DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 48


__ADS_3

DI KANTOR PAK IRSYAD.


Waktu menunjukkan pukul 02:00 siang.


Terlihat Erik yang sedang duduk termenung di ruang kerjanya, dengan raut wajah yang sangat pusing dan frustasi.



Karena memikirkan keadaan rumah tangganya yang sekarang ini sedang berada diujung tanduk, belum lagi mengingat kejadian tadi saat ia melihat Dinda istrinya, yang sedang dipegang-pegang perutnya oleh laki laki lain, semua itu pun membuat perasaannya semakin tidak karuan.


Disaat Erik sedang duduk termenung seperti itu, tiba-tiba Arya masuk ke ruangannya.


"Rik, loh kenapa sih.? Loh masih mikirin kata-kata dari Dinda semalam.? Udah lah Rik.! Jangan terlalu dipikirin.! Mungkin Dinda ngomong kayak gitu, karena semalam Dinda lagi marah." Kata Arya pelan, ia mencoba untuk menghiburnya.


"Enggak Ya,.! Dinda memang serius ingin cerai dari saya, dan sepertinya,,,, saya juga akan mengabulkan permintaan Dinda itu.! Soalnya tadi itu saya ke rumah kamu, dan kamu tau enggak.? Tadi tuh di rumah kamu, saya lihat Dinda lagi sama laki-laki lain, terus kata Dinda, laki-laki itu adalah pacarnya, dan kata Dinda juga, laki-laki itu adalah alasannya mengapa tiba-tiba Dinda ingin cerai dari saya." Kata Erik pelan dengan keadaan yang sangat lemas, ia mencoba untuk menjelaskan kepada Arya dengan apa yang baru saja ia lihat dirumahnya, dan sepertinya setelah melihat kejadian tersebut, ia benar-benar akan mengabulkan permintaan Dinda untuk bercerai dengannya.


"Enggak, enggak mungkin.! Enggak mungkin Dinda kaya gitu.? Dinda itu adik gw Rik, dan gw itu tau betul sifat Dinda itu kaya gimana.? Enggak mungkin Dinda selingkuh, apalagi sampai bawa laki-laki lain kedalam rumah.? Tolong Rik loh jangan gegabah.! Loh jangan pernah mengabulkan permintaan Dinda.! Gw mohon banget Rik sama Loh.! Tolong Rik jangan cerai kan Dinda.! Biar nanti gw yang ngomong baik-baik sama Dinda." Kata Arya memohon-mohon dengan raut wajah yang sangat melas, agar Erik tidak mengabulkan permintaan dari Dinda adiknya, karena ia tau betul kalau Dinda adiknya itu tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu.


"Saya juga enggak tau Ya, yang jelas sekarang saya lagi pusing banget mikirin rumah tangga saya ini.?" Kata Erik semakin pusing mendengar kata-kata Arya.


DI KAMPUS.


Waktu menunjukkan pukul 09:00 Siang


Terlihat Tika yang sedang duduk di dalam kantin, sambil asyik ngobrol bersama dengan Dinda.



Setelah mendengar kata-kata dari Erik kemaren, yang mengatakan kalau ia akan mengurus surat perceraiannya dengan dirinya, Dinda pun akhirnya kembali masuk ke kampus.


"Oh iya Din, gimana nih kabar rumah tangga loh sama pak Erik ?" Kata Tika penasaran, karena ia tidak tau bagaimana kabar kelanjutan rumah tangga Dinda dengan Erik.

__ADS_1


"Udah lah Tik, aku males ngomongin masalah it,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong, karena tiba-tiba ia melihat Ria yang sedang berjalan dengan sangat terburu-buru menghampirinya dan juga Tika.


"Eehh Ria, kamu kenapa.? Cepet banget jalanya, ada apa.?" Kata Dinda penasaran melihat Ria berjalan secepat itu.


"Tau nih Ria, ada apa sih.? Kebiasaan deh.! Loh itu suka heboh.!" Kata Tika yang juga penasaran melihat Ria berjalan secepat itu.


