DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 66


__ADS_3

"I, i, ini beneran loh Dev.? Serius ini loh.! Gw enggak lagi mimpi kan ini.?" Ucap Diki gugup sambil tersenyum karena saking senangnya melihat Devano sahabatnya itu mau berkunjung lagi ke rumahnya.


"Iya ini gw.! Kenapa emang.?" Ucap Devano nyolot namun sambil tersenyum.


"Loh.! Kok loh senyum sih Dev.? Loh udah enggak marah lagi sama gw Dev.? Loh udah maafin gw.?" Ucap Diki dengan raut wajah yang sangat bahagia.


"Udaaah, kita lupain aja masalah kita ini.! Karena sekarang ini ada sesuatu yang lebih penting dari masalah kita ini yang mau gw obrolin sama loh.!" Ucap Devano dengan raut wajah yang sangat serius, sehingga membuat Diki pun kebingungan.


"Sesuatu yang sangat penting.?" Ucapnya.


"Emang apaan Dev.?" Ucapnya lagi penasaran.


Melihat Diki sepenasaran itu, Devano pun terdiam sejenak, kemudian ia pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Dik, sebenarnya sekarang ini gw ke rumah loh.! Karena gw mau tanya sesuatu sama loh.!" Ucapnya lagi dengan raut wajah yang semakin serius, sehingga membuat Diki pun semakin tak sabar untuk mendengarnya.


"Aduh Deeeev, udah deh loh langsung ngomong aja.! Enggak usah bikin gw jadi penasaran kayak gini.!" Ucapnya sedikit kesel.


"Ia Dik, gw langsung ngomong nih sama loh.!Tapi sebelumya loh jangan marah yah sama gw.! Soalnya yang mau gw tanyain ini, mungkin sesuatu yang sangat privasi buat loh.!" Ucap Devano mencoba untuk mengingatkannya terlebih dahulu.


"Dik, gw mau tanya sama loh.! Tolong loh jawab jujur.!" Ucapnya lagi dengan tegas dan serius.


"Ia Dev, gw pasti jawab jujur.! Kapan sih gw bohong sama loh.! Tapi yang jadi masalahnya, sekarang ini loh mau tanya apa sama gw.?" Ucapnya semakin kesel, karena Devano membuatnya semakin penasaran.


"Dik, apa bener sekarang ini Renata hamil anak loh.?" Ucap Devano mencoba untuk menjawab rasa penasarannya itu.


Mendengar ucapan Devano, alih-alih kaget atau apa, Diki malah justru langsung tersenyum kesal.


"Jadi itu perempuan ngadu sama loh.!" Ucap Diki, dengan teganya ia menuduhnya seperti itu.


"Oh enggaaak, Renata sama sekali enggak ngadu sama gw.! Jadi loh jangan salah paham.!" Ucap Devano mencoba untuk menjelaskan.


"Kalau emang itu perempuan enggak ngadu sama loh.! Terus loh tau dari mana kalau sekarang ini itu perempuan lagi hamil anak gw.?" Ucapnya sedikit kesel, karena ia masih mengira pasti Renata lah yang sudah mengadunya kepada Devano sahabatnya itu.


"Biar gw jelasin semuanya sama loh yah.!" Ucap Devano, kemudian ia pun langsung menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, mengapa ia bisa tiba-tiba tau kalau sekarang ini Renata sedang hamil anaknya, dan ia pun menceritakan kondisi Renata sekarang ini yang sangat lemah dan harus bad rest total, jangan sampai kecapekan apa lagi sampai banyak pikiran, dan bahkan ia pun menceritakan perdebatan antara Renata, Pak Edo dan Ibu Lia yang tak sengaja ia dan Alana dengar tadi waktu di rumah sakit.


Mendengar penjelasan dari Devano, Diki hanya bisa terdiam, kemudian ia pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Aaaahhhh sial.!" Ucapnya sambil menjambak-jambak rambutnya karena pusing.


"Loh udah denger kan penjelasan dari gw.! Kalau loh udah denger, gw mohon banget sama loh Dik.! Loh harus tanggung jawab yah.? Loh harus nikahin Renata.! Kasihan dia Dik, sekarang ini kondisi Renata bisa lemah seperti itu.! Itu karena dia sedang mengandung anak loh Dik.! Masa loh enggak punya rasa kasihan sedikit pun sih Dik sama dia.! Ya seenggaknya sama anak loh lah Dik." Ucap Devano memohon dengan sangat serius, karena ia benar-benar kasihan melihat kondisi Renata sekarang ini.

__ADS_1


"Aduh Deeeev, kalau masalah kasihan gw juga kasihan. Tapi kalau untuk nikahin Renata, gw ini bener-bener enggak bisa Dev." Ucap Diki serius, sehingga membuat Devano pun kesel mendengarnya.


"Ya tapi kenapa.? Kenapa loh enggak bisa nikahin Renata.!" Ucapnya bingung.


"Ya karena minggu besok gw ini mau nikah sama Anita." Ucap Diki mencoba untuk memberi tahu apa itu alasannya.


