecil yang bisa membuatnya menangis itu tidak lah seruwet masalah orang dewasa, contohnya seperti yang sedang ia alami sekarang ini.


"Hiks,, hiks,, kok Om malah senyum-senyum.?" Ucap Laura bingung sambil terus menangis.


"Oh e, e, enggak, Om enggak papa.!" Ucap Diki gugup karena ia sedang berbohong.

__ADS_1


"Oh iya De, jadi adek nangis sampai lari-lari kayak gini.! Karena ade lagi ngejar-ngejar balon Ade yang terbang.?" Ucap Diki.


"Hiks,, hiks,, ia Om, hiks,, hiks,, tapi Laura enggak bisa ambil." Ucap Laura sambil terus menangis dengan raut wajah yang sangat sedih, sehingga membuat Diki pun semakin kasihan dan tak tega melihatnya.


"Ya udah, ya udah.! Ade jangan nangis lagi yaaah.? Lebih baik sekarang kita beli balon lagi yuk disitu.! Tuh masih banyak balonnya.!" Ucapnya dengan penuh perhatiannya, sambil menunjuk ke arah tukang balon yang sedang jualan di pinggiran jalan tersebut.


"O, o, om beneran Om.! Om mau beliin Laura balon.?" Ucap Laura gugup karena saking senangnya.


"Iyaaaa." Ucap Diki sambil tersenyum.


"Ya udah ayo biar Om gendong.! Biar kita nyampenya cepet ke tukang balonnya." Ucapnya lagi.


"Ok Om.!" Ucap Laura sambil tersenyum dengan penuh semangat, kemudian ia pun langsung buru-buru mengulurkan kedua tangannya kepada Diki.


"Upppp.!" Ucap Diki yang sekarang ini sudah menggendongnya, namun baru saja ia menggendongnya tiba-tiba ia pun langsung terdiam, jantungnya pun seketika langsung terasa bergetar.


"Kenapa pas gw gendong anak kecil ini.! Jantung gw terasa bergetar kayak gini yah.? Dan gw juga ngrasa, kalau anak kecil ini seperti enggak asing buat gw meskipun gw ini baru ketemu sama anak kecil ini baru sekali." Ucapnya dalam hati bingung, sebenarnya apa yang sedang terjadi kepada dirinya sekarang ini.


"Om, om kenapa.? Kok dari tadi Om diem aja.?" Ucap Laura yang sekarang ini sudah berada di gendongannya.


"Oh e, e, enggak, Om enggak papa.!" Ucap Diki lagi-lagi gugup.


"Ya udah ayo kita kesana.!" Ucapnya lagi sambil menunjuk ke arah tukang balon tersebut, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah sambil terus menggendongnya, namun selama berada di gendongannya, Laura itu tidak bisa diem, dengan bawelnya ia pun terus dan terus mengajaknya ngobrol.


"Om, Om.! Om baik deh..! Ganteng lagi. Boleh enggak kalau mulai sekarang, Laura panggil Om itu, Om ganteng.?" Ucap Laura yang masih berada di gendongannya, sambil terus memandangi wajah tampannya, dengan polosnya ia berbicara seperti itu, sehingga membuat Diki pun lagi-lagi tersenyum karena lucu mendengarnya.


"Om, kok Om dari tadi senyum-senyum mulu.? Boleh enggak kalau Laura panggil Om itu, Om ganteng.?" Ucap Laura mencoba untuk meminta izin lagi kepadanya.


"Oh enggaaak, Om enggak papa.! Om cuma lucu aja dengernya. Ya udah kalau Laura mau panggil kayak gitu sama Om, Om enggak papa kok.!" Ucap Diki sambil terus tersenyum.


"Oh iya.! Tapi ngomong-ngomong, emang Om ini ganteng yah.?" Ucapnya lagi merasa tak percaya diri.


"Iya, Om ini ganteeeeng banget.! Baik lagi." Ucap Laura sambil tersenyum, namun dengan secara tiba-tiba ia pun langsung terdiam sambil cemberut.


"Udah pulang, emang papah Laura kemana.?" Ucapnya.


"Laura juga enggak tau Om, soalnya Laura juga belum pernah ketemu sama papah Laura.! Tapi kata mommy, papah Laura itu lagi kerja, lagi cari uang buat Laura sekolah. Tapi kok kalau papah Laura lagi kerja, kok papah Laura enggak pulang-pulang sih sampai sekarang.?" Ucapnya lagi semakin sedih, sehingga membuat Diki pun semakin kasihan dan tak tega melihatnya.


"Ya udah, ya udah.! Laura jangan sedih lagi yaaaaah.?" Ucapannya dengan penuh perhatiannya sambil mengusap-usap rambutnya.


"Tuh, tukang balonnya udah deket.! Kita beli yuk sekarang." Ucapnya lagi sambil tersenyum dan menunjuk ke arah tukang balon tersebut yang sekarang ini sudah berada tepat di hadapannya.