Mendengar pertanyaan dari Dinda dan Tika, Ria pun terdiam, kemudian ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Din gawat Din.! Tadi tuh gw lihat pak Erik, kaya lagi pamitan gitu.? Terus kan gw tanya tuh sama anak-anak, sebenarnya tuh pak Erik mau kemana.? Terus kata mereka pak Erik mau pulang ke Bandung, gw yakin deh.! Pak Erik pulang ke Bandung gara-gara loh kekeuh pengin cerai dari pak Erik." Kata Ria tergesa-gesa, ia mencoba untuk memberi tahu Dinda dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Udah Din lebih baik sekarang loh kejar pak Erik Din, cepetan.!" Kata Ria lagi menyuruh Dinda untuk cepat-cepat mengejarnya, karena ia sangat yakin kalau Erik ke Bandung karena ingin menghindar dan bisa cepat-cepat melupakan Dinda yang keukeh ingin cerai darinya.


Mendengar kata-kata dari Ria, Dinda hanya terdiam dengan raut wajah datar, sepatah kata pun tak terucap dari bibirnya.


"Din, loh kenapa diam aja sih.? Loh kejar dong pak Erik.! Emang loh benar-benar udah ikhlas kehilangan pak Erik.? Cepetan kejar.!" Kata Tika dengan suara sedikit tinggi karena kesal melihat Dinda yang bukanya mencegah Erik malah justru terdiam seperti itu, Tika menyuruh Dinda mengejar Erik, karena ia sangat tau kalau Dinda masih sangat mencintainya.


"Enggak, aku enggak mau ngejar pak Erik.! Lagian emang ini kok yang aku mau, jauh dari pak Erik.! Kalau aku jauh dari pak Erik, kan aku bisa ngelupain pak Erik dengan mudah." Kata Dinda menolak perintah dari Tika dan Ria, karena sepertinya ia sudah serius dengan keputusannya untuk bercerai darinya, sehingga ia sudah tidak perduli lagi Erik mau kemana, meskipun sesungguhnya dari lubuk hati yang terdalam, ia sangat sakit mendengar kabar tersebut.


DI BANDUNG.


Waktu menunjukkan pukul 07:00 Malam.


Sepertinya Erik memang benar-benar pulang ketanah kelahirannya di Bandung, akan tetapi ia ke Bandung tidak pulang ke rumah orang tuanya, ia justru terlihat masuk kedalam gedung, karena ia ingin menghadiri acara pernikahan sepupunya yang bernama Andin.


Bahkan di dalam gedung tersebut pun, ia bertemu dengan pak Edi dan ibu Sari kedua orang tuanya yang sudah lama menunggunya, mereka datang ke gedung tersebut, karena mereka pun sama seperti Erik sedang menghadiri acara pernikahan Andin, keponakan nya itu.


"Rik, kok kamu datang sendiri.? Emang Dinda enggak ikut.?" Kata Ibu sari heran karena melihat Erik putranya datang ke acara pernikahan tersebut tidak bersama dengan Dinda istrinya.


"Iya Rik, Dinda mana.? Kok enggak ikut.?" Kata pak Edi yang juga bingung melihat Erik putranya datang ke acara tersebut hanya sendiri, karena ia benar-benar tidak tau, kalau ternyata rumah tangga Erik putranya itu sedang berada di ujung tanduk.


"K, k, kenapa mah, pah.? T, t, tadi mamah sama papah nanyain Dinda.? Iya Dinda enggak bisa ikut mah, pah.! Solanya sekarang ini Dinda lagi banyak banget tugas kuliah, jadi dia enggak bisa ikut, takut kecapekan katanya." Kata Erik gugup, ia terpaksa berbohong kepada kedua orangtuanya, karena ia tidak mau melihat kedua orangtuanya ikut sedih dengan nasib rumah tangganya sekarang ini.

