DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 56


__ADS_3

MASIH DI KAMAR DIKI.


Waktu menunjukkan pukul 06:00 Pagi.


Terlihat Diki dan Renata yang baru saja bangun dari tidurnya, sambil terus asyik bercinta di dalam kamarnya.


"Coba sayang, Abang pengin cium.!" Ucap Diki sambil tersenyum, ia sengaja menyebutnya sayang karena sekarang ini ia sedang merayunya.


"Eeemmmm Abaaaaang," Rengek Renata yang sekarang ini sedang berada di pelukannya.


"Kenapaaa.?" Ucap Diki pelan sambil mengusap-usap rambutnya.


"Tadi Abang panggil Renata apa.?" Ucap Renata, sepertinya ia ingin mendengar Diki menyebutnya dengan panggilan sayang lagi.


"Sayang kan, emang kenapa.?" Ucap Diki sambil tersenyum.


"Eeemmmm Bang Dikiiiiii, Renta seneng kalau Bang Diki panggil Renata sayang." Rengek Renata dengan manjanya, sehingga membuat Diki pun tersenyum.


"Iyaaa," Ucap Diki pelan sambil mengusap-usap rambutnya.


"Bang Diki, Bang.!" Ucap Renata lagi.


"Iyaaa, kenapa lagi.?" Ucap Diki dengan sabarnya.


"R, R, Renata, s, s, sayang sama bang Diki." Ucap Renata gugup dengan raut wajah merah karena malu, akhirnya ia mengakui juga perasaannya kepada Diki.


"Iya, Abang juga udah tau kok.!" Ucap Diki yang memang sudah mengetahui hal tersebut.


"Udah tau, emang Abang tau dari mana.?" Ucap Renata bingung dan penasaran.


"Sayang, emang kamu lupa.?" Ucap Diki sambil tersenyum.


"Dari semalaman, pas Abang mainin ini kamu.! Kamu kayak gini terus nih.! Aw, aw, aw, aw, aw Baaaaang, Bang Dikiiiiii, aw, aw, aw, aw, aw, Baaaaang, aw, aw, aw, Renata, aw, aw, aw, aw, aw, sayang, aw baaang, Renata sayang aw, aw, aw, aw, bang Diki." Ucap Diki sambil tersenyum menggodanya sambil menirukan suara ******* Renta semalaman saat sedang bercinta dengannya, sepertinya ia refleks berbicara seperti itu karena saking menikmati permainan darinya.


"Iiiihhh Abaaaag." Rengek Renata dengan raut wajah semakin merah karena malu, sehingga membuat Diki pun lagi-lagi tersenyum.


"Kenapa emang.? Enak yah Abang mainin ini nya.?" Ucap Diki sambil terus tersenyum dan mengusap-usap bagian bawah Renata.


"Eeeemmmm Abang." Rengek Renata lagi sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh Diki, sehingga membuat Diki pun lagi dan lagi tersenyum.


"Kapan-kapan main lagi yah sama Abang.? Tapi jangan sekarang.! Soalnya sekarang punya Abang udah lemes banget nih.! Udah kecil, soalnya dari tadi sama kamu dimainin mulu." Ucap Diki sambil tersenyum dan memegang juniornya yang memang sudah lemas dan mengecil, ia berbicara seperti itu karena tanpa sepengetahuan dari kita, ia dan Renata baru saja melakukan lagi hubungan tersebut.


"Iya bang, Renta mau. Tapi Renata enggak mau langsung main, Renata penginnya dimainin dulu kayak semalam sama Abang, Renata pengin ini Renata dicium-cium sama Abang, terus pengin dijilat-jilat sama Abang, terus pengin dimainin pake jari lagi kayak semalam sama Abang." Ucap Renata dengan polosnya, mengingat kejadian semalam, sepertinya sekarang ini ia sudah terbuai oleh rayuannya.

