
"Mommy, kok mommy berhenti.? Ayo cepetan mommy kesini.!" Teriak Laura lagi semakin tak sabar.
"Iya sayang, cepetan kesini.! Banyak temen-temen mas nih yang pada mau kenalan sama kamu.!" Teriak Andra.
"Oh, I, i, iya." Ucap Renata gugup sambil terus terbengong menatap kearah Diki mantan suaminya itu, karena sekarang ini ia benar-benar masih tak percaya bisa bertemu lagi dengannya di acara pesta pertunangannya ini, kemudian ia pun melangkahkan kakinya dengan sangat perlahan menghampiri mereka semua.
"Aduuuh.! Kenapa semuanya jadi kayak gini.! Apa yang akan terjadi sama Diki selanjutnya nih, kalau ceritanya kayak gini.? Pastinya sekarang ini Diki hancur banget nih hatinya, harus menerima kenyataan kalau tunangan Andra ternyata adalah Renata mantan istrinya yang selama ini sudah dia cari-cari. Secara selama ini Diki itu kan berharap banget suatu saat bisa balik dan berkumpul lagi dengan Renata dan juga anaknya." Ucap Devano dalam hati panik memikirkan bagaimana dengan nasib Diki sahabatnya itu selanjutnya setelah mengetahui kenyataan ini.
"Mommy, mommy, kenalin.! Ini Om ganteng yang tadi pagi Laura ceritain ke mommy.! Om ganteng yang udah beliin Laura balon banyak itu.!" Ucap Laura dengan penuh semangat, ia mencoba untuk meningkatkan Renata mommy nya itu yang baru saja sampai dan berdiri tepat dihadapannya, karena tanpa sepengetahuan dari kita, ternyata tadi pagi ia sempat menceritakan kepadanya, tentang seorang lelaki yang sudah baik kepadanya, yang tadi pagi sudah mau menolongnya yang tak lain adalah Om gantengnya yaitu Diki.
"Om ganteng, Om ganteng, kenalin.! Ini mommy Laura.!" Ucapnya lagi sambil tersenyum dan masih penuh dengan semangat, ia tidak tau sama sekali kalau ternyata Diki, Om gantengnya itu adalah ayah kandungnya
"Iya Dik, kenalin.! Ini Renata, calon tunangan gw.!" Ucap Andra sambil tersenyum, dan langsung merangkulnya dengan sangat mesra.
Mendengar ucapan dari Laura dan Andra, Diki tidak menjawabnya sepatah kata pun, ia hanya melangkahkan kakinya secara perlahan sambil terus terbengong menatap kearah Renata mantan istrinya itu, kemudian ia pun berhenti tepat dihadapannya.
"R, R, Renata."
Ucapnya dalam hati gugup karena sekarang ini ia benar-benar masih tak percaya dengan semuanya, sambil menatap dalam wajah cantiknya dengan mata yang berkaca-kaca, karena perasaannya sekarang ini benar-benar bercampur aduk rasanya, disisi lain ia senang bisa bertemu lagi dengan Renata mantan istrinya itu yang sudah lama ia cari-cari keberadaannya, akan tetapi disisi lainnya lagi ia tidak bisa menerima kenyataan kalau ternyata Renata mantan istrinya itu adalah calon tunangan dari Andra sahabatnya sendiri.
"Dik, kok loh diem aja.? Kenalin, Ini Renata.! Calon tunangan gw." Ucap Andra mencoba untuk mengenalkannya lagi kepadanya, ia tidak curiga sama sekali kalau ternyata Diki dan Renata itu sudah saling mengenal.
"Iya Om ganteng, kok Om ganteng diem aja.? Kenalin Om ganteng.! Ini mommy Laura." Ucap Laura yang juga ikut mengenalkannya lagi kepada Diki Om gantengnya itu, sehingga Diki pun seketika langsung terbangun dari bengongnya.
"Oh I, i, iya." Ucapnya gugup, kemudian ia pun langsung buru-buru mengenalkan diri kepadanya.
