
DI RUMAH PAK IRSYAD.
Waktu menunjukkan pukul 08:00 pagi.
Terlihat Arya yang sedang duduk di meja makan.
"Bi, Erik sama Dinda pada kemana nih.? Dari tadi mereka belum pada turun.?" Kata Arya penasaran, sambil menatap kearah bi Iroh yang dari tadi sedang menyiapkan sarapan untuknya.
"Kayaknya sih belum den." Kata bi Iroh sopan.
"Aduuhhh.! Bisa-bisa kesiangan nih kalau kaya gini, tolong panggilin mereka yah bi.! Suruh mereka cepat-cepat turun.!" Kata Arya sopan, ia menyuruh bi Iroh untuk memanggil Erik dan Dinda cepat-cepat turun, karena menurutnya hari sudah cukup siang, dan ia tidak mau kalau sampai Erik kesiangan, karena seperti yang kita tau, hari ini Erik harus terbang ke Jepang.
"Baik den.!" Kata bi Iroh sambil buru-buru melangkah menuju kamar Dinda, namun belum sempat ia melangkah, langkahnya sudah terhenti, karena ia melihat Erik yang sedang berjalan turun dari kamarnya menuju meja makan, sambil mencoba untuk menenangkan Dinda, yang sampai sekarang belum juga mau ditinggalkannya ke Jepang.
"Ssssttttt udah,, udaaah.! Enggak usah sedih.! Mas enggak akan lama kok di Jepang." Kata Erik sambil mengusap-usap rambut Dinda dan menyenderkan kepalanya tepat dipundaknya.
Mendengar kata-kata dari Erik, Dinda tidak menjawabnya, ia hanya terdiam dengan raut wajah yang sangat sedih, sambil terus cemberut, sehingga Arya yang dari tadi masih duduk di meja makan pun penasaran.
"Dinda, kamu kenapa.? Kok muka kamu kaya sedih gitu.?"
Kata Arya sambil menatap kearah Dinda dan Erik yang sekarang ini sudah berada tepat di hadapannya.
"Mas Aryaaaa, Dinda pengin ikut ngantar mas Erik sampai bandaraaa.? Tapi mas Erik nya enggak izinin Dindaaa." Kata Dinda merengek seperti anak kecil, ia mengadu seperti itu kepada Arya, karena tanpa sepengetahuan dari kita, tadi saat ia dan Erik masih berada didalam kamar, ia memang sempat meminta hal tersebut kepada Erik, akan tetapi Erik tidak mengizinkannya, karena keadaannya yang sekarang ini sedang hamil.
"Ya ampun Rik, loh tega banget sih sama istri sendiri.? Loh ajak lah kalau emang Dinda mau ikut nganterin loh.!" Kata Arya mencoba untuk menegur Erik.
"Udah enggak papa Din, kalau kamu mau ikut, ikut aja.! Lagian mas Arya kok yang nganter mas Erik ke bandara." Kata Arya serius mengizinkan Dinda untuk ikut mengantarkan Erik ke Bandara, karena ia memang sangat menyayangi dan memanjakannya, dan apa saja yang Dinda inginkan selalu ia turuti.
"Mas Arya serius.? Dinda boleh ikut mas.?" Kata Dinda sambil tersenyum dengan penuh semangat.
"Iya Dinda, mas Arya seri,,,,,," Belum sempat Arya menyelsaikan ucapannya namun sudah terpotong.
"Enggak sayang, kamu enggak boleh ikut.!" Kata Erik lagi-lagi melarang Dinda untuk ikut mengantarkannya ke bandara.
"Rik, loh ini kenapa sih.? Tega banget sama istri sendiri, Dinda ini pengin ikut nganterin loh ke Bandara, masa enggak boleh sih.?" Kata Arya bingung dengan sikap Erik sekarang ini.