__ADS_1


"Ohhh gitu.? Ya udah kalau gitu sekarang kita masuk ke dalam yuk.?" Kata ibu Sari mengajak Erik dan pak Edi masuk kedalam, untuk memberi selamat kepada Andin dan calon suaminya, kemudian ia pun langsung melangkah masuk kedalam diikuti oleh pak Edi dan Erik dari belakang, namun disaat Erik sedang melangkah menghampiri Andin dan calon suaminya, tiba-tiba langkahnya terhenti, karena ia kaget bukan main melihat siapa sosok calon suami dari Andin, kemudian dengan segera ia pun langsung melanjutkan langkahnya dengan raut wajah yang sangat marah, kemudian ia pun langsung menghajarnya.


"Kurang ajar.! Berani banget loh mempermainkan Dinda.? Dan sekarang loh malah asyik-asyikkan menikah dengan sepupu gw.? Loh pikir loh itu siapa hah.?"



Teriak Erik dengan suara yang sangat tinggi, sambil terus menghajar sosok calon suami dari Andin yang tak lain adalah Dokter Irvan, Iya,,, Dokter Irvan sampai babak belur, ini adalah kali pertama Erik menghajar seseorang karena perempuan, dan ini pun adalah kali pertama ia berbicara dengan mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu, karena sekarang ini ia benar-benar sangat marah kepada Dokter Irvan, karena menurutnya Doktet Irvan telah mempermainkan cinta Dinda dan juga cinta Andin sepupunya.


Melihat Erik menghajar Dokter Irvan, seluruh tamu undangan pun heboh dan teriak histeris dibuatnya, sedangkan Doktet Irvan yang terus-terusan dihajar oleh Erik pun berusaha untuk menjelaskan semuanya.


"Tunggu dulu.! Saya bisa jelasin.!" Triak Dokter Irvan dengan keadaan yang sudah tidak karuan, sambil terus mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada Erik tentang kesalah pahaman nya selama ini.


Melihat Dokter Irvan yang berusaha menjelaskan semua kepada dirinya, Erik tidak perduli, ia malah justru menghajarnya semakin kencang dan tak ada hentinya, sehingga Andin pun tak terima.


"Rik, cukup Rik.! Stop.!" Triak Andin panik, sambil menarik narik tangan Erik yang masih berusaha terus memukuli Dokter Irvan itu.


"Enggak Ndin.! Laki-laki ini harus saya kasih pelajaran.!" Teriak Erik sambil terus memukuli dokter Irvan, sehingga dengan sangat terpaksa Dokter Irvan pun membalas pukulan tersebut dan mereka berdua pun akhirnya berantem


Mereka berdua berantem sudah cukup lama dan mereka berdua pun terlihat babak belur, hingga akhirnya satpam keamanan di gedung tersebut pun turun tangan dan langsung memisahkan meraka berdua.


Setelah mereka berdua berhasil dipisahkan oleh satpam tersebut, Andin sepupu dari Erik pun langsung marah-marah.


"Kalian itu kenapa sih.? Ngapain coba kalian itu berantem.? Lihat nih.! Semuanya kacau tau enggak gara-gara kalian berdua.?" Kata Andin dengan suara yang sangat tinggi dan raut wajah yang sangat marah, sambil menatap kearah pelaminannya yang hancur dan berantakan karena ulah Erik dan Dokter Irvan calon suaminya.


"Dan kamu.! Sekarang juga tolong jelasin siapa itu Dinda.?" Kata Andin lagi masih marah, sambil menatap wajah Dokter Irvan dengan tatapan yang sangat tajam.


"Yank, ini tuh cuma salah paham yank.? Dinda itu pasien aku yang aku ceritain kemaren ke kamu yank.? Kamu masih inget kan.?" Kata Dokter Irvan mencoba untuk menjelaskan kepada Andin, dengan keadaan yang sudah tidak karuan karena babak belur.


"Dinda pasien kamu, maksudnya.?" Kata Erik bingung, dengan keadaan yang sudah tidak karuan, karena ia pun babak belur dihajar oleh Dokter Irvan.


Mendengar pertanyaan dari Erik, dengan sangat terpaksa Dokter Irvan pun menceritakan semua kepadanya mengenai penyakit Dinda yang menyebabkan Dinda ingin bercerai dengannya dan juga mengenai hubungannya dengan Dinda yang hanya pura-pura itu.

__ADS_1


__ADS_2