"K, k, kenalin.! G, g, gw Diki." Ucapnya lagi masih gugup sambil mengulurkan tangan kepadanya untuk menjabatnya.
"R, R, Renata." Ucap Renata yang juga sangat gugup sambil menerima jabatan tangan tersebut darinya, mereka berdua bergelagat seperti mereka berdua itu tidak pernah mengenal sebelumnya, sehingga membuat Anita yang dari tadi sedang berdiri di hadapan mereka pun kesel.
"Apa-apaan sih mereka berdua.! Udah saling kenal juga, pake acara pura-pura kenalan lagi segala." Ucapnya dalam hati sambil menatap sinis kearah mereka berdua yang sekarang ini masih terus berjabatan tangan.
"E, e, enggak, rasanya gw ini bener-bener enggak rela dan enggak ikhlas kalau gw ini harus ngelepasin Renata ke Andra begitu aja." Ucap Diki dalam hati tak rela, sambil terus menatap dalam wajah cantiknya dan semakin erat lagi menggenggam tangannya.
"Udah kali.! Udah, udah, udaaaah kenalannya.! Lama banget sih.? Nanti loh keburu nyaman lagi sama tunangan gw ini." Ucap Andra bercanda, sambil buru-buru melepaskan genggaman tangan mereka berdua.
"Oh, i, i, iya.! S, s, sorry Ndra, sorry.!" Ucap Diki lagi-lagi gugup karena ia benar-benar merasa tidak enak kepadanya.
"Hehehehe santai aja kali Dik.! Gw cuma bercanda kok." Ucap Andra lagi sambil tersenyum.
"Oh iya, semuanya.! Kenalin, ini Renata calon tunangan gw.!" Ucapnya lagi mencoba untuk mengenalkannya kepada semuanya, sehingga mereka semua pun langsung pura-pura kenalan lagi dengannya, karena mereka semua mengikuti permainan dari Diki, kemudian setelah itu, Andra pun langsung menyuruh mereka semua untuk duduk satu meja dengannya dan juga Renata sambil menikmati hidangan-hidangan yang ada.
"S, s, sorry mas.! R, R, Renata ke toilet dulu yah.?" Ucap Renata gugup, karena sebenarnya dari tadi ia itu bener-bener merasa sangat canggung dan tidak nyaman duduk satu meja dengan Diki mantan suaminya itu.
"Oh, ya udah.!" Ucap Andra sambil tersenyum, kemudian setelah itu Renata pun langsung buru-buru melangkah menuju toilet tersebut.
"Oh iya semuanya.! Gw juga ke toilet dulu yah.?" Ucap Diki yang juga ikut-ikutan ke toilet, sambil buru-buru beranjak dari tempat duduknya, kemudian langsung buru-buru melangkah menuju toilet tersebut.
"Bang Diki.!" Ucap Anita mencoba untuk menghentikan langkah kakinya sambil buru-buru menggenggam erat tangannya, karena ia benar-benar tidak ikhlas dan tidak rela jika Diki suaminya itu harus ke toilet sekarang, karena ia sangat yakin kalau Diki suaminya itu pasti hanya pura-pura ke toilet, namun sebenarnya ia itu mau menemui Renata mantan istrinya itu di toilet tersebut.
"Lepasin.!" Ucap Diki pelan dan tegas, karena ia pun sudah tau apa maksud dari Anita istrinya itu yang tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.
"Enggak.!" Ucap Anita kekeuh sambil terus menggenggam erat tangannya, sehingga membuat Diki pun kesel, kemudian ia pun langsung buru-buru melepaskan dengan paksa genggaman tangan tersebut dari tangannya, setelah itu ia pun langsung buru-buru melanjutkan langkahnya itu menuju toilet dan meninggalkan mereka semua di meja tersebut.
"Lihat aja yah kamu bang.! Apa yang akan gw lakukan sama Renata dan juga anak Abang.! Karena Abang udah berani-beraninya mempermalukan gw kayak gini didepan temen-temen Abang.!" Ucap Anita dalam hati kesal karena merasa sudah dipermalukan seperti itu di depan teman-temannya.