"Bukan masalah tega atau gimana Ya.? Masalahnya sekarang ini Dinda lagi hamil, Saya cuma takut kalau Dinda itu sampai kecapekan." Kata Erik mencoba untuk menjelaskan mengapa ia tidak mengizinkan Dinda ikut mengantarkannya ke bandara, karena sepertinya Dinda dan calon anak yang ada di dalam perutnya, benar-benar sangat berharga untuk dirinya, sampai-sampai ia segitunya menjaga Dinda dan calon anaknya itu.
"Tadi kamu ngomong apa Rik.? Sekarang Dinda lagi hamil.? Yang bener loh Rik.?" Kata Arya dengan suara tinggi karena kaget dan tak percaya mendengar kabar tersebut.
"Waaah, bentar lagi loh jadi bapak dong Rik.? Enggak nyangka yah Rik, sekarang loh udah tua." Kata Arya lagi sambil tersenyum menggodanya.
"Oh iya.! Tapi ngomong-ngomong, hebat juga loh Rik.? Perasaan baru semalam deh kalian baikan, ko udah langsung jadi anak aja, itu gimana prosesnya yah, cepet amat.?" Kata Arya lagi-lagi menggoda Erik.
Mendengar godaan dari Arya, Erik pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Iya sekarang ini Dinda lagi hamil, yang artinyaaa, sebentar lagi kamu mau punya keponakan.! Berarti bukan cuma saya yang udah tua, tapi kamu juga.! Masa udah mau punya keponakan sampai sekarang belum menikah-menikah.?" Kata Erik sambil tersenyum, ia mencoba untuk membalas godaan dari Arya.
__ADS_1
"Ya enggak usah ngingetin nikah juga kal,,,,,,," Belum sempat Arya menyelsaikan ucapannya, namun sudah terpotong.
"Mas Aryaaaa, Dinda boleh kan ikut antar mas Erik ke bandara.? Pleaseee.! Boleh yah mas Aryaaaa.? Dinda pengin ikuuuuut.?" Kata Dinda lagi-lagi merengek dengan raut wajah yang sangat melas.
"Aduh Diiiin, gimana yah.?" Kata Arya bingung, sambil menatap kearah Erik.
"Gimana Rik.?" Kata Arya lagi, ia meminta pendapat kepada Erik, karena ia pun tidak mau kalau sampai Dinda itu kenapa-napa.
Mendengar ucapan Arya, Erik pun langsung mengusap-usap rambut Dinda.
"Sayaaang, kamu itu harus banyak-banyak istirahat.! Kan kamu ini sekarang lagi hamil, kamu nurut yah sama mas.? Sekali iniiiiii, aja.!" Kata Erik pelan, ia mencoba untuk menasehatinya.
"Ya Din, lebih baik kamu nurut aja sama suami kamu yah.? Takutnya entar kamu kenapa-napa lagi, kan sekarang kamu ini lagi hamil.?" Kata Arya serius sambil menepuk-nepuk pundak Dinda.
"Ya udah deh Rik, gw tunggu loh di mobil yah.? Loh rayu Dinda dulu tuh.! Biar Dinda enggak ngambek terus, tapi cepetan.! Udah siang nih.! Entar loh ketinggalan pesawat lagi.?" Kata Arya lagi, kemudian ia pun langsung berjalan menuju mobilnya meninggalkan Erik dan Dinda hanya berdua.
"Sayaaang, kamu dengar kan kata-kata mas Arya.? Kamu itu sekarang lagi hamil, kalau kamu ikuuuuut, takutnya entar kamu kecapekan, yaah.?" Kata Erik mencoba untuk merayunya dengan sabar.
Mendengar rayuan dari Erik, Dinda malah justru langsung ngambek.
"Mas Erik jahat sama Dinda.! Sekarang mas Erik udah enggak sayang lagi sama Dinda.! Mas Erik udah,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong, karena tiba-tiba Erik langsung memeluknya.
"Ssssssttttt udah, udaaah.! Enggak usah ngambek.! Sekarang mas peluk yaaaah.?" Kata Erik pelan, sambil terus memeluknya.