"Anita loh Dev.! Perempuan yang dari dulu udah gw damba-dambakan untuk dijadikan istri.! Masa gw lepasin dia gitu aja demi Renata sih Dev, emang gw bego apa.?" Ucap Diki dengan egoisnya menjawab seperti itu, sehingga membuat Devano pun langsung tersenyum kesal mendengarnya.


"Dik, tapi sekarang ini Renata itu lagi hamil anak loh loh Dik.! Loh itu ngerti enggak sih maksud gw.! Hamil anak loh.! Darah daging loh.! Masa loh tega sih mau lepas dari tanggung jawab begitu aja.! Lagian asal loh tau aja yah Dik.! Gw aja yah, sama Alana pengin punya anak itu susahnya minta ampun. Dan loh juga pasti udah tau lah perjalanan hidup gw sama Alana itu kayak ngimana.! Gimana susahnya gw sama Alana pengin punya anak.! Bahkan gw sama Alana harus rela bolak-balik ke dokter kandungan demi pengin cepet-cepet punya anak.! Dan loh sekarang udah dikasih anugrah seorang anak sama tuhan, tapi malah loh sia-siain begitu aja Dik.?" Ucap Devano mencoba untuk menasehatinya panjang lebar, agar Diki sahabatnya itu sadar dan berubah pikiran.


"Dan satu lagi Dik.! Emang loh enggak tau bokap Renata itu siapa.? Bokap Renata itu Pak Edo loh Dik.! Dan sekarang loh coba searching di internet.! Pak Edo itu siapa.? Pak Edo itu pengusaha yang sangat kaya raya, dan Pak Edo juga termasuk salah satu orang yang cukup berpengaruh di negeri ini.! Jadi kalau loh enggak mau tanggung jawab, Pak Edo itu bisa dengan mudah menjebloskan loh ke penjara.! Bahkan mungkin bukan cuma itu.! Pak Edo juga bisa dengan mudah menindas loh.!" Ucap Devano serius, ia berbicara seperti itu bukan karena ia sedang menakut-nakutinya, akan tetapi karena memang itu lah kenyataan, kalau Pak Edo memang sehebat itu, namun kenapa ia ia besa tau semua itu, karena tadi waktu di perjalanan menuju rumah Diki, ia sempat menelepon dan menanyakan kepada Pak Erik ayahnya, tentang siapa itu sosok Pak Edo ayah dari temannya yang bernama Renata, dan itu lah jawaban dari Pak Erik dan ternyata Pak Edo juga adalah salah satu dari rekan bisnisnya.


"Aduh Deeeev.! Kenapa masalahnya jadi ruwet kayak gin,,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.


"Siapa disini yang bernama Diki.?" Teriak salah seorang berbadan besar, kekar dan beraut wajah seram, yang baru saja datang menghampiri Diki dan juga Devano beserta dengan anak buahnya yang cukup banyak.


"A, a, ada apa yang Bang.? Kenapa Abang tiba-tiba nyari Diki.?" Ucap Devano gugup, namun sebenarnya ia sudah tau kalau mereka pasti orang suruhan Pak Edo.


"Aaaahhhh, enggak usah banyak tanya.! Sekarang juga kasih tau gw.! Siapa disini yang bernama Diki.?" Ucapnya lagi marah, sambil menggebrak meja yang ada dihadapannya dengan sangat kencang, sehingga membuat Diki pun kesal.


"Gw yang namanya Diki.! Ada apa kalian cari gw.? Mau cari ribut kalian sama gw.?" Ucap Diki dengan sok beraninya menjawab seperti itu.


"Dik, loh udah gila yah Dik.? Kenapa loh jawab kayak gitu.! Emang loh berani lawan mereka semua.!" Bisik Devano kesal, sambil menatap ke arah mereka semua yang sudah standby untuk berperang.


"Ya bukan masalah bantuin apa enggak, tapi emang loh enggak lihat, tuh.! Mereka itu jumlahnya banyak banget loh.! Bisa habis kita berdua disini.!" Bisik Devano lagi, ia berbicara seperti itu memang bukan karena ia takut atau tidak bisa melawan, akan tetapi karena jumlah mereka yang cukup banyak yang membuatnya pasti tidak akan bisa menang untuk melawannya.


"Ya terus mau gimana lagi.? Masa kita mau kab,,,,,," Lagi-lagi ucapan Diki terpotong.


"Woy.! Enggak usah banyak cing-cong kalian.!" Teriak seseorang berbadan besar dan kekar yang bertaut wajah seram tersebut semakin marah, sambil menunjuk ke arah Devano dan juga Diki.


"Sekarang juga habisi mereka berdua.!" Teriaknya lagi menyuruh semua anak buahnya itu untuk menghabisi Diki dan Devano, sehingga mereka semua pun langsung menyerangnya dan mereka semua pun akhirnya berantem.


"Dimas, itu suara apa yah di luar.? Kok rame banget." Ucap Siska yang sedang berada di dalam rumahnya kaget dan penasaran.