"Om, Om, Laura mau turun Om.! Laura mau pilih balon sendiri aja." Ucap Laura meminta buru-buru turun dari gendongannya dengan sangat tergesa-gesa karena saking senang dan tak sabarnya.


"Ya udah iya, iya.! Laura Om turunin yaaaah sekarang.!" Ucap Diki sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung buru-buru menurunkannya dari gendongannya itu.


"Horeeee.! Laura beli balon, horeeee.!" Teriaknya sambil tersenyum kegirangan karena saking senangnya, sehingga membuat Diki pun lagi-lagi tersenyum melihatnya.


"Ternyata bikin bahagia anak kecil itu gampang yah.? Tinggal dikasih balon aja, langsung bahagia kayak gitu.!" Ucapnya dalam hati, sambil terus tersenyum dan terus menatap kearahnya yang sekarang ini sedang sibuk memilih-milih balon kesukaannya itu.


"Sekarang Laura mau beli balon yang mana yah.? Balon yang ini lucu.! Tapi yang ini juga bagus.! Kalau yang ini, Laura juga suka. Eeemmm Luara pilih yang mana yah.?" Ucapnya bingung karena balon yang ia sukai itu terlalu banyak.


"Lihat Laura sebahagia ini.! Gw jadi inget sama anak gw.! Kira-kira anak gw sekarang ini dimana yah.? Dan kira-kira juga, anak gw itu bahagia apa enggak yah sekarang.?" Ucapnya lagi dalam hati sedih, karena memikirkan bagaimana nasib anaknya sekarang ini, kemudian ia pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar, sambil melihat jam yang ada di tangannya.


"Aduuuh.! Enggak terasa udah sing juga nih.!" Ucapnya.


"Laura, udah belum pilih balonnya.?" Ucapnya lagi, ia bertanya seperti itu karena sekarang ini ia harus buru-buru berangkat ke kantor.


"Belum Om, soalnya semuanya bagus.! Jadinya Laura bingung deh.!" Ucap Laura masih kebingungan.


"Ya udah, Laura beli aja semua balon yang Laura suka.!" Ucap Diki serius, sehingga membuat Laura pun kaget dan tak percaya.


"A, a, apa.! Om serius.? Laura boleh beli semua balon yang Laura suka.?" Ucap Laura gugup karena saking senangnya.

__ADS_1


"Iyaaa, boleh." Ucap Diki mencoba untuk meyakinkannya lagi sambil tersenyum, hingga akhirnya Laura pun langsung membeli semua balon-balon kesukaannya itu.


"Asyiiik.! Laura punya balon banyak, Asyiiiiik.!" Ucap Laura sambil tersenyum kegirangan memandangi balon-balon kesukaannya itu yang sudah Diki, Om gantengnya itu belikan untuknya.


"Oh iya Laura, rumah kamu dimana.? Ayo sekarang pulang, biar Om anter.!" Ucap Diki serius mau mengantarkannya pulang.


"R, r, rumah Laura.? R, r, rumah Laura dimana yah.? Sekarang Laura ada dimana.?" Ucap Laura gugup dan bingung dengan raut wajah yang sangat ketakutan, karena sepertinya sekarang ini ia sedang tersesat karena tadi itu ia mengejar-ngejar balonnya itu yang terbang entah kemana dari rumahnya dan tak terasa sampai dipinggiran jalan tersebut. Kemudian ia pun langsung menangis.


"Hiks,, hiks,, mommyyyyy, hiks,, hiks,, sekarang Laura dimana.? Hiks,, hiks,, Laura takuuuut.? Hiks,, hiks,, Laura takut enggak bisa ketemu mommy lagiiiii." Ucapnya sambil menangis histeris, sehingga membuat Diki pun sedikit panik, karena melihatnya menangis seperti itu dipinggiran jalan.


"Sssttttt, udah, udah, Laura jangan nangis yaaah.? A, a, ayo sekarang biar Om anter.! K, k, kita cari rumah Laura bareng-bareng.!" Ucap Diki gugup, karena ia tidak tau bagaimana caranya untuk membuatnya berhenti menangis.


"Hiks,,, hiks,, tapi Laura enggak tau hiks,, hiks,, rumah Laura diman,,,,,," Seketika ucapan Laura itu pun terpotong.


"Ya ampun non Lauraaaa, non Laura ini dari mana aja.? Dari tadi kita semua itu panik nyari-nyari non Laura.!" Ucap babby sitter Laura yang sedang berdiri tepat dihadapan mereka berdua, dengan raut wajahnya yang sangat panik karena ia sudah dari tadi mencari-carinya.


"Hiks,, hiks,, Mba Atuuuun.!" Ucap Laura kaget sambil menatap kearahnya, kemudian ia pun langsung buru-buru memeluknya dengan erat karena saking leganya.


"Ya ampun pak, makasi yah pak.! Bapak udah mau nolongin Laura.! Makasih yah pak.!" Ucap Antun benar-benar merasa berterima kasih kepada Diki yang sekarang ini masih berdiri dihadapannya itu.