__ADS_1
"Eh Dev, itu si Diki kenapa.?" Ucap Andra penasaran dan bingung melihat tingkah lakunya.
"G, g, gw juga enggak tau Ndra.! Mungkin Diki udah kebelet banget kali pengin BAB." Ucap Devano gugup karena ia sedang berbohong.
DI TOILET.
Terlihat Renata yang sedang berdiri di depan cermin toilet tersebut dengan raut wajah yang sangat pusing.
"Ya tuhaaaan, kenapa disaat aku sudah susah payah move on dari bang Diki, tapi engkau malah justru pertemukan aku sama bang Diki lagi tuhan.?" Ucapnya dalam hati mencoba untuk protes kepada Tuhannya, karena menurutnya semua takdir ini tidak adil untuknya jika ia harus dipertemukan lagi dengan Diki mantan suaminya yang kejam itu, disaat ia sudah susah payah menghilang selama 7 tahun untuk bisa move on darinya.
Kemudian ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar untuk menenangkan pikiran dan hatinya itu, setelah pikiran dan hatinya itu sedikit tentang, ia pun langsung keluar dari dalam toilet tersebut, namun baru saja ia keluar, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya dan membawanya ke lorong gelap disamping toilet tersebut dan orang tersebut pasti adalah
"B, b, bang Diki.!" Ucap Renata gugup dan kaget sambil menatap kearahnya yang sedang berdiri tepat dihadapannya, karena ternyata benar dugaan Anita tadi, kalau Diki suaminya itu pasti hanya pura-pura ke toilet, namun sebenarnya ia ingin menemui Renata di toilet tersebut.
"Iya ini Abang Ren.!" Ucap Diki dengan mata yang berkaca-kaca dan raut wajah penuh dengan penyesalan.
"Ren, sekarang ini Abang temui kamu disini.! Karena ada sesuatu hal yang harus kita obrolkan.!" Ucapnya lagi serius, dengan raut wajah yang sangat sedih, dengan secara tiba-tiba setelah tujuh tahun berpisah dengannya, ia berbicara seperti itu, sehingga membuat Renata pun tersenyum lucu mendengarnya.
"Apa Abang bilang.? Ada sesuatu hal yang harus kita obrolkan.?" Ucapnya sambil terus tersenyum karena lucu mendengar ucapannya yang tidak masuk akal itu.
"Iya Ren, ada sesuatu hal yang harus kita obrol,,,,,," Seketika ucap Diki terpotong.
"Enggak.! Enggak ada sesuatu hal yang perlu kita obrolkan lagi bang.! Karena cerita kita itu udah selesai dari 7 tahun yang lalu.! Jadi sekarang ini udah enggak ada yang perlu kita obrolkan lagi." Ucap Renata dengan sangat jelas tepat dihadapannya, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah keluar dari lorong gelap tersebut.
"Renata tunggu.!" Ucap Diki mencoba untuk menghentikan langkahnya sambil buru-buru menarik tangannya.
"Lepasin.!" Ucap Renata marah.
"Enggak, enggak Ren.! Sampai kapan pun Abang enggak akan pernah mau ngelepasin tangan kamu ini.! Sebelum kita obrolkan masalah kita ini.!" Ucap Diki yang malah justru semakin erat menggenggam tangannya.
"Renata bilang lepasin bang.! Udah enggak ada yang perlu kita obrolkan lagi." Ucap Renata lagi semakin marah.
"Bang.! Abang ini sebenarnya mau ngobrol apa sih bang sama Renata.?" Ucap Renata semakin kesal dan bingung, sebenarnya masalah apa yang mau ia obrolkan itu.
Mendengar ucapan Renata, Diki pun terdiam sejenak, kemudian ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Laura, Ren." Ucapnya serius, dengan raut wajah yang sangat sedih.