"Enggaaak, mas enggak jahat kok sama kamu.! Mas juga masih sayang sama kamu, malah sayaaang banget, udah kamu enggak boleh kaya gini terus yah.? Lagian Udah siang nih.! Entar mas telat lagi, tuh lihat mas Arya udah nungguin mas dari tadi di mobil.!" Kata Erik pelan, sambil mengusap-usap rambut Dinda.
"Ssstttttt.! Sayaaaang, kamu jangan ngambek teruusss.! Mas udah mau berangkat nih.! Kalau kamu ngambek terus kaya gini, mas enggak tenang ninggalin kam,,,,,,,,,,," Belum sempat Erik menyelsaikan ucapannya, namun sudah terpotong.
Tin,,,, tin,,,, tin.! Suara Arya membunyikan kelakson mobilnya.
"Rik.! Ayo cepetan udah siang nih.!" Triak Arya dari dalam mobil.
"Tuh kan sayang, mas Arya udah nyuruh mas cepet-cepet ke mobil." Kata Erik tergesa-gesa.
"Mas peluk lagi yah sekarang.? Mas mau berangkat nih.!" Kata Erik lagi sambil mencoba untuk memeluknya kembali.
"Awas ahhh.! Dinda kan udah kasih tau mas, enggak usah pegang-pegang Dinda.! Udah mas pergi sana.! Mas enggak usah perduliin Dinda lagi.!" Kata Dinda dengan suara tinggi sambil menghempaskan tangan Erik dari tubuhnya.
Melihat keadaan Dinda seperti itu, Erik pun langsung memegang erat pundaknya, kemudian ia pun langsung menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Kamu yakin enggak mau mas peluk sebelum mas pergi.? Atau enggak, kamu enggak mau ngomong apa sama mas.? Mumpung mas masih ada disini sekarang, kalau mas udah enggak ada di sini, nanti kamu nyesel.?" Kata Erik sedih, namun entah apa yang ada didalam pikirannya, mengapa tiba-tiba ia berbicara seperti itu, seakan-akan ia tau, setelah ini Dinda pasti akan menyesal telah menolak pelukan darinya.
Mendengar kata-kata dari Erik, Dinda tidak menjawabnya, ia hanya terdiam dengan raut wajah yang sangat sedih dan mata yang berkaca-kaca.
"Ya udah, mas berangkat dulu yah.?" Kata Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda, kemudian ia pun langsung mencium keningnya dengan sangat pelan dan penuh kasih sayang.
"Oh iya.! Kamu jaga diri baik-baik yah disini.? Dan jaga juga dede kita ini.!" Kata Erik lagi sambil mengusap-usap perut Dinda, kemudian ia pun langsung melangkah pergi menuju mobil Arya dan meninggalkan Dinda hanya sendiri.
"Mas Erik tunggu.!" Teriak Dinda, sambil berlari menghampiri Erik, yang sekarang ini masih berjalan menuju mobil Arya, kemudian ia pun langsung memeluknya dari belakang dengan begitu erat.
__ADS_1
"Eeeemm mas Eriiiiiik, Dinda sayang banget sama mas Eriiik.? Dinda juga mau peluk mas sebelum mas pergi.?" Kata Dinda merengek manja, dan hampir menangis.
"Kamu mau peluk mas sebelum mas pergi, hah.?" Kata Erik pelan, sambil berbalik menghadap ke arahnya.
"Iya, Dinda mau mas peluk sebelum mas pergi.?" Kata Dinda sedih dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Eeemmmm, mas peluk yah sekaraaang.?" Kata Erik sambil membalas pelukan Dinda dengan begitu eratnya.
"Hikss,,, hiks,,, hiks,,," Suara Dinda menangis di pelukan Erik.
"Ssssttttt udah, udaaah.! Enggak usah nangis.! Mas janji sama kamu dan juga sama dede, mas usahain secepatnya mas akan pulang lagi kesini, yaaah.?" Kata Erik mencoba untuk menenangkan Dinda.
