DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 26


__ADS_3

Mendengar jawaban dari Erik, Dessy pun tersenyum.


"Ya enggak papa, cuma aneh aja.! Seorang Erik mempunyai istri yang penampilannya, yaaa.? Bisa dibilang sangat jauh lah dari kriteria kamu." Kata Dessy masih tak percaya kalau Erik mempunyai istri yang penampilannya seperti Dinda.


"Soalnya tadi itu aku lihat penampilan istri kamu itu, gilaaaaa seksi banget.? Dan kelihatannya dia juga masih kekanak-kanakan, manja , belum dewasa, iya enggak sih.?" Kata Dessy mencoba untuk menjelaskan.


Mendengar kata-kata Dessy, lagi-lagi Erik pun tersenyum.


"Saya juga bingung dengan perasan saya sendiri.? Sejak saya kenal dia, perasaan saya ini jadi berubah-rubah, kamu juga kan tau sendiri saya itu sebenarnya paling enggak suka sama perempuan yang manja, belum dewasa, ya seperti yang kamu katakan tadi lah.! Tapi lihat dia seperti itu, anehnya saya justru suka, dan apapun yang saya tidak suka, selama itu ada didia.? Semuanya berubah, semuanya terlihat jadi indah dimata saya." Kata Erik panjang lebar, sambil tersenyum membayangkan Dinda Istrinya, ia mencoba untuk curhat kepada Dessy tentang perasaannya saat ini kepada Dinda, karena ia memang sudah benar-benar jatuh hati kepadanya.


Mendengar curhatan dari Erik, Dessy hanya tersenyum, sepatah kata pun tak terucap dari bibirnya.


"Kamu kenapa senyum-senyum.?" Kata Erik bingung melihat Dessy tersenyum seperti itu.


"Ya enggak papa, lucu aja.! Lihat pria sedingin kamu, Bisa sebucin ini.?" Kata Dessy sambil tersenyum menggoda Erik.


"Oh iya, tapi kalau dilihat-lihat istri kamu cantik juga sih, beruntung tau kamu dapatin dia.?


Jangan sampai kamu sia-siakan dia loh Rik.!" Kata Dessy lagi serius, sambil memuji-muji kecantikan Dinda, sepertinya ia belum tau kalau Dinda adalah adik dari Arya.


Mendengar nasihat dari Dessy, Erik hanya tersenyum sambil terus menyetir mobilnya.


1 jam kemudian,,,


Akhirnya Erik dan Dessy pun sampai dikantor Pak Irsyad, namun Erik dan Dessy berpisah, Dessy melangkah menuju ruangannya, sedangkan Erik justru melangkah menuju ruangan Arya.


Sesampainya di ruangan tersebut, Erik melihat Arya yang sedang duduk sambil tersenyum memandangi foto Dessy di ponselnya dengan sangat fokus, sampai-sampai ia tidak menyadari keberadaan Erik, yang sekarang ini sedang berdiri disampingnya.


"Mau sampai kapan kamu pandangi itu foto.? Tuh orangnya udah ada disini.!" Kata Erik sambil tersenyum menggoda Arya.


"Eeh loh Rik, gila ngagetin gw aja sih loh.?" Kata Arya kaget sambil buru-buru menyimpan ponselnya.


"Loh kapan nyampe.? Dessy mana.?" Kata Arya lagi tak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan Dessy.


"Ada tuh di ruangannya.!" Kata Erik.


"Oh jadi sekertaris buat saya itu Dessy.?" Kata Erik lagi.


"Iya dia sekertaris buat loh.! Kenapa, keberatan loh.? Apa jangan-jangan, loh masih suka lagi sama dia.?" Kata Arya nyolot tapi bercanda.