"Laura itu anak Abang kan.?" Ucapnya lagi ingin memastikan langsung dari mulutnya, meskipun sesungguhnya ia pun sangat yakin kalau Laura itu pasti adalah putrinya, dengan mudahnya ia berbicara seperti itu, sehingga membuat Renata pun lagi-lagi tersenyum karena lucu mendengarnya.
"Apa Abang bilang.? Laura itu anak Abang.?" Ucapnya sambil terus tersenyum karena lucu mendengar ucapannya yang menurutnya tidak masuk akal itu.
"Halloooo.! Bang, Abang ini sadar enggak sih.? Apa yang udah Abang lakuin dulu ke Renata dan juga calon anak Renata.?" Ucapnya lagi mencoba untuk mengingatkannya kembali perbuatan jahatnya dulu kepadanya dan juga calon anaknya itu, karena sepertinya sampai sekarang pun, bahkan mungkin sampai seumur hidup pun ia tidak akan pernah bisa move on dari perbuatan jahatnya itu dulu kepadanya.
"Abang itu dulu mencampakkan Renata dan juga calon anak Renata bang.! Abang itu dulu terang-terangan main gila sama perempuan lain disaat Renata ini sedang mengandung anak Renata.! Dan bahkan Abang itu dulu enggak pernah perduli sedikit pun sama calon anak Renata.!" Ucapnya lagi mencoba untuk memberi tahu sejahat apa ia dulu kepadanya dan juga calon anaknya itu.
"Dan sekarang dengan mudahnya Abang ngomong kalau Laura itu anak Abang, setelah 7 tahun Renata ini hidup sendiri menghidupi Laura.? Setelah dengan susah payah Renata ini harus terus-terusan membohongi Laura, mencari-cari alasan, karena Laura yang terus-terusan bertanya, siapa sih sebenarnya sosok ayah Laura, dimana sih keberadaannya sekarang.? Setelah Renata ini memperjuangkan hidup dan mati Renata demi untuk melahirkan Laura tanpa adanya seorang suami.? Dan setelah Renata ini menghilang selama 7 tahun.! Demi menyelamatkan Laura dalam kandungan Renata, karena kandungan Renata pada waktu itu semakin lemah dan lemah karena Renata ini enggak kuat mendengar gunjingan dari tetangga, teman, bahkan keluarga yang bilang kalau Renata ini hamil diluar nikah dan suaminya yang tak lain adalah Abang.! Enggak mau bertanggung jawab.?" Ucap Renata mencoba untuk memberi tahu kepadanya betapa menderitanya ia selama 7 tahun terakhir ini karena perbuatan bejatnya itu, sambil menangis dihadapannya, karena sepertinya penderitan selama 7 tahun itu masih sangat terasa sampai sekarang, dan bahkan mungkin akan membekas dihatinya untuk selamanya.
"Bang, Abang itu sebenarnya mikir enggak sih bang, hah.? Abang itu mikir enggak.? Abang itu dulu kemana bang.? Abang itu dulu kemana.?" Teriaknya dengan raut wajah penuh dengan emosi sambil terus menangis dihadapannya, sehingga membuat Diki pun seketika langsung ikut menangis, kemudian ia pun langsung sujud dikakinya.
"Hiks,, hiks,, maafin Abang Ren.! Hiks,, hiks,, maafin Abang.! Hiks,, hiks,, Abang bener-bener nyesel Ren, hiks,, hiks,, Abang bener-bener nyesel. Abang tau semua ini emang salah Abang.! Dan mungkin kesalahan Abang ini enggak akan pernah bisa kamu maafin seumur hidup kamu.! Hiks,, hiks,, tapi sekarang Abang bener-bener mohon banget sama kamu Ren.! Hiks,, hiks,, tolong maafin Abang Ren.! Hiks,, hiks,, tolong maafin Abang.!" Ucap Diki memohon sambil terus menangis dan terus sujud dikakinya, karena sekarang ini ia benar-benar menyesal atas semua perbuatan bejatnya dulu kepadanya, kemudian ia pun langsung buru-buru berdiri lagi dan langsung buru-buru menggenggam erat tangannya.
