DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 42


__ADS_3

"Ya udah, ya udah.! Kamu tenang yaaah.? Sekarang kita ke kamar, biar kamu mas gendong.!" Kata Erik pelan dan penuh perhatian, sambil buru-buru mengangkat tubuh Dinda dan kemudian menggendongnya menuju kamar.


"Sakiiitt masss.?" Kata Dinda terus mereunyi kesakitan.


"Iya sayaaaang, mas tau sakit.? Sabar yaaah, sebentar lagi kita sampai ke kamar." Kata Erik dengan sabarnya, sambil terus menggendongnya menuju kamar, hingga akhirnya mereka berdua pun sampai di kamar.


"Udah sekarang kamu boboan yah.?" Kata Erik lagi sambil membaringkan Dinda di atas ranjang dengan sangat pelan dan hati-hati, kemudian ia pun langsung duduk diatas ranjang tersebut tepat disampingnya.


"Aduh sakiiiiiit.? Mamaaaaa, mama cepet pulaaaaang.? Perut Dinda sakiiiiit, aww aduh, aduh.! Sakiiiiiit, Dinda enggak kuaaaat, mama pulaaaaang.!" Kata Dinda terus mereunyi kesakitan sambil memanggil-manggil ibu Yuli mamahnya, karena biasanya disaat ia sedang


merasakan sakit perut saat menstruasi, ia selalu dirawat olehnya, karena seperti yang kita tau, ia adalah anak yang sangat manja.


"Sayaaang, kamu kenapa manggil-manggil mamaaa.? Kan disini ada maaas.? Kalau kamu sakiiiit, kamu butuh sesuatu, kamu ngomong sama mas.! Sekaraaang, kamu ngomong yah.? Kamu mau apa, biar mas tau.?" Kata Erik penuh perhatian, karena sekarang ini ia benar-benar sangat panik melihat keadaan Dinda istrinya seperti itu, apalagi ia juga sangat tau kalau perutnya itu pasti sangat lah sakit, karena tidak biasanya ia kesakitan sampai memanggil-manggil mamanya yang sekarang ini masih berada di Korea, yang tidak akan mungkin bisa langsung datang untuk merawatnya.


"Hiks,, hiks,, tapi mas, hiks,, hiks,, perut Dinda hiks,, hiks,, sakiiiiit.?" Kata Dinda sambil menangis, karena perutnya tersa semakin sakit.


"Eeeemm, kasihan banget sih istri mas ini.? Perut kamu pasti sakit banget yah, hah.? Mas usapin yaaaah, biar enggak sakit lagi.!" Kata Erik dengan sabarnya, sambil mengusap air mata Dinda.


"Hiks,, hiks,, iya usapiiiin.! Hiks,, hiks,, sakiiiiiit.?" Kata Dinda sambil terus menangis.


"Ya udah, mas usapin yaaah.?" Kata Erik sambil buru-buru mengusap-usap perut Dinda


"Sekarang kamu istirahat, kamu bobo yah.?" Kata Erik lagi sambil terus mengusap-usap perut Dinda dengan sangat pelan.


"Hiks,,, hiks,,, Dinda enggak bisa hiks,,, hiks,,, bobooo hiks,,, hiks,,, sakiiiit.? Mas juga hiks,,, hiks,,, enggak boleh hiks,,, hiks,,, bobooo.! Mas Erik hiks,,, hiks,,, temenin hiks,,, hiks,,, Dindaaaaa.?" Kata Dinda dengan sangat manjanya, ia tidak mau menuruti perintah Erik untuk tidur, karena rasa sakit diperutnya yang membuatnya tidak bisa tidur.


"Iyaaa, mas enggak bobo kok.! Mas akan temani kamu, sampai kamu bobo, yaaah.?" Kata Erik pelan sambil tersenyum dan terus mengusap-usap perut Dinda, hingga akhirnya ia dan Dinda pun ketiduran, namun disaat mereka berdua ketiduran, tiba-tiba Dinda terbangun.


"Euuuummmm." Suara Dinda terusik dari tidurnya, sambil meraba-raba perutnya yang sekarang ini sudah tidak terasa sakit lagi.


"Perut aku udah enggak sakit lagi.?" Kata Dinda sambil tersenyum karena senang akhirnya perutnya yang sakit itu sembuh.

__ADS_1


"Eeeehh tapi tunggu dulu.! Mas Eriiik.? mas Erik mana y,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong, kemudian ia pun langsung tersenyum, karena ia melihat Erik yang sudah tertidur pulas dengan keadaan tangan yang masih berada diatas perutnya, mungkin tangan Erik berada di atas perut Dinda, karena seperti yang kita tau tadi ia ketiduran saat sedang mengusap-usap perutnya.


Melihat Erik ketiduran dengan keadaan seperti itu, Dinda pun tersenyum.


"Maafin Dinda ya mas.? Gara-gara Dinda sakit, mas Erik sampai capek dan lelah kaya gini karena ngurusin Dinda.? Dinda janji mas, Dinda akan berusaha menjadi istri yang baik buat mas, dan Dinda enggak akan pernah bikin mas kecewa lagi, Dinda sayang banget sama mas.? Sayaaang banget." Kata Dinda dalam hati, sambil memandangi wajah tampan Erik dan mengusap-usap rambutnya dengan pelan dan penuh kasih sayang.


"Eeeuuummm." Suara Erik terusik dari tidurnya.


"Ssssssttttt, jangan bangun dulu ya maaas.? Mas harus istirahat.!" Kata Dinda lag sambil tersenyum dan terus mengusap-usap rambut Erik, ia tidak mau kalau sampai Erik bangun, karena Erik memang kelihatan sangat lelah dan capek, karena seperti yang kita tau, sejak ia pulang dari kampus ia belum istrirahat sama sekali.