"Tapi mas Erik beneraaan, mas Erik harus cepat-cepat pulang lagi kesiniiii.! Dinda sama dede mas Erik, disini selalu nungguin maaas.?" Kata Dinda merengek manja seperti anak kecil sambil mengusap usap perutnya.
Melihat Dinda mengusap-usap perutnya, Erik pun tersenyum, kemudian ia pun langsung ikut mengusap-usap perut Dinda, sehingga ia dan Dinda pun mengusap-usap perutnya secara bersamaan sambil tersenyum, dan mereka pun terlihat sangat bahagia.
"Papah berangkat dulu yaaah.? Anak papah sehat-sehat di dalam perut mamah, Inget.! Anak papah ini enggak boleh bandel di dalam perut mamah, kasihan mamahnya yaaah.?" Kata Erik pelan sambil terus mengusap-usap perut Dinda.
Mendengar kata-kata dari Erik, Dinda pun tersenyum.
"Kata Dedeee, papah juga enggak boleh bandel selama papah di Jepang.! Katanyaaa, kasihan mamah, entar mamahnya nangis lagi, sediiiih.?" Kata Dinda dengan sangat manjanya.
"Eeeemmm mamahnya udah bisa yaaah.? Ngomong kaya gini sekaraaaang, hah.? Siapa nih yang ngajarin, hah.?" Kata Erik sambil tersenyum dan mencubit-cubit manja pinggang Dinda, sepertinya ia sedang ingin manja-manjaan dengan Dinda, istri tersayangnya itu.
"Iiiiihhh mas Erik, Dinda geliiii.? Aawwww Dinda geliiiiii, aww udah mas Eriiiik.! Dinda geliiiii.?" Kata Dinda merengek manja karena kegelian.
Melihat Dinda kegelian seperti itu, seketika Erik pun langsung menyudahi cubitannya itu.
"Iya udah, udaaah.! Enggak sayaaang, eeeemmm kasihaaan, kamu geli yah hah.?" Kata Erik sambil memeluk Dinda kembali.
"Iya Dinda geliii." Kata Dinda merengek manja.
"Tadi Dinda sengaja ngomong kaya gitu, biar kalau mas Erik disana bandeeel, mas Erik jadi inget.! Kalau sekaraaang, mas Erik udah punya Dinda, dan sekaraaang, mas Erik juga udah punya dede." Kata Dinda sambil tersenyum.
"Kamu tenang aja yaaah.? Mas enggak akan bandel kok di san,,,,,,,,," Belum sempat Erik menyelsaikan ucapannya, namun sudah terpotong.
Tin,,,, tin,,, tin.! Suara Arya yang lagi-lagi membunyikan klakson mobilnya.
"Rik.! Cepetan dong.! Udah siang banget nih.! kalian lagi ngapain sih.?" Triak Arya dari dalam mobil kesal, karena ia menunggu Erik sudah cukup lama.
Mendengar teriakan dari Arya, Erik pun langsung buru-buru pamitan kepada Dinda
"Ya udah yah sayang, mas berangkat dulu.? Mas Arya udah marah-marah tuh.!" Kata Erik.
"Oh iya.! Kamu jaga diri baik-baik dan jangan lupa minum vitamin.! Biar Dedenya sehat." Kata Erik lagi penuh perhatian, sambil mengusap usap perut Dinda dan kemudian mencium keningnya.
"Iya mas, ya udah mas Erik hati-hati yah.? Kalau mas Erik udah sampai, mas Erik langsung kabari Dinda.!" Kata Dinda dengan raut wajah sedih.
"Iya," Kata Erik singkat sambil menganggukkan kepalanya, kemudian ia pun langsung melangkah menghampiri Arya yang dari tadi sudah menunggunya di dalam mobil, dan Arya pun mengantarkan Erik ke bandara, dan kemudian Erik pun akhirnya terbang ke Jepang.
__ADS_1