"Hiks,, hiks,, dan Abang juga mohon banget sama kamu Ren.! Hiks,, hiks,, tolong berikan Abang ini kesempatan.! Hiks,, hiks,, tolong berikan Abang ini kesempatan lagi untuk bisa menjadi seorang suami yang baik buat kamu.! Dan juga seorang ayah yang baik juga buat Laura.! Agar Abang ini bisa menebus semua kesalahan-kesalahan Abang yang dulu ke kamu dan juga ke Laura anak kita Ren.! Dan Abang ini janji, Abang akan buktikan sama kamu dan juga Laura.! Kalau Abang ini pasti bisa menjadi kepala keluarga dan panutan yang baik buat kamu dan juga Laura.! Hiks,, hiks,, jadi Abang ini mohon banget sama kamu Ren.! Hiks,, hiks,, tolong berikan Abang ini kesempatan kedua untuk bisa menjadi suami kamu lagi.! Hiks,, hiks,, pleasseee.!" Ucapnya lagi memohon dengan serius, sambil terus menangis dan terus menggenggam erat tangannya, dengan mudahnya ia berbicara seperti itu, sehingga membuat Renata yang sedang menangis pun lagi dan lagi tersenyum karena lucu mendengarnya.
"Apa Abang bilang.? Berikan Abang kesempatan kedua untuk menjadi suami Renata.?" Ucapnya sambil terus tersenyum karena lucu mendengar ucapannya yang tidak masuk akal itu.
"Hiks,, hiks,, iya Ren.! Hiks,, hiks,, iya.! Hiks,, hiks,, kamu mau kan Ren.? Hiks,, hiks,, kamu mau kan mengulangi lagi semuanya dari awal bersama Abang.?" Ucap Diki serius, namun entah apa yang ada didalam pikirannya itu mengapa ia mengharapkan hal seperti itu darinya, sedangkan ia sendiri sekarang ini sudah mempunyai istri.
__ADS_1
"Hiks,, hiks,, karena Abang juga yakin.! Kamu ini pasti masih sayang kan sama Abang Ren.? Hiks,, hiks,, Kamu ini pasti masih sayang kan sama Abang.?" Ucapnya lagi dengan percaya dirinya, sambil menatap dalam wajah cantiknya.
"Hiks,, hiks,, jadi Abang mohon banget sama kamu Ren.! Hiks,, hiks,, ayo kita mulai lagi semuanya dari awal.!" Ucapnya lagi-lagi meminta hal seperti itu kepadanya, sehingga membuat Renata pun seketika langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Sorry bang.! Renata enggak bisa." Ucapnya serius, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah keluar dari lorong gelap tersebut.
"Renata, tunggu.!" Ucap Diki mencoba untuk menghentikan langkahnya lagi, sambil buru-buru menarik tangannya, kemudian ia pun langsung menyenderkannya ditembok.
"Bang, Abang mau ngapain bang.? Lepasin.!" Ucap Renata marah dan sedikit panik sambil mencoba untuk berontak darinya.
"Enggak Ren, Abang enggak akan pernah ngelepasin kamu.! Sebelum kamu jawab kalau kamu itu bersedia berikan Abang ini kesempatan kedua, dan mau mengulangi lagi semuanya dari awal bersama Abang.!" Ucap Diki yang justru semakin erat menyenderkannya ke tembok, dengan egoisnya ia meminta Renata untuk menjawabnya seperti itu, sehingga membuatnya pun semakin marah.
"Tapi Renata enggak bisa bang.! Renata enggak bisa berikan Abang ini kesempatan kedua.! Apalagi kalau Renata ini harus ngulangi lagi semuanya dari awal bersama Abang.! Renata ini enggak bisa bang, Renata ini bener-bener enggak bisa." Ucap Renata mencoba untuk menjawabnya dengan jelas dihadapannya.
"Tapi kenapa Ren, kenapa.? Kenapa kamu enggak bisa berikan Abang ini kesempatan kedua.? Kenapa kamu enggak bisa ngulangi lagi semuanya dari awal bersama Abang.?" Ucap Diki dengan suara tinggi, karena ia tidak terima dengan jawabannya itu.