"Enggak tau kak.! Coba kita lihat yuk.?" Ucap Dimas sambil buru-buru melangkah keluar menuju tempat tersebut dan di ikuti oleh Siska dari belakang.


"B, b, bang Diki.? Kak Devano juga.! Mereka lagi berantem sama siapa.?" Ucap Siska gugup karena saking kaget dan paniknya melihat mereka semua berantem seperti itu


"Ya ampun kak, gimana ini.? Mana Bang Diki sama kak Devano udah babak belur kayak gitu lagi.! Kita harus gimana nih.?" Ucap Dimas yang juga panik, sambil terus menatap kearah Diki dan Devano yang masih terus berantem melawan mereka.


"Dik, kayaknya kita enggak bakalan bisa lawan mereka deh.! Lebih baik sekarang ini kita cari aman.! Kita kabur aja ayo cepetan.!" Ucap Devano dengan keadaan yang sudah tidak karuan, karena ia semakin babak belur dihajar oleh mereka semua.

__ADS_1


"Ya udah ayo Dev.! Sekarang juga kita kab,,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.


"Awwww.!" Teriaknya kesakitan karena tiba-tiba salah satu dari mereka memukul kepalanya dari belakang.


"B, b, bang Diki,,,," Teriak Siska gugup karena saking paniknya melihat Diki Abangnya dihajar seperti itu olehnya.


"Sekarang juga Dimas harus cepat-cepat tolongin Bang Diki.! Dimas harus cepat-cepat tolongin Bang Diki.!" Ucap Dimas tergesa-gesa karena saking paniknya, sambil buru-buru melangkah menuju Diki dan Devano, namun baru saja ia melangkah, tiba-tiba langkahnya terhenti, karena ia melihat seorang lelaki yang baru saja turun dari dalam mobil mewahnya sambil bertepuk tangan dengan santai Prok.! Prok.! Prok.!


"Cukup.! Semuanya sudah cukup.! Sekarang juga seret bocah ingusan ini dan bawa masuk ke dalam mobil.!" Ucapnya dengan sangat tegas, sambil menunjuk ke arah Diki yang sudah dalam keadaan tidak karuan lemas dan tak berdaya.


"P, p, pak Edo.?" Ucap Devano gugup dan kaget melihat keberadaan Pak Edo, ia Pak Edo, karena seseorang tersebut adalah Pak Edo ayah dari Renata, seseorang yang sudah menyuruh mereka semua untuk menghajar Diki.


"Lepasin.! Lepasin gw.!" Teriak Diki marah, sambil mencoba untuk memberontak dari mereka semua.


"Ooohhh, rupanya bocah ingusan ini yang sudah dengan beraninya menghamili putri saya.?" Ucap Pak Edo dengan santainya, sambil berjalan menghampiri Diki, kemudian ia pun langsung menggenggam rambutnya,


"Enggak.! Sampai kapan pun saya enggak akan pernah ngelepasin kamu.! Sebelum kamu nikahin putri saya.!" Ucapnya lagi penuh emosi, sambil menjambak rambutnya itu dengan sangat kencang, sehingga Diki pun kesakitan.


"Aw.!" Ucapnya kesakitan.


"Sekarang juga bawa bocah ingusan ini masuk ke dalam mobil.!" Ucapnya lagi dengan tegas menyuruh semua anak buahnya itu membawa Diki masuk ke dalam mobilnya.


"Baik pak.!" Ucap mereka semua secara bersamaan.


"Ayo sekarang juga ikut gw masuk ke dalam mobil !" Ucapnya lagi sambil meyerednya dengan kuat masuk ke dalam mobil tersebut.


"Woy.! Lepasin Bang Diki.! Bang Diki mau dibawa kemana.? Woy.!" Teriak Dimas semakin panik.


"Iya tolong lepasin Bang Diki.! Woy.!" Teriak Siska yang juga panik melihat Diki Abangnya diseret seperti itu masuk ke dalam mobil mereka.


"Lepasin.! Lepasin gw.!" Teriak Diki lagi semakin marah, sambil terus berusaha untuk memberontak.


"Dev.! Tolongin gw Dev.! Tolongin gw.!" Teriaknya lagi meminta tolong sambil menatap kearah Devano yang dari tadi masih berdiri di depan rumahnya.


"Enggak usah banyak omong.! Sekarang juga ayo masuk.!" Ucap salah satu orang dari suruhan Pak Edo tersebut, sambil mendorong tubuh Diki masuk ke dalam mobil dan kemudian langsung menutup pintu mobil tersebut dan membawanya entah kemana.


"Sorry Dik, untuk kali ini gw enggak bisa nolongin loh.! Karena semua ini memang loh yang salah." Ucap Devano dalam hati dengan raut wajah yang sangat sedih.


######


Hadeuuuuh.! Kira-kira Pak Edo Berhasil enggak yah bawa Diki untuk tanggung jawab dan nikahin Renata.?

__ADS_1


Jangan lupa like, coment dan vote.!


__ADS_2