"Gila kali kamu, mau dikemanain kali Dinda.? Lagian bukan itu masalahnya, saya cuma enggak mau aja yah dimanfaatin sama kamu, dijadikan alat supaya kamu bisa deket sama dia." Kata Erik bercanda sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ayo lah Riiikk, tolongin gw.! Biar gw bisa balik lagi sama Dessy, masa sama temen sendiri loh enggak mau bantu sih.? Lagian dulu kan gw putus gara-gara loh, iya kan.? Jadi mau enggak mau, loh harus bantuin gw.!" Kata Arya memohon sekaligus memaksa, sambil memasang wajah melas agar Erik kasihan, karena ia sangat tahu, kalau Erik sahabatnya paling tidak tega melihat dirinya memohon dengan wajah seperti itu, karena ternyata ia menjadikan Dessy sebagai sekretaris Erik, karena ia mau menjadikan Erik sebagai alat supaya bisa nyomblangin dirinya dangan Dessy.


Melihat raut wajah Arya semelas itu, Erik pun tersenyum.


"Bisa aja itu wajah digitu-gituin.? Jelek mah jelek aja kali." Kata Erik sambil tersenyum menggoda Arya.


"Enak aja loh.!" Kata Arya sewot.


"Oh iya, tapi loh mau bantuin gw kan.? Please.!" Kata Arya lagi-lagi memohon.


"Iya deh nanti saya bantuin.! Ya udah saya mau ke ruangan saya dulu." Kata Erik sambil melangkah keluar menuju ruangannya.


DI TEMPAT BERBEDA, DI RUMAH BARU ERIK.


Waktu menunjukkan pukul 09:00 Malam.


Terlihat Dinda yang sedang mondar-mandir sambil menunggu Erik yang belum juga pulang.


"Iiiiiiihhhhh pak Erik kemana sih.? Kok jam segini belum pulang-pulang.? Sebenarnya pak Erik ngapain sih sama itu perempuan.? Apa jangan-jangan.! Pak Erik pulang ke rumah itu perempuan, terus nginep di sana.? Iiiiiiihhhhh entar kalau mereka macam-macam gimana.?"



"Awas aja kalau sampai pak Erik macam-mac,,,,,," Belum sempat Dinda menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar ponselnya berdering TING karena ada pesan masuk.


"Pesan dari siapa yah.?" Kata Dinda lagi penasaran, sambil buru-buru mengambil ponselnya dan mengecek siapa yang mengirim pesan untuknya, dan ternyata yang mengirimkan pesan untuknya adalah Erik.


"Dinda, kamu pasti belum makan kan.? Kamu pesan makanan yah.! Itu ada uang di meja kamar, kamu pake aja itu uang buat bayar makanan.! Sisanya kamu pake buat beli keperluan kamu, kayaknya sekarang saya pulang malam, soalnya dikantor lagi sibuk banyak banget kerjaan." Isi pesan dari Erik.


"Apaan kerja, kerja, kerja.! Sibuk lah, pulang malam lah, banyak kerjaan.? Bohong banget sih, orang lagi jalan sama perempuan juga.? Iiihhh ngeselin.!" Kata Dinda kesal, karena seperti yang kita tau ia mengira kalau sekarang ini Erik sedang jalan dengan Dessy.


"Ahhh udah lah enggak mau mikirin pak Erik lagi.! Lebih baik sekarang gw pesen makanan." Kata Dinda lagi.


"Oh iya.! Tadi kan pak Erik ngomong ada uang di meja kamar buat beli makanan.? Dimana yah.?" Kata Dinda lagi sambil buru-buru melangkah menuju meja, dan melihat berapa jumlah uang yang Erik suaminya itu berikan untuknya.


"Waahh.! Banyak bangeeeeett.? Ini sih bukan sisa beli makanan, kalau kaya gini.? Bisa-bisa gw shoping setiap hari, eeeeemm seneng juga yah ternyata punya suami.?" Kata Dinda sambil tersenyum senang melihat jumlah uang yang cukup banyak yang Erik berikan untuknya, karena sepertinya mulai sekarang semua kebutuhannya Erik lah yang akan menanggung, karena Erik adalah sosok suami yang bertanggung jawab.


"Ehhh, tapi gw jangan seneng dulu.! Ngomong-ngomong pak Erik kemana yah.? Sekarang pak Erik lagi ngapain sama itu perempuan.? Aduuuhh, pusing banget sih kepala gw mikirin pak Erik ?" Kata Dinda panik dan kesal memikirkan keberadaan Erik.