"Lagian Abang juga yakin, kalau kamu ini masih sayang kan Ren sama Abang.? Iya kan, kamu ini masih sayang kan sama Abang.?" Ucapnya dengan percaya dirinya, sambil memegang kedua pipinya dan menghadapkannya tepat didepan wajahnya dengan jarak yang sangat dekat kira-kira hanya 5 cm.
"Enggak bang, Abang salah.! Renata ini udah enggak sayang lagi sama Abang.! Jadi Renata mohon, lepasin Renata.!" Ucap Renata tanpa berani menatap matanya sama sekali, sambil terus berusaha untuk berontak lagi darinya.
"Enggak Ren, kamu bohong.! Kamu ini pasti bohong.! Kamu ini masih sayang sama Abang.! Kamu ini bener-bener masih sayang sama Abang.!" Ucap Diki lagi dengan sangat yakin.
"Enggak bang, enggak.! Renata ini udah enggak sayang lagi sama Abang.! Renata ini bener-bener udah enggak sayang lagi sama Abang.!" Ucap Renata lagi-lagi menjawabnya seperti itu, namun lagi-lagi ia pun tidak berani menatap matanya sama sekali.
"Enggak Ren, kamu bohong.! Kamu ini bohong.!" Ucap Diki tak percaya.
"Kalau kamu memang udah enggak sayang lagi sama Abang.! Abang mau sekarang juga kamu tatap mata Abang.! Terus kamu ngomong, kalau kamu itu udah enggak sayang lagi sama Abang.!" Ucap Diki meminta hal seperti itu kepadanya.
"Enggak bang, lepasin bang.! Renata enggak mau bang, Renata enggak mau.!" Ucap Renata mencoba untuk menolak permintaannya itu, karena ia memang benar-benar tidak bisa untuk melakukan semua itu, karena sepertinya dari lubuk hatinya yang terdalam masih ada sedikit rasa sayang dihatinya, namun ia tidak mungkin untuk menerimanya kembali, meningkat perbuatan-perbuatan jahatnya dulu kepadanya.
"Tapi kenapa kamu enggak mau Ren.? Kenapa.?" Teriak Diki.
"Itu semua karena kamu ini masih sayang kan Ren sama Abang.? Iya kan, karena kamu ini masih sayang kan sama Abang.?" Ucap Diki lagi-lagi berbicara seperti itu, sambil terus menyenderkannya ke tembok.
"Enggak bang, enggak.! Tolong lepasin Renata bang.! Tolong lepasin Renat,,,,,," Seketika ucap Renata terpotong.
"Renataaa, sayaaaang, kamu dimana.?" Ucap Andra dari luar lorong gelap tersebut, karena ternyata dari tadi ia itu sedang mencari-carinya.
"Lepasin bang.!" Ucap Renata lagi setelah mendengar suara Andra, sehingga dengan sangat terpaksa akhirnya Diki pun langsung melepaskannya, dan kemudian Renata pun langsung buru-buru keluar dari lorong gelap tersebut.
"Renata, kamu ini dari mana aj,,,,,,," Seketika ucapan Andra terpotong.
"Diki.?" Ucapnya lagi kaget dan bingung, karena ia melihat Diki yang tiba-tiba juga keluar dari lorong gelap tersebut.
"Hai Ndra." Ucap Diki menyapanya sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Renata dari belakang dan meninggalkan Andra yang sedang kebingungan itu hanya sendiri di depan lorong gelap tersebut.
"Renata, Diki.?" Ucapnya sedikit curiga, mengapa mereka berdua bisa keluar dari lorong gelap tersebut bersamaan, dan sebenarnya apa yang sudah mereka berdua itu lakukan didalam lorong gelap tersebut.
######
Haduh guys, pusing juga yah kalau kayak gini ceritanya.!
Kalian tim siapa nih.?
Diki atau Andra.
__ADS_1
Maaf kalau visualnya kurang pas 🙏