"Iya enggak papa." Ucap Diki sambil tersenyum.


"Lain kali Laura ini enggak boleh kayak gini lagi yah.? Luara ini kan masih baru tinggal disin,,,," Seketika ucapan Atun terpotong, karena tiba-tiba Laura melihat mobil mommy nya yang sedang berhenti tepat dipersimpanngan jalan tersebut.


"Mba Atun, Mba Atun.! Itu mobil mommy.! Ayo Mba Atun, kita cepet-cepet ke sana.!" Ucapnya dengan sangat tergesa-gesa karena saking senangnya akhirnya ia tidak jadi tersesat dan bisa bertemu lagi dengan mommy tersayangnya itu.


"Om ganteng, Om ganteng.! Ayo Om ganteng sekarang ikut Laura.! Biar Om ganteng Laura kenalin sama mommy Laura.!" Ucapnya lagi masih tergesa-gesa sambil menarik-narik tangannya untuk ikut dengannya karena ia sudah tidak sabar ingin cepat-cepat mengenalkannya dengan mommy nya itu.


"S, s, sorry Laura.! Kayaknya Om enggak bisa deh.! Soalnya sekarang ini Om harus cepat-cepat berangkat ke kantor.! Soalnya dari tadi bos Om itu udah teleponin Om terus." Ucap Diki serius, karena ternyata dari tadi pak Erik sudah berkali-kali meneleponnya.


"Yaaaah, kok Om ganteng gitu siiiih.? Om ganteng jahat sama Laura.!" Ucap Laura ngambek sambil cemberut.


"Non Laura, non Laura enggak boleh kayak gitu.! Kan Om gantengnya sekarang mau kerja dulu, nanti Om gantengnya dimarahin loh sama bos nya Om ganteng di kantor, karena telat masuk kerjanya gara-gara nganterin non Laura.! Emang non Laura mau.?" Ucap Atun mencoba untuk menasehatinya seperti itu.


"Tapi kan Laura pengin kenalin Om ganteng sama mommy Lau,,,,,," Seketika ucapan Laura itu pun terpotong, karena tiba-tiba Diki langsung jongkok tepat dihadapannya.


"Laura sayaaaang, bener apa kata Mba Atun.! Om ini harus ke kantor sekarang.! Nanti kalau Om ini sampai dipecat sama bos Om, gimana.?" Ucapnya mencoba ikut menasehatinya seperti itu.


"Om janji deh sama Laura.! Kapan-kapan kalau kita ketemu lagi, Om janji.! Om bakalan kenalan sama mommy Laura.! Yaaaah.?" Ucapnya lagi dalam sangat pelan, sambil mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Tapi beneran yah, Om janji.! Om enggak boleh bohong sama Laura.!" Ucap Laura masih cemberut.


"Iyaaaa." Ucap Diki sambil tersenyum.


"Ya udah, kalau gitu sekarang Laura senyum dong.! Jangan cemberut terus kayak gini.! Nanti cantiknya ilang loh.!" Ucapnya lagi mencoba untuk merayunya, hingga akhirnya Laura pun tersenyum.


"Naaaah gitu dooong.! Kalau gitu kan Laura cantik." Ucap Diki.


"Ya udah yah pak.! Saya sama non Laura pergi dulu." Ucap Atun dengan sopan, kemudian ia pun langsung mengandeng tangan Laura dan langsung melangkah menuju mobil mommy Laura yang sekarang ini masih berhenti tepat dipersimpanngan jalan tersebut.


"Dadah Om ganteeeeng." Teriak Laura sambil tersenyum menatap ke arahnya.


"Dadah Lauraaaa." Teriak Diki sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung terdiam.


"Kenapa hati gw ini terasa berat banget yah pisah sama Laura.?" Ucapnya lagi bingung, dengan raut wajah yang sangat sedih, sambil terus menatap kearahnya yang sekarang ini sudah sampai di tempat tersebut.


"Ya ampun Lauraaaa.! Kamu ini dari mana aja.? Dari tadi itu mommy panik banget tau nyari-nyari kamu.! Sekarang ini kamu enggak papa kan.? Kamu baik-baik aja kan.? Enggak ada sesuatu hal buruk yang terjadi sama kamu kan.?" Ucap seorang perempuan dari balik mobil tersebut yang pastinya adalah mommy Laura, dengan suara tergesa-gesa karena saking paniknya sambil menangis, akan tetap Diki tidak melihatnya karena kehalangan oleh mobil tersebut.


"Hemmmm.! Ternyata mommy Laura baik juga, syukur deh kalau gitu." Ucap Diki sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung buru-buru masuk lagi kedalam mobilnya dan langsung mengendarainya dengan kecepatan yang sangat tinggi menuju kantornya.


#######


Maaf yah kalau cerita ini jelek, muter-muter dan sangat membosankan.! 🙏

__ADS_1


__ADS_2