__ADS_1


"Iyaaa, nanti Abang mainin deh kayak semalam. Abang cium-cium nih.! Ini kamu nih.! Abang mainin juga pake jari, terus Abang jilat-jilat deh sampai ini kamu basah kayak semalam, biar licin, biar dimasukinya enak enggak sakit." Ucap Diki sambil tersenyum dan mengusap-usap bagian bawah Renata.


"Tapi kok semalam udah Abang mainin, udah basah, udah licin, ini Renata masih sakit pas Abang mau masukin.?" Ucap Renata dengan polosnya, sehingga membuat Diki pun tersenyum.


"Sayaaaang, semalam kan pertama kamu ngelakuin kayak gitu.! Jadi punya kamu ini masih sempit." Ucap Diki mencoba untuk menjelaskan.


"Tapi enak." Ucapnya lagi sambil tersenyum menggodanya.


"Iiiihhh Abaaaag." Rengek Renata.


"Ya udah, ya udah.! Mendingan sekarang kamu cium Abang.!" Ucap Diki sambil tersenyum, lagi-lagi ia meminta Renata untuk menciumnya.


"Ya udah, sekarang Abang Renata cium yah.?" Ucap Renata, kemudian ia pun langsung mencium bibirnya,



Hingga mereka berdua pun saling beradu bibir dan lidah diwaktu sepagi ini.


"Bang, sebenarnya setatus kita ini apa sih bang.?" Ucap Renata yang baru saja selesai berciuman, sepertinya ia sudah mulai menuntut setatus kepada Diki.


"Kenapa emang.?" Ucap Diki dengan santainya.


"Ya enggak, aneh aja.! Kita ciuman, kita pelukan, kita bobo bareng semalaman, bahkan kita ngelakuin hubungan suami istri." Ucap Renata mencoba untuk menjelaskan.


"Ya enggak Bang, Renata cuma aneh aja.! Sebenarnya setatus kita ini apa sih bang.? Kita pacaran, atau apa.?" Ucap Renata ingin memastikan sebenarnya apa setatusnya dengannya.


Mendengar ucapan Renata, Diki pun terdiam sejenak, kemudian ia pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Emang segitu pentingnya yah, setatus buat kamu.?" Ucap Diki dengan raut wajah yang sangat serius.


"Ya penting lah Bang.!" Ucap Renata sedikit kesel, dengan pertanyaan Diki yang menurutnya tidak masuk akal.


"Ya tapi buat apa.? Yang penting kita kan udah tau, kita ini sama-sama suka dan kita ini juga sama-sama sayang. Abang sayang sama kamu, kamu juga sayang sama Abang, iya kan.?" Ucap Diki mencoba untuk menjelaskan.


"Tapi Abang enggak pernah sekalipun ngomong kalau Abang ini suka sama Renata." Ucap Renata sambil cemberut, sehingga membuat Diki pun tersenyum kesal.


"Sayang, kalau Abang enggak suka sama kamu.! Buat apa coba semalam kita disini.! Kita ngelakuin semuanya berdua, buat apa.?" Ucap Diki yang sedikit terpancing emosinya, sehingga membuat Renata pun sedikit ketakutan.


"Y, y, ya udah iya, Renata minta maaf.! Tapi udah dong Abang jangan marah.!" Ucap Renata, ia ketakutan seperti itu karena sekarang ini ia sangat-sangat lemah karena saking cintanya kepada Diki.


"Ya lagian kamu sih sayang, pagi-pagi udah mancing-mancing emosi Abang." Ucap Diki yang sudah mulai reda emosinya.


"Ya udah jangan marah teruuus.! Renata minta ma'aaaaf.?" Rengek Renata dengan raut wajah yang sangat melas, sehingga membuat Diki pun kasihan.

__ADS_1


"Iya Abang maafin." Ucapnya pelan sambil mengusap-usap rambutnya.


"Ya udah, kalau gitu coba dong Renata pengin denger.! Abang ngomong kalau Abang sayang sama Renata." Ucap Renata, lagi-lagi ia menuntutnya seperti itu, sehingga Diki pun lagi-lagi kesel dibuatnya.


"Sayaaaang, please deh jangan kayak anak kecil.!" Ucapnya.