"Naaah gitu dong bobo lag,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.


"Euuuummmm." Suara Erik terusik lagi dari tidurnya, mungkin karena berisik mendengar suara Dinda.


"Eehhh ssstttt jangan bang,,,,," Lagi-lagi ucapan Dinda terpotong.


"Dinda.? Kamu belum bobo.?" Kata Erik kaget, melihat Dinda yang masih melek.


"Tadi Dinda udah bobooo, tapi Dinda Banguunnn.? Terus Dinda enggak bisa bobo lagi." Kata Dinda manja, sambil cemberut.


"Emang kenapaa, kok enggak bisa bobo.? Ini perutnya masih sakit.?" Kata Erik pelan sambil mengusap-usap perut Dinda.


"Enggak.!" Kata Dinda singkat.


"Terus kenapa dong enggak bisa bobo.?" Kata Erik penasaran.


"Dinda kasihan ngeliat mas Eriiik, mas Erik capek yah.? Dinda minta maaf yaaah.? Gara-gara Dinda sakit, Dinda jadi ngerepotin mas, mas jadi enggak ada waktu buat istirahat, Dinda minta maaf.?" Kata Dinda sedih, karena ia benar-benar merasa bersalah kepada Erik.


"Kamu itu ngomong apa sih.? Mas ini suami kamu.! Ngurusin kamu itu adalah kewajiban dan tanggung jawab mas sebagai seorang suami, lagian mas juga enggak pernah kok ngerasa direpotin sama kamu.! Bisa ngurusin kamu, bisa jagain kamu, bisa buat kamu seneng, itu semua justru membuat mas bahagia sebagai seorang suami, karena itu artinyaaa, mas sudah berhasil manjadi suami yang baik buat kamu.! Jadiiii, kamu enggak boleh ngomong kaya gitu lagi yah.?" Kata Erik panjang lebar, ia mencoba untuk menjelaskan kepada Dinda, kalau apa yang sekarang ini ia lakukan kepadanya adalah kewajiban dan tanggungjawab nya sebagai seorang suami.


Mendengar penjelasan dari Erik, Dinda pun terharu, kemudian ia pun langsung memeluknya

__ADS_1


"Eeeeemmm mas Eriiik, Dinda sayang banget sama mas Erik.? Dinda enggak mau kehilangan mas Eriik." Kata Dinda sambil terus memeluk Erik dengan begitu eratnya.


"Mas juga sayaaaang banget sama kamu, kamu enggak boleh ngomong kaya gitu lagi yaaah.? Ingat.! Kamu itu adalah tanggung jawab mas." Kata Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda.


"Iya, Dinda enggak bakalan ngomong kaya gitu lagi.! Dinda janji.?" Kata Dinda sambil tersenyum.


"Dan Dinda juga janji sama mas Erik, Dinda akan berusaha menjadi istri yang baiiiiiik buat mas Erik.! Dan mulai sekaraaang, Dinda juga udah siap kok hamil anak mas.?" Kata Dinda sambil terus tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia, sepertinya sekarang ini ia sudah percaya seutuhnya kepada Erik, sehingga sekarang ini pun ia sudah siap mempunyai keturunan darinya.


"Eeemmm makasih yah sayaaaang.? Mas seneeeeeng banget denger kamu ngomong kaya gini.? Kamu enggak usah takut yah.? Meskipun kamu hamil, dan seandainya nanti kamu enggak seksi lagi, mas akan tetap setia kok sama kamu, jadi kamu enggak usah berfikiran yang macem-macem." Kata Erik serius, ia mencoba meyakinkan Dinda, kalau ia akan tetapi setia kepadanya meskipun nanti Dinda sudah tidak seksi lagi seperti sekarang ini.


"Dinda juga seneeeeeng banget kalau bisa hamil anak mas.? Soalnyaaa, Dinda pengin lihat anak kita itu nanti mirip siapa.? Mirip mamahnya yang cantiiik, apa mirip papah nya yang ganteng.?" Kata Dinda sambil terus tersenyum dengan sangat bahagia.


"Eeemmm, mirip siapa yaaah.?" Kata Erik sambil tersenyum.


"Oooh pasti mirip papahnya yang ganteng dooong." Kata Erik lagi sambil terus tersenyum.


"Enggak papa mirip mas juga, kan mas papahnya.?" Kata Dinda sambil tersenyum dengan sangat manjanya.


"Iyaaa," Kata Erik pelan sambil mengusap-usap rambut Dinda.


"Oh iya mas Erik, tapi bikin Dede nya jangan sekaraaang, perut Dinda masih sakiiiit.? Enggak kuat kalau mas naikin." Kata Dinda dengan sangat polosnya.


Melihat istrinya sepolos itu, Erik pun tersenyum.


"Kamu itu lucu banget sih.? Kamu tenang aja yah.? Malam ini mas enggak akan naikin tubuh seksi kamu ini kok, kasihan lagi sakit.?" Kata Erik sambil mencubit gemas pipi Dinda.


"Tapi besok malaaaam, tubuh seksi kamu ini akan mas naikin sampai pagi.?" Kata Erik sambil tersenyum menggodanya.


"Iiiiihhhhh mas Eriiiiiik, Enggak mau beraaaaat.?" Kata Dinda sambil merengek dengan sangat manjanya.


"Iya, enggak, enggak.! Udah malam, kita bobo yah.?" Kata Erik sambil tersenyum, kemudian ia dan Dinda pun langsung siap-siap untuk tidur.

__ADS_1


######


__ADS_2