MASIH DI RUMAH BARU ERIK.


Waktu menunjukkan pukul 11:30 Malam.

__ADS_1


Terlihat Erik yang baru saja pulang dari kantor dan masuk kedalam kamarnya dengan sangat pelan dan hati-hati, karena diwaktu semalam ini biasanya Dinda sudah tidur, jadi ia tidak mau mengganggu tidurnya, namun disaat ia masuk ke dalam kamar, ia justru melihat Dinda yang masih melek dan sedang duduk diatas ranjang.


"Loh, kamu belum tidur.?" Kata Erik heran melihat Dinda yang masih melek diwaktu semalam ini, kemudian ia pun langsung melangkah dan duduk tepat disampingnya.


Mendengar pertanyaan dari Erik, Dinda hanya terdiam sambil terus cemberut.


"Kamu kenapa belum tidur.? Kamu enggak betah tinggal disini.?" Kata Erik lagi, pelan dan penuh perhatian.


"Tau ahh.!" Kata Dinda ketus karena Erik yang tidak peka-peka dengan perasaannya sekarang ini, kemudian ia pun langsung berbaring membelakanginya sambil menarik selimut untuk menutupi wajah dan seluruh tubuhnya.


Melihat tingkah laku istrinya seperti itu, Erik hanya terdiam sambil menghela nafas pelan dan membuangnya kasar karena pusing, kemudian ia pun langsung melangkah pergi menuju kamar mandi untuk mandi.


"Ihhhh Dasar suami enggak peka.! Enggak ngerti banget sih kalau istrinya lagi ngambek.? Orang mah rayu ke.! Apa ke.! Ini mah malah pergi.?" kata Dinda dalam hati kesel sambil terus menutupi seluruh tubuh dan wajahnya menggunakan selimut, ia kesel seperti itu karena ia berharap tadi itu Erik akan merayu dan memanja-manjakannya.


15 menit berlalu,,,,


Akhirnya Erik pun keluar dari kamar mandi, setelah keluar dari kamar mandi, ia tersenyum melihat Dinda yang masih terus menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Melihat keadaan Dinda seperti itu, Erik pun langsung menghampirinya dan berbaring tepat disampingnya, kemudian ia pun iseng-iseng memeluk tubuh Dinda dari belakang.


"Aduuhhh capek banget baru pulang kerja." Kata Erik dengan suara seperti orang kecapean sambil tersenyum menggoda Dinda.


Merasa tubuhnya dipeluk oleh Erik, Dinda pun tersenyum, akan tetapi karena ia gengsi, ia pun pura-pura ngambek.


"Awas ah.!' Kata Dinda dengan suara sedikit tinggi, sambil menyingkirkan tangan Erik dari tubuhnya.


"Eeeeemmmm enggak mauuuuu, pengin peluk-peluuuuuk.?" Kata Erik merengek manja seperti anak kecil, sambil memeluk tubuh Dinda lagi dengan begitu erat.


Merasakan tangan Erik yang mengeratkan pelukannya, Dinda pun lagi-lagi tersenyum, akan tetapi lagi-lagi ia pura-pura ngambek, dengan segera ia pun langsung membuka selimut yang menutupi wajahnya.


"Ngapain pengin peluk-peluk.? Bukanya pak Erik habis peluk-pelukan sama pacar pak Erik seharian.?" Kata Dinda sambil cemberut manja, sepertinya sekarang ini ia benar-benar sangat cemburu melihat Erik yang habis jalan dengan Dessy.


"Peluk-pelukan sama pacar, seharian.?


Maksudnya.?" Kata Erik bingung.


"Iya, pak Erik habis peluk-pelukkan sama pacar pak Erik kan.? Perempuan yang tadi ngobrol sama pak Erik di kampus, iya kan.?" Kata Dinda ngambek, sambil menatap sinis wajah Erik.


Mendengar jawaban dari Dinda, Erik hanya terdiam sambil tersenyum.


"Oh jadi istri saya yang manja ini bener-bener cemburu nih.?" Kata Erik dalam hati, sambil terus tersenyum melihat tingkah laku Dinda.

__ADS_1


__ADS_2