"Ya udah, iya enggak.!" Ucap Renata sambil cemberut.


"Lagian buat sih sayang.? Kita ini kan udah Dewasa, jadi udah enggak penting sayang hal-hal kayak gitu.! Kamu ngerti kan.?" Ucap Diki mencoba untuk menjelaskan.


"Iya, Renta ngerti.! Ucap Renata masih cemberut.


"Nah gitu dong sayang." Ucap Diki.


"Tapi gimana coba kalau nanti sampai Renata hamil.?" Ucap Renata dengan bawelnya, sehingga Diki pun lagi-lagi tersenyum kesal dibuatnya.


"Sayang, kamu itu ngomong apa sih.? Kamu ini enggak bakalan hamil." Ucap Diki mencoba untuk menyakinkannya, yang sebenarnya ia pun tidak yakin dengan ucapannya.


"Enggak bakalan hamil gimana sih bang.? Kita itu semalam ngelakuinnya bukan sekali loh bang.! Kita itu ngelakuinnya berkali-kali." Ucap Renata sedikit kesel, ia berbicara seperti itu karena memang benar semalam ia dan Diki melakukan hubungan tersebut berkali-kali, bahkan hampir sampai pagi, ia dan Diki hanya tidur sebentar dan itu pun setelah mereka bangun Diki langsung meminta berhubungan seperti itu lagi kepadanya, mungkin Diki seperti itu karena semalam ia sedang kesepian ditambah semalaman cuaca sedang hujan deras, sehingga membuatnya pun kedinginan ditambah lagi melihat Renata yang sedang tidur di pelukannya dengan keadaan tubuh tanpa pakaian sehelai pun, sehingga nafsunya pun perlahan naik dan semakin menggila.


"Renata takut Bang.! Renata takut.! Nanti kalau sampai Renata hamil gimana.?" Ucap Renata marah dengan suara sedikit tinggi, sehingga membuat Diki pun sedikit panik, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan erat.


"Sayang, sayang, ssssstttttt.! Udah, udah, udaaaah.!" Ucap Diki mencoba untuk menenangkannya sambil mengusap-usap rambutnya, kemudian ia pun langsung menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam.


"Kamu percaya sama Abang yah.? Kamu enggak bakalan hamil, enggak.! Enggak bakalan hamil. Jadi stop.! Stop marah-marah dan teriak-teriak kayak gini.! Lagian kan kamu tau, kamar Abang ini enggak kayak kamar kamu.! Kedap suara, nanti kalau sampai Siska sama Dimas denger gimana.?" Ucapnya lagi mencoba untuk menasehatinya.


"Hiks,, hiks,, tapi beneran kan Bang, hiks,, hiks,, Renata enggak bakalan hiks,, hiks,, hamil.?" Ucap Renata sambil menangis karena saking takutnya kalau sampai hal itu terjadi, karena kalau sampai hal itu terjadi, Pak Edo Ayahnya pasti akan marah besar, karena pak Edo adalah sosok ayah yang sangat-sangat keras dalam mendidik anak-anaknya, itulah sebabnya mengapa Marcell adik dari Renata ia usir dari Rumah dan tinggal di jalanan seperti sekarang ini, itu semua karena ia susah diatur.


"Sssttttt.! Udah, udah, kamu jangan nangis sayang.! Iya sayang, kamu percaya sama Abang yah.? Kamu ini enggak bakalan hamil sayang, enggak.! Enggak bakalan." Ucap Diki mencoba untuk menenangkannya lagi sambil terus memeluk dan mengusap-usap rambutnya.


########


Haduuuh.! Kira-kira Diki itu tipe cowok seperti apa yah.? 🤔


Sebenarnya yang benar itu siapa sih.?


-Diki dengan pemikirannya, kalau setatus itu enggak penting, yang penting unyuknya kita sama-sama suka dan kita sama-sama sayang.


Atau


-Renata yang kekeuh kalau sebuah hubungan itu harus diperjelas dengan adanya setatus.


Jangan lupa, like coment dan vote.!

__ADS_1